23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Keakraban Berbuntut Teror

Chusmeru by Chusmeru
July 23, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada di dalam kelas, Asifa Furoda juga banyak meluangkan waktunya di luar kelas untuk membimbing berbagai kegiatan mahasiswa jurusan.

Setiap mahasiswa juga mengenal Asifa Furoda yang manis, ramah, dan sangat mudah akrab. Meski ia tidak mengenal semua mahasiswa di jurusan. Hanya pengurus HMJ dan mahasiswa yang aktif berkegiatan saja yang dikenalnya. Bahkan Asifa Furoda memiliki banyak nomor ponsel mahasiswa.

Tentu saja tidak mudah menjadi dosen pembimbing mahasiswa. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Apalagi Asifa Furoda memiliki target yang tinggi bagi mahasiswa yang dibimbingnya. Ia berharap setiap pengurus himpunan berhasil mengukir prestasi di berbagai bidang, baik ilmiah, olah raga, sosial, maupun budaya.

Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan HMJ adalah malam keakraban untuk menyambut mahasiswa baru. Meskipun kegiatan itu agenda rutin mahasiswa jurusan, namun tetap saja memerlukan pendapat dan persetujuan Asifa Furoda sebagai dosen pembimbing. Teknis pelaksanaan, tempat kegiatan, dan rangkaian acara sepenuhnya ditangani mahasiswa.

Ketua HMJ Ilmu Komunikasi periode tahun ini dipegang oleh Riski Perdana. Ia yang bertanggung jawab atas semua kegiatan jurusan, termasuk malam keakraban nanti. Berkaca pada kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya, malam keakraban selalu berjalan lancar dan sukses. Maka tahun ini pun Riski Perdana berharap malam keakraban akan sukses.

Hasil diskusi dengan semua pengurus HMJ dan Asifa Furoda selaku dosen pembimbing, diputuskan tempat kegiatan dilakukan di sebuah kompleks vila di bebukitan lereng Gunung Slamet. Tempatnya nyaman dan bersih. Udara di sekitar vila sangat sejuk. Pertimbangan yang paling utama tentunya harga sewa vila yang murah dan aksesnya mudah dijangkau.

Mendengar nama vila yang dipilih mahasiswa, Asifa Furoda sebenarnya agak ragu. Ia pernah mendengar cerita, vila yang akan dijadikan tempat malam keakraban mahasiswa baru itu dikenal angker. Konon vila itu dibangun di atas tanah yang pada zaman dahulu merupakan gudang perkebunan teh milik Belanda.

Menurut cerita, dulu beberapa buruh pabrik meninggal dunia secara tak wajar di tempat itu. Ada pula cerita seorang mandor pabrik berkebangsaan Belanda tewas mengenaskan setelah terjatuh di gudang pabrik. Karenanya banyak berkembang cerita jika di vila itu sering muncul penampakan makhluk halus.

***

Mahasiswa baru jurusan yang diterima tahun ini sejumlah 160 orang. Jika ditambah dengan panitia dari HMJ, maka peserta malam keakraban hampir 200 orang. Mereka terbagi dalam beberapa  vila yang ada di bukit lereng Gunung Slamet untuk menginap selama dua malam.

Acara demi acara dimulai di ruang pertemuan kompleks vila. Masing-masing mahasiswa diminta untuk menampilkan bakat dan keterampilan mereka. Neneng Rohani mahasiswa asal Cianjur menampilkan tarian jaipong. Gerakannya yang lincah mengundang tepuk tangan mahasiswa yang hadir.

Namun tiba-tiba ada yang aneh pada diri Neneng Rohani. Ia menari jaipong sambil matanya menatap tajam ke atas, kemudian sorot matanya tertuju pada mahasiswa. Asifa Furoda yang mendampingi acara ikut terkejut. Neneng Rohani mendadak berhenti menari dan tertawa keras, melengking, dan menyeramkan.

Suasana ruang pertemuan berubah menjadi tegang. Neneng Rohani kesurupan. Entah makhluk apa yang merasuk ke dalam tubuhnya. Anehnya, Neneng Rohani berbicara dengan logat Banyumasan. Padahal ia berasal dari Cianjur yang setiap hari berbicara dengan logat Sunda. Asifa Furoda mencoba berkomunikasi dengan makhluk yang merasuki Neneng Rohani. Ia dulu pernah belajar tentang hal gaib dari Pak Kusmedi, dosennya waktu ia masih kuliah.

“Mohon maaf, ini siapa?” tanya Asifa Furoda.

“ Ora usah gujih… kae wong kon padha meneng, aja reang bae nang omahku..!!!” jawab Neneng Rohani dalam bahasa Banyumasan dengan nada membentak. Suaranya seperti seorang nenek tua. Artinya, “Jangan cerewet. Itu orang-orang suruh diam, jangan berisik di rumahku”. 

“Nggih, Mbah,” kata Asifa Furoda sambil memberi isyarat agar semua mahasiswa diam sejenak. Musik jaipong yang disetel dari flashdisk dihentikan.

Neneng Rohani melihat ke seluruh ruangan, lalu memandang ke atas. Wajahnya tampak marah dan menyeramkan. Asifa Furoda membaca doa-doa, telapak tangannya diusapkan di wajah Neneng Rohani. Sesaat kemudian kaki Neneng Rohani menghentak tanah, sambil tertawa mengerikan. Tak lama setelah itu ia terkulai lemas. Neneng Rohani tersadar kembali.

Acara malam keakraban dilanjutkan, tetapi tidak diiringi dengan tetabuhan musik. Sebenarnya suasana masih terasa mencekam, tetapi Asifa Furoda mengizinkan panitia untuk melanjutkan kegiatan. Bayu, mahasiswa baru asal Yogya tampil membawakan komedi tunggal. Dengan logat Yogya yang kental, Bayu mampu mengundang tawa teman-temannya. Guyonan Bayu mencairkan suasana. Ketegangan perlahan berubah menjadi riang kembali.

Giliran berikutnya, Afif Yulianto tampil membawakan puisi panjang Nyanyian Angsa karya WS Rendra. Gaya membaca Afif Yulianto yang penuh penghayatan membuat mahasiswa terdiam mendengarkan, termasuk Asifa Furoda.

“Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya,” ucap Afif Yulianto menutup puisi WS Rendra.

Tepuk tangan mahasiswa menggema di ruangan saat Afif Yulianto selesai membaca puisi. Namun ia tidak segera kembali ke tempat duduknya. Afif Yulianto masih berdiri mematung. Mulutnya komat-kamit mengucapkan sesuatu dengan bahasa Belanda. Matanya tampak melotot ke arah mahasiswa. Semua terkejut. Afif Yulianto kesurupan hantu Belanda.

Asifa Furoda kebingungan sekaligus ketakutan. Ia tidak tahu bahasa Belanda. Beruntung ada Ruben, salah satu mahasiswa baru yang mengerti bahasa Belanda. Dibantu Asifa Furoda, Ruben berkomunikasi dengan Afif Yulianto.

“Niet zo’n lawaai maken.. !!!” bentak Afif Yulianto kepada Ruben dan Asifa Furoda.

Sementara mahasiswa yang lain tampak ketakutan. Ada pula yang merinding. Apalagi hari sudah menjelang tengah malam. Setelah diteror ketakutan oleh makhluk halus berbahasa Banyumasan, kini mereka berhadapan dengan hantu Belanda.

“Apa katanya?” tanya Asifa Furoda kepada Ruben.

“Jangan bikin keributan, jangan berisik, katanya Bu,” jawab Ruben menerjemahkan ucapan Afif Yulianto.

“Ya sudah, sampaikan kita akan mengakhiri acara malam ini,” kata Asifa Furoda kepada Ruben untuk disampaikan kepada makhluk halus yang merasuki Afif Yulianto.

Ruben pun atas nama seluruh mahasiswa menyampaikan permohonan maaf kepada makhluk halus itu dengan bahasa Belanda, dan meminta untuk kembali ke alamnya. Tampak Afif Yulianto mengangguk sambil tetap menunjukkan wajah yang marah. Tak berapa lama seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuh Afif Yulianto. Ia menjerit dan terkulai lemas. Afif Yulianto tersadar kembali.

***

Teror makhluk halus di acara malam keakraban mahasiswa baru membuat acara tidak dapat berjalan sesuai jadwal. Kegiatan terpaksa harus dihentikan. Sepertinya makhluk halus di seputar kompleks vila tidak berkenan ada kegiatan yang menimbulkan kegaduhan. Padahal acara masih akan berlangsung dua hari lagi.

Asifa Furoda meminta seluruh mahasiswa untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Besok pagi masih ada kegiatan olah raga. Satu per satu mahasiswa masuk ke kamar. Satu vila terdiri dari beberapa kamar, dan satu kamar ada yang ditempati 4 orang, ada pula yang 5 orang. Jarak antara satu vila dengan vila lainnya juga tidak jauh.

Suasana mencekam masih dirasakan mahasiswa setelah terjadi kesurupan pada diri Neneng Rohani dan Afif Yulianto. Kebanyakan mahasiswa masih merinding ketika memasuki kamar mereka. Apalagi suasana di seputar kompleks vila sangat sepi dan rimbun oleh tumbuhan hutan.

Benar saja. Ternyata teror malam keakraban belum berakhir. Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam kurang lima menit. Saat Dinda Amalia bersama tiga temannya hendak berangkat tidur, tercium aroma bunga kamboja yang menyengat hidung. Mereka saling pandang, merinding dan ketakutan. Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Kembali mereka saling pandang. Tak ada yang berani membuka pintu. Wajah mereka tampak pucat.

“Siapa..???” tanya Dinda Amalia memberanikan diri.

Tidak terdengar suara sautan. Aroma bunga kamboja semakin tajam tercium. Dinda Amalia berdebar ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetaran. Tiba-tiba terdengar kembali suara ketukan di pintu kamar. Entah mengapa Dinda Amalia melangkahkan kakinya menuju pintu. Dengan tangan gemetar ia buka pintu kamar. Dan, jantung Dinda Amalia nyaris copot ketika dilihatnya kepala manusia yang menyeramkan melayang-layang. Hanya kepala, tanpa anggota tubuh lainnya.

“Hantuuu…!!!!” teriak Dinda Amalia sambil menutup pintu kamar dengan keras. Ketiga temannya terkejut. Mereka saling peluk ketakutan. Dinda Amalia menangis karena ngeri melihat hantu kepala melayang di depan kamar vila.

Teror mengerikan juga dialami Setyo Pramono, mahasiswa baru asal Magelang yang tidur bersama tiga rekannya di kamar vila. Ketika Setyo Pramono hendak membaringkan tubuhnya di kasur, terdengar derap langkah di depan kamar. Suara sepatu yang keras mengikuti langkah itu. Setyo Pramono heran, mengapa ada orang melintas tengah malam.

Awalnya Setyo Pramono menduga pegawai vila yang lewat. Namun itu suara sepatu pantofel, sepatu formal yang berbahan sol kulit yang biasa dipakai pegawai kantoran. Lagi pula ada urusan apa orang itu di tengah malam, ketika mahasiswa sudah mulai tidur. Belum usai keheranan Setyo Pramono, tercium aroma bunga sedap malam. Ia merinding. Sementara teman-temannya sudah tertidur pulas.

Bukannya menghilang suara langkah kaki bersepatu itu, semakin lama justru semakin bertambah keras. Langkah itu seolah bolak-balik di depan kamar. Setyo Pramono mulai dicekam ketakutan. Ingin membuka pintu ia tak berani. Hendak membangunkan teman-temannya tidak enak hati. Kasihan mereka, terlalu capai.

Setyo Pramono bingung di tengah ketakutannya. Suara sepatu di luar kamar itu sangat mengganggunya. Sedangkan harum bunga sedap malam membuatnya bergidik. Tengah malam tercium aroma wangi bunga dan suara langkah kaki orang dengan sepatu pantofel membuat Setyo Pramono merasa diteror makhluk halus di vila.

Ditariknya napas dalam-dalam, kemudian dihembuskan pelan-pelan. Setyo Pramono berusaha menahan ketakutan. Ia memberanikan diri membuka pintu untuk melihat siapa orang yang mondar-mandir lewat di depan kamar. Betapa terkejut dia. Seorang berperawakan tinggi besar berjalan menuju ke kamar.

Nyaris tak percaya. Setyo Pramono melihat seorang bule berparas Belanda mengenakan jas warna coklat dan sepatu pantofel. Kumisnya tebal. Bule itu melewati kamar dengan sorot mata tajam.  Setyo Pramono hanya berdiri kaku. Wajahnya ketakutan. Setelah melewati kamar, mendadak bule Belanda itu menghilang. Aroma bunga sedap malam kembali tercium. Setyo Pramono gemetaran. Cepat-cepat ia tutup pintu kamar.

