9 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hikayat Tuak

Jaswanto by Jaswanto
May 30, 2026
in Liputan Khusus
Hikayat Tuak

Proses produksi tuak di wilayah Tejakula, Buleleng, Bali | Foto: Dok. tatkala.co

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun kakinya tak gemetar, meski gerakannya mungkin lebih lamban dari tiga puluh tahun yang lalu. Melihat kekuatan cengkramannya, mengingatkan saya pada atlet panjat tebing legendaris Ronald Mamarimbing dengan prestasi gemilang di masa mudanya.

Di pinggangnya terikat sebuah golok kecil dengan sarung kayu. Tubuhnya jauh dari kata ringkih. Kulit dan ototnya tidak menggelambir. Sedang sorot matanya masih menunjukkan kilat yang mengagumkan. Kakek itu tidak kempot. Giginya tidak banyak tanggal. Sedang badanya tidak melengkung sama sekali. Tetap tegap layaknya gerilyawan di masa revolusi—melihat kumis dan topi yang dipakainya, kakek tua ini memang lebih mirip pejuang sosialis revolusioner daripada pemanjat pohon lontar.

Dalam hal fisik dan kerja keras, di umurnya saat itu, barangkali ia setara dengan Mao Ze Dong. Bedanya, seumuran ini, seperti kata Mahbub Djunaidi, Mao masih sanggup menggerakkan Revolusi Kebudayaan yang melindas gejala borjuis, menghardik cendekiawan snop yang menggurui, mengeremus kaum ragu-ragu yang kelihatan menempuh jalan kapitalis, dan di sela-sela itu semua ia masih bisa berenang-renang di Sungai Kuning lalu mengganyang habis sebaskom mi bakso tanpa berkedip. Sedangkan kakek tua itu, meski tak pernah—dan barangkali juga tak sanggup—menggerakkan revolusi, tapi fisiknya masih sanggup memanjat pohon lontar dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tak cukup satu-dua pohon, kakek tua itu memanjat puluhan pohon. “Setiap hari memanjat, dua kali sehari, pagi dan sore,” tuturnya.

Untuk orang seperti saya yang tak sepenuhnya mengenal dunia perdesaan di Bali, bertemu dengan sosok seperti Made Tilem—ia biasa dipanggil pekak atau kakek dalam bahasa Indonesia—membuat hati saya gentar. Lelaki berumur hampir 80 tahun itu, bersama sang istri, sudah menekuni profesi langka ini selama tiga puluh tahun.

Ya, di hadapan Pekak Tilem, saya merasa sedang melihat sisa pengetahuan agraris Nusantara yang perlahan menghilang. Tubuhnya bukan sekadar tubuh seorang penyadap, melainkan arsip hidup yang menyimpan ingatan tentang cara manusia berhubungan dengan alam. Tangannya hafal pada serat batang lontar, kakinya mengenali pijakan-pijakan rapuh di ketinggian, sementara hidung dan lidahnya terbiasa membaca kualitas nira hanya dari aroma dan rasa. Pengetahuan semacam itu tidak lahir dari bangku sekolah, melainkan diwariskan lewat kerja berulang selama puluhan tahun. Dalam masyarakat tradisional, kemampuan membaca alam seperti ini merupakan bentuk kecerdasan ekologis yang sangat penting.

Tilem adalah penyadap nira pilih tanding di masanya—bahkan mungkin sampai hari ini. Ia tinggal di rumah sederhana di tengah kebun di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa yang terletak di ujung timur Buleleng itu, memang terkenal akan hasil niranya. Di pinggir-pinggir kebun, di lereng-lereng bukit, pohon lontar tumbuh dengan subur. Beberapa orang Tembok menggantungkan hidup kepada pohon yang daunya, dulu, digunakan sebagai tempat mencatat itu. “Pohon ini yang menghidupi keluarga kami,” ujar Ni Wayan Nyamin, istri Tilem, sembari memasukkan kayu ke dalam tungkunya. Api membesar. Nira di dalam wajan besar itu bergelembung, mendidih, dan meletup-letup, seperti lumpur panas beracun.

