23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 24, 2026
in Ulas Rupa
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si. bersama karyanya yang dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma | Foto: Angga Wijay

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim liburan tiba. Sungai menjadi tempat melepas penat pada akhir pekan. Pepohonan menjelma latar belakang yang mempercantik selembar foto. Perlahan-lahan, hubungan manusia dengan alam berubah menjadi hubungan antara subjek dan objek. Manusia memandang, sementara alam dipandang. Manusia mengukur, sementara alam diukur. Hubungan yang semula bersifat timbal balik bergeser menjadi hubungan yang sepihak.

Seni, sesekali, mengingatkan bahwa cara pandang seperti itu tidak selalu benar. Melalui karya-karya keramiknya, Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si. menghadirkan kemungkinan pembacaan yang berbeda. Alam tidak tampil sebagai lanskap yang berdiri di hadapan manusia, melainkan sebagai ruang tempat manusia sesungguhnya berasal dan akan kembali.

Batu, dedaunan, aliran air, pusaran yang menyerupai galaksi, hingga wajah yang larut dalam keheningan bertemu di atas tubuh bejana yang dibentuk dari tanah. Semua elemen itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling menghidupi, seolah mengingatkan bahwa kehidupan selalu berlangsung melalui hubungan-hubungan yang tak terlihat.

Cara pandang tersebut bertumpu pada dua konsep yang menjadi dasar penciptaan karya, yakni Alam Kedamaian dan Alam Semesta. Pada konsep pertama, seniman menghadirkan bentuk-bentuk organik yang terinspirasi dari aliran air, batu, daun, dan angin sebagai refleksi hubungan manusia dengan lingkungan yang rapuh, tetapi tetap menyimpan harapan akan keseimbangan. Sementara itu, Alam Semesta memperluas pembacaan menuju orbit planet, gugusan bintang, dan pusaran galaksi sebagai ajakan untuk merenungkan posisi manusia di tengah keluasan kosmos.

Karya ini dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma, pameran kriya internasional yang berlangsung di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada 5-18 Juli 2026 lalu.

Kekuatan karya-karya ini tidak berhenti pada konsep yang menyertainya. Ia justru tumbuh dari cara gagasan tersebut diwujudkan melalui medium yang sangat sederhana, yakni, tanah liat.

Tanah merupakan material yang sejak awal menyertai perjalanan manusia. Dari tanah, manusia membuat tempat tinggal, membentuk kendi, tempayan, dan bejana untuk menyimpan air, makanan, serta benih kehidupan. Dalam banyak kebudayaan, tanah juga menjadi simbol asal-usul. Manusia dipercaya berasal darinya dan kelak akan kembali kepadanya. Karena itu, ketika tanah liat dipilih sebagai medium berkarya, sesungguhnya yang sedang dibentuk bukan hanya sebuah benda. Yang sedang dibentuk adalah ingatan tentang hubungan manusia dengan bumi.

Barangkali di situlah letak kekhasan karya-karya Rai Sunarini. Ia tidak memperlakukan tanah liat sebagai bahan yang harus ditaklukkan hingga kehilangan karakternya. Material itu justru dibiarkan tetap berbicara. Permukaannya tidak sepenuhnya halus. Tekstur organiknya tetap dipertahankan. Bekas sentuhan tangan tidak dihapus. Warna-warna bumi yang muncul setelah pembakaran tidak ditutupi oleh lapisan warna yang berlebihan. Semua itu memperlihatkan penghormatan terhadap sifat dasar materialnya.

Pilihan tersebut sejalan dengan konsep Alam Kedamaian, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa permukaan karya dibiarkan menyimpan jejak tangan melalui teknik pinching. Jejak itu menjadi simbol bahwa kedamaian tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari penerimaan terhadap proses. Warna-warna alami tanah dipadukan dengan nuansa bumi untuk menghadirkan suasana yang tenang dan harmonis.

Di sinilah karya Rai Sunarini melampaui persoalan teknik kriya. Jejak tangan bukan lagi sekadar bukti bahwa karya dibuat secara manual. Ia menjadi penanda kehadiran tubuh manusia di dalam material. Setiap tekanan jari meninggalkan ingatan. Setiap lekukan menyimpan waktu. Setiap permukaan menjadi catatan tentang proses yang tidak pernah berlangsung secara tergesa-gesa.

Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si, lahir di Denpasar tanggal 13 Juli 1968. Pendidikan terakhir pada Program Studi Seni Program Doktor ISI Bali. Sebagai dosen tetap pada Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali. Bidang keahlian yaitu Kriya. Prestasi yang diperoleh yaitu Sertifikat Kompetensi dalam bidang Pekeramik tahun 2024. Prestasi lainnya yaitu Penghargaan Adhayapka Nata Kerthi Nugraha yaitu Dosen Berkinerja Sangat Baik pada tahun 2023 dan tahun 2024.

Adapun pengalaman pameran yang pernah diikuti yaitu tahun 2011 Desa Kala Patra Adaptasi Diri dalam Multikultural Art Centre Denpasar, tahun 2012 Pameran Inovasi Produk Kriya Menuju Industri Kreatif Museum Bali, tahun 2013 Pameran Bersama PS. Kriya yang bertempat di Galeri Monkey Forest, Ubud, tahun 2014 mengikuti International Exhibition International Studio For Art & Culture FSRD ALVA yang bertempat diThe University of Western Australia, tahun 2016 Pameran Penciptaan ISI Denpasar, tahun 2018 Academic Exhibition of Craftmanship Utilizing Ceramic & Wood Products Denpasar Art Space, tahun 2020 “Virtualization Movement” virtual exhibihion yang bertempat FSRD Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Karya Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si. yang dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma | Foto: Angga Wijaya

Pada tahun 2025 ia mengikuti Pameran Seni Visual Kantya Samasta Kanta yang bertempat di ISI Denpasar dan mengikuti Pameran Karya Campus Week 2025 “Kolaborasi Mahasiswa dan Dosen ISI Bali. Bulan Oktober tahun 2025 ini baru saja mengikuti Pameran B-GAAD B-Game (Bali Global Art Map Exhibition) yang bertempat di Agung Rai Museum Art (ARMA) dan Komaneka Art Gallery Ubud, Bali. Pada tahun 2026 mengikuti Pameran Prasangsa sebagai Seniman yang bertema “Sebelum Bentuk Menjadi Padat” berlokasi di Jogja Gallery, serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan Diskusi Kajian Artistika Dalam Seni Rupa Kontemporer Bali yang diselenggarakan di Jogja Gallery. 

Dalam dunia yang semakin mengagungkan hasil akhir, karya-karya Rai Sunarini mengingatkan bahwa proses memiliki martabatnya sendiri.

Tidak mengherankan apabila kesan pertama yang muncul bukanlah kemegahan, melainkan ketenangan. Karya-karya ini tidak berusaha mengejutkan penonton melalui bentuk-bentuk yang spektakuler. Ia lebih memilih berbicara perlahan. Relief-relief kecil, tekstur yang mengingatkan pada batu dan akar, lengkung-lengkung yang mengalir, serta warna-warna bumi membangun pengalaman yang mengajak mata bergerak pelan dari satu bagian ke bagian lainnya.

Di situlah sesungguhnya perjumpaan dengan karya dimulai. Bukan ketika kita berhasil menemukan maknanya, melainkan ketika kita bersedia memperlambat cara memandang.

Jika ada satu bentuk yang terus hadir dalam sejarah peradaban manusia, bentuk itu adalah bejana. Jauh sebelum manusia mengenal gedung pencakar langit, mesin, atau teknologi digital, mereka telah mengenal wadah. Bejana digunakan untuk menyimpan air, menaruh hasil panen, menjaga benih agar tetap hidup hingga musim tanam berikutnya, atau menjadi tempat persembahan dalam berbagai ritus keagamaan. Dengan kata lain, sebuah bejana tidak pernah hanya menjadi benda. Ia selalu berkaitan dengan kehidupan.

