3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI by IRZI
June 13, 2026
in Puisi
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI

JESS BUAT PRANITA DEWI

Meong-meong alih je bikule—
suara itu melintas dari pelataran pura
ke satelit, kabel bawah laut, ruang transit;
atma mengikutinya seperti tema
yang berpindah tonal.

Balawan membentangkan gitar pada
siklus kendang; dua tangan Stanley Jordan
mengetuk ostinato & melodi
di register tetangga.

Somewhere over the rainbow—
frangipani, kopi, timah solder,
awan bergerak di atas arsip digital;
seekor oyen masih memburu mencit,

sementara sajak beredar
sebagai kontrapung dalam kepung
Cengceng, Genjek, Genggong.

2026

JESS BUAT NI MADE PURNAMA SARI

Di bale kawitan,
nama-nama leluhur digantung
pada asap dupa dan serat janur.
Tak seluruhnya terbaca;
sebagian telah menjadi debu,
sebagian lagi tinggal bunyi
yang malih mulut.

Kamu duduk di bawah foto-foto usang,
sementara Days of Wine and Roses
Mancini mengalir dari pengeras suara kecil.
Daun-daun gugur ke selokan.
Air membawanya perlahan
melewati pura desa, warung kopi,
dan bengkel las yang menyisakan
bau besi hangat. Jiwamu datang terlambat.
Ia mengenakan wajah
yang pernah dipakai kakek buyut,
lalu menggantinya lagi
dengan bayangan seseorang
yang belum lahir.
“Kawitan atau tubuh,”
katanya, “mana yang lebih dulu lupa?”
Saxophone menjawab dengan frase legato,
berbelok sebentar ke aksen yang nyaris sforzando.

Di halaman,
bunga kamboja jatuh satu-satu.
Tak ada yang dramatis. Hanya waktu
yang mengurangi warna
dari kelopak, dari foto, dari nama.
Seperti hari-hari anggur dan mawar:
mula-mula harum, lalu menjadi sungai.
Kamu dan Jiwamu
tak lagi berbaring berdampingan.
Senyum kencana menghadap silsilah yang sama,
mendengarkan standar lama
berputar pada piringan ingatan.

Dan dari ujung malam,
para leluhur melintas
bagai chorus yang kembali: Hilang.

2026

JESS BUAT PUTU VIVI LESTARI

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Lampu parkir menyala
dua puluh
empat jam.

Bau ozon, asap solder,
pendingin udara dan lembab Oktober.

Chet Baker melirihkan
I Fall in Love Too Easily.
Suaranya tipis
serupa piksel mati pada layar LCD
yang tak pernah dihiraukan.

Satelit melintas
di atas antena dan atap seng.
Lumut tumbuh
pada gardu listrik.
Cetak biru jaringan kabel
terbuka di meja teknisi;
garis-garis misty blue
mencari muara lain: Svargaloka.
Menjelang Round Midnight,
trompet tertahan
di frekuensi rendah.

Debu statis mengumpul
pada foto identitas
yang mulai asing.

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Karat berpindah perlahan
dari baja
ke dalam darah.

2026

JESS BUAT SARAS DEWI

Maiden Voyage:
susunan kuartal, nada tumpu,
modus laut yang enggan berlabuh.
Mahakala mengendurkan
simpul waktu.

Hingga masih bisa,
kuntul membaca lumpur.
Hingga masih bisa,
plankton menyalakan
fosfor biru.
Hingga masih bisa,
karang menyimpan bulan
di sela polipnya.

Bibir dan teluk bertukar debar.
Lalu rantai jangkar.
Peta dibuka. Patok ditanam. Air berubah
menjadi koordinat. Tunas puisi itu—beralih
rupa: Lembayung Benoa.

2026

JESS BUAT SONIA PISCAYANTI

Gong belum dipukul.
Namun tema sudah tampak betul.

Song for My Father—
komposisi 24 bar AAB,
F minor, 4/4,
hanya empat akor bergerak:
Fm9–E♭9–D♭9–C9.
Tangan kiri Horace Silver
berjalan pendek-pendek
seperti seseorang
yang hafal jalan pulang.

Di halaman, asap dupa
naik ke balok langit-langit.
Nama bapak disebut perlahan
agar tidak tercerai dari bunyi.
Bass hanya akar dan kuint.
Drum berhenti di bar keenam.
Dharma tinggal sebagai ritme.
Karma tinggal sebagai gema.
Di antara kidung dan putaran piringan,
sunia ialah modus F Mixolidian.

