25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI by IRZI
June 13, 2026
in Puisi
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI

JESS BUAT PRANITA DEWI

Meong-meong alih je bikule—
suara itu melintas dari pelataran pura
ke satelit, kabel bawah laut, ruang transit;
atma mengikutinya seperti tema
yang berpindah tonal.

Balawan membentangkan gitar pada
siklus kendang; dua tangan Stanley Jordan
mengetuk ostinato & melodi
di register tetangga.

Somewhere over the rainbow—
frangipani, kopi, timah solder,
awan bergerak di atas arsip digital;
seekor oyen masih memburu mencit,

sementara sajak beredar
sebagai kontrapung dalam kepung
Cengceng, Genjek, Genggong.

2026

JESS BUAT NI MADE PURNAMA SARI

Di bale kawitan,
nama-nama leluhur digantung
pada asap dupa dan serat janur.
Tak seluruhnya terbaca;
sebagian telah menjadi debu,
sebagian lagi tinggal bunyi
yang malih mulut.

Kamu duduk di bawah foto-foto usang,
sementara Days of Wine and Roses
Mancini mengalir dari pengeras suara kecil.
Daun-daun gugur ke selokan.
Air membawanya perlahan
melewati pura desa, warung kopi,
dan bengkel las yang menyisakan
bau besi hangat. Jiwamu datang terlambat.
Ia mengenakan wajah
yang pernah dipakai kakek buyut,
lalu menggantinya lagi
dengan bayangan seseorang
yang belum lahir.
“Kawitan atau tubuh,”
katanya, “mana yang lebih dulu lupa?”
Saxophone menjawab dengan frase legato,
berbelok sebentar ke aksen yang nyaris sforzando.

Di halaman,
bunga kamboja jatuh satu-satu.
Tak ada yang dramatis. Hanya waktu
yang mengurangi warna
dari kelopak, dari foto, dari nama.
Seperti hari-hari anggur dan mawar:
mula-mula harum, lalu menjadi sungai.
Kamu dan Jiwamu
tak lagi berbaring berdampingan.
Senyum kencana menghadap silsilah yang sama,
mendengarkan standar lama
berputar pada piringan ingatan.

Dan dari ujung malam,
para leluhur melintas
bagai chorus yang kembali: Hilang.

2026

JESS BUAT PUTU VIVI LESTARI

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Lampu parkir menyala
dua puluh
empat jam.

Bau ozon, asap solder,
pendingin udara dan lembab Oktober.

Chet Baker melirihkan
I Fall in Love Too Easily.
Suaranya tipis
serupa piksel mati pada layar LCD
yang tak pernah dihiraukan.

Satelit melintas
di atas antena dan atap seng.
Lumut tumbuh
pada gardu listrik.
Cetak biru jaringan kabel
terbuka di meja teknisi;
garis-garis misty blue
mencari muara lain: Svargaloka.
Menjelang Round Midnight,
trompet tertahan
di frekuensi rendah.

Debu statis mengumpul
pada foto identitas
yang mulai asing.

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Karat berpindah perlahan
dari baja
ke dalam darah.

2026

JESS BUAT SARAS DEWI

Maiden Voyage:
susunan kuartal, nada tumpu,
modus laut yang enggan berlabuh.
Mahakala mengendurkan
simpul waktu.

Hingga masih bisa,
kuntul membaca lumpur.
Hingga masih bisa,
plankton menyalakan
fosfor biru.
Hingga masih bisa,
karang menyimpan bulan
di sela polipnya.

Bibir dan teluk bertukar debar.
Lalu rantai jangkar.
Peta dibuka. Patok ditanam. Air berubah
menjadi koordinat. Tunas puisi itu—beralih
rupa: Lembayung Benoa.

2026

JESS BUAT SONIA PISCAYANTI

Gong belum dipukul.
Namun tema sudah tampak betul.

Song for My Father—
komposisi 24 bar AAB,
F minor, 4/4,
hanya empat akor bergerak:
Fm9–E♭9–D♭9–C9.
Tangan kiri Horace Silver
berjalan pendek-pendek
seperti seseorang
yang hafal jalan pulang.

Di halaman, asap dupa
naik ke balok langit-langit.
Nama bapak disebut perlahan
agar tidak tercerai dari bunyi.
Bass hanya akar dan kuint.
Drum berhenti di bar keenam.
Dharma tinggal sebagai ritme.
Karma tinggal sebagai gema.
Di antara kidung dan putaran piringan,
sunia ialah modus F Mixolidian.