Perspektif inilah yang menarik ketika membaca karya-karya Rai Sunarini. Bentuk bejana yang dipilihnya bukan semata-mata keputusan formal, melainkan bagian dari cara berpikir artistik. Tubuh karya menjadi ruang tempat berbagai unsur bertemu. Relief dedaunan, pusaran, tekstur menyerupai bebatuan, hingga wajah yang larut dalam keheningan tidak ditempelkan sebagai ornamen. Semua itu tumbuh dari tubuh karya, seolah-olah bentuk tersebut sedang mengalami proses kehidupan yang terus berlangsung.

Di titik ini, saya tidak lagi melihat bejana sebagai wadah yang menyimpan sesuatu. Bejana itu sendiri telah menjadi sesuatu yang disimpan; sebuah ruang yang menampung ingatan tentang hubungan manusia dengan bumi.

Pembacaan seperti itu membuat konsep Alam Kedamaian memperoleh kedalaman yang lebih luas. Dalam penjelasan seniman, bentuk-bentuk organik yang terinspirasi dari aliran air, batu, daun, dan angin menjadi refleksi hubungan manusia dengan lingkungan yang rapuh, tetapi tetap menyimpan harapan akan keseimbangan. Permukaannya sengaja mempertahankan jejak tangan agar karya tidak kehilangan sifat manusianya. Kedamaian, dengan demikian, tidak dipahami sebagai keadaan yang sempurna, melainkan sebagai kesediaan menerima proses kehidupan sebagaimana adanya.

Yang menarik, gagasan itu tidak berhenti pada tataran konsep. Ia menjelma pengalaman visual. Jika diamati lebih lama, tidak ada satu bidang pada karya yang benar-benar dibiarkan kosong. Permukaannya dipenuhi ritme yang bergerak perlahan. Relief-relief kecil muncul tanpa saling berebut perhatian. Garis-garis melengkung menghubungkan satu bidang dengan bidang lainnya. Tekstur kasar bertemu dengan permukaan yang lebih halus. Semua unsur hadir dalam komposisi yang seimbang.

Pilihan seperti ini membuat mata tidak berhenti pada satu titik. Pandangan terus bergerak mengelilingi tubuh karya, mengikuti irama yang dibangun oleh seniman. Tidak ada pusat yang benar-benar dominan. Tidak ada bagian yang memaksa dirinya menjadi perhatian utama.

Barangkali di situlah kualitas kontemplatif karya-karya ini berada. Kontemplasi bukanlah sikap pasif. Ia adalah kesediaan tinggal lebih lama bersama sesuatu. Dalam pengalaman menikmati karya seni, kontemplasi berarti membiarkan mata menemukan hubungan-hubungan kecil yang tidak langsung tampak pada pandangan pertama. Karya Rai Sunarini bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak menghabiskan seluruh ceritanya dalam sekali lihat.

Relief wajah yang muncul pada salah satu sisi karya, misalnya, tidak hadir sebagai representasi tokoh religius yang dominan. Mata yang terpejam, ekspresi yang tenang, serta posisinya yang menyatu dengan tekstur di sekelilingnya membuat sosok tersebut lebih dekat dibaca sebagai metafora kesadaran. Wajah itu tidak berada di atas alam. Ia tumbuh dari dalamnya.

Pembacaan tersebut menjadi penting karena mengubah cara kita memahami hubungan manusia dengan lingkungan. Selama ini manusia sering menempatkan dirinya sebagai pusat, sementara alam menjadi latar yang mengelilinginya. Pada karya Rai Sunarini, hubungan itu justru dibalik. Manusia menjadi bagian dari lanskap yang sama. Ia tumbuh bersama dedaunan, batu, air, dan tanah.

Cara pandang seperti ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah berlangsung secara terpisah. Pohon tidak hidup sendiri. Batu tidak berdiri tanpa tanah. Sungai tidak mengalir tanpa hujan. Manusia pun tidak pernah hadir sebagai individu yang benar-benar otonom. Seluruh kehidupan bertahan karena adanya relasi yang saling menopang.

Barangkali itulah alasan mengapa karya-karya ini terasa begitu tenang. Ketenangan yang dihadirkan bukan lahir dari ketiadaan persoalan, melainkan dari kesadaran bahwa kehidupan selalu berlangsung melalui keseimbangan. Tidak ada unsur yang berdiri paling tinggi. Tidak ada yang paling berkuasa. Semua mengambil perannya masing-masing.

