LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar Dinas Munduk Sari, Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak. Di tengah gempuran produk kecantikan modern, Landri tetap setia merawat diri dengan bahan-bahan rempah alami. Menurut Dian, meski telah lanjut usia, kebiasaan merawat diri setiap pagi itu tak pernah Landri tinggalkan.
Sebelum mandi, Dian berkisah, Landri maboreh—luluran kunyit khas Bali. Setelah itu, perempuan tua itu menyiapkan tungku dari susunan bata, memasukkan kayu bakar, lalu menyalakannya. Di atas nyala api, ia meletakkan kaleng bekas susu formula untuk memasak ramuan rempah yang akan dijadikan minyak rambut. Meski memiliki kompor gas, ia tetap memilih tungku kayu bakar. Baginya, cara ini membuat aroma rempah lebih kuat. “Kalau pakai kompor kurang sedap harumnya,” katanya sambil terus mengaduk minyak. Kebiasaan ini telah ia jalani sejak muda. “Selain membuat rambut harum, juga membuat rambut tampak hitam,” ujar Landri.
Bahan yang digunakan yakni akar wangi, daun pandan harum, kulit kayu cendana, daun nilam, gandapura, dan kelambet. Semua bahan dicampur, lalu digoreng dengan minyak kelapa. “Dulu [bahan-bahan] tinggal memetik atau mencabut di kebun atau halaman, sekarang harus beli di pasar,” katanya. Proses pembuatannya pun relatif singkat, sekitar 15 menit hingga minyak siap diangkat dari tungku. Setelah dingin, minyak bisa langsung digunakan tanpa campuran tambahan. Pemakaiannya tak pelu banyak—cukup setetes, disesuaikan dengan kondisi rambut. “Sedikit saja sudah cukup. Ini alami, tidak merusak rambut. Tidak seperti minyak rambut zaman sekarang,” kata Landri sebagaimana dikisahkan Dian.

Di Bali, pengetahuan tentang perawatan tubuh perempuan—sebagaimana Landri lakukan—terdapat dalam Lontar Rukmini Tattwa atau Indrani Sastra, meski dengan resep bahan yang berbeda. Saya mengetahui hal ini saat mewawancarai Ni Made Ari Dwijayanthi, akademisi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan—dulu masih bernama Sekolah Tinggi Agama Hindu—sekaligus pembaca lontar Bali, pada 2023 silam. Menurut Ms. J, panggilan akrab Ari Dwijayanthi di kalangan mahasiswanya, dalam Indrani Sastra terdapat resep penghitam rambut yang berbunyi: “Nyan pacameng kesa, sunguning wedus padu, jambu hireng, gedang warangan, tunu ika katiga apisan, wamanuhu hening jeruk, pupurek, wekasan karamasemehan”—terjemahannya: “Inilah penghitam rambut, tanduk domba, jambu hitam, pisang kekuning-kuningan, panggang ketiganya dan jadikan satu, basahi dengan air jeruk, dilumatkan hingga lembut, kemudian berkeramas”.
Tak hanya itu, terdapat pula resep mengembalikan kekenyalan kulit wajah: “Watutwan mirica, mramangsi, kembang padma, rinuk, husir, jyotismati, mipalimula, witning cabe, jalu kumapang, ciraka, kembang ning cemara, jambu, bunga landep, sama baga kabeh, pipis, panampel muka, byakta kadi wulan purnama denya ikang muka”. Terjemahan: Biji merica, mangsi, bunga teratai merah, dihancurkan, diaduk, jyotismati, mipalimula, biji cabai, akar jalu mampang, ciraka, bunga cemara, jambu, bunga landep, komposisi seluruhnya sama, dilumat, untuk masker wajah sehingga bercahaya seperti bulan purnama.
