25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 5, 2026
in Esai
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Peserta workshop literasi di SMAN 2 Kuta Utara

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu cukup? Atau ketika semua adalah hiburan dan canda ria? Mungkin cukup kalau ditakar dengan suatu alat tertentu tapi mungkin tidak kalau diukur dengan alat yang lain.  Memang aktivitas membaca yang mandiri berkelanjutan, utuh, mendalam semakin jarang dilakukan. Mendapatkan berbagai informasi di media sosial dengan cara yang lebih menarik kalau dibandingkan dengan membaca adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Siapa saja mengandalkan media sosial untuk mendapatkan berbagai informasi. Entah informasi itu bermanfaat sejauh mana atau sebatas hiburan yang bisa dibilang dangkal atau sebaliknya sangat berat.

Tapi beralih kepada dunia sekolah dunia yang memiliki tujuan dengan suatu idealisme mendidik. Di sini guru-guru bekerja untuk tujuan itu. Ada hal idealis mulia yang harus dipertahankan dan meyogyanya diperjuangkan. Misalnya bagaimana sekolah membentuk siswa pembaca, siswa yang membaca buku bukan hanya siswa yang menikmati media sosial saja sepanjang waktu. Bukan berarti media sosial itu dipertentangkan tetapi diterima dengan kontrol dan daya kritis bahwa ada masalah pada kandungan media sosial tersebut.

Literasi identik dengan sekolah karena berkaitan dengan pemerolehan informasi, pengolahan, dan penggunaan. Jika lantas guru tidak tahu bagaimana membaca pastilah dia tidak bisa mengajari membaca yang benar. Inilah yang menjadi tema workshop dalam rangka review kurikulum tahun 2026 yang salah satu materinya adalah workshop literasi bagi guru yang dilaksanakan oleh SMA Negeri 2 Kuta Utara (awal Juni 2026). Dalam kegiatan ini yang menjadi fokus penting bagi guru adalah bagaimana dia menjadi pembaca atau guru yang senantiasa membaca. Tuntutan sekolah agar workshop ini praktis menerjemahkan apa yang harus dibaca guru tiada lain adalah buku. Media sosial dalam hal ini sejatinya sudah selesai, tidak dapat ditawar lagi dan final. Rasanya demikian karena menjadi dunia yang mutlak.

Ritual foto bersama di era kekinian: peserta workshop

Aktivitas membaca buku adalah pilihan baru yang bahkan harus dimulai dengan satu prinsip: hal ini sangat penting. Membaca buku bukan untuk dipertentangkan dengan menikmati media sosial. Membaca buku adalah konvergensi dari perilaku yang sangat dominan oleh media sosial. Mengapa guru harus membaca buku? Karena bertugas di hadapan siswa sehingga guru datang dengan satu idealisme. Inilah perlu dipupuk bersama.

Kalau sebuah sekolah ingin dikembangkan menjadi sekolah yang berbudaya baca dan betapa siapapun paham membaca buku adalah hal yang asing dan sudah tidak dilakukan maka ada pendobrakan yang harus dilakukan. Gurulah yang harus memulai dari dirinya sendiri. Jika guru tidak memulai dari dirinya sendiri maka kondisi yang saat ini terjadi tak akan mengalami perubahan dan semakin jauh dari aktivitas membaca dan semakin memuja konten-konten di media sosial.

Dunia Buku, Kertas

Workshop kali ini membuka wawasan guru tentang dunia buku. Buku ditulis tidak secara instan tetapi melalui pergulatan dan perjuangan intelektual yang gigih. Buku dibangun dari pengetahuan yang luas dan mendalam seorang pengarangnya. Buku ditulis dari pengalaman panjang melakukan riset ke negeri asing dan mengumpulkan serangga di negeri-negeri tropis. Buku ditulis dari petualangan mencari tanah impian seperti yang dilakukan oleh Stuart Walker atau terkenal dengan nama pemberian ayah angkatnya yang seorang raja di Bali, K’tut Tantri; sehingga lahirlah buku Revolusi di Nusa Damai.

