DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens agar tetap antusias. Tiba-tiba terdengar suara orang yang merapikan buku, yang sesungguhnya telah lama berteriak lewat ide, imajinasi, dan ilmu yang tersimpan. Tak, tok,….. tak, tok! Suara itu terus saja terdengar. Hingga pada sebuah buku tentang pertanian yang mengedukasi.
Itulah Wikan Nanda saat menampilkan Tur Performatif Perpustakaan, mengawali apresiasi kegiatan soft opening Beranda Pustaka di Gedung Perpustakaan Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu 13 Juni 2026. Gerbang literasi itu menjadi bagian dari perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII dan akan terus hadir hingga Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, mulai 13 Juni hingga 25 Juli 2026.
Beranda Pustaka yang dikelola Komunitas Aghumi dibuka oleh kurator Ida Bagus Martinaya itu, juga menampilkan pembacaan karya sastra oleh enam pembaca mulai dari Ida Ayu Putu Ika, Widya Jati Swari, Devano Hafidz Darmawan, dan Wahyu Saputra. Lalu, dilanjuitkan dengan pertunjukan musik akustik oleh Akmal Jana Prasetya yang memadukan kekuatan kata dan musik dalam satu panggung apresias.

Komunitas Aghumi merupakan komunitas seni pertunjukan yang aktif dalam literasi dan pengembangan ruang kreatif masyarakat. Melalui berbagai program dan kolaborasi, Aghumi berupaya menghadirkan kegiatan yang mendorong tumbuhnya budaya membaca, berdialog, dan berkarya di tengah masyarakat. Termasuk Beranda Pustaka ini.
“Beranda Pustaka merupakan bentuk komitmen komunitas dalam menciptakan ruang budaya yang hidup dan dapat diakses oleh siapa saja,” kata Ketua Komunitas Aghumi, Wulan Dewi Saraswati yang juga penanggung jawab program dalam sambutannya.
Beranda Pustaka hadir sebagai ruang literasi dan interaksi kreatif yang menghubungkan buku, seni, dan masyarakat dalam suasana yang terbuka dan inklusif. Selama penyelenggaraan PKB dan FSBJ, pengunjung dapat menikmati berbagai program, di antaranya bazar buku, ruang baca, diskusi santai, serta beragam aktivitas seni dan literasi.
Wulan Dewi Saraswati menegaskan, melalui Beranda Pustaka, Komunitas Aghumi ingin menghadirkan ruang alternatif yang tidak hanya menjadi tempat bertemunya pembaca dan pelaku seni, tetapi juga mendorong tumbuhnya budaya literasi di tengah masyarakat. Kehadiran bazar buku membuka akses terhadap berbagai bacaan,aktivitas interaktif lainnya diharapkan dapat menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan untuk datang dan berpartisipasi.


Salah satu program menarik yang dihadirkan dalam Beranda Pustaka adalah baca tarot Queen Athena yang akan merekomendasikan buku sesuai hasil pembacaan pola karakter client. “Adanya aktivitas ini, untuk mengajak pengunjung membaca pola kehidupan, mengenali tanda-tanda yang muncul dalam perjalanan hidup, serta melakukan refleksi terhadap diri sendiri melalui kartu tarot,” terangnya.
Hasil pembacaan tidak berhenti pada interpretasi kartu, melainkan menjadi jembatan menuju literasi. Pembaca tarot akan merekomendasikan buku-buku yang sesuai dengan tema kehidupan, pertanyaan, maupun refleksi yang muncul selama sesi berlangsung. “Dengan demikian, pengunjung tidak hanya diajak “membaca kartu”, tetapi juga “membaca diri” melalui buku sebagai ruang perenungan, pembelajaran, dan pengembangan diri,” jelasnya.
Melalui partisipasinya dalam Pesta Kesenian Bali dan Festival Seni Bali Jani, Komunitas Aghumi berharap Beranda Pustaka dapat menjadi salah satu ruang yang memperkuat ekosistem literasi dan kesenian di Bali, sekaligus mengajak masyarakat untuk menikmati festival dengan cara yang lebih dekat, interaktif, dan bermakna.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga tempat bertemu, berbagi cerita, berdiskusi, dan merayakan kreativitas bersama. Literasi dan seni memiliki hubungan yang erat dalam membangun masyarakat yang reflektif dan terbuka,” tutup Wulan Dewi Saraswati. [T]
Penulis: Ingga Adelia
Editor: Budarsana






























