24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI by IRZI
June 13, 2026
in Puisi
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

IRZI

JESS BUAT PRANITA DEWI

Meong-meong alih je bikule—
suara itu melintas dari pelataran pura
ke satelit, kabel bawah laut, ruang transit;
atma mengikutinya seperti tema
yang berpindah tonal.

Balawan membentangkan gitar pada
siklus kendang; dua tangan Stanley Jordan
mengetuk ostinato & melodi
di register tetangga.

Somewhere over the rainbow—
frangipani, kopi, timah solder,
awan bergerak di atas arsip digital;
seekor oyen masih memburu mencit,

sementara sajak beredar
sebagai kontrapung dalam kepung
Cengceng, Genjek, Genggong.

2026

JESS BUAT NI MADE PURNAMA SARI

Di bale kawitan,
nama-nama leluhur digantung
pada asap dupa dan serat janur.
Tak seluruhnya terbaca;
sebagian telah menjadi debu,
sebagian lagi tinggal bunyi
yang malih mulut.

Kamu duduk di bawah foto-foto usang,
sementara Days of Wine and Roses
Mancini mengalir dari pengeras suara kecil.
Daun-daun gugur ke selokan.
Air membawanya perlahan
melewati pura desa, warung kopi,
dan bengkel las yang menyisakan
bau besi hangat. Jiwamu datang terlambat.
Ia mengenakan wajah
yang pernah dipakai kakek buyut,
lalu menggantinya lagi
dengan bayangan seseorang
yang belum lahir.
“Kawitan atau tubuh,”
katanya, “mana yang lebih dulu lupa?”
Saxophone menjawab dengan frase legato,
berbelok sebentar ke aksen yang nyaris sforzando.

Di halaman,
bunga kamboja jatuh satu-satu.
Tak ada yang dramatis. Hanya waktu
yang mengurangi warna
dari kelopak, dari foto, dari nama.
Seperti hari-hari anggur dan mawar:
mula-mula harum, lalu menjadi sungai.
Kamu dan Jiwamu
tak lagi berbaring berdampingan.
Senyum kencana menghadap silsilah yang sama,
mendengarkan standar lama
berputar pada piringan ingatan.

Dan dari ujung malam,
para leluhur melintas
bagai chorus yang kembali: Hilang.

2026

JESS BUAT PUTU VIVI LESTARI

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Lampu parkir menyala
dua puluh
empat jam.

Bau ozon, asap solder,
pendingin udara dan lembab Oktober.

Chet Baker melirihkan
I Fall in Love Too Easily.
Suaranya tipis
serupa piksel mati pada layar LCD
yang tak pernah dihiraukan.

Satelit melintas
di atas antena dan atap seng.
Lumut tumbuh
pada gardu listrik.
Cetak biru jaringan kabel
terbuka di meja teknisi;
garis-garis misty blue
mencari muara lain: Svargaloka.
Menjelang Round Midnight,
trompet tertahan
di frekuensi rendah.

Debu statis mengumpul
pada foto identitas
yang mulai asing.

Kamu tak sepakat tentang waktu.
Karat berpindah perlahan
dari baja
ke dalam darah.

2026

JESS BUAT SARAS DEWI

Maiden Voyage:
susunan kuartal, nada tumpu,
modus laut yang enggan berlabuh.
Mahakala mengendurkan
simpul waktu.

Hingga masih bisa,
kuntul membaca lumpur.
Hingga masih bisa,
plankton menyalakan
fosfor biru.
Hingga masih bisa,
karang menyimpan bulan
di sela polipnya.

Bibir dan teluk bertukar debar.
Lalu rantai jangkar.
Peta dibuka. Patok ditanam. Air berubah
menjadi koordinat. Tunas puisi itu—beralih
rupa: Lembayung Benoa.

2026

JESS BUAT SONIA PISCAYANTI

Gong belum dipukul.
Namun tema sudah tampak betul.

Song for My Father—
komposisi 24 bar AAB,
F minor, 4/4,
hanya empat akor bergerak:
Fm9–E♭9–D♭9–C9.
Tangan kiri Horace Silver
berjalan pendek-pendek
seperti seseorang
yang hafal jalan pulang.

Di halaman, asap dupa
naik ke balok langit-langit.
Nama bapak disebut perlahan
agar tidak tercerai dari bunyi.
Bass hanya akar dan kuint.
Drum berhenti di bar keenam.
Dharma tinggal sebagai ritme.
Karma tinggal sebagai gema.
Di antara kidung dan putaran piringan,
sunia ialah modus F Mixolidian.

