5 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
in Panggung
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah Sang Suratma, pencatat amal perbuatan manusia di akhirat. Dengan gaya yang jenaka, ia mengajak Bagus Diarsa menyusuri perjalanan yang kelak membawanya melihat sisi paling kelam dari kehidupan setelah kematian.

Itulah salah satu potongan adegan dalam “Katarsis Jiwa Kelam”, persembahan SMAN 2 Kuta Selatan pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Madya Mandala, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar, Senin, 20 Juli 2026. Pertunjukan ini tidak sekadar menghidupkan kembali kisah klasik Bali, tetapi juga membawanya masuk ke dunia generasi masa kini melalui drama, tari, musik, humor, hingga simbol-simbol kehidupan di era digital. 

Karya ini berangkat dari Geguritan ‘Bagus Diarsa’, salah satu karya sastra klasik Bali yang telah lama dikenal sebagai media pendidikan moral. Namun, alih-alih mempertahankan latar tradisional sepenuhnya, penggarap memilih pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Telepon pintar, media sosial, hingga gaya hidup modern menjadi bagian dari cerita tanpa menghilangkan ruh utama kisah tersebut.

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pilihan itu membuat pertunjukan terasa hidup. Penonton tidak hanya menyaksikan cerita rakyat, melainkan juga melihat refleksi kehidupan sehari-hari. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang jauh dan kuno, melainkan sebagai sumber nilai yang tetap relevan untuk menjawab persoalan zaman.

Secara garis besar, kisah ini mengikuti perjalanan hidup Bagus Diarsa, seorang pria yang semula hidup berkecukupan, tetapi jatuh miskin akibat kegemarannya berjudi sabung ayam. Kejatuhan ekonomi itu tidak hanya menghancurkan kehidupannya, tetapi juga membawa penderitaan bagi keluarganya. Dalam kondisi tersebut, Dewa Siwa turun ke dunia dengan menyamar untuk menguji sekaligus menyelamatkan hidupnya. 

Perjalanan itu kemudian berubah menjadi sebuah pengembaraan spiritual. Dalam adaptasi ini, Bagus Diarsa ditemani Sang Suratma, sosok pencatat seluruh amalan manusia di akhirat. Sang Suratma mengajaknya menyusuri berbagai lapisan neraka, memperlihatkan bagaimana setiap roh menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya selama hidup.


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Dari perjalanan itulah Bagus Diarsa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan terhadap roh-roh yang semasa hidupnya dipenuhi dosa. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membersihkan batinnya. Ia menyadari kesalahan, memperbaiki diri, hingga akhirnya memperoleh anugerah berupa seekor ayam sakti dari Dewa Siwa untuk mengalahkan Anak Agung, penguasa tamak yang selama ini menindasnya. Setelah berhasil menegakkan keadilan, Bagus Diarsa memimpin wilayahnya menuju kehidupan yang damai dan sejahtera sebelum akhirnya mencapai kemuliaan (moksa). 

Alur klasik itu diterjemahkan di atas panggung dengan pendekatan yang segar. Dialog-dialog ringan disisipkan di antara adegan serius sehingga membuat cerita terasa akrab. Kehadiran unsur komedi berhasil mencairkan suasana tanpa mengurangi bobot pesan moral yang hendak disampaikan.

Kekuatan pertunjukan justru tampak pada keberanian memadukan berbagai disiplin seni. Drama menjadi tulang punggung cerita, sementara tari kontemporer hadir sebagai bahasa visual yang menggambarkan konflik batin tokoh. Ketika kata-kata berhenti, gerak tubuh para penari mengambil alih, menghadirkan gambaran tentang rasa bersalah, penyesalan, harapan, hingga proses penyucian jiwa.


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pada bagian klimaks, tata cahaya memainkan peran penting. Sorot merah, putih, dan kuning berpadu dengan kepulan asap panggung, membangun atmosfer yang dramatis. Formasi para penari yang membentuk komposisi-komposisi simbolik memperkuat kesan bahwa perjalanan manusia menuju kebajikan bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan melalui pergulatan panjang dengan dirinya sendiri.

Iringan musik pun menjadi pengikat seluruh pertunjukan. Nuansa tradisional tetap hadir, tetapi dipadukan dengan pendekatan musikal yang lebih modern sehingga mampu mengikuti dinamika setiap adegan. Perpaduan itu membuat transisi antarbabak terasa mengalir tanpa kehilangan ritme.

Di balik seluruh kemasan modern tersebut, nilai utama yang diangkat tetap bersumber dari geguritan aslinya. Kisah Bagus Diarsa mengingatkan bahwa keserakahan, