Memelihara Kesepian
1.
letakkan kesepian
di tempat yang teduh.
jauhkan dari suara
orang-orang yang terlalu bahagia.
2.
beri makan
setiap malam.
sedikit kenangan.
sedikit musik.
jangan terlalu banyak
pesan lama.
ia mudah kembung.
3.
jika kesepian
mulai tumbuh tinggi,
potong ujungnya.
jangan biarkan
mencapai kepala.
4.
pada musim hujan
kesepian biasanya
lebih cepat berbunga.
jangan panik.
bunga-bunganya
memang menyerupai wajah.
5.
jika suatu pagi
kau menemukan
kesepianmu hilang,
jangan mencarinya.
barangkali ia
akhirnya menemukan
seseorang
yang bersedia
memeliharanya.
Nomor Antrean
di rumah sakit itu aku mengambil nomor antrean untuk menemuimu, meskipun kau sehat dan sedang menungguku di kedai kopi seberang jalan. entah bagaimana petugas memberikan nomor 47. aku duduk hampir satu jam bersama orang-orang yang memegang hasil pemeriksaan, resep, dan wajah-wajah yang ingin segera pulang. ketika nomor 47 dipanggil, sebuah pintu terbuka. di dalamnya hanya ada kursi kosong dan sepasang sandalmu. aku memakainya. ukurannya pas. ketika keluar, kau sedang berdiri di depan pintu rumah sakit sambil tertawa. katamu, “kau lama sekali.” aku menjawab, “aku sedang mencari jalan pulang.” kau menggandeng tanganku. rupanya jalan itu memakai kakimu.
Bau Rambut Setelah Hujan
suatu sore kau pulang kehujanan. rambutmu basah, bajumu meneteskan air ke lantai, dan seluruh rumah mendadak berbau tanah. kau mengambil handuk lalu duduk di depan kipas angin. aku membuat teh. kau bilang tehnya terlalu manis. aku bilang kau terlalu basah. kau tertawa. bertahun-tahun kemudian, setelah rumah ini berganti cat dan kipas angin rusak dan cangkir itu pecah di dapur, aku masih kadang mencium bau rambutmu setelah hujan. padahal kau sedang berada di kota lain. padahal sore sedang panas. padahal tidak ada hujan. aku membuka jendela. tidak ada siapa-siapa di luar. hanya seorang anak berlari membawa payung yang belum dibuka. aku memandangnya sampai hilang di tikungan, lalu sadar: rupanya tubuh memiliki cara sendiri untuk mengingat seseorang lebih lama daripada ingatan.
Toko Bunga untuk Orang yang Tidak Mati
di ujung jalan ada toko bunga yang hanya menjual bunga untuk orang yang masih hidup. pemiliknya hafal semua pelanggan: mawar untuk ibu, melati untuk kekasih, krisan untuk seseorang yang sedang sakit hati, bahkan satu pot kecil bunga matahari untuk lelaki yang setiap kamis datang membeli bunga untuk dirinya sendiri. “kenapa untuk diri sendiri?” tanya seorang pelanggan. lelaki itu menjawab, “aku sedang berusaha tidak kehilangan diriku.” pemilik toko tidak tertawa. ia membungkus bunga itu dengan kertas cokelat dan menyelipkan selembar nota. pada nota tertulis: dibayar lunas oleh seseorang yang pernah mencintaimu. lelaki itu terdiam. ia tidak mengenal siapa pun yang pernah membayar hidupnya. ketika pulang, bunga matahari di tangannya menghadap ke belakang, ke arah toko. seolah-olah ada seseorang di sana yang sedang memandanginya pergi.
Kepala yang Terlalu Penuh
kepalanya penuh.
sebuah stasiun.
tiga kereta.
seorang perempuan
yang tidak dikenal.
bau roti.
seekor burung
tanpa nama.
pukul 17.40.
hujan.
sebuah rumah.
lampu dapur.
kursi kosong.
suara sendok.
namanya sendiri
dipanggil dari jauh.
ia mencoba tidur.
tidak bisa.
ia membuka kepala.
mengeluarkan semuanya.
satu per satu.
menaruhnya
di lantai.
pagi hari.
rumahnya penuh benda.
tetapi kepalanya
akhirnya kosong.
ia merasa sedih.
rupanya
kesepian juga
memerlukan ruang.
(Gorontalo, 2026)
.
Penulis: Salman Alade
Editor: Adnyana Ole


