Sedangkan untuk merawat tubuh berbunyi: “Sasawi kuning, jirek, cit, ika ta kabeh pipis, ya ta panamba muka, kadi hulun purnama muka denya”. Terjemahan: Sesawi kuning, kulit pohon kepundung putih, cit, semua dihaluskan menjadi satu, itulah kemudian di oleskan pada muka, muka akan bercahaya layaknya bulan purnama. “Bahan pengganti hasil interpretasi: rendaman beras digerus, air cendana, seperempat ibu jari kunyit,” terang Ari, menjelaskan.
Dan berikut resep campuran minyak dan bahan rempah untuk vitalitas dan kekencangan otot vagina yang terdapat dalam teks Indrani Sastra: “Prianggu, inggu, siamaka, watutwan, rodra, jirek, sriwistam kembangining dataki, maduka, kayu manis, tripala, jaha, pala, kapalaka, arjuna, kalpu, udumbara, lwa, ksodra madu, dalima twaca, kuliting dalima, patali, padalisara, dantala ikur huwaya, ika ta kabeh kinela ring lenga”. Terjemahan: Prihanggu, inggu, siamaka, watutwan, rodra, jirek, sri wistam, bunga sidhawayah, maduka, kayu manis, tripala, jahe, pala, kamaloko, termelia arjuna (pohon Arjuna), kalpu (dewandaru?), udumbara, ara, madu, tunas dalima, cempaka, panggal buaya, semua dicampur dan digoreng dengan minyak.
“Asap (bakar) seibu jari kunyit kering, setengah ibu jari merica bubuk (gerus sendiri), daun nilam kering, bunga kembang tiga kering, daun pandan sedikit basah). Semua bahan dibakar hingga berasap, setengah jongkok di atas tungku asap,” Ari menjelaskan resep uap (asap) ratus vagina. Ia melanjutkan, asap (rendam) seibu jari kunyit, merica, daun nilam, pandan, bunga kembang tiga. Semua direbus, bila sudah mendidih tuangkan ke wadah, lalu setengah jongkok di atas wadah berasap. “Resep ini bisa tidak diisi merica jika hanya difungsikan sebagai pembasuh vagina,” katanya.

Sampai di sini, kisah Landri dan Ari, saya kira bukan sekadar potret kebiasaan perempuan Bali yang masih menjaga tradisi merawat tubuh dengan rempah-rempah. Lebih daripada itu, ia adalah pintu kecil untuk memasuki cerita yang jauh lebih panjang—tentang rempah, tentang ingatan, dan tentang bagaimana pengetahuan itu bergerak melintasi waktu. Dari dapur sederhana dengan tungku kayu bakar di Pengulon, jejak rempah seolah menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan sejarah besar yang pernah membentuk Nusantara.
Ya, rempah adalah pintu masuk untuk membaca sejarah panjang Nusantara—kekayaan alam, perjumpaan budaya, hingga kisah pahit kolonialisme. Sejak berabad-abad silam, aroma dan rasa rempah telah mengundang bangsa-bangsa Barat menjelajah lautan dan berkelahi satu sama lain—seperti cengkeh yang membuat bangsa Iberia, Portugis, dan Spanyol bertikai pada abad ke 16 dan 17 itu. Namun, seperti kita tahu, pencarian itu tak berhenti pada perdagangan; ia berlanjut menjadi praktik penjajahan di Nusantara yang menorehkan luka berlarat-larat.
Dalam Sejarah Rempah: Dari Erotisme Sampai Imperialisme (2013), Jack Turner menyebut rempah-rempah sebagai bahan alami yang digunakan untuk meningkatkan gairah, vitalitas, dan menarik perhatian lawan jenis. Pada zaman dahulu, rempah-rempah bahkan setara dengan emas karena khasiatnya yang luar biasa.
