LINTANG PERAHU PEGAT
Dari perut bunda
Pertama kalinya aku hidup
Dari perut bunda
Pertama kali aku dipeluknya
Tak ingat apa yang terjadi sebelumnya
Tak tahu apa yang terjadi ke depannya
Itu semua rahasia waktu
Hanya waktu
Ada pesan dalam mimpi sang bunda
Laut lepas perbatasan Jawa Bali
Gelap…
Muncul secercah cahaya
Kaki bunda membelai lembut air
Mengkutinya hingga ke tepi
Lelah kaki bunda
Tak bisa pulang
Dua peri datang
Mengantar bunda pulang
Lalu terbuka mata bunda
Di lintang perahu pegat
Karna waktuku
Kelahiran itu datang
Tak mengerti banyak hal
Aku ragu
Tak menangis
Bak tenang potret air
Terlelap dalam tidur
Berwarna biru tua
Iba bunda…
Satu hari…
Aku di dalam kotak kehidupan
Tanpa bunda
Tiga hari…
Aku masih nyaman disana
Tanpa bunda
Tujuh hari…
Aku mencari kehidupan
Tanpa bunda
Satu bulan…
Kotak itu sudah aku anggap rumah
Tanpa bunda
Bunda berada dibalik jendela sambil berkata;
“Kau tak mau bertemu Bunda?”
Hatiku berbicara dalam bunga
Aku ingin bersama bunda
Dan hari itupun tiba
Air meluap dari mulutku
Pertama kalinya terdengar suara
Pertama kalinya mataku terbuka
Wanita berpakaian putih bahagia bersama bunda
Keluarga bersukacita bersama bunda
Dan aku hidup di dekapan bunda
Bunda namakan Intan
Jiwa yang bercahaya di tubuh biru tua
2026
LEMPUYANG
Bocah kecil berbaju kuning
Topi kepala gajah hitam biru
Melangkahi tangga kecil
Bersama kakek tua
Dingin merinding sejuk
Bersamanya naik puncak
Dengan alas bersuara
Bertemu para bhatara
Menepati sebuah sumpah
Di puncak ia berucap
Cucuku dapat berjalan
Langkah pertamanya untuk Lempuyang
2026
MARIA
Ini bukan tentang tuhan
Namun ini tentang bunda
Maria nama bundaku
Hatinya selembut bulu merak
Cintanya sedalam Khrisna
Pengetahuannya seluas Weda
Kasih sayangnya bagaikan bunda bernama Maria
Ini bukan tentang tuhan
Ini tentang bunda
Ibu dari semua tuhan
Baktiku pada bunda
Oh bunda yang berselimutkan hangatnya cinta
Aku bersedia menyumbangkan segalanya
Asal bersama bunda
2026
KEDAI ROMPYOK
Bagai takdir di aksara tuhan
Dulu ku berdiri di sebuah kedai kopi
Tampak sepi sunyi namun hangat
Menyuguhkan segelas kopi manis
Ku berjalan ke tengah
Burung hantu bertengger di ranting
Seorang lelaki dengan radio lama
Lukisan dinding yang menyimpan rasa
Beribu buku sastra
Dan kadang ada pertunjukan
Kamera on!
Siap!
Tiga dua satu action!
Kata Raka sang sutradara
Dengan kamera milik Bram
Rol film telah memulai perjalanannya
Sebenarnya Raka sedang buat proyek film Gus Dur, katanya
Krisna produsernya
MIPA satu krunya
Dan Okta sang bintang utama
Yang katanya akan dilengserkan
Bukan di kelas melainkan di film
Terdengar suara di balik layar
Tan, nanti kacamatanya pinjam ya?
Ucap sang aktor utama
Ini aku pinjamkan, kataku
Dia mulai memakai kacamata
Berlagak menjadi presiden keempat
Dan mumpung aku sedang baik
Aku doakan semoga kamu benar menjadi kepala negara
Dan tempat ini
Aku perhatikan tiap sisi
Daftar menunya unik
Namanya lucu
Mungkin untuk menarik pengunjung
Entah kenapa kelas kita memilih kedai itu?
Sepertinya ini tanda dari semesta
Tanpa berkata, tanpa aba-aba
Lagipula bisa saja kita disana sambil nongkrong
Terima kasih wahai kawan
Karna kalian, aku tahu tempat seru bernama Kedai Rompyok
2026
BUKAN KELAS UNGGULAN
Senin Selasa Rabu
Upacara bahasa Indonesia
Kamis
Upacara bahasa Bali
Jumat
Upacara bahasa Inggris
Memang tak ada yang terlihat santai
Tiap hari menurutku terasa hambar
Hanya berlalu begitu saja
Hingga hidupku disiplin
Hidup harus disiplin!
Kata seseorang
Namun nyatanya disiplin itu melelahkan
Hingga jiwaku merasa bosan
Tak bisa menopangnya
Sangat berat…
Jika tuhan berkehendak
Aku berharap sehari saja
Turunkan hujan agar membasahi lapangan
Aku juga berharap sekali saja
Kita menjadi bukan kelas unggulan
Aku ingin melihat kekonyolan kalian
Menjadikannya berjuta kenangan
Di genggaman kita
Yang terkenang di kala tua
2026
TAMATAN 23
Bunga-bunga mengembara
Dari tangan satu ke tangan lain
Mengantar sebuah pesan
Kita sudah tamat SMA
Sesi foto terakhir bersama kawan
Gaun indah
Medali kenangan
Namun akhirnya berpisah
Sungguh kisah tragis
Ku menahan tangis
See you on the top guys!
2026
Penulis: Putu Intan Juliantika
Editor: Adnyana Ole






