Tilem menyaring dan menuangkan seember nira segar ke dalam ember yang lebih besar. Di saringan terdapat bunga, lebah tak bernyawa, dan kotoran lain yang tak jelas bentuknya. Ia meminta istrinya untuk mengambil sebuah gelas kaca. Lalu memaksa saya mencicipi tuak manis—orang Bali menyebut nira murni sebagai “tuak manis’ sementara orang Tuban, Jawa Timur menyebutnya “legen”—hasil jerih-payahnya. Saya tak dapat menolakknya. Tak hanya sebatas nama, tuak itu benar-benar manis, tak jauh berbeda dengan bikinan penyadap di kampung saya.

Umumnya, sebagaimana Tilem dan istrinya, orang Tembok mengolah nira lontar menjadi empat jenis produk: tuak manis, tuak wayah, tuak badeg, dan gula Bali. Tuak manis merupakan tuak murni (nira atau legen). Tuak wayah difermentasi dengan lau—semacam starter untuk mempercepat proses fermentasi bahan pangan—berupa kulit pohon kesambi yang dicampur dengan cuka. Selain itu, bisa juga digunakan lau kulit kayu santen, kulit kayu mete, kulit kayu nangka, kulit kayu juwet atau jamblang, sabut kelapa, sabut buah lontar (ental/siwalan), dan sebagainya. Sedangkan tuak badeg adalah tuak yang nantinya dijadikan sebagai bahan utama dalam pembuatan arak Bali—yang terkenal itu.

Tak hanya di Tembok, di Tuban, Jawa Timur, air nira juga diberi campuran. Penyadap menyebutnya bebekan. Tuak Tuban biasa diberi campuran berupa kulit kayu juwet, kulit kayu mahoni, dan kulit kayu mete. Proses itu akan menambah kadar alkohol dalam tuak. Saya mengetahuinya saat mewawancarai Sarjo, salah satu penjual tuak yang cukup terkenal di kawasan Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Tuban.

Sungguh, proses fermentasi di atas menunjukkan bahwa masyarakat tradisional sebenarnya sudah memiliki teknologi pangan yang rumit dan canggih jauh sebelum istilah bioteknologi dikenal. Orang-orang seperti Tilem dan Sarjo mungkin tidak mengenal istilah mikroorganisme atau etanol, tetapi mereka memahami bagaimana waktu, suhu, jenis kayu, dan campuran tertentu dapat mengubah rasa serta daya tahan minuman. Pengetahuan itu lahir dari pengalaman kolektif yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks ini, tuak bukan sekadar minuman, melainkan hasil pertemuan antara alam, pengalaman manusia, dan pengetahuan lokal yang terus hidup melalui praktik sehari-hari. Ya, tuak, arak, dan masyarakat agraris nyaris tak bisa dipisahkan. Arak atau tuak, sebagaimana kopi di kafe dalam masyarakat Prancis, menjadi minuman lalu-lintas informasi, simbol kesetiakawanan sosial dipelihara, dan wacana dikembangkan.

Lantas, sejak kapan tuak hadir dalam sejarah Nusantara?

Yudi Anugrah Nugroho dalam artikel “Tradisi Minum Tuak Zaman Mataram Kuno” yang terbit di Historia pada 12 April 2015 menyebut bahwa istilah tuak (twak) sudah dikenal sejak era Mataram Kuno—ada kemungkinan lebih jauh dari itu. Kisahnya, pada masa pemerintahan Raja Mataram Rake Watukura Dyah Balitung (898–911), Rakryan Watu Tihang Pu Sanggramadhurandhara ditugaskan meresmikan tanah, bangunan suci, serta area persawahan di Desa Taji sebagai wilayah perdikan atau bebas pajak. Upacara penetapan sima (wilayah yang dibebaspajakkan oleh negara) tersebut dihadiri pejabat pusat, aparat desa, saksi dari desa-desa sekitar, hingga masyarakat Desa Taji.

Seusai prosesi berlangsung, para hadirin menikmati jamuan nasi lengkap dengan lauk daging kerbau, ayam, ikan asin, dan telur. Tuak (twak) turut disajikan sebagai pelengkap hidangan. Dalam berbagai upacara penetapan sima, minuman ini memang kerap hadir sebagai bagian penting dari perjamuan.

Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur—yang oleh Bernet Kempers (1976) dianggap merepresentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuno abad ke-8 hingga ke-9—menampilkan adegan penghidangan minuman. | Foto: Dok. Anita Swandayani

“Keterangan mengenai penggunaan tuak dalam prosesi penetapan sima pertama kali ditemukan dalam Prasasti Taji bertahun 823 Caka atau 901 Masehi—yang ditemukan di Ponorogo, Jawa Timur. Selain itu, keberadaan tuak juga tercatat dalam sejumlah prasasti lain yang berasal dari masa pemerintahan Dyah Balitung hingga Pu Sindok,” tulis Yudi Anugrah Nugroho.

Petikan prasasti tersebut berbunyi: “… isor sowang sowang parnnah ning tnadah was kadut 57 hadaan 6 hayam 100 muang saprakra ning asinasin, den asin, kadiwas, kawan, bilunglung, hantiga, rumahan, tuak len sangka ing jnu, muang skar campaga, pudak, skar karaman …”

Terjemahan bebasnya: “… setiap orang yang berada di tempat itu bersama-sama menghabiskan 57 karung beras, 6 ekor kerbau, 100 ekor ayam, aneka makanan asin, daging asin kering, ikan kadiwas, ikan gurame, bilunglung, telur, serta rumahan. Selain hidangan tersebut, tersedia pula tuak yang dibuat dari jnu, bunga campaga, bunga pandan, dan bunga karaman …”

Dari keterangan itu terlihat bahwa bahan baku pembuatan tuak ternyata cukup beragam.

Keterangan Yudi senada dengan tulisan Muhammad Fa’iq Rusydi dalam “Sejarah Tuak di Pulau Jawa: Sudah Dikenal pada Masa Kuno”. Dalam esai tersebut disebutkan bahwa masyarakat Jawa Kuno telah lama mengenal berbagai jenis minuman, baik yang memabukkan maupun yang tidak. Mereka juga diketahui memiliki keterampilan mengolah minuman tradisional lainnya. Catatan Dinasti Tang dan Dinasti Sung dari Cina—yang dikutip Groeneveldt dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources (1960)—menyebut masyarakat Jawa mahir membuat minuman hasil ekstraksi bunga kelapa dan berbagai jenis palma lain dengan aroma harum dan rasa yang nikmat.

Selain Prasasti Taji, Anita Swandayani juga mencatat keberadaan tuak dalam sejumlah prasasti lain. Prasasti Pangumulan I dari Sleman, Yogyakarta, bertahun 902 M (824 Saka), misalnya, menyebut: “… mangkanan madya ininung hana twak. siddhu. hana jatirasa. duh ni nyung …” yang berarti: “… adapun minuman keras yang diminum ialah tuak dan siddhu, selain itu ada pula minuman jatirasa dan air kelapa.”

Prasasti Watukura I dari tahun yang sama pun mencatat: “… pana siddhu mastawa kinca kilang twak paripurnna ika kabeh …” yang berarti: “… pana, siddhu mastawa, kinca, kilang, dan tuak, semuanya tersedia lengkap.” Sementara itu, Prasasti Rukam dari Temanggung, Jawa Tengah, bertahun 907 M (829 Saka), menyebut: “… mankanang ininum twak siddhu cinca i sampunning manadah …” yang berarti: “… adapun minumannya adalah tuak, siddhu, dan cinca.” Prasasti Lintakan bertahun 919 M (841 Saka) juga mencatat: “… luir nikakang ininum tuak, siddhu, pinca, samankanang …”

Adapun Prasasti Alasantan dari Mojokerto, Jawa Timur, bertahun 939 M (861 Saka), menyebut: “… anginum siddhu twak kilan pintlu sowan sowan …” yang berarti: “… minuman yang tersedia adalah siddhu, tuak, dan kilan, masing-masing diminum tiga kali.” Keterangan serupa juga muncul dalam Prasasti Paradah II dari Kediri, Jawa Timur, bertahun 943 M (865 Saka): “… mangidung siddhu cinca tuak pintiga sowang …” yang berarti: “… meminum siddhu, cinca, dan tuak masing-masing tiga kali.”

Keberadaan tuak juga tercatat dalam Nagarakretagama karya Mpu Prapanca (1365). Naskah itu menyebut adanya dua jenis tuak, yakni twak nyu—tuak dari air kelapa—dan twak siwalan atau twak tal yang berasal dari nira lontar. Nagarakretagama juga menyinggung tempat penyimpanan berbagai minuman seperti twak nyu, twak siwalan, arak, hano, kilang, brem, dan tampo yang menggunakan wadah berbahan emas.