Buku itu ditulis oleh Yati Maryati wartawati majalah Femina pergi ke Denpasar tepatnya ke Pantai Sanur tepatnya lagi ke rumah Ni Nyoman Polok untuk melakukan wawancara. Bukunya yang kelak lahir diberi judul Ni Polok, Model dari Desa Kelandis;  berisi pengalaman yang disembunyikan dan itu buruk yang dialami oleh seorang perempuan Bali yang menikah dengan bangsawan Belgia, Le Mayeur. Perempuan penari legong yang cantik menjadi model seorang pelukis dunia tetapi sekaligus itu merenggut esensi perempuan Bali dalam rumah tangga yang ia bangun. Ni Polok tidak boleh punya anak karena kehamilan, menyusui akan membuat tubuhnya rusak, tidak indah lagi jika dilukis. Ni Polok tidak menggunakan rahimnya untuk mengandung dan tidak pernah memberikan susunya kepada anaknya. Pengalaman dan penderitaan ini hanya bisa dibaca dalam buku dan tidak pada yang lain.

Peserta workshop

Terlalu banyak buku hebat yang tidak bisa dijangkau. Tetapi dengan kembali kepada buku dan kesadaran kepada buku maka ada sedikit buku penting yang berjodoh dengan seseorang. Jangan berharap bisa menjangkau semua buku terbaik yang ada di atas perpustakaan bumi. Karena itu menemukan satu buku yang hebat dan cocok dengan diri adalah pencapaian literasi dan pembuktian betapa nikmatnya menjadi pembaca buku. Kenikmatan bertualang dalam dunia buku ini tidak dimiliki karena itu lalu beralih kepada petualangan di dunia digital, di dunia media sosial.

Karena itulah workshop ini menjadi guru pembaca atau guru yang membaca buku sangat penting. Sekolah dibangun di atas idealisme dan para guru harus menjadi agen-agen yang idealis termasuk dalam hal ini, bagaimana mulai membaca buku. Sebagai guru membaca buku pada awalnya mungkin perjuangan untuk dirinya sendiri tetapi buah perjuangan ini, pengalaman menjadi pembaca buku, akan ditularkan kepada siswa sehingga yang dihasilkan di sekolah ini adalah insan membaca.

Guru-guru di sekolah ini yang sangat muda dan inovatif tentu saja tidak terlalu sulit merealisasikan ide menjadi guru membaca namun perlu dimulai dengan langkah pemaksaan diri. Hal ini ditegaskan pula oleh kepala sekolah, bahwa pada intinya, dengan guru-guru generasi sekarang seorang kepala sekolah mesti mengajari guru. Ditekankan dalam workshop: pada hari-hari awal memulai membaca buku, harus memaksakan diri karena membaca adalah memasukkan diri ke dalam ruang sunyi di dalam dunia buku. Dengan menyadari betapa pentingnya membaca maka akan ada motivasi dan kekuatan untuk bertahan dalam kesunyian.

Adalah mustahil mencetak insan pembaca tanpa model dan di sini guru diharapkan nanti menjadi model bagaimana menjadi pembaca buku. Ada banyak sekali cara menjadi pembaca buku bagi guru. Pertama, guru mungkin memilih buku tertentu lalu membacanya dengan perlahan dan tidak boleh melakukan lompatan-lompatan karena mengatasi rasa bosan. Guru bisa memulai dengan proyek membuat kutipan lalu membacakan kutipan itu di depan kelas. Guru bisa juga membuat proyek membaca bersama. Dalam satu semester siswa memilih buku dan membaca buku itu bersama-sama secara terjadwal,  sehingga hampir semua siswa akan mendapatkan pengalaman membaca. Membaca walaupun banyak ditolak, apapun alasannya sungguh sangat penting artinya bagi diri manusia. jika tidak membaca memang tidak menyebabkan dampak-dampak fisik dan bahkan banyak kita tidak peduli dengan dampak-dampak dari tidak membaca itu. Karenanya ketika membaca dianggap sulit maka pilihan kita adalah abai dan beralih.

Beralih dari dunia membaca dengan alasan bahwa membaca itu memberatkan memang masih sangat mungkin di dunia media sosial. Media sosial seolah menjadi pelarian tetapi kesadaran betapa pentingnya membaca tidak harus berlari atau melarikan diri secara mutlak kepada media sosial. Buku masih harus ada dalam agenda sehari-hari. Buku berdiri sendiri secara lebih terhormat dengan melihat sejarah penulisannya dan bagaimana proses sebuah buku dilahirkan.

Media sosial tentu saja tidak bisa menandingi itu karena proses penciptaan berbagai materi di media sosial belum teruji. Apapun bisa muncul dan siapapun bisa memproduksi sesuatu. Apakah hal ini cukup dinikmati dan dianggap benar dan dianggap pengetahuan yang memiliki standar tertentu. Ternyata tidak dan itu harus dikembalikan kepada Fondasi lain pengetahuan kita yaitu bersumber pada buku.[T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: LiterasiPendidikanSMAN 2 Kuta Utara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Next Post

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co