14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Hartanto by Hartanto
July 24, 2026
in Ulas Rupa
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Kisah Ingatan Kanak-Kanak 3 karya Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menariknya, pameran ini diikuti oleh para dosen seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali.

Menurut saya, tema Direction dalam konteks ini memperlihatkan beberapa lapisan. Pertama, setiap dosen meneguhkan jalannya sebagai seniman, memilih jalur yang sesuai dengan ‘kepekaan tubuh’, ‘intuisi’, ‘imajinasi’, ‘institusi’, ‘teknologi’, dan ‘pengalaman hidup’.

Kedua, karya mereka sekaligus menjadi ‘representasi’ arah perguruan tinggi seni di Indonesia tempat mereka bernaung—bagaimana institusi mendukung atau membatasi ruang kreatif.

Ketiga, masih menurut saya, pameran ini menjadi ‘manifesto’ bersama bahwa seni adalah perjalanan yang terus mencari ‘arah’ baru, namun tetap berpijak pada ‘martabat rasa’ dan ‘pengalaman manusia’.

Dalam lanskap seni kontemporer Indonesia, Direction menegaskan bahwa ‘arah’ seni tidak ditentukan oleh ‘algoritma’, ‘tren global’, atau ‘sistem birokrasi’ semata.

Melainkan oleh keberanian seniman—dalam hal ini para dosen—untuk merawat ‘kepekaan tubuh’, ‘imajinasi’, dan ‘intuisi’ sebagai ‘kompas utama’.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia.

Dengan demikian, perkenankan saya mengatakan bahwa Yogya Annual Art #11 dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’: seni sebagai ‘arah’ yang meneguhkan ‘martabat manusia’.

Dan lahir dari tangan para ‘pendidik’ yang sehari-hari bergulat dengan ‘kelas’, ‘penelitian’, dan ‘pengabdian’, namun tetap memilih ‘jalur kreatif’ yang mempertahankan ‘vitalitas rasa’.

Dari sekian banyak peserta pameran Yogya Annual Art ke-11 dengan tema Direction tersebut, karya Wayan Sujana Suklu menarik untuk disimak.

Karya Suklu memang menghadirkan semacam perjalanan ke masa kanak-kanak, sebuah ingatan yang ditata ulang dalam bentuk visual yang ‘sederhana’, ‘liris’, dan ‘bermain-main’.

Suklu menghadirkan 30 karya berukuran 30 × 30 cm. Lima belas panel yang ia hadirkan berkisah tentang “Kisah Ingatan Kanak-Kanak”, sedangkan sisanya merupakan refleksi tentang “Kisah Warna Sekitar”.

Karya-karya tersebut bukan sekadar rangkaian gambar, melainkan ‘fragmen memori’ yang disusun seperti potongan puzzle, di mana setiap panel menjadi pintu kecil menuju ‘dunia imajinasi’ anak-anak—rumah sederhana, awan yang berarak, matahari dengan garis-garis sinar yang naif, bunga dengan kelopak bulat, burung yang terbang, hingga jamur yang menjelma wajah.

Keseluruhan panel itu berbicara tentang ‘arah’ bukan sebagai garis lurus menuju masa depan, melainkan sebagai ‘gerak spiral’ yang kembali ke asal, ke masa kanak-kanak yang penuh rasa ingin tahu.

Suklu seolah menegaskan bahwa arah seni tidak hanya ditentukan oleh institusi atau wacana besar, tetapi juga oleh kemampuan seorang seniman untuk merawat ingatan yang paling dekat.

Garis-garis tipis, ‘warna pastel’ yang lembut, dan bentuk-bentuk yang tampak seperti coretan anak-anak menghadirkan ‘atmosfer nostalgia’, namun bukan ‘nostalgia’ yang ‘sentimental’.

Melainkan ‘nostalgia’ yang ‘produktif’—ia membuka ‘ruang refleksi’ tentang bagaimana masa kanak-kanak membentuk cara kita melihat dunia.

Dalam konteks kuratorial ‘Arah’, karya Suklu menjadi semacam counterpoint yang menegaskan bahwa direction dapat berarti kembali ke titik awal, ke akar pengalaman yang paling polos.

Panel-panel itu tidak menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan: bagaimana ‘arah’ seni bisa tetap jernih jika kita berani kembali ke masa kanak-kanak, ke dunia yang belum terikat oleh aturan akademik atau pasar?

Menurut saya, karya Suklu menghadirkan ‘Arah’ sebagai sikap kreatif yang berputar, menoleh ke belakang sekaligus melangkah ke depan, menjadikan masa kanak-kanak sebagai ‘reservoir’ ‘energi visual’ yang terus menghidupi perjalanan seni.

Lima belas panel karya Wayan Sujana Suklu selanjutnya bertema “Kisah Warna Sekitar”. Ini dapat dibaca sebagai semacam ‘atlas memori’ masa kanak-kanak, di mana ‘ikon-ikon’ sederhana menjadi tanda arah yang berbeda, seolah setiap panel adalah ‘kompas kecil’ yang menunjuk pada pengalaman tertentu.