2026

CATATAN KREATIF

Seri puisi ini bukan titik awal, melainkan kesinambungan dari kerja yang lebih panjang: Jazz Buat Para Puan, sebuah manuskrip respons terhadap 77+1 penyair perempuan Indonesia yang terus saya susun dan revisi. Kumpulan ini lahir di dalam arus yang sama—sebagai bagian dari upaya mendengar ulang suara, tema, dan kemungkinan estetik yang muncul dari karya-karya mereka, lalu meresponsnya melalui bahasa yang saya miliki: montase, musik, dan improvisasi.

Jazz dalam proyek ini tidak saya posisikan sebagai genre, melainkan sebagai metode membaca dan menulis. Ia bekerja seperti ingatan musikal: tidak linear, tidak final, selalu kembali dalam bentuk yang sedikit bergeser. Setiap puisi bergerak seperti chorus—mengulang tema, tetapi tidak pernah benar-benar mengulang secara identik. Yang berubah adalah tekanan, ruang jeda, dan arah dengar.

Dari cara kerja itu, setiap teks dalam seri ini tumbuh sebagai pertemuan antara dunia puitik para penyair perempuan Indonesia dengan lanskap bunyi yang lebih luas: gamelan, kidung, ritual, tubuh, ekologi, dan juga jazz sebagai sistem global improvisasi. Saya tidak berusaha menafsirkan secara tunggal karya mereka, tetapi membiarkan respons ini menjadi ruang resonansi—tempat berbagai sistem bunyi dan makna saling bersilang tanpa harus diseragamkan.

Dalam “Jazz Buat Pranita Dewi,” bunyi Bali bergerak melintasi infrastruktur global: dari pelataran pura menuju satelit dan kabel bawah laut. Atma tidak lagi berada dalam batas metafisik yang tetap, tetapi menjadi motif musikal yang bermigrasi, mengalami transposisi dan perubahan tonal.

“Jazz Buat Ni Made Purnama Sari” membaca kawitan dan ingatan keluarga sebagai struktur yang menyerupai standar jazz: tema yang terus kembali, tetapi selalu dalam aransemen baru. Days of Wine and Roses hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai cara memahami bagaimana keindahan dan kehilangan selalu berjalan bersamaan dalam satu frasa yang sama.

Pada puisi tentang Putu Vivi Lestari, melankolia tidak lagi bersifat personal, melainkan menjadi kondisi infrastruktur: layar, kabel, satelit, dan sistem digital. Chet Baker muncul sebagai suara yang rapuh dan hampir menghilang, mencerminkan cara waktu bekerja dalam ruang teknologi yang terus menyala tetapi perlahan aus.

Dalam “Jazz Buat Saras Dewi,” ekologi dibaca sebagai relasi ritmis, bukan sekadar tema. Laut, teluk, plankton, dan karang tidak ditempatkan sebagai simbol, tetapi sebagai entitas yang memiliki tempo dan keberadaan sendiri. Maiden Voyage menjadi struktur gerak: mengapung, tidak final, tidak berorientasi pada resolusi.

Sementara itu, “Jazz Buat Sonia Piscayanti” bergerak pada wilayah pelepasan dan transisi. Tradisi Bali tentang kematian, kidung, dan sunia tidak dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai pergeseran bentuk keberlanjutan. Song for My Father menjadi struktur ingatan yang terus kembali, seperti tema jazz yang tidak pernah benar-benar selesai dimainkan.

Keseluruhan seri ini saya posisikan sebagai bagian dari upaya penghormatan terhadap para penyair perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks 77+1 penyair yang menjadi horizon kerja ini. Ini bukan proyek yang tertutup, melainkan proses yang terus bergerak—sebuah cara membaca ulang, mendengar ulang, dan merespons ulang suara-suara puisi perempuan melalui medium lain yang saya kuasai.

Pada akhirnya, jazz dalam proyek ini adalah cara untuk memahami keterhubungan: antara teks dan bunyi, antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan jaringan global. Ia memungkinkan setiap elemen tetap bergerak tanpa harus dipaksa menjadi satu kesimpulan tunggal. Seperti improvisasi yang terus berlanjut, seri ini tidak dimaksudkan untuk selesai, melainkan untuk tetap terbuka—menjaga kemungkinan tetap hidup di dalam bahasa.

IRZI

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Next Post

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co