28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Selendang Sulaiman by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
in Puisi
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Selendang Sulaiman

sore di gerbang tim.

jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,
angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.
aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,
membiarkan rambut kusut dan deru aspal menamparku.

langit layu menatap anak-anak memacu sepeda,
mengubur masa kecilku yang terlanjur usai.
lalu wajahku gatal diraupi debu dan polusi,
sambil kukecek mata—jalanan gelar sirkus jakarta.

dua buku usai kulahap dengan kepala penuh,
sementara ingatan hadirkan pengamen ondel-ondel
yang berkeringat menjajal nasib tanpa wajah tradisi.

jam tiga lewat dua puluh lima menit di gerbang tim,
telingaku menangkap lengking toa di jarak 500 meter,
hiburan bising penawar lelah seninku yang bacin.

citra penyair.

biarpun engkau memukau di panggung, penyair,
kilaunya sekadar pinjaman dari rahasia kata-kata.
ragamu tetaplah tanah liat yang rapuh dan fana,
sembunyi di balik sajak yang mati-matian kau puja.

senyummu terekah memalsukan simpati penonton,
gaya jalangmu didesain untuk memanipulasi manusia.
lalu kau poles watak oportunismu dengan diksi kesatria,
berharap aspal kota tak lekas membelah—menelanmu.

karenamu, puisi yang berdarah tak lagi dipercaya,
puisi ditunggangi syahwat para pencari nama—
laiknya si miskin yang bangga pamer perhiasan bajakan.

maka timbalah segera air di sumur kemunafikanmu,
tataplah bayangan wajah puisimu di dasar ember:
ia membeku, perlahan dicemari lumut air berlendir.

wajah kegetiran.

telapak tanganku basah dan perlahan bergetar,
tepat saat bibirmu merekah senyum yang hampir waras.
tak ada layar romansa yang sanggup tergelar di sini,
sebab dadaku terlanjur penuh trauma yang terbakar.

engkau penuh luka dan pertanyaan pada kehidupan,
menjadikan hadirku suaka dari jerat kuasa makna—
pada tuhan-tuhan jantan yang gemar nindas betinanya.
di titik nadir ini, aku hancur lalu menyatu denganmu.

persetan dengan warna cinta atau janji kemanusiaan,
yang mereka khotbahkan di bawah pendar imitasi cahaya.
aku tergenapi adamu yang sama-sama menolak kalah.

maka kecuplah telapak tanganku yang gemetar dan basah,
biarkan darah dan sum-summu menyerap habis lelahku,
hingga wajah tuhan merupa kita yang lahir dari kegetiran.

pandang rabun kelas pekerja.

aku si gila, yang terus tertipu oleh derau waktu,
memikul memar dari rentetan siasat saudara-saudaraku.
di jakarta perlindungan tak nyata, hidup hanya baris catatan,
sedang cemas melayang-layang, memamah udara berdebu.

musim-musim telah lama kehilangan fitrahnya,
siang dan malam menyusut jadi tenggat yang meneror.
perjumpaan demi perjumpaan menetaskan telur bencana,
dan di kepalaku: angka, catatan dan dusta saling berperang.

aku si gila, yang dikutuk mencatat fakta-fakta,
bukan dengan mata elang, tapi pandang rabun kelas pekerja,
merekam setiap gejala kota yang pelan-pelan tak manusiawi.

tak ada tetesan dewa-dewi, yang ada hanya peluh amis
merembes keluar dari punggungku yang kian tipis—terkikis,
lalu kepada aspal jalan kuleburkan sisa-sisa kewarasan.

jalan yang dipilihkan kenyataan.

sajak pamfletmu pernah jadi saksi bagi penguasa takabur,
puluhan tahun menerjang kemelut hidup masyarakat.
namun dari busuknya sejarah di negerimu sendiri,
kesaksianmu kini nyaris gagal menetaskan pencerahan.

bahasa pemberontakan dari lidah api sajakmu dulu,
kini membakar tumpukan laporan penuh dusta.
sebab kesadaran bangsa ini sudah terlanjur macet
dihadang tebalnya aspal dan tembok birokrasi.

aku sempat memanggilmu dari sisa api sajakmu,
yang menyala liar dan mendidihkan akal sehatku.
tapi bara idealismemu mengabukanku pelan-pelan.

abu obsesi padamu menjauhkanku dari diriku sendiri,
lewat ilusi perlawanan dan sanjungan orang-orang.
kini, kutempuh jalan yang dipilihkan kenyataan.

resmi menjelma drama komedi.

putaran siang dan malam kian bergegas,
meringkas kalender menjadi rutinitas yang buram.
segala yang dijanjikan di depan kamera dan mimbar,
kini tak terbaca—tertutup kabut yang sengaja ditaburkan.

sengkarut nasib rakyat yang kian tertinggal,
sengaja dikaburkan dari berkas evaluasi kebijakan.
lalu nama yang maha gaib mendadak dicatut,
sekadar tameng demi menetralisir kebuntuan.

hari-hari kita resmi menjelma drama komedi.
obrolan serius berganti panggung stand-up,
dan rencana masa depan menguap di ruang seminar.

para cerdik cendikia pun tiba-tiba bermunculan,
di podium mereka lantang menyuarakan kesejahteraan,
sambil diam-diam merawat syahwat—ambisi kekuasaan.

Penulis: Selendang Sulaiman
Editor: Adnyana Ole
 

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

Next Post

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Selendang Sulaiman

Selendang Sulaiman

Lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989 dan kini mukim di Jakarta. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa cetak dan elektronik serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Hymne Asmaraloka (Digital: Betread, 2014); Omerta (Halaman Indonesia, 2018). Buku puisi keduanya segera terbit akhir tahun 2024. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co