Sementara itu, dalam Prasasti Sawan AI dari Bali Kuno bertahun 945 Saka atau 1023 Masehi disebutkan bahwa pembelian twak (nira) sebanyak dua pikul tidak dikenai pajak pada bulan Kartika. Catatan tersebut menunjukkan bahwa tuak bukan hanya hadir dalam tradisi ritual dan perjamuan, tetapi juga telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Nusantara sejak berabad-abad silam.

Selain sumber tertulis, jejak budaya minum juga tampak dalam relief candi di Pulau Jawa. Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur—yang oleh Bernet Kempers (1976) dianggap merepresentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuno abad ke-8 hingga ke-9—menampilkan adegan penghidangan minuman. Gambaran serupa juga ditemukan pada salah satu panil relief di Candi Panataran.

Memang sulit memastikan jenis minuman yang tergambar dalam relief-relief tersebut, termasuk membedakan mana minuman memabukkan dan mana yang tidak, atau memastikan apakah minuman itu merupakan tuak. Namun, sejumlah relief memperlihatkan wadah berbentuk kendi bercucuk yang lazim digunakan sebagai tempat minuman. Karena itu, besar kemungkinan sebagian minuman yang disajikan adalah tuak. Dugaan tersebut diperkuat oleh kajian Anita Swandayani dalam Makanan dan Minuman dalam Masyarakat Jawa Kuno Abad 9–10 Masehi: Suatu Kajian Berdasarkan Sumber Prasasti dan Naskah (1989), serta berbagai naskah kuno lain yang menyebut keberadaan minuman tersebut.

Petunjuk yang lebih jelas tampak pada relief Candi Panataran. Dalam relief itu terlihat dua potong bambu yang dipikul, menyerupai gambaran pedagang tuak keliling dalam litografi karya Auguste van Pers tahun 1854 di Batavia. Dua potong bambu tersebut diduga merupakan wadah tuak—yang oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur, dikenal dengan sebutan bethek. Wadah semacam itu bahkan masih dapat dijumpai di Museum Kambang Putih, Tuban.

Relief-relief itu memperlihatkan bahwa budaya minum pada masa lampau merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan praktik tersembunyi seperti yang sering dibayangkan hari ini. Kehadiran wadah-wadah minuman dalam seni relief menunjukkan bahwa aktivitas tersebut cukup umum hingga layak diabadikan dalam medium visual. Dengan kata lain, minum tuak pada masa itu tampaknya merupakan aktivitas sosial yang normal dan diterima secara budaya.

Lukisan litografi karya Auguste van Pers tahun 1854 yang menggambarkan seorang pedagang tuak keliling di Batavia. Di tabung-tabung bambu itulah tuak tersimpan. | Foto: Dok. Javanica

Ibnu Majid, seorang pelaut dan nakhoda Arab, pada 1462 mencatat bahwa di Malaka “orang-orang minum tuak di pasar-pasar dan tidak menjalankan aturan agama mengenai perceraian”. Sejarah Melayu juga mengakui adanya sikap santai di kalangan orang Melaka, yang mengolok-olok seorang ulama Arab saleh yang bertengkar dengan seorang bangsawan Melayu yang mabuk. Anthony Reid, dalam bukunya 1450-1680 Kurun Niaga Asia Tenggara Jilid 2, menuturkan bahwa Tome Pires di abad ke-16 telah mencatat: bahkan peminum berat seperti orang Portugis pun berpendapat bahwa orang Melayu di Melaka “terlalu banyak minum tuak dalam pesta-pesta dan kegembiraan mereka”

Rupanya, miras merupakan minuman jamak di Nusantara dan tidak pernah dilarang secara tegas. Setelah Islam dipeluk pun, larangan atas miras (juga candu) hanya diberlakukan di sejumlah kesultanan-pesisir saja seperti Aceh dan Banten—itu pun di saat rezim-rezim tertentu. Selain di pesta pernikahan, tuak juga ditenggak saat berlangsungnya pertunjukan topeng, lawak, dan wayang. Kelonggaran atas “hukum miras” ini bisa ditemukan pada naskah Sunda kuno, Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M), yang berbunyi: “Jaga rang hees tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu.” Artinya: “Hendaknya kita tidur sekadar penghilang kantuk, minum tuak sekadar penghilang haus, makan sekadar penghilang lapar, janganlah kita berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa.”