Perihal itu, saya teringat pada sosok Wicaksono Adi, penulis esai seni-budaya dan salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival, yang membawakan materi khazanah rempah dalam sebuah seminar kebudayaan di Singaraja, Bali. Seingat saya, saat itu dia menyebut catatan kuno yang memberi petunjuk penting tentang posisi Nusantara dalam peta dunia. Naskah tersebut ialah Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Maujudat karya Zakariyya al-Qazwini (w. 1283 M), yang menyebut pulau-pulau “Zabaj” (Nusantara) sebagai wilayah yang dikuasai penguasa bergelar “al-Maharaj”. Dalam manuskrip tersebut, Zakariyya al-Qazwini menandai Nusantara sebagai negeri kaya emas sekaligus sumber berbagai jenis rempah—semacam pengakuan awal atas posisi strategis Nusantara dalam jejaring global.
Penjelasan Wicaksono Adi semakin menegaskan hal itu. Ia menyebut Nusantara sebagai rumah besar keanekaragaman hayati dunia—sekitar 11 persen tumbuhan dunia hidup di hutan tropis negeri ini. Dari lebih 30.000 spesies, sekitar 275 di antaranya tergolong rempah, termasuk tanaman introduksi. Angka-angka ini menjelaskan mengapa wilayah ini menjadi begitu diperebutkan.
Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, kapur barus, lada, hingga cendana bukan hanya komoditas, tetapi juga daya tarik yang nyaris menjadi mitos bagi bangsa Eropa. Pada abad ke-1 M, ahli geografi, matematika, dan astronomi Alexandria, Claudius Ptolemeus, menulis Guide to Geography, peta kuno yang mencatumkan Barus sebagai kota pelabuhan penting di dunia. Ia memperkirakan jalur ke lokasi-lokasi Asia melalui Venesia, Alexandria, Yaman, India, Barus, dan Tiongkok. Dari jalur-jalur itulah, rempah bergerak melintasi benua. Mengutip Drakard (1989), di kota-kota tersebut terjadi pertukaran minyak wangi dan keramik Yunani dengan kapur barus dari Barus—yang dikenal sebagai Barousai, produsen terpenting dunia pada masa kuno. Bahkan, laporan arkeologis menunjukkan aroma kapur barus ditemukan pada mumi Mesir. Turner (2011) mencatat bahwa sebelum Masehi, rempah Nusantara telah diperdagangkan di Mediterania oleh pedagang India dan Arab melalui Malabar menuju Roma dan Venesia.
Namun, jalur rempah Nusantara tidak bisa dipahami semata sebagai rute dagang. Ia adalah lintasan peradaban—jejaring yang menghubungkan manusia, budaya, dan pengetahuan. Jalur rempah berkelindan dengan terbentuknya jalur-jalur pelayaran yang menimbulkan konektivitas dalam berbagai dimensi. Dan di Bali, jejak itu terasa lebih dekat. Hikayat pelabuhan-pelabuhan alam di wilayah Pesisir Utara, seperti Sangsit, Buleleng, Temukus, Gilimanuk, Pangkung Paruk, Tanjung Ser, Pacung, dan Sembiran—yang merupakan pintu masuk dan jalur perdagangan kuno di Bali Utara yang menghubungkan Bali dengan daerah lain di Nusantara—adalah bukti yang sulit dibantah. Kehadiran pedagang dari India dan Cina sejak awal Masehi memperkuat posisi Bali dalam jalur ini.
Namun, yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana rempah tidak berhenti sebagai komoditas sejarah. Ia hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat Bali—seperti yang saya lihat pada diri Landri dan Ari Dwijayanthi—dalam ritual, pengobatan, hingga kuliner. Pengetahuan ini bahkan terekam dalam naskah-naskah seperti Geguritan Megantaka, Tutur Dharma Caruban, dan Usadha Bali, yang membagi fungsi rempah dalam tiga ranah: gandha (wewangian), boga (kuliner), dan usadha (pengobatan).
