3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
in Khas
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

iskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.”

Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Di saat kecerdasan buatan mulai mampu menulis lirik, menyusun aransemen, hingga membantu proses produksi musik, Adnyana justru mengingatkan bahwa ada satu unsur yang tak bisa diprogram oleh mesin, yaitu rasa manusia. 

Hari itu, Senin, 20 Juli 2026, di hadapan puluhan peserta, jurnalis sekaligus akademisi I Made Adnyana berbincang bersama moderator I Ketut Eriadi Ariana dalam diskusi yang diselenggarakan Beranda Pustaka pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026. Mengusung topik “Mengupas Dinamika dan Sejarah Industri Musik Pop Bali”, diskusi tersebut mengulas buku Kènè Kèto Musik Pop Bali karya I Made Adnyana yang diterbitkan oleh Mahima pada 2020.

Suasana diskusi berlangsung santai. Percakapan bergerak dari sejarah industri musik Bali, persoalan hak cipta, perubahan pola produksi, hingga pertanyaan yang kini menggelisahkan banyak pegiat musik: apakah musik Pop Bali akan memiliki masa depan yang sama gemilangnya seperti dahulu?

Diskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

Adnyana menyebut, Industri musik Bali tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak mengikuti zamannya. Dari era kaset, beralih ke VCD dan DVD, hingga kini memasuki ruang digital. Namun, di balik semua perubahan medium itu, musik Bali selalu menemukan cara untuk bertahan dan beradaptasi. 

Bagi Adnyana, perubahan teknologi bukan ancaman terbesar. Justru tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana para musisi menghargai karya mereka sendiri.

Saat Eriadi menyinggung persoalan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Adnyana mengungkapkan bahwa masih banyak musisi Bali yang menyesal karena tidak pernah mendaftarkan karya-karyanya. Selama ini, banyak seniman lebih memilih berkarya atas dasar kecintaan pada seni dan budaya, tanpa memikirkan perlindungan hukum atas ciptaan mereka.

“Hak cipta bukan sekadar pencatatan karya semata, tetapi bagaimana kita menghargai sekaligus mengamankan karya kita. Istilahnya, sedia payung sebelum hujan,” ujar Adnyana.

Diskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

Pembahasan kemudian bergeser pada perubahan yang paling terasa dalam industri musik Bali, yakni hilangnya dominasi label rekaman.

Pada masa keemasan label rekaman seperti Aneka Record, Bali Record, Canting Camplung, Maharani, Jayagiri, Pregina, hingga Januadi, musik Bali memiliki jalur kurasi yang jelas. Lagu-lagu yang beredar melewati proses seleksi, diproduksi secara profesional, diputar di radio, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Kini, ketika siapa pun dapat merekam lagu dari rumah dan mengunggahnya langsung ke berbagai platform digital, pertanyaan tentang kualitas menjadi kian relevan. 

Merespons pernyataan itu, Adnyana menawarkan sudut pandang menarik. “Sekarang kurator itu bukan lagi label rekaman, tetapi masyarakat.”

Jawaban itu menjadi titik balik diskusi. Jika dahulu label menentukan lagu mana yang layak dipasarkan berdasarkan pertimbangan bisnis, kini masyarakatlah yang menentukan lagu mana layak didengar berdasarkan selera.

Perubahan itu membawa konsekuensi. Musik yang barangkali dianggap sederhana, bahkan dipandang kurang berkualitas oleh para kritikus atau pengamat musik, justru bisa menjadi sangat populer karena sesuai dengan selera publik. Sebaliknya, karya yang secara musikal lebih kompleks belum tentu mendapat tempat di pasar.

“Kalau label tentu punya style yang bisa bertahan lebih lama, sementara selera masyarakat memiliki masanya sendiri dan cenderung singkat,” tutur Adnyana.

Diskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

Di tengah derasnya arus media sosial, fenomena lain juga menarik perhatian. Lagu-lagu lawas justru kembali hidup. Banyak generasi muda menggunakan lagu-lagu Bali lawas sebagai latar video maupun postingan foto, memperkenalkan kembali karya yang sempat tenggelam atau yang tak pernah populer kepada pendengar baru.

Bagi Adnyana, itu menunjukkan bahwa perjalanan sebuah karya seni tidak pernah benar-benar selesai.

“Karya seni itu abadi. Kalau sekarang tidak nge-top, bisa jadi nanti, atau di kemudian hari,” katanya. 

Optimisme itu sekaligus menjadi pengingat bahwa popularitas tidak selalu berjalan beriringan dengan kualitas. Ada faktor lain yang acap sukar dijelaskan.

“Tiap usaha apa pun itu, ada satu faktor yang tidak bisa diduga, yaitu keberuntungan. Seorang musisi bisa bertahun-tahun berkarya tanpa dikenal luas, sementara pendatang baru dengan lagu ‘sederhana’ justru mampu menarik perhatian publik. Begitulah dinamika industri kreatif bekerja,” jelas Adnyana.

Dari kiri ke kanan, I Made Adnyana (penulis), Wulan Dewi Saraswati (panitia), I Ketut Eriadi Ariana (moderator)│Foto: FSBJ

Ketika diskusi menyentuh perkembangan kecerdasan buatan yang kini mulai digunakan untuk membantu menciptakan lagu maupun menulis lirik, Adnyana kembali menegaskan batas yang menurutnya tidak akan pernah bisa ditembus teknologi.

“Satu yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.”

Pernyataan itu bukan penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat. Di balik setiap lagu yang mampu bertahan lintas generasi, selalu ada pengalaman, kejujuran, dan emosi manusia yang menjadi ruh sebuah karya.

Adnyana sendiri bukan orang yang baru mengamati perkembangan musik Bali. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis telah tumbuh sejak duduk di bangku SMP, lalu membawanya masuk ke dunia jurnalistik sejak awal masa kuliah. Kariernya sebagai reporter dan redaktur bidang hiburan membuatnya lama bergelut dengan denyut musik, seni, dan film di Bali. 

Kepedulian itu kemudian melahirkan Bali Music Magazine, yang kini bertransformasi menjadi musikbali.com, sekaligus mendorongnya menggagas berbagai ajang apresiasi bagi insan musik Bali, seperti Gita Denpost Award dan Malam Anugerah Musik Bali. Atas konsistensinya mengawal ekosistem musik dan kritik seni, ia menerima penghargaan Bali Jani Nugraha pada 2019. Kini, di sela aktivitasnya sebagai dosen di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), Adnyana tetap aktif mendokumentasikan perjalanan para seniman Bali melalui podcast di kanal YouTube Oke Made. 

Menjelang akhir diskusi, satu hal menjadi jelas. Teknologi akan terus berubah, begitu pula cara musik diproduksi dan didistribusikan. Namun, masa depan musik Pop Bali tetap ditentukan oleh karya yang jujur, masyarakat yang mengapresiasi, dan nurani yang menghidupkannya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Beranda PustakaFestival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026I Made AdnyanaKènè Kèto Musik Pop Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Next Post

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co