13 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI by IRZI
June 13, 2026
in Puisi
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI

JESS BUAT PRANITA DEWI

Meong-meong alih je bikule—
suara itu melintas dari pelataran pura
ke satelit, kabel bawah laut, ruang transit;
atma mengikutinya seperti tema
yang berpindah tonal.

Balawan membentangkan gitar pada
siklus kendang; dua tangan Stanley Jordan
mengetuk ostinato & melodi
di register tetangga.

Somewhere over the rainbow—
frangipani, kopi, timah solder,
awan bergerak di atas arsip digital;
seekor oyen masih memburu mencit,

sementara sajak beredar
sebagai kontrapung dalam kepung
Cengceng, Genjek, Genggong.

2026

JESS BUAT NI MADE PURNAMA SARI

Di bale kawitan,
nama-nama leluhur digantung
pada asap dupa dan serat janur.
Tak seluruhnya terbaca;
sebagian telah menjadi debu,
sebagian lagi tinggal bunyi
yang malih mulut.

Kamu duduk di bawah foto-foto usang,
sementara Days of Wine and Roses
Mancini mengalir dari pengeras suara kecil.
Daun-daun gugur ke selokan.
Air membawanya perlahan
melewati pura desa, warung kopi,
dan bengkel las yang menyisakan
bau besi hangat. Jiwamu datang terlambat.
Ia mengenakan wajah
yang pernah dipakai kakek buyut,
lalu menggantinya lagi
dengan bayangan seseorang
yang belum lahir.
“Kawitan atau tubuh,”
katanya, “mana yang lebih dulu lupa?”
Saxophone menjawab dengan frase legato,
berbelok sebentar ke aksen yang nyaris sforzando.

Di halaman,
bunga kamboja jatuh satu-satu.
Tak ada yang dramatis. Hanya waktu
yang mengurangi warna
dari kelopak, dari foto, dari nama.
Seperti hari-hari anggur dan mawar:
mula-mula harum, lalu menjadi sungai.
Kamu dan Jiwamu
tak lagi berbaring berdampingan.
Senyum kencana menghadap silsilah yang sama,
mendengarkan standar lama
berputar pada piringan ingatan.

Dan dari ujung malam,
para leluhur melintas
bagai chorus yang kembali: Hilang.

2026

JESS BUAT PUTU VIVI LESTARI

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Lampu parkir menyala
dua puluh
empat jam.

Bau ozon, asap solder,
pendingin udara dan lembab Oktober.

Chet Baker melirihkan
I Fall in Love Too Easily.
Suaranya tipis
serupa piksel mati pada layar LCD
yang tak pernah dihiraukan.

Satelit melintas
di atas antena dan atap seng.
Lumut tumbuh
pada gardu listrik.
Cetak biru jaringan kabel
terbuka di meja teknisi;
garis-garis misty blue
mencari muara lain: Svargaloka.
Menjelang Round Midnight,
trompet tertahan
di frekuensi rendah.

Debu statis mengumpul
pada foto identitas
yang mulai asing.

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Karat berpindah perlahan
dari baja
ke dalam darah.

2026

JESS BUAT SARAS DEWI

Maiden Voyage:
susunan kuartal, nada tumpu,
modus laut yang enggan berlabuh.
Mahakala mengendurkan
simpul waktu.

Hingga masih bisa,
kuntul membaca lumpur.
Hingga masih bisa,
plankton menyalakan
fosfor biru.
Hingga masih bisa,
karang menyimpan bulan
di sela polipnya.

Bibir dan teluk bertukar debar.
Lalu rantai jangkar.
Peta dibuka. Patok ditanam. Air berubah
menjadi koordinat. Tunas puisi itu—beralih
rupa: Lembayung Benoa.

2026

JESS BUAT SONIA PISCAYANTI

Gong belum dipukul.
Namun tema sudah tampak betul.

Song for My Father—
komposisi 24 bar AAB,
F minor, 4/4,
hanya empat akor bergerak:
Fm9–E♭9–D♭9–C9.
Tangan kiri Horace Silver
berjalan pendek-pendek
seperti seseorang
yang hafal jalan pulang.

Di halaman, asap dupa
naik ke balok langit-langit.
Nama bapak disebut perlahan
agar tidak tercerai dari bunyi.
Bass hanya akar dan kuint.
Drum berhenti di bar keenam.
Dharma tinggal sebagai ritme.
Karma tinggal sebagai gema.
Di antara kidung dan putaran piringan,
sunia ialah modus F Mixolidian.