***
PADA suatu pagi di pertengahan 2024, di wantilan Desa Adat Buleleng, saya duduk menyimak penuturan IGA Darma Putra, pembaca sekaligus peneliti lontar, mengenai jejak rempah dalam naskah-naskah kuno Bali. Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung tradisi usadha—sistem pengobatan tradisional Bali—yang menurutnya memiliki tata pengetahuan yang terstruktur. “Dalam usadha,” ujar pemuda itu, “sebagaimana dokter di era modern, ada empat hal yang harus kita kuasai kalau mau menjadi balian [ahli pengobatan Bali], yaitu tenger, mantra, cara, dan sarana.” Penjelasan itu memperlihatkan bahwa praktik pengobatan tradisional Bali dibangun di atas metode, aturan, dan perangkat pengetahuan yang jelas, bukan sekadar kepercayaan turun-temurun tanpa dasar, atau yang gaib-gaib semata.
Dalam catatan saya, Darma Putra juga menguraikan jejak rempah yang tercantum dalam berbagai prasasti Bali Kuno. Asam atau asem, misalnya, disebut camalagi dalam Prasasti Bebetin (818 S) Klungkung. Bawang merah tercatat sebagai bawang dalam Prasasti Buwahan A (916 S) dan Batur Pura Abang A (933 S), sedangkan bawang putih disebut rasuna dalam Prasasti Sembiran AII (897 S). Cabai dikenal dengan nama cabya dalam Prasasti Sembiran AI (844 S) dan Buwahan A (916 S), serta kerap disebut berdekatan dengan minyak (lngis). Jahe tercatat sebagai halya dalam Prasasti Sembiran AII (897 S), sementara dalam Prasasti Batur Pura Abang A (933 S) disebut pipakan. Kemiri tetap disebut kamiri dalam Prasasti Ujung (962 S), meski dalam Prasasti Sembiran AI (844 S) dan Ujung (962 S) juga ditemukan penyebutan tingkir untuk rempah yang sama.
“Kalau kasumba disebut kasumbha dalam Prasasti Buwahan A (916 S), Batur Pura Abang A (933 S), dan Sembiran AIII (938 S). Kunyit, tetap sama sebutannya, yaitu kunyit dalam Prasasti Kintamani C (-) dan Kintamani D (1122 S). Sedangkan pinang itu sebutannya pucang dalam Prasasti Batuan (944 S) atau wwah dalam Prasasti Batur Pura Abang A (933 S). Dan sirih disebut sereh dalam Prasasti Batuan (944 S),” lanjut Darma Putra.
Darma Putra menekankan pentingnya daun sirih dalam tradisi kesehatan masyarakat Asia Tenggara. Dari berbagai jenis jamu yang dikonsumsi, sirih menempati posisi istimewa karena dikunyah terus-menerus oleh masyarakat lintas usia. “Menurut tradisi setempat, mengunyah sirih dapat mencegah kerusakan gigi serta disentri,” kata Darma.
Dalam materi yang dipaparkannya, air rebusan daun sirih disebut lazim dipakai untuk mengatasi infeksi mata, luka, pegal-pegal, gangguan menstruasi, hingga berbagai penyakit lain. Penelitian modern, meskipun masih pada tahap awal, menurutnya telah banyak menguatkan keyakinan tradisional tersebut. Pengunyah sirih diketahui lebih jarang mengalami kerusakan gigi—walaupun François Leguat, penjelajah naturalis Prancis, menyebut aktivitas nginang (mengunyah sirih, gambir, kapur sirih, dan di beberapa daerah juga menggunakan buah pinang) dapat membuat gigi menghitam dan bukan sesuatu yang menarik untuk dilihat. “Orang-orang [Jawa] ini kurang mengerti tentang keelokan mulut yang bersih dan segar,” katanya. Sebuah penilaian khas kolonial. Leguat melihat orang nginang saat dirinya berkunjung ke Batavia pada 1708.
