Lahir di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Ia salah satu emerging writers MIWF 2014. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai. Ia juga editor lepas di beberapa penerbitan dan menjadi ghost writer. Selain itu, Ama juga mengelola sebuah sekolah untuk anak tidak mampu di kotanya.
Ia bersama komunitasnya bergiat untuk kerja-kerja kemanusiaan di bidang sastra, literasi, pendidikan, dan kebudayaan. Salah satunya menyelenggarakan acara tahunan Festival Sastra Banggai dan Akademi Sastra Banggai.
Beberapa karya puisi, cerpen, dan esainya, terkumpul dalam karya-karya antologi bersama. Buku-buku tunggalnya yang telah terbit antara lain: Keterampilan Membaca Laut (GPU,2019), Lagu Tidur (GPU,2021). dan Pagar Rumahku Berubah Warna (GPU, 2025). Ia menjadi bagian dari peserta Laps Promotor Sastra Kementerian Kebudayaan pada tahun 2025.
Di tengah gempuran media sosial, kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...
Read moreDetailsMatematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...
Read moreDetailsGAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...
Read moreDetails

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...
CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...
SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...
LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...
Copyright © 2016-2025, tatkala.co