24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Hartanto by Hartanto
July 24, 2026
in Ulas Rupa
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Kisah Ingatan Kanak-Kanak 3 karya Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menariknya, pameran ini diikuti oleh para dosen seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali.

Menurut saya, tema Direction dalam konteks ini memperlihatkan beberapa lapisan. Pertama, setiap dosen meneguhkan jalannya sebagai seniman, memilih jalur yang sesuai dengan ‘kepekaan tubuh’, ‘intuisi’, ‘imajinasi’, ‘institusi’, ‘teknologi’, dan ‘pengalaman hidup’.

Kedua, karya mereka sekaligus menjadi ‘representasi’ arah perguruan tinggi seni di Indonesia tempat mereka bernaung—bagaimana institusi mendukung atau membatasi ruang kreatif.

Ketiga, masih menurut saya, pameran ini menjadi ‘manifesto’ bersama bahwa seni adalah perjalanan yang terus mencari ‘arah’ baru, namun tetap berpijak pada ‘martabat rasa’ dan ‘pengalaman manusia’.

Dalam lanskap seni kontemporer Indonesia, Direction menegaskan bahwa ‘arah’ seni tidak ditentukan oleh ‘algoritma’, ‘tren global’, atau ‘sistem birokrasi’ semata.

Melainkan oleh keberanian seniman—dalam hal ini para dosen—untuk merawat ‘kepekaan tubuh’, ‘imajinasi’, dan ‘intuisi’ sebagai ‘kompas utama’.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia.

Dengan demikian, perkenankan saya mengatakan bahwa Yogya Annual Art #11 dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’: seni sebagai ‘arah’ yang meneguhkan ‘martabat manusia’.

Dan lahir dari tangan para ‘pendidik’ yang sehari-hari bergulat dengan ‘kelas’, ‘penelitian’, dan ‘pengabdian’, namun tetap memilih ‘jalur kreatif’ yang mempertahankan ‘vitalitas rasa’.

Dari sekian banyak peserta pameran Yogya Annual Art ke-11 dengan tema Direction tersebut, karya Wayan Sujana Suklu menarik untuk disimak.

Karya Suklu memang menghadirkan semacam perjalanan ke masa kanak-kanak, sebuah ingatan yang ditata ulang dalam bentuk visual yang ‘sederhana’, ‘liris’, dan ‘bermain-main’.

Suklu menghadirkan 30 karya berukuran 30 × 30 cm. Lima belas panel yang ia hadirkan berkisah tentang “Kisah Ingatan Kanak-Kanak”, sedangkan sisanya merupakan refleksi tentang “Kisah Warna Sekitar”.

Karya-karya tersebut bukan sekadar rangkaian gambar, melainkan ‘fragmen memori’ yang disusun seperti potongan puzzle, di mana setiap panel menjadi pintu kecil menuju ‘dunia imajinasi’ anak-anak—rumah sederhana, awan yang berarak, matahari dengan garis-garis sinar yang naif, bunga dengan kelopak bulat, burung yang terbang, hingga jamur yang menjelma wajah.

Keseluruhan panel itu berbicara tentang ‘arah’ bukan sebagai garis lurus menuju masa depan, melainkan sebagai ‘gerak spiral’ yang kembali ke asal, ke masa kanak-kanak yang penuh rasa ingin tahu.

Suklu seolah menegaskan bahwa arah seni tidak hanya ditentukan oleh institusi atau wacana besar, tetapi juga oleh kemampuan seorang seniman untuk merawat ingatan yang paling dekat.

Garis-garis tipis, ‘warna pastel’ yang lembut, dan bentuk-bentuk yang tampak seperti coretan anak-anak menghadirkan ‘atmosfer nostalgia’, namun bukan ‘nostalgia’ yang ‘sentimental’.

Melainkan ‘nostalgia’ yang ‘produktif’—ia membuka ‘ruang refleksi’ tentang bagaimana masa kanak-kanak membentuk cara kita melihat dunia.

Dalam konteks kuratorial ‘Arah’, karya Suklu menjadi semacam counterpoint yang menegaskan bahwa direction dapat berarti kembali ke titik awal, ke akar pengalaman yang paling polos.

Panel-panel itu tidak menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan: bagaimana ‘arah’ seni bisa tetap jernih jika kita berani kembali ke masa kanak-kanak, ke dunia yang belum terikat oleh aturan akademik atau pasar?

Menurut saya, karya Suklu menghadirkan ‘Arah’ sebagai sikap kreatif yang berputar, menoleh ke belakang sekaligus melangkah ke depan, menjadikan masa kanak-kanak sebagai ‘reservoir’ ‘energi visual’ yang terus menghidupi perjalanan seni.

Lima belas panel karya Wayan Sujana Suklu selanjutnya bertema “Kisah Warna Sekitar”. Ini dapat dibaca sebagai semacam ‘atlas memori’ masa kanak-kanak, di mana ‘ikon-ikon’ sederhana menjadi tanda arah yang berbeda, seolah setiap panel adalah ‘kompas kecil’ yang menunjuk pada pengalaman tertentu.