Padahal, masih merujuk sumber yang sama, campuran pinang disebut terbukti mampu membunuh parasit usus, terutama cacing gelang dan cacing pita. Selain itu, sari daun sirih dinilai efektif melawan sejumlah bakteri, termasuk jenis shigella penyebab disentri dan salmonella penyebab tifus. “Tampaknya, mungkin, bahwa mengunyah sirih saja sudah banyak melindungi orang Asia Tenggara dari penyakit-penyakit yang berjangkit dari air, di samping mengebalkan tubuh dari infeksi seperti yang dicatat oleh beberapa pengamat,” terang Darma Putra.
Selain sirih, rempah yang menarik untuk disigi ialah kemiri—yang dalam Prasasti Sembiran AI (844 S) dan Ujung (962 S) disebut tingkir. Dalam sejarah pertanian di Bali, Buleleng dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kemiri terbesar, bersama dengan Gianyar dan Karangasem. Di Bali, kemiri bukan sekadar rempah pelengkap masakan, tetapi memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat—mulai dari kuliner, kesehatan, kecantikan, hingga spiritualitas. Dalam tradisi kuliner Bali, kemiri menjadi unsur utama base genep, bumbu dasar yang digunakan hampir di seluruh hidangan tradisional Bali.
Di bidang kesehatan dan kecantikan, minyak kemiri dikenal luas sebagai bahan alami untuk menyuburkan dan menghitamkan rambut. Tradisi penggunaan minyak kemiri diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bali, baik perempuan maupun laki-laki, sebagai bagian dari perawatan tubuh alami. Kemiri juga berperan dalam literasi tradisional Bali. Kemiri bakar digunakan untuk menghitamkan tulisan pada daun lontar (prasi) agar lebih jelas dan tahan lama, bahkan mampu bertahan hingga ratusan tahun sebagai jejak sejarah dan kebudayaan Bali. Selain itu, kemiri juga memiliki nilai sakral. Dalam Prasasti Baturan berangka tahun 941 Saka, pohon kemiri disebut sebagai pohon keramat yang harus dihormati. Penebangan tanpa izin dianggap pelanggaran berat karena kemiri dipercaya memiliki roh pelindung serta kekuatan mistis yang menjaga desa dan masyarakat dari bencana.
Namun, terlepas dari itu, selain dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan, rempah di Bali—termsuk kemiri, sebagaimana telah saya singgung di awal tulisan—juga digunakan sebagai gandha atau wewangian, yang dalam konteks hari ini dapat disamakan dengan parfum. Penjelasan mengenai hal ini juga saya dapat dari Ari Dwijayanti. Dalam presentasinya yang berjudul Dunia Rempah dan Turunan-turunannya dalam Lontar, Ari menjelaskan bahwa tubuh perempuan dalam tradisi lontar Bali dipahami memiliki unsur-unsur simbolik tertentu. Ia menyebut adanya 36 dewi dalam tubuh perempuan (Indrani Sastra), tujuh bidadari beserta karakteristiknya (Kakawin Arjuna Wiwaha), hingga empat jenis warna kulit menurut Rsi Shambina. “Keempat warna kulit itu terdiri dari: putih atau kuning (Singa Wikranta)-singa, merah (Padma Prasita)-bunga lotus, hijau (Ratha Wahana)-kereta, dan gelap (Sarpa Nuya Pana)-ular,” jelas perempuan yang juga menulis puisi itu.
Tak hanya mempelajari resep-resep kecantikan dari lontar, Ari mengaku masih mempraktikkan perawatan rambut berbahan alami dalam kesehariannya, seperti halnya si tua Landri. Untuk minyak rambut, ia menggunakan tandusan, klabet, akar wangi, daun nilam, bunga cempaka, kenanga, dan pudak. “Sedangkan kalau sampo menggunakan santan, waru, kembang sepatu, dan ratu magelung. Dan sebagai kondisioner, bisa menggunakan kemiri bakar. Masker rambut menggunakan kemiri bakar, tanah liat-tanah lempung, dan santan. Hair tonic, rendam hitungan ganjil biji klabet dengan air,” ujarnya.