Dalam konteks itu, medium kriya menemukan maknanya yang paling dalam. Tanah tidak dipaksa menjadi sesuatu yang asing bagi dirinya. Ia tetap menjadi tanah, tetapi kini membawa kemungkinan baru sebagai ruang kontemplasi. Proses membentuk material menjadi bentuk artistik bukanlah tindakan menguasai, melainkan percakapan yang berlangsung perlahan antara tangan manusia dan material bumi.

Mungkin di situlah karya-karya Rai Sunarini mengandung etika yang jarang diucapkan secara langsung. Cara seorang seniman memperlakukan tanah liat sesungguhnya mencerminkan cara manusia memperlakukan alam. Ketika material dihormati, alam pun memperoleh martabatnya kembali. Dan ketika manusia belajar menghormati alam, barangkali di situlah kedamaian menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Karya Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si. yang dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma | Foto: Angga Wijaya

Apabila Alam Kedamaian berangkat dari pengalaman manusia yang paling dekat dengan bumi, maka Alam Semesta mengajak pembacaan bergerak lebih jauh. Namun, “jauh” di sini bukan semata-mata menunjuk jarak astronomis. Semesta dalam karya-karya Rai Sunarini bukan ruang yang asing dan tak terjangkau, melainkan kesadaran bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam jaringan yang lebih luas daripada dirinya sendiri.

Dalam konsep yang ditulis seniman, karya ini terinspirasi oleh orbit planet, gugusan bintang, dan pusaran galaksi. Bentuk-bentuk spiral yang muncul pada tubuh karya menjadi metafora tentang luasnya kehidupan sekaligus ajakan untuk merenungkan posisi manusia sebagai bagian kecil dari kosmos yang tidak bertepi.

Menariknya, gagasan tentang semesta itu tidak diterjemahkan secara ilustratif. Tidak ada planet yang digambarkan secara realistis. Tidak ada langit yang dipenuhi bintang. Rai Sunarini memilih bahasa yang jauh lebih halus. Lengkung-lengkung yang terus bergerak, pola spiral yang saling bertaut, dan ritme permukaan yang mengalir menjadi isyarat yang cukup untuk membangkitkan pengalaman tentang keluasan.

Pilihan tersebut memperlihatkan kedewasaan artistik. Sebab karya seni tidak selalu harus menjelaskan sesuatu secara harfiah. Sering kali, ia justru menjadi lebih kuat ketika memberi ruang kepada imajinasi penikmatnya.

Spiral yang berulang pada tubuh karya, misalnya, dapat dibaca dalam berbagai kemungkinan. Ia mengingatkan pada pusaran air yang perlahan membentuk arus. Ia menyerupai cangkang siput yang bertumbuh mengikuti hukum alam. Ia juga menghadirkan bayangan tentang galaksi yang terus berputar tanpa henti. Bentuk yang sama ternyata hadir dalam skala kehidupan yang berbeda-beda. Dari sesuatu yang dapat digenggam oleh telapak tangan hingga bentangan semesta yang nyaris mustahil dibayangkan, alam seolah menggunakan bahasa visual yang serupa.

Di sinilah karya Rai Sunarini mengajukan sebuah gagasan yang menarik: semesta ternyata tidak selalu berada di atas kepala kita. Semesta juga hidup di dalam hal-hal yang tampak kecil. Pada sehelai daun yang memperlihatkan pola pertumbuhan. Pada batu yang berubah perlahan karena air. Pada lingkaran tahun yang tersimpan di dalam batang pohon. Bahkan pada segenggam tanah yang menjadi medium karya-karya ini.

Karena itu, membaca Alam Semesta tidak harus dimulai dari langit. Ia justru dapat dimulai dari bumi. Pemikiran seperti ini mengingatkan kita bahwa dalam banyak kebudayaan tradisional, manusia tidak pernah memisahkan bumi dari langit. Keduanya dipahami sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi.

