3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Hartanto by Hartanto
July 24, 2026
in Ulas Rupa
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Kisah Ingatan Kanak-Kanak 3 karya Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Acara berlangsung dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Menariknya, pameran ini diikuti oleh para dosen seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali.

Menurut saya, tema Direction dalam konteks ini memperlihatkan beberapa lapisan. Pertama, setiap dosen meneguhkan jalannya sebagai seniman, memilih jalur yang sesuai dengan ‘kepekaan tubuh’, ‘intuisi’, ‘imajinasi’, ‘institusi’, ‘teknologi’, dan ‘pengalaman hidup’.

Kedua, karya mereka sekaligus menjadi ‘representasi’ arah perguruan tinggi seni di Indonesia tempat mereka bernaung—bagaimana institusi mendukung atau membatasi ruang kreatif.

Ketiga, masih menurut saya, pameran ini menjadi ‘manifesto’ bersama bahwa seni adalah perjalanan yang terus mencari ‘arah’ baru, namun tetap berpijak pada ‘martabat rasa’ dan ‘pengalaman manusia’.

Dalam lanskap seni kontemporer Indonesia, Direction menegaskan bahwa ‘arah’ seni tidak ditentukan oleh ‘algoritma’, ‘tren global’, atau ‘sistem birokrasi’ semata.

Melainkan oleh keberanian seniman—dalam hal ini para dosen—untuk merawat ‘kepekaan tubuh’, ‘imajinasi’, dan ‘intuisi’ sebagai ‘kompas utama’.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia.

Dengan demikian, perkenankan saya mengatakan bahwa Yogya Annual Art #11 dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’: seni sebagai ‘arah’ yang meneguhkan ‘martabat manusia’.

Dan lahir dari tangan para ‘pendidik’ yang sehari-hari bergulat dengan ‘kelas’, ‘penelitian’, dan ‘pengabdian’, namun tetap memilih ‘jalur kreatif’ yang mempertahankan ‘vitalitas rasa’.

Dari sekian banyak peserta pameran Yogya Annual Art ke-11 dengan tema Direction tersebut, karya Wayan Sujana Suklu menarik untuk disimak.

Karya Suklu memang menghadirkan semacam perjalanan ke masa kanak-kanak, sebuah ingatan yang ditata ulang dalam bentuk visual yang ‘sederhana’, ‘liris’, dan ‘bermain-main’.

Suklu menghadirkan 30 karya berukuran 30 × 30 cm. Lima belas panel yang ia hadirkan berkisah tentang “Kisah Ingatan Kanak-Kanak”, sedangkan sisanya merupakan refleksi tentang “Kisah Warna Sekitar”.

Karya-karya tersebut bukan sekadar rangkaian gambar, melainkan ‘fragmen memori’ yang disusun seperti potongan puzzle, di mana setiap panel menjadi pintu kecil menuju ‘dunia imajinasi’ anak-anak—rumah sederhana, awan yang berarak, matahari dengan garis-garis sinar yang naif, bunga dengan kelopak bulat, burung yang terbang, hingga jamur yang menjelma wajah.

Keseluruhan panel itu berbicara tentang ‘arah’ bukan sebagai garis lurus menuju masa depan, melainkan sebagai ‘gerak spiral’ yang kembali ke asal, ke masa kanak-kanak yang penuh rasa ingin tahu.

Suklu seolah menegaskan bahwa arah seni tidak hanya ditentukan oleh institusi atau wacana besar, tetapi juga oleh kemampuan seorang seniman untuk merawat ingatan yang paling dekat.

Garis-garis tipis, ‘warna pastel’ yang lembut, dan bentuk-bentuk yang tampak seperti coretan anak-anak menghadirkan ‘atmosfer nostalgia’, namun bukan ‘nostalgia’ yang ‘sentimental’.

Melainkan ‘nostalgia’ yang ‘produktif’—ia membuka ‘ruang refleksi’ tentang bagaimana masa kanak-kanak membentuk cara kita melihat dunia.

Dalam konteks kuratorial ‘Arah’, karya Suklu menjadi semacam counterpoint yang menegaskan bahwa direction dapat berarti kembali ke titik awal, ke akar pengalaman yang paling polos.

Panel-panel itu tidak menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan: bagaimana ‘arah’ seni bisa tetap jernih jika kita berani kembali ke masa kanak-kanak, ke dunia yang belum terikat oleh aturan akademik atau pasar?

Menurut saya, karya Suklu menghadirkan ‘Arah’ sebagai sikap kreatif yang berputar, menoleh ke belakang sekaligus melangkah ke depan, menjadikan masa kanak-kanak sebagai ‘reservoir’ ‘energi visual’ yang terus menghidupi perjalanan seni.

Lima belas panel karya Wayan Sujana Suklu selanjutnya bertema “Kisah Warna Sekitar”. Ini dapat dibaca sebagai semacam ‘atlas memori’ masa kanak-kanak, di mana ‘ikon-ikon’ sederhana menjadi tanda arah yang berbeda, seolah setiap panel adalah ‘kompas kecil’ yang menunjuk pada pengalaman tertentu.