2026

CATATAN KREATIF

Seri puisi ini bukan titik awal, melainkan kesinambungan dari kerja yang lebih panjang: Jazz Buat Para Puan, sebuah manuskrip respons terhadap 77+1 penyair perempuan Indonesia yang terus saya susun dan revisi. Kumpulan ini lahir di dalam arus yang sama—sebagai bagian dari upaya mendengar ulang suara, tema, dan kemungkinan estetik yang muncul dari karya-karya mereka, lalu meresponsnya melalui bahasa yang saya miliki: montase, musik, dan improvisasi.

Jazz dalam proyek ini tidak saya posisikan sebagai genre, melainkan sebagai metode membaca dan menulis. Ia bekerja seperti ingatan musikal: tidak linear, tidak final, selalu kembali dalam bentuk yang sedikit bergeser. Setiap puisi bergerak seperti chorus—mengulang tema, tetapi tidak pernah benar-benar mengulang secara identik. Yang berubah adalah tekanan, ruang jeda, dan arah dengar.

Dari cara kerja itu, setiap teks dalam seri ini tumbuh sebagai pertemuan antara dunia puitik para penyair perempuan Indonesia dengan lanskap bunyi yang lebih luas: gamelan, kidung, ritual, tubuh, ekologi, dan juga jazz sebagai sistem global improvisasi. Saya tidak berusaha menafsirkan secara tunggal karya mereka, tetapi membiarkan respons ini menjadi ruang resonansi—tempat berbagai sistem bunyi dan makna saling bersilang tanpa harus diseragamkan.

Dalam “Jazz Buat Pranita Dewi,” bunyi Bali bergerak melintasi infrastruktur global: dari pelataran pura menuju satelit dan kabel bawah laut. Atma tidak lagi berada dalam batas metafisik yang tetap, tetapi menjadi motif musikal yang bermigrasi, mengalami transposisi dan perubahan tonal.

“Jazz Buat Ni Made Purnama Sari” membaca kawitan dan ingatan keluarga sebagai struktur yang menyerupai standar jazz: tema yang terus kembali, tetapi selalu dalam aransemen baru. Days of Wine and Roses hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai cara memahami bagaimana keindahan dan kehilangan selalu berjalan bersamaan dalam satu frasa yang sama.

Pada puisi tentang Putu Vivi Lestari, melankolia tidak lagi bersifat personal, melainkan menjadi kondisi infrastruktur: layar, kabel, satelit, dan sistem digital. Chet Baker muncul sebagai suara yang rapuh dan hampir menghilang, mencerminkan cara waktu bekerja dalam ruang teknologi yang terus menyala tetapi perlahan aus.

Dalam “Jazz Buat Saras Dewi,” ekologi dibaca sebagai relasi ritmis, bukan sekadar tema. Laut, teluk, plankton, dan karang tidak ditempatkan sebagai simbol, tetapi sebagai entitas yang memiliki tempo dan keberadaan sendiri. Maiden Voyage menjadi struktur gerak: mengapung, tidak final, tidak berorientasi pada resolusi.

Sementara itu, “Jazz Buat Sonia Piscayanti” bergerak pada wilayah pelepasan dan transisi. Tradisi Bali tentang kematian, kidung, dan sunia tidak dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai pergeseran bentuk keberlanjutan. Song for My Father menjadi struktur ingatan yang terus kembali, seperti tema jazz yang tidak pernah benar-benar selesai dimainkan.

Keseluruhan seri ini saya posisikan sebagai bagian dari upaya penghormatan terhadap para penyair perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks 77+1 penyair yang menjadi horizon kerja ini. Ini bukan proyek yang tertutup, melainkan proses yang terus bergerak—sebuah cara membaca ulang, mendengar ulang, dan merespons ulang suara-suara puisi perempuan melalui medium lain yang saya kuasai.

Pada akhirnya, jazz dalam proyek ini adalah cara untuk memahami keterhubungan: antara teks dan bunyi, antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan jaringan global. Ia memungkinkan setiap elemen tetap bergerak tanpa harus dipaksa menjadi satu kesimpulan tunggal. Seperti improvisasi yang terus berlanjut, seri ini tidak dimaksudkan untuk selesai, melainkan untuk tetap terbuka—menjaga kemungkinan tetap hidup di dalam bahasa.

IRZI

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Next Post

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co