Apa yang terjadi di bumi memiliki hubungan dengan keteraturan kosmos, sebagaimana gerak benda-benda langit menjadi penanda perubahan musim, waktu tanam, hingga ritme kehidupan manusia. Walaupun Rai Sunarini tidak secara eksplisit menyatakan rujukan tersebut, karya-karyanya membuka kemungkinan pembacaan ke arah itu karena hubungan antara bumi dan kosmos terus hadir melalui bentuk-bentuk visual yang dipilihnya.

Di sisi lain, saya melihat bahwa semesta dalam karya-karya ini bukan terutama berbicara tentang keluasan ruang, melainkan tentang kerendahan hati.

Semakin luas semesta dibayangkan, semakin kecil pula posisi manusia di dalamnya. Kesadaran semacam itu justru penting pada masa ketika manusia sering merasa mampu menguasai segala sesuatu. Kita dapat mengukur kedalaman laut, memetakan permukaan planet lain, dan mengirim wahana ke ruang angkasa. Namun, pada saat yang sama, kita sering lupa merawat sungai di dekat rumah, lupa menjaga tanah tempat berpijak, bahkan lupa bahwa tubuh kita sendiri bergantung pada keseimbangan alam.

Barangkali karena itu, karya-karya Rai Sunarini tidak sedang mengajak manusia mengagumi semesta. Ia mengajak manusia menemukan kembali tempatnya di dalam semesta.

Kesadaran tersebut terasa semakin kuat karena tidak ada satu pun elemen visual yang tampil dominan. Wajah, daun, spiral, dan tekstur organik hidup berdampingan. Tidak ada yang menguasai komposisi. Semua hadir sebagai bagian dari keseluruhan. Komposisi seperti ini seolah menjadi metafora bahwa harmoni lahir bukan ketika satu unsur mengalahkan unsur lain, melainkan ketika semuanya menemukan ruangnya masing-masing.

Di sinilah dua konsep yang diusung Rai Sunarini akhirnya saling bertemu. Alam Kedamaian berbicara tentang keseimbangan dalam hubungan manusia dengan lingkungan, sementara Alam Semesta memperluas keseimbangan itu ke dalam kesadaran kosmis. Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling menjelaskan.

Dan mungkin, justru di titik itulah karya-karya ini memperoleh daya gugahnya. Ia tidak hanya menawarkan bentuk yang menarik untuk dipandang, tetapi juga mengajak kita memikirkan kembali sebuah pertanyaan yang semakin jarang diajukan dalam kehidupan modern: di manakah sebenarnya tempat manusia di tengah kehidupan yang begitu luas ini?

Barangkali di sinilah karya-karya Rai Sunarini menemukan relevansinya. Ia tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang manusia yang perlahan kehilangan hubungan dengan alam. Yang dipersoalkan bukan semata-mata kerusakan lingkungan, melainkan cara pandang yang membuat manusia merasa berada di luar dunia yang menopang kehidupannya.

Kita hidup pada masa yang bergerak semakin cepat. Waktu diukur melalui produktivitas. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan. Bahkan pengalaman estetik pun kerap berlangsung secepat gerakan jari di layar telepon genggam. Karya seni dilihat sekilas, dipotret, lalu ditinggalkan sebelum benar-benar sempat mengendap menjadi pengalaman.

Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si. bersama karyanya yang dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma | Foto: Angga Wijaya

Dalam situasi seperti itu, karya-karya Rai Sunarini justru menawarkan ritme yang lain. Ia tidak menuntut kekaguman. Ia meminta kesabaran. Kesabaran untuk mengikuti lekukan demi lekukan yang tumbuh di permukaan karya. Kesabaran untuk membaca hubungan antara dedaunan, bebatuan, pusaran, dan wajah yang menyatu dengan tubuh bejana. Kesabaran untuk memahami bahwa keindahan tidak selalu hadir melalui sesuatu yang mengejutkan, tetapi sering kali tumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana.

Barangkali karena itu karya-karya ini terasa begitu sunyi. Keheningan yang dihadirkannya bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang yang memungkinkan penonton bercakap dengan dirinya sendiri. Semakin lama memperhatikan permukaan karya, semakin terasa bahwa tidak ada satu bentuk pun yang benar-benar ingin mendominasi. Semua hadir dalam kadar yang seimbang. Seluruh unsur visual saling memberi ruang.