2026

CATATAN KREATIF

Seri puisi ini bukan titik awal, melainkan kesinambungan dari kerja yang lebih panjang: Jazz Buat Para Puan, sebuah manuskrip respons terhadap 77+1 penyair perempuan Indonesia yang terus saya susun dan revisi. Kumpulan ini lahir di dalam arus yang sama—sebagai bagian dari upaya mendengar ulang suara, tema, dan kemungkinan estetik yang muncul dari karya-karya mereka, lalu meresponsnya melalui bahasa yang saya miliki: montase, musik, dan improvisasi.

Jazz dalam proyek ini tidak saya posisikan sebagai genre, melainkan sebagai metode membaca dan menulis. Ia bekerja seperti ingatan musikal: tidak linear, tidak final, selalu kembali dalam bentuk yang sedikit bergeser. Setiap puisi bergerak seperti chorus—mengulang tema, tetapi tidak pernah benar-benar mengulang secara identik. Yang berubah adalah tekanan, ruang jeda, dan arah dengar.

Dari cara kerja itu, setiap teks dalam seri ini tumbuh sebagai pertemuan antara dunia puitik para penyair perempuan Indonesia dengan lanskap bunyi yang lebih luas: gamelan, kidung, ritual, tubuh, ekologi, dan juga jazz sebagai sistem global improvisasi. Saya tidak berusaha menafsirkan secara tunggal karya mereka, tetapi membiarkan respons ini menjadi ruang resonansi—tempat berbagai sistem bunyi dan makna saling bersilang tanpa harus diseragamkan.

Dalam “Jazz Buat Pranita Dewi,” bunyi Bali bergerak melintasi infrastruktur global: dari pelataran pura menuju satelit dan kabel bawah laut. Atma tidak lagi berada dalam batas metafisik yang tetap, tetapi menjadi motif musikal yang bermigrasi, mengalami transposisi dan perubahan tonal.

“Jazz Buat Ni Made Purnama Sari” membaca kawitan dan ingatan keluarga sebagai struktur yang menyerupai standar jazz: tema yang terus kembali, tetapi selalu dalam aransemen baru. Days of Wine and Roses hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai cara memahami bagaimana keindahan dan kehilangan selalu berjalan bersamaan dalam satu frasa yang sama.

Pada puisi tentang Putu Vivi Lestari, melankolia tidak lagi bersifat personal, melainkan menjadi kondisi infrastruktur: layar, kabel, satelit, dan sistem digital. Chet Baker muncul sebagai suara yang rapuh dan hampir menghilang, mencerminkan cara waktu bekerja dalam ruang teknologi yang terus menyala tetapi perlahan aus.

Dalam “Jazz Buat Saras Dewi,” ekologi dibaca sebagai relasi ritmis, bukan sekadar tema. Laut, teluk, plankton, dan karang tidak ditempatkan sebagai simbol, tetapi sebagai entitas yang memiliki tempo dan keberadaan sendiri. Maiden Voyage menjadi struktur gerak: mengapung, tidak final, tidak berorientasi pada resolusi.

Sementara itu, “Jazz Buat Sonia Piscayanti” bergerak pada wilayah pelepasan dan transisi. Tradisi Bali tentang kematian, kidung, dan sunia tidak dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai pergeseran bentuk keberlanjutan. Song for My Father menjadi struktur ingatan yang terus kembali, seperti tema jazz yang tidak pernah benar-benar selesai dimainkan.

Keseluruhan seri ini saya posisikan sebagai bagian dari upaya penghormatan terhadap para penyair perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks 77+1 penyair yang menjadi horizon kerja ini. Ini bukan proyek yang tertutup, melainkan proses yang terus bergerak—sebuah cara membaca ulang, mendengar ulang, dan merespons ulang suara-suara puisi perempuan melalui medium lain yang saya kuasai.

Pada akhirnya, jazz dalam proyek ini adalah cara untuk memahami keterhubungan: antara teks dan bunyi, antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan jaringan global. Ia memungkinkan setiap elemen tetap bergerak tanpa harus dipaksa menjadi satu kesimpulan tunggal. Seperti improvisasi yang terus berlanjut, seri ini tidak dimaksudkan untuk selesai, melainkan untuk tetap terbuka—menjaga kemungkinan tetap hidup di dalam bahasa.

IRZI

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Next Post

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails
Next Post
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa
Pendidikan

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada...

by tatkala
June 12, 2026
OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali
Pendidikan

OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali

Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
June 12, 2026
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?
Bahasa

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co