PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas. Pemerintah Kabupaten Buleleng mengusung tema “Bhinneka Shanti Jagadhita”, yang menekankan pentingnya menjaga keberagaman, kedamaian, dan kesejahteraan bersama.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak awal Maret, ditandai dengan jalan sehat pada 6 Maret 2026 yang diikuti ASN, TNI-Polri, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum. Kegiatan kemudian berlanjut dengan berbagai lomba, pertunjukan seni, hingga agenda sosial yang tersebar di sejumlah titik di Kota Singaraja.
Puncak perayaan digelar selama tiga hari, 28–30 Maret 2026, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno. Di lokasi ini, masyarakat disuguhi beragam pementasan seni tradisional dan modern yang melibatkan seniman lokal Buleleng.

Kepala Bidang Adat dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, I Made Tegah Okta Maheri, mengatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tahun ini disusun untuk mengangkat kembali nilai sejarah dan budaya daerah. “Berbagai kegiatan dirangkai mulai awal bulan Maret hingga akhir Maret 2026. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pawai budaya yang melibatkan seluruh kecamatan dengan mengangkat kisah sejarah Buleleng,” ujarnya.
Pawai budaya menjadi salah satu agenda utama dalam perayaan tahun ini. Kegiatan ini kembali digelar setelah sempat vakum hampir tujuh tahun. Pawai berlangsung pada 30 Maret 2026 dengan rute dari kawasan Taman Kota Singaraja hingga Pelabuhan Buleleng.
Dalam pawai tersebut, sembilan kecamatan di Buleleng terlibat, yakni Gerokgak, Seririt, Busungbiu, Banjar, Sukasada, Buleleng, Sawan, Kubutambahan, dan Tejakula. Masing-masing kecamatan menampilkan satu bagian cerita tentang perjalanan tokoh sejarah Ki Barak Panji Sakti.
“Peserta dari masing-masing kecamatan mengangkat cerita besar dari sejarah Buleleng, yakni Ki Barak Panji, mulai dari masa kecil beliau hingga kejayaannya memerintah di Buleleng,” kata Okta Maheri.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menjelaskan bahwa parade tersebut dirancang dalam bentuk fragmentari. Setiap kecamatan menampilkan satu episode perjalanan hidup Panji Sakti, mulai dari kelahiran, masa kecil, perjalanan ke Den Bukit, hingga mendirikan dan memimpin Kerajaan Buleleng.
“Parade ini akan menampilkan fragmentari mulai dari kelahiran Ki Barak Panji Sakti, masa kecil beliau, perjalanan ke Den Bukit, mendirikan Kerajaan Buleleng hingga mencapai masa kejayaan kerajaan,” kata Sutjidra.


Selain menampilkan cerita sejarah, setiap kecamatan juga menampilkan potensi lokal masing-masing. Hal ini terlihat dari gebogan berisi hasil pertanian dan perkebunan, serta penggunaan pakaian adat khas dari desa-desa setempat.
Menurut Sutjidra, pemilihan tema sejarah tersebut bertujuan untuk mengingatkan masyarakat pada asal-usul Kota Singaraja. “Kami sudah diskusi panjang dengan tim. Kami ingin seperti pesan ‘jas merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Apalagi kami juga sedang menata kawasan heritage di Kota Singaraja,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rencana tersebut telah mendapat dukungan dari keluarga besar keturunan Panji Sakti. “Setelah kami berdiskusi dengan keluarga besar puri, mereka sangat mengapresiasi kalau parade ini dilakukan,” katanya.
Selain pawai budaya, berbagai kegiatan lain juga digelar untuk memeriahkan peringatan HUT ke-422 Singaraja. Pemerintah Kabupaten Buleleng mengadakan lomba pengelolaan sampah berbasis sumber yang menyasar rumah tangga di tingkat desa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Di bidang olahraga, digelar Singaraja Run 2026 dengan jarak tempuh 7 kilometer. Lomba lari ini mengambil titik start di Pelabuhan Tua Buleleng dan melintasi sejumlah ruas jalan di kawasan kota. Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat umum maupun ASN.


Sementara itu, di bidang kuliner tradisional, lomba ngelawar juga dilaksanakan dengan melibatkan perwakilan dari masing-masing kecamatan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan tradisi kuliner Bali di tengah perkembangan zaman.
Pada malam puncak perayaan di Taman Bung Karno, berbagai pertunjukan seni ditampilkan. Di antaranya gong legendaris mebarung, Joged mebarung, serta penampilan Smarandana dan Bondres kolaborasi. Selain itu, Sanggar Seni Dwi Mekar menampilkan oratorium tari kolosal yang melibatkan sekitar 150 penari dengan mengangkat fragmen perjalanan Ki Barak Panji Sakti saat menyerang Kerajaan Blambangan.
Penyanyi Bali Bagus Wirata juga hadir sebagai bintang tamu dalam rangkaian acara tersebut.
Sekretaris Daerah Buleleng, Gede Suyasa, menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan tahun ini melibatkan banyak sektor sehingga membutuhkan koordinasi yang baik. “Waktu sangat terbatas, namun kegiatannya sangat banyak dan lintas sektor. Kunci utamanya adalah kepastian perencanaan dan koordinasi yang solid. Administrasi harus tuntas sesuai jadwal agar persiapan tidak terhambat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Asisten Tata Pemerintahan Setda Buleleng sekaligus Ketua Panitia, Putu Ariadi Pribadi. Ia memastikan seluruh organisasi perangkat daerah telah siap menjalankan tugasnya masing-masing. “Dari sisi konsep kegiatan, sarana prasarana, hingga teknis pelaksanaan, semuanya sudah dipersiapkan. Tinggal memastikan pelaksanaan berjalan sesuai rencana,” jelasnya.


Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Partisipasi warga dinilai menjadi faktor penting dalam menyukseskan perayaan sekaligus menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
“Partisipasi masyarakat sangat penting, baik untuk memeriahkan kegiatan maupun menjaga keamanan dan ketertiban selama rangkaian acara berlangsung,” kata Okta Maheri.
Melalui perayaan ini, pemerintah daerah berharap potensi seni dan budaya Buleleng semakin dikenal luas. Selain itu, momentum peringatan HUT ke-422 Singaraja juga diharapkan dapat memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Harapannya, Singaraja tetap menjadi kota yang menjaga keberagaman, kedamaian, dan keharmonisan demi kesejahteraan masyarakat,” kata Sutjidra. [T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
- Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.


![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula2-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula1-360x180.jpeg)
