Keseimbangan seperti itulah yang sesungguhnya semakin langka dalam kehidupan hari ini. Manusia modern terbiasa memosisikan dirinya sebagai pusat. Alam dipandang sebagai sumber daya. Tanah menjadi komoditas. Sungai menjadi saluran. Hutan menjadi angka dalam laporan investasi. Cara pandang seperti itu membuat hubungan manusia dengan bumi berubah menjadi hubungan kepemilikan.

Padahal, karya-karya Rai Sunarini justru mengajukan pemahaman yang berbeda, bahwa tanah bukan sesuatu yang dimiliki manusia. Manusialah yang hidup karena tanah. Gagasan itu memang tidak pernah diucapkan secara langsung oleh seniman. Namun, seluruh pilihan artistiknya bergerak ke arah sana. Tanah tetap dibiarkan menjadi tanah. Tekstur alaminya dipertahankan. Jejak tangan tidak dihapus. Material tidak dipaksa kehilangan karakternya hanya demi mencapai kesempurnaan visual. Sikap artistik tersebut menjadi semacam etika yang halus: memperlakukan material dengan hormat berarti memperlakukan alam dengan hormat.

Di titik ini, saya merasa karya-karya Rai Sunarini sesungguhnya tidak sedang mengajarkan manusia untuk mencintai alam. Alam tidak membutuhkan cinta yang romantis. Yang dibutuhkan alam adalah kesadaran bahwa manusia merupakan bagian darinya.

Perbedaan itu penting. Mencintai masih menyisakan jarak antara subjek dan objek. Menjadi bagian berarti menyadari bahwa kerusakan alam pada akhirnya adalah kerusakan terhadap diri manusia sendiri. Bahwa menjaga bumi bukan tindakan heroik, melainkan bentuk paling sederhana dari menjaga keberlangsungan hidup.

Barangkali karena itulah bentuk bejana menjadi sangat bermakna dalam karya-karya ini. Bejana selalu diciptakan untuk menampung kehidupan. Dahulu ia menyimpan air, benih, hasil panen, atau persembahan. Dalam karya Rai Sunarini, bejana itu seolah berubah menjadi wadah yang menyimpan kesadaran. Kesadaran bahwa bumi, manusia, dan semesta bukanlah tiga dunia yang terpisah. Ketiganya saling menghidupi dalam hubungan yang terus bergerak.

Pada akhirnya, saya tidak membaca Alam Kedamaian sebagai gambaran tentang dunia yang bebas dari pertentangan. Saya justru membacanya sebagai kemampuan menerima bahwa kehidupan selalu dibentuk oleh proses. Demikian pula Alam Semesta, yang bagi saya bukan sekadar metafora tentang keluasan jagat raya, melainkan pengingat bahwa setiap kehidupan memperoleh maknanya karena berada di dalam jaringan kehidupan yang lebih besar.

Dari situlah karya-karya Rai Sunarini menemukan kedalaman maknanya. Ia tidak berhenti sebagai objek yang memanjakan mata atau menunjukkan kecakapan mengolah medium. Ia menjadi ruang kontemplasi, tempat manusia diajak meninjau kembali hubungannya dengan bumi yang dipijak setiap hari.

Mungkin itulah yang sesungguhnya disimpan Rai Sunarini di dalam tubuh karya-karyanya. Bukan sekadar bentuk yang dibakar hingga mengeras, melainkan sebuah pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri di luar alam. Kita selalu hidup di dalamnya, dibentuk olehnya, dan pada waktunya akan kembali menjadi bagian darinya.

Sebagaimana segenggam tanah liat yang perlahan menemukan bentuk di tangan seorang perupa, barangkali kehidupan pun sedang membentuk manusia dengan cara yang tidak selalu dapat dipahaminya. Dan justru di situlah kedamaian menemukan maknanya: ketika manusia berhenti merasa sebagai pusat semesta, lalu belajar kembali menjadi bagian darinya.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Agung Rai Museum of ArtNi Made Rai Sunarini
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

Next Post

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails
Next Post
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co