Hubungan antarpanel dalam karya Wayan Sujana Suklu dapat dibaca sebagai ‘ritme visual’ yang menyerupai ‘musik’ atau ‘puisi’, di mana ‘transisi’ antarikon bukan sekadar perpindahan gambar, melainkan pergeseran ‘nada’ dan ‘tempo’.

Panel rumah, dengan bentuk sederhana dan garis tegas, adalah nada dasar, seperti ‘akor pembuka’ yang menegaskan asal-usul.

Begitu berpindah ke awan, ‘ritme’ menjadi lebih ringan, seperti ‘melodi’ yang mengalun, menghadirkan nuansa kebebasan dan keluasan.

Ketika burung muncul, ‘ritme’ berubah menjadi lebih dinamis, seolah ‘tempo’ musik meningkat. Gerak sayap burung adalah ‘aksen ritmis’ yang menandai ‘mobilitas’, semacam crescendo dalam perjalanan ‘visual’.

Lalu, ketika ‘narasi’ bergeser ke ‘jamur’ dan bentuk ‘fantasi’ lain, ‘ritme’ melambat kembali menjadi lebih intim, seperti bagian puisi yang berbisik.

Jamur dengan wajah ‘imajiner’ menghadirkan ‘nuansa sureal’, ‘ritme’ yang tidak terduga, seperti ‘improvisasi’ dalam musik atau ‘metafora’ dalam puisi.

Dengan demikian, menurut saya, hubungan ‘antarpanel’ membentuk komposisi yang berlapis: rumah sebagai ‘nada dasar’, awan sebagai ‘melodi lembut’, burung sebagai ‘aksen dinamis’, jamur sebagai ‘improvisasi fantasi’.

Ritme ini menyatukan keseluruhan karya, menjadikannya bukan sekadar rangkaian gambar, melainkan sebuah ‘puisi visual’ yang bergerak dari ‘asal’ ke ‘keluasan’, dari ‘mobilitas’ ke ‘fantasi’.

Karya Suklu yang diberi tajuk “Menyusun Langit Masa Kecil” akhirnya dapat dibaca sebagai ‘musik visual’ masa kanak-kanak: sederhana, jernih, penuh permainan, namun juga ‘reflektif’.

Ritme antarpanel menegaskan bahwa ‘Arah’ seni adalah kemampuan merangkai ‘ikon-ikon kecil’ menjadi ‘komposisi besar’, di mana setiap ‘transisi’ adalah ‘nada’, setiap ‘panel’ adalah ‘bait’, dan keseluruhannya adalah lagu tentang masa kanak-kanak yang terus hidup dalam perjalanan kreatif.

Menurut saya, ‘warna sekitar’ bekerja sebagai atmosfer yang menyatukan kisah itu. Pastel lembut biru, hijau, dan abu-abu menghadirkan nuansa jernih seperti udara pagi masa kanak-kanak.

Warna tanah—cokelat, oranye, dan krem—menegaskan akar, tubuh bumi tempat tumbuh imajinasi. Warna cerah—merah, kuning, dan hijau terang—muncul sebagai kilasan kegembiraan spontan, seperti tawa anak-anak.

Suklu tidak menggunakan warna untuk ‘realisme’, melainkan untuk membangun suasana: lembut, polos, penuh permainan, namun juga ‘reflektif’.

Ketika seluruh panel itu dipasang bersama, ruang yang tercipta adalah semacam ‘instalasi memori’. Ukuran kecil 30 × 30 cm membuat penonton harus mendekat, seolah masuk ke dunia kanak-kanak Suklu.

Panel-panel itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling ‘beresonansi’, membentuk ‘ritme visual’ yang menyerupai musik: rumah sebagai ‘overture’, awan sebagai ‘melodi lembut’, burung sebagai crescendo, jamur sebagai ‘improvisasi fantasi’. Warna sekitar menjadi nada, garis tipis menjadi senar gitar, dan bentuk ‘geometris’ menjadi ‘perkusi’.

Dengan demikian, karya ini adalah ‘simfoni’ masa kanak-kanak yang ditata dalam ruang ‘instalasi’. Kisah yang dituturkan bukan sekadar nostalgia, melainkan ‘manifesto kecil’: bahwa arah seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk kembali ke masa kanak-kanak, merawat ingatan yang polos, dan menjadikannya bahasa ‘visual’ yang terus hidup.

Panel-panel itu adalah lagu masa kanak-kanak yang bergema di ruang pamer, di mana warna sekitar menjadi ‘atmosfer’ yang menyelimuti, dan kisah menjadi perjalanan yang utuh.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia YogyakartaPameran Yogya Annual Art ke-11Wayan Sujana Suklu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

Next Post

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co