3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
in Khas
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

iskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.”

Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Di saat kecerdasan buatan mulai mampu menulis lirik, menyusun aransemen, hingga membantu proses produksi musik, Adnyana justru mengingatkan bahwa ada satu unsur yang tak bisa diprogram oleh mesin, yaitu rasa manusia. 

Hari itu, Senin, 20 Juli 2026, di hadapan puluhan peserta, jurnalis sekaligus akademisi I Made Adnyana berbincang bersama moderator I Ketut Eriadi Ariana dalam diskusi yang diselenggarakan Beranda Pustaka pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026. Mengusung topik “Mengupas Dinamika dan Sejarah Industri Musik Pop Bali”, diskusi tersebut mengulas buku Kènè Kèto Musik Pop Bali karya I Made Adnyana yang diterbitkan oleh Mahima pada 2020.

Suasana diskusi berlangsung santai. Percakapan bergerak dari sejarah industri musik Bali, persoalan hak cipta, perubahan pola produksi, hingga pertanyaan yang kini menggelisahkan banyak pegiat musik: apakah musik Pop Bali akan memiliki masa depan yang sama gemilangnya seperti dahulu?

Diskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

Adnyana menyebut, Industri musik Bali tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak mengikuti zamannya. Dari era kaset, beralih ke VCD dan DVD, hingga kini memasuki ruang digital. Namun, di balik semua perubahan medium itu, musik Bali selalu menemukan cara untuk bertahan dan beradaptasi. 

Bagi Adnyana, perubahan teknologi bukan ancaman terbesar. Justru tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana para musisi menghargai karya mereka sendiri.

Saat Eriadi menyinggung persoalan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Adnyana mengungkapkan bahwa masih banyak musisi Bali yang menyesal karena tidak pernah mendaftarkan karya-karyanya. Selama ini, banyak seniman lebih memilih berkarya atas dasar kecintaan pada seni dan budaya, tanpa memikirkan perlindungan hukum atas ciptaan mereka.

“Hak cipta bukan sekadar pencatatan karya semata, tetapi bagaimana kita menghargai sekaligus mengamankan karya kita. Istilahnya, sedia payung sebelum hujan,” ujar Adnyana.

Diskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

Pembahasan kemudian bergeser pada perubahan yang paling terasa dalam industri musik Bali, yakni hilangnya dominasi label rekaman.

Pada masa keemasan label rekaman seperti Aneka Record, Bali Record, Canting Camplung, Maharani, Jayagiri, Pregina, hingga Januadi, musik Bali memiliki jalur kurasi yang jelas. Lagu-lagu yang beredar melewati proses seleksi, diproduksi secara profesional, diputar di radio, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Kini, ketika siapa pun dapat merekam lagu dari rumah dan mengunggahnya langsung ke berbagai platform digital, pertanyaan tentang kualitas menjadi kian relevan. 

Merespons pernyataan itu, Adnyana menawarkan sudut pandang menarik. “Sekarang kurator itu bukan lagi label rekaman, tetapi masyarakat.”

Jawaban itu menjadi titik balik diskusi. Jika dahulu label menentukan lagu mana yang layak dipasarkan berdasarkan pertimbangan bisnis, kini masyarakatlah yang menentukan lagu mana layak didengar berdasarkan selera.

Perubahan itu membawa konsekuensi. Musik yang barangkali dianggap sederhana, bahkan dipandang kurang berkualitas oleh para kritikus atau pengamat musik, justru bisa menjadi sangat populer karena sesuai dengan selera publik. Sebaliknya, karya yang secara musikal lebih kompleks belum tentu mendapat tempat di pasar.

“Kalau label tentu punya style yang bisa bertahan lebih lama, sementara selera masyarakat memiliki masanya sendiri dan cenderung singkat,” tutur Adnyana.

Diskusi Buku ‘Kènè Kèto Musik Pop Bali’ karya I Made Adnyana di Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: FSBJ

Di tengah derasnya arus media sosial, fenomena lain juga menarik perhatian. Lagu-lagu lawas justru kembali hidup. Banyak generasi muda menggunakan lagu-lagu Bali lawas sebagai latar video maupun postingan foto, memperkenalkan kembali karya yang sempat tenggelam atau yang tak pernah populer kepada pendengar baru.

Bagi Adnyana, itu menunjukkan bahwa perjalanan sebuah karya seni tidak pernah benar-benar selesai.

“Karya seni itu abadi. Kalau sekarang tidak nge-top, bisa jadi nanti, atau di kemudian hari,” katanya. 

Optimisme itu sekaligus menjadi pengingat bahwa popularitas tidak selalu berjalan beriringan dengan kualitas. Ada faktor lain yang acap sukar dijelaskan.

“Tiap usaha apa pun itu, ada satu faktor yang tidak bisa diduga, yaitu keberuntungan. Seorang musisi bisa bertahun-tahun berkarya tanpa dikenal luas, sementara pendatang baru dengan lagu ‘sederhana’ justru mampu menarik perhatian publik. Begitulah dinamika industri kreatif bekerja,” jelas Adnyana.

Dari kiri ke kanan, I Made Adnyana (penulis), Wulan Dewi Saraswati (panitia), I Ketut Eriadi Ariana (moderator)│Foto: FSBJ

Ketika diskusi menyentuh perkembangan kecerdasan buatan yang kini mulai digunakan untuk membantu menciptakan lagu maupun menulis lirik, Adnyana kembali menegaskan batas yang menurutnya tidak akan pernah bisa ditembus teknologi.

“Satu yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.”

Pernyataan itu bukan penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat. Di balik setiap lagu yang mampu bertahan lintas generasi, selalu ada pengalaman, kejujuran, dan emosi manusia yang menjadi ruh sebuah karya.

Adnyana sendiri bukan orang yang baru mengamati perkembangan musik Bali. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis telah tumbuh sejak duduk di bangku SMP, lalu membawanya masuk ke dunia jurnalistik sejak awal masa kuliah. Kariernya sebagai reporter dan redaktur bidang hiburan membuatnya lama bergelut dengan denyut musik, seni, dan film di Bali. 

Kepedulian itu kemudian melahirkan Bali Music Magazine, yang kini bertransformasi menjadi musikbali.com, sekaligus mendorongnya menggagas berbagai ajang apresiasi bagi insan musik Bali, seperti Gita Denpost Award dan Malam Anugerah Musik Bali. Atas konsistensinya mengawal ekosistem musik dan kritik seni, ia menerima penghargaan Bali Jani Nugraha pada 2019. Kini, di sela aktivitasnya sebagai dosen di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), Adnyana tetap aktif mendokumentasikan perjalanan para seniman Bali melalui podcast di kanal YouTube Oke Made. 

Menjelang akhir diskusi, satu hal menjadi jelas. Teknologi akan terus berubah, begitu pula cara musik diproduksi dan didistribusikan. Namun, masa depan musik Pop Bali tetap ditentukan oleh karya yang jujur, masyarakat yang mengapresiasi, dan nurani yang menghidupkannya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Beranda PustakaFestival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026I Made AdnyanaKènè Kèto Musik Pop Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Next Post

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co