“Hantuuu…!!!” teriak Setyo Pramono membuat ketiga temannya terbangun.

Di kamar vila yang lain, Asifa Furoda yang tidur sendirian dibuat ketakutan oleh suara tangisan anak kecil di luar kamar. Harum bau bunga melati juga menembus kamarnya. Asifa Furoda mencoba menenangkan diri. Barangkali anak pengelola vila yang menangis. Namun ia berpikir, bukankah sudah tengah malam?

Menjawab rasa penasarannya, Asifa Furoda membuka pintu kamar. Dilihatnya ke sekeliling. Tidak ia temukan seorang anak kecil. Aroma bunga melati kian menyengat hidung. Bergegas ia tutup kembali pintu kamar. Tak lama, terdengar lagi suara tangisan anak kecil. Asifa Furoda dicekam ketakutan. Ia coba telepon ketua panitia malam keakraban, tetapi ponselnya tidak aktif. Asifa Furoda hanya bisa berdoa sambil berharap suara tangisan anak kecil itu segera berhenti.

***

Saat sarapan pagi bersama di aula pertemuan,  Dinda Amalia dan Setyo Pramono berbagai cerita menyeramkan. Mendengar perbincangan mereka, Asifa Furoda bergabung sambil menceritakan suara tangisan anak kecil di depan kamarnya. Suasana sarapan pagi berubah menjadi tegang. Malam keakraban mahasiswa berbuntut teror hantu vila.

Ternyata bukan hanya mereka bertiga yang diteror makhluk halus. Beberapa mahasiswa baru juga mengalami kejadian yang serupa. Ada yang diketuk-ketuk pintu kamarnya oleh makhluk halus. Ada yang lampu kamarnya byar pet, mati dan menyala terus-menerus. Ada pula yang diteror suara orang sedang mandi, tetapi ketika ditengok tidak ada siapa pun di kamar mandi.

Asifa Furoda menangkap gelagat tidak beres. Malam keakraban yang dilakukan di vila berbuntut teror makhluk halus. Padahal masih tersisa dua malam mereka menginap di vila itu.  Ia segera menemui pengelola vila dan menceritakan apa yang dialami mahasiswa semalam. Pegelola vila merasa prihatin dengan apa yang dialami Asifa Furoda dan mahasiswa. Ia kemudian mendatangkan Mbah Kiman, kesepuhan atau orang yang dituakan di desa.

Mbah Kiman datang dengan membawa beberapa sesaji dan kemenyan. Ia duduk bersila di sudut kanan halaman vila. Asap kemenyan mengepul melambung ke udara. Suasana magis terasa ketika di tengah keheningan Mbah Kiman mengucapkan sesuatu dalam bahasa Banyumasan, kemudian sesekali ia berkata dengan bahasa Belanda.

Aroma kemenyan dirasakan hingga aula pertemuan vila tempat mahasiswa melakukan kegiatan. Angin dingin semilir dirasakan semua mahasiswa. Asifa Furoda ikut membaca doa. Beberapa mahasiswa tampak menahan rasa takut. Selesai melakukan ritual, Mbah Kiman melangkah menuju aula.

“Makhluk halus itu terganggu dengan acara kalian. Mereka bertempat tinggal di seputaran vila ini. Semestinya di awal kegiatan kulonuwun dulu, permisi minta izin kepada mereka,” kata Mbah Kiman kepada Asifa Furoda dan mahasiswa.

“Terus selanjutnya bagaimana, Mbah. Apakah mereka akan mengganggu kita lagi?” tanya Asifa Furoda.

“Semoga tidak lagi. Saya sudah minta agar mereka maklum,” jawab Mbah Kiman.

Asifa Furoda merasa lega. Mahasiswa tampak tenang kembali. Malam keakraban dilanjutkan kembali. Tidak ada lagi teror misterius yang terjadi. Asifa Furoda mencoba menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa kehidupan ini terdiri dari alam nyata dan alam gaib. Selayaknya masing-masing saling memahami, sepanjang tidak saling menganggu.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Malam Keakraban Berbuntut Teror

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

by Chusmeru
July 23, 2026
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma
Esai

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co