Namun, Ari juga mengingatkan bahwa penggunaan bahan-bahan alami itu tidak selalu cocok bagi semua orang dan kondisi tubuh seseorang. Ia bercerita bahwa ketika memakai resep tersebut saat hamil dan menyusui, rambutnya justru mengalami kerontokan. “Jadi, mungkin tidak cocok bagi ibu yang sedang menyusui,” ujarnya. Menurut Ari Dwijayanthi, lontar Indrani Sastra bukan hanya membahas perawatan rambut, tetapi juga memuat pengetahuan mengenai perawatan wajah, tubuh, hingga organ intim perempuan.
Selain membahas kecantikan tubuh, Ari juga menguraikan pengetahuan mengenai aroma rempah. Menurutnya, dalam tradisi tersebut terdapat dua kelompok utama, yakni rempah dari dalam tanah dan rempah gantung. Golongan rempah dalam tanah mencakup kencur, jahe, serta berbagai jenis temu-temuan. Sementara rempah gantung atau pala bungkah meliputi merica dan pala. “Ada tiga jenis aroma untuk wewangian, yaitu fresh (temu-temuan yang setengah mentah), warm (temu-temuan kering, jahe,cengkeh, kencur), dan powdery (tanah liat, gula aren, cengkeh). Ini yang paling umum,” kata Ari.
Tak berhenti pada ranah tubuh dan wewangian, Ari turut menyinggung penggunaan aroma rempah dalam makanan, minuman, hingga pengobatan. Menurutnya, hal itu tercatat dalam lontar Dharma Caruban. Di sana dijelaskan adanya rempah yang berfungsi membangkitkan selera makan, sekaligus rempah yang dipakai sebagai pemberi rasa dalam makanan dan minuman. “Lalu ada juga aroma rempah dalam obat. Semua lontar Usadha membahas tentang khasiat rempah sebagai aroma dalam obat dan khasiat rempah sebagai penyembuh dalam obat,” ujarnya.
Pada lain kesempatan, saya mendengarkan Putu Eka Guna Yasa, kawan saya sekaligus akademisi sastra Bali dari Universitas Udayana, yang memaparkan materi tentang rempah sebagai boga. Lewat presentasinya yang berjudul “Dari Literasi Menuju Industri: Revitalisasi Rempah dalam Naskah”, saya menangkap bagaimana rempah menjadi simpul yang menghubungkan sejarah, kolonialisme, pengobatan, hingga ingatan budaya masyarakat Bali.
Ketika membahas rempah sebagai boga, Guna menjelaskan bahwa terdapat setidaknya tiga lontar Bali yang banyak membicarakan kuliner dan penggunaan rempah, yaitu Dharma Caruban, Purincining Ebatan, dan Usadha. “Lontar-lontar ini merupakan pegangan bagi belawa (ahli masak kerajaan),” terang Guna.
Dan saya terkejut dan tak menyangka ketika ia menyebut nama seorang belawa yang terasa begitu akrab dalam dunia pewayangan: Bima atau Werkudara, Pandawa nomor dua itu. Dalam lontar Geguritan Kicaka, Bima dikisahkan pernah menyamar menjadi juru masak di sebuah kerajaan. Guna lalu membacakan kutipan tersebut: “Sang Wrekodara masalin warni, ngangken sudra mawasta Prabu Belawa, juru olah gegunane, kang ngawe yun sang ratu.” Di titik itu saya merasa dapur dalam tradisi lama bukan ruang remeh. Memasak adalah pengetahuan. Bahkan seorang ksatria pun dapat mengambil peran sebagai peracik makanan kerajaan—meski hanya sekadar menyamar.