Hubungan antarpanel dalam karya Wayan Sujana Suklu dapat dibaca sebagai ‘ritme visual’ yang menyerupai ‘musik’ atau ‘puisi’, di mana ‘transisi’ antarikon bukan sekadar perpindahan gambar, melainkan pergeseran ‘nada’ dan ‘tempo’.

Panel rumah, dengan bentuk sederhana dan garis tegas, adalah nada dasar, seperti ‘akor pembuka’ yang menegaskan asal-usul.

Begitu berpindah ke awan, ‘ritme’ menjadi lebih ringan, seperti ‘melodi’ yang mengalun, menghadirkan nuansa kebebasan dan keluasan.

Ketika burung muncul, ‘ritme’ berubah menjadi lebih dinamis, seolah ‘tempo’ musik meningkat. Gerak sayap burung adalah ‘aksen ritmis’ yang menandai ‘mobilitas’, semacam crescendo dalam perjalanan ‘visual’.

Lalu, ketika ‘narasi’ bergeser ke ‘jamur’ dan bentuk ‘fantasi’ lain, ‘ritme’ melambat kembali menjadi lebih intim, seperti bagian puisi yang berbisik.

Jamur dengan wajah ‘imajiner’ menghadirkan ‘nuansa sureal’, ‘ritme’ yang tidak terduga, seperti ‘improvisasi’ dalam musik atau ‘metafora’ dalam puisi.

Dengan demikian, menurut saya, hubungan ‘antarpanel’ membentuk komposisi yang berlapis: rumah sebagai ‘nada dasar’, awan sebagai ‘melodi lembut’, burung sebagai ‘aksen dinamis’, jamur sebagai ‘improvisasi fantasi’.

Ritme ini menyatukan keseluruhan karya, menjadikannya bukan sekadar rangkaian gambar, melainkan sebuah ‘puisi visual’ yang bergerak dari ‘asal’ ke ‘keluasan’, dari ‘mobilitas’ ke ‘fantasi’.

Karya Suklu yang diberi tajuk “Menyusun Langit Masa Kecil” akhirnya dapat dibaca sebagai ‘musik visual’ masa kanak-kanak: sederhana, jernih, penuh permainan, namun juga ‘reflektif’.

Ritme antarpanel menegaskan bahwa ‘Arah’ seni adalah kemampuan merangkai ‘ikon-ikon kecil’ menjadi ‘komposisi besar’, di mana setiap ‘transisi’ adalah ‘nada’, setiap ‘panel’ adalah ‘bait’, dan keseluruhannya adalah lagu tentang masa kanak-kanak yang terus hidup dalam perjalanan kreatif.

Menurut saya, ‘warna sekitar’ bekerja sebagai atmosfer yang menyatukan kisah itu. Pastel lembut biru, hijau, dan abu-abu menghadirkan nuansa jernih seperti udara pagi masa kanak-kanak.

Warna tanah—cokelat, oranye, dan krem—menegaskan akar, tubuh bumi tempat tumbuh imajinasi. Warna cerah—merah, kuning, dan hijau terang—muncul sebagai kilasan kegembiraan spontan, seperti tawa anak-anak.

Suklu tidak menggunakan warna untuk ‘realisme’, melainkan untuk membangun suasana: lembut, polos, penuh permainan, namun juga ‘reflektif’.

Ketika seluruh panel itu dipasang bersama, ruang yang tercipta adalah semacam ‘instalasi memori’. Ukuran kecil 30 × 30 cm membuat penonton harus mendekat, seolah masuk ke dunia kanak-kanak Suklu.

Panel-panel itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling ‘beresonansi’, membentuk ‘ritme visual’ yang menyerupai musik: rumah sebagai ‘overture’, awan sebagai ‘melodi lembut’, burung sebagai crescendo, jamur sebagai ‘improvisasi fantasi’. Warna sekitar menjadi nada, garis tipis menjadi senar gitar, dan bentuk ‘geometris’ menjadi ‘perkusi’.

Dengan demikian, karya ini adalah ‘simfoni’ masa kanak-kanak yang ditata dalam ruang ‘instalasi’. Kisah yang dituturkan bukan sekadar nostalgia, melainkan ‘manifesto kecil’: bahwa arah seni bisa ditemukan dalam keberanian untuk kembali ke masa kanak-kanak, merawat ingatan yang polos, dan menjadikannya bahasa ‘visual’ yang terus hidup.

Panel-panel itu adalah lagu masa kanak-kanak yang bergema di ruang pamer, di mana warna sekitar menjadi ‘atmosfer’ yang menyelimuti, dan kisah menjadi perjalanan yang utuh.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia YogyakartaPameran Yogya Annual Art ke-11Wayan Sujana Suklu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

Next Post

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails
Next Post
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co