2026

CATATAN KREATIF

Seri puisi ini bukan titik awal, melainkan kesinambungan dari kerja yang lebih panjang: Jazz Buat Para Puan, sebuah manuskrip respons terhadap 77+1 penyair perempuan Indonesia yang terus saya susun dan revisi. Kumpulan ini lahir di dalam arus yang sama—sebagai bagian dari upaya mendengar ulang suara, tema, dan kemungkinan estetik yang muncul dari karya-karya mereka, lalu meresponsnya melalui bahasa yang saya miliki: montase, musik, dan improvisasi.

Jazz dalam proyek ini tidak saya posisikan sebagai genre, melainkan sebagai metode membaca dan menulis. Ia bekerja seperti ingatan musikal: tidak linear, tidak final, selalu kembali dalam bentuk yang sedikit bergeser. Setiap puisi bergerak seperti chorus—mengulang tema, tetapi tidak pernah benar-benar mengulang secara identik. Yang berubah adalah tekanan, ruang jeda, dan arah dengar.

Dari cara kerja itu, setiap teks dalam seri ini tumbuh sebagai pertemuan antara dunia puitik para penyair perempuan Indonesia dengan lanskap bunyi yang lebih luas: gamelan, kidung, ritual, tubuh, ekologi, dan juga jazz sebagai sistem global improvisasi. Saya tidak berusaha menafsirkan secara tunggal karya mereka, tetapi membiarkan respons ini menjadi ruang resonansi—tempat berbagai sistem bunyi dan makna saling bersilang tanpa harus diseragamkan.

Dalam “Jazz Buat Pranita Dewi,” bunyi Bali bergerak melintasi infrastruktur global: dari pelataran pura menuju satelit dan kabel bawah laut. Atma tidak lagi berada dalam batas metafisik yang tetap, tetapi menjadi motif musikal yang bermigrasi, mengalami transposisi dan perubahan tonal.

“Jazz Buat Ni Made Purnama Sari” membaca kawitan dan ingatan keluarga sebagai struktur yang menyerupai standar jazz: tema yang terus kembali, tetapi selalu dalam aransemen baru. Days of Wine and Roses hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai cara memahami bagaimana keindahan dan kehilangan selalu berjalan bersamaan dalam satu frasa yang sama.

Pada puisi tentang Putu Vivi Lestari, melankolia tidak lagi bersifat personal, melainkan menjadi kondisi infrastruktur: layar, kabel, satelit, dan sistem digital. Chet Baker muncul sebagai suara yang rapuh dan hampir menghilang, mencerminkan cara waktu bekerja dalam ruang teknologi yang terus menyala tetapi perlahan aus.

Dalam “Jazz Buat Saras Dewi,” ekologi dibaca sebagai relasi ritmis, bukan sekadar tema. Laut, teluk, plankton, dan karang tidak ditempatkan sebagai simbol, tetapi sebagai entitas yang memiliki tempo dan keberadaan sendiri. Maiden Voyage menjadi struktur gerak: mengapung, tidak final, tidak berorientasi pada resolusi.

Sementara itu, “Jazz Buat Sonia Piscayanti” bergerak pada wilayah pelepasan dan transisi. Tradisi Bali tentang kematian, kidung, dan sunia tidak dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai pergeseran bentuk keberlanjutan. Song for My Father menjadi struktur ingatan yang terus kembali, seperti tema jazz yang tidak pernah benar-benar selesai dimainkan.

Keseluruhan seri ini saya posisikan sebagai bagian dari upaya penghormatan terhadap para penyair perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks 77+1 penyair yang menjadi horizon kerja ini. Ini bukan proyek yang tertutup, melainkan proses yang terus bergerak—sebuah cara membaca ulang, mendengar ulang, dan merespons ulang suara-suara puisi perempuan melalui medium lain yang saya kuasai.

Pada akhirnya, jazz dalam proyek ini adalah cara untuk memahami keterhubungan: antara teks dan bunyi, antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan jaringan global. Ia memungkinkan setiap elemen tetap bergerak tanpa harus dipaksa menjadi satu kesimpulan tunggal. Seperti improvisasi yang terus berlanjut, seri ini tidak dimaksudkan untuk selesai, melainkan untuk tetap terbuka—menjaga kemungkinan tetap hidup di dalam bahasa.

IRZI

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Next Post

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

IRZI

IRZI

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails
Next Post
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Malam Keakraban Berbuntut Teror

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

by Chusmeru
July 23, 2026
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma
Esai

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 23, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co