Dari sana, Guna mulai menguraikan beberapa resep kuno yang tercatat dalam lontar Dharma Caruban. Dan saya mendapati bahwa hampir seluruh masakan Bali tradisional dibangun dari lapisan rempah yang kompleks. Kuliner timbungan, misalnya, yang menggunakan bawang merah, gamongan, kemiri, galoban, santan encer, bawang putih, terasi, kencur, bangle, lengkuas, ketumbar, merica, dan jinten. Daftar itu terdengar seperti peta aroma yang rumit sekaligus akrab.
Lalu ada lawar penyu dan salwiring lawar atau berbagai jenis lawar—hidangan tradisional khas Bali berupa campuran sayuran, cincangan daging (babi, penyu, ayam, sapi, atau bebek), kadang darah hewan, kelapa parut, dan base genep—yang dalam lontar disebut berbumbu bawang merah, bawang putih, terasi, bebeka, jinten, cabai, dan sedikit merica, kemudian digoreng menggunakan minyak kelapa baru. Saya membayangkan aroma bumbu itu saat bertemu asap dapur tradisional Bali—tajam, hangat, dan menggugah lapar.

Ayam panggang ala Dharma Caruban juga tak kalah menarik. Bumbunya terdiri dari merica, jinten, bawang putih, dan kencur yang dihaluskan, lalu dicampur santan sebelum dipanggang ulang setelah matang. Sementara barengkes babi memakai bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, lengkuas, kemiri, terasi, gula, daun salam, hingga jeruk purut yang diremas cukup lama bersama santan dan putih telur.
Tetapi, yang menarik bagi saya justru bukan semata resepnya, melainkan cara masyarakat lama memahami rempah. Dalam pemaparan Guna, rempah bukan hanya alat penyedap rasa, tetapi juga pelindung tubuh. Penggunaan basa genep—campuran bumbu lengkap berbahan rempah ala Bali—disebut memiliki kemampuan menghambat atau membunuh mikroba seperti E. coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella thypi. Saya merasa bahwa nenek moyang Nusantara mungkin telah memahami hubungan antara makanan dan kesehatan jauh sebelum istilah “superfood” atau “herbal medicine” menjadi tren modern. Pengetahuan itu diwariskan lewat praktik memasak sehari-hari, tentu saja, bukan lewat laboratorium.
Di penghujung pertemuan, Guna Yasa mengingatkan kembali pentingnya konsep Udiana Usada, yakni taman pekarangan yang ditanami rempah dan tanaman obat. Menurutnya, konsep ini perlu terus dihidupkan kembali agar masyarakat tidak semakin jauh dari pengetahuan tradisional mereka sendiri. “Sampai di sini,” kata Guna, “untuk mendekatkan dan memanfaatkan kembali rempah-rempah yang multikhasiat itu, konsep Udiana Usada—taman yang berfungsi sebagai pengobatan di pekarangan—mesti dihidupkan dan dikampanyekan secara berulang-ulang, lagi, lagi, dan lagi.”
Kalimat itu tertinggal cukup lama dalam ingatan saya. Sebab di tengah kehidupan modern yang serba instan, pekarangan rumah perlahan berubah menjadi ruang kosong yang kehilangan fungsi pengetahuan. Padahal dahulu, halaman rumah bukan sekadar tempat menanam bunga, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan obat, aroma, sekaligus bahan pangan keluarga.
Dan pada akhirnya, rempah adalah cerita yang belum selesai. Ia tidak berhenti sebagai komoditas masa lalu atau romantika sejarah belaka. Ia hidup—seperti pada tangan-tangan Nyoman Landri yang setiap pagi mengaduk minyak di atas tungku—dalam tubuh, rasa, dan ingatan kolektif masyarakat. Dan melalui Bali, saya melihat bagaimana rempah tetap dirawat sebagai pengetahuan, praktik, sekaligus identitas yang terus berdenyut hingga hari ini. [T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula2-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula1-360x180.jpeg)