Sampai di sini, kehadiran tuak dalam berbagai prasasti dan naskah kuno di atas menunjukkan bahwa minuman ini memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pelepas dahaga atau alat mabuk-mabukan. Dalam upacara penetapan sima, misalnya, tuak hadir bersama makanan, sesaji, dan perangkat ritual lain. Hal itu mengindikasikan bahwa tuak kemungkinan dipandang sebagai bagian dari simbol kemakmuran, penghormatan sosial, bahkan legitimasi kekuasaan. Dalam banyak kebudayaan agraris, makanan dan minuman yang dikonsumsi bersama sering kali menjadi penanda solidaritas kolektif. Dengan makan dan minum bersama, sebuah komunitas menegaskan ikatan sosial mereka sekaligus mengakui tatanan yang berlaku.

Karena itu, menarik melihat bagaimana tuak pada masa Jawa Kuno tampaknya tidak diposisikan sebagai sesuatu yang tabu. Sebaliknya, ia justru hadir dalam ruang-ruang resmi dan sakral. Stigma terhadap minuman fermentasi ini kemungkinan baru menguat pada masa yang lebih modern, terutama setelah terjadi perubahan nilai moral, pengaruh agama formal, serta regulasi kerajaan/negara terhadap alkohol. Dalam situasi semacam itu, tradisi minum tuak perlahan terdorong ke pinggir, bertahan terutama di komunitas-komunitas yang masih memiliki hubungan kuat dengan sejarah produksinya, seperti misalnya di daerah-daerah di Bali dan di beberapa wilayah di Tuban, Jawa Timur.

Di Tuban, tuak memiliki posisi penting dalam sejarah dan kebudayaan masyarakat. Sejumlah sejarawan lokal bahkan mengaitkan minuman ini dengan keberhasilan Raden Wijaya, pendiri sekaligus raja pertama Majapahit, dalam mengalahkan pasukan Tartar (Mongol). Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Raden Wijaya disebut mengajak para prajurit musuh menikmati tuak hingga mabuk, lalu menyerang mereka ketika lengah dan kehilangan kesadaran. Terlepas dari unsur legenda yang menyertainya, cerita tersebut menunjukkan bahwa tuak tidak hanya hadir sebagai bagian dari tradisi konsumsi, tetapi juga memiliki jejak dalam narasi politik dan militer Nusantara.

Masyarakat Tuban juga memiliki penjelasan tersendiri mengenai asal-usul kata “tuak”. Istilah itu diyakini berasal dari ungkapan “noto awak”, yang berarti menata atau memperbaiki diri, lalu lama-kelamaan disingkat menjadi “toak” atau “tuak”.

Hingga kini, tradisi minum tuak masih hidup dalam berbagai pertemuan sosial masyarakat Tuban sebagai simbol keakraban dan persaudaraan—meski tak jarang darinya pula lahir keributan dan permusuhan. Tapi, sekali lagi, bagi masyarakat pemujanya, tuak tidak dianggap sekadar minuman beralkohol semata. Ia dipandang sebagai bagian dari identitas budaya yang merekatkan hubungan sosial antarmasyarakat, sekaligus menjadi penanda tradisi yang diwariskan lintas generasi. “Tuak adalah nyawa,” kata Masekepung dalam lagu berbahasa Bali-nya, “yening awai sing maan tuak… hidupe serasa ada kuangan.”

Barangkali itu sebabnya tuak tetap bertahan sampai hari ini. Ia tidak sekadar dianggap sebagai minuman fermentasi belaka, melainkan ingatan tentang cara lama masyarakat Nusantara membangun hubungan dengan alam dan sesamanya. Di balik rasa manis, pahit, asam, dan getirnya, tersimpan jejak panjang peradaban agraris yang pernah tumbuh di bawah pohon-pohon lontar yang menaungui ladang-ladang kering di Tembok di Bali maupun di Kepet, Tegalbang, Gaji, di Tuban, Jawa Timur.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: sejarahtuaktuak lontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

Next Post

Memang Pasar Malam

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails
Next Post
Memang Pasar Malam

Memang Pasar Malam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026
Bali, Surga yang Sudah Overload
Esai

Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar
Budaya

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co