Hubungan antarpanel dalam karya Wayan Sujana Suklu dapat dibaca sebagai ‘ritme visual’ yang menyerupai ‘musik’ atau ‘puisi’, di mana ‘transisi’ antarikon bukan sekadar perpindahan gambar, melainkan pergeseran ‘nada’ dan ‘tempo’.

Panel rumah, dengan bentuk sederhana dan garis tegas, adalah nada dasar, seperti ‘akor pembuka’ yang menegaskan asal-usul.

Begitu berpindah ke awan, ‘ritme’ menjadi lebih ringan, seperti ‘melodi’ yang mengalun, menghadirkan nuansa kebebasan dan keluasan.

Ketika burung muncul, ‘ritme’ berubah menjadi lebih dinamis, seolah ‘tempo’ musik meningkat. Gerak sayap burung adalah ‘aksen ritmis’ yang menandai ‘mobilitas’, semacam crescendo dalam perjalanan ‘visual’.

Lalu, ketika ‘narasi’ bergeser ke ‘jamur’ dan bentuk ‘fantasi’ lain, ‘ritme’ melambat kembali menjadi lebih intim, seperti bagian puisi yang berbisik.

Jamur dengan wajah ‘imajiner’ menghadirkan ‘nuansa sureal’, ‘ritme’ yang tidak terduga, seperti ‘improvisasi’ dalam musik atau ‘metafora’ dalam puisi.

Dengan demikian, menurut saya, hubungan ‘antarpanel’ membentuk komposisi yang berlapis: rumah sebagai ‘nada dasar’, awan sebagai ‘melodi lembut’, burung sebagai ‘aksen dinamis’, jamur sebagai ‘improvisasi fantasi’.

Ritme ini menyatukan keseluruhan karya, menjadikannya bukan sekadar rangkaian gambar, melainkan sebuah ‘puisi visual’ yang bergerak dari ‘asal’ ke ‘keluasan’, dari ‘mobilitas’ ke ‘fantasi’.

Karya Suklu yang diberi tajuk “Menyusun Langit Masa Kecil” akhirnya dapat dibaca sebagai ‘musik visual’ masa kanak-kanak: sederhana, jernih, penuh permainan, namun juga ‘reflektif’.

Ritme antarpanel menegaskan bahwa ‘Arah’ seni adalah kemampuan merangkai ‘ikon-ikon kecil’ menjadi ‘komposisi besar’, di mana setiap ‘transisi’ adalah ‘nada’, setiap ‘panel’ adalah ‘bait’, dan keseluruhannya adalah lagu tentang masa kanak-kanak yang terus hidup dalam perjalanan kreatif.

Menurut saya, ‘warna sekitar’ bekerja sebagai atmosfer yang menyatukan kisah itu. Pastel lembut biru, hijau, dan abu-abu menghadirkan nuansa jernih seperti udara pagi masa kanak-kanak.

Warna tanah—cokelat, oranye, dan krem—menegaskan akar, tubuh bumi tempat tumbuh imajinasi. Warna cerah—merah, kuning, dan hijau terang—muncul sebagai kilasan kegembiraan spontan, seperti tawa anak-anak.

Suklu tidak menggunakan warna untuk ‘realisme’, melainkan untuk membangun suasana: lembut, polos, penuh permainan, namun juga ‘reflektif’.

Ketika seluruh panel itu dipasang bersama, ruang yang tercipta adalah semacam ‘instalasi memori’. Ukuran kecil 30 × 30 cm membuat penonton harus mendekat, seolah masuk ke dunia kanak-kanak Suklu.

Panel-panel itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling ‘beresonansi’, membentuk ‘ritme visual’ yang menyerupai musik: rumah sebagai ‘overture’, awan sebagai ‘melodi lembut’, burung sebagai crescendo, jamur sebagai ‘improvisasi fantasi’. Warna sekitar menjadi nada, garis tipis menjadi senar gitar, dan bentuk ‘geometris’ menjadi ‘perkusi’.

Dengan demikian, karya ini adalah ‘simfoni’ masa kanak-kanak yang ditata dalam ruang ‘instalasi’. Kisah yang dituturkan bukan sekadar nostalgia, melainkan ‘manifesto kecil’: bahwa arah seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk kembali ke masa kanak-kanak, merawat ingatan yang polos, dan menjadikannya bahasa ‘visual’ yang terus hidup.

Panel-panel itu adalah lagu masa kanak-kanak yang bergema di ruang pamer, di mana warna sekitar menjadi ‘atmosfer’ yang menyelimuti, dan kisah menjadi perjalanan yang utuh.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia YogyakartaPameran Yogya Annual Art ke-11Wayan Sujana Suklu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

Next Post

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails
Next Post
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Malam Keakraban Berbuntut Teror

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

by Chusmeru
July 23, 2026
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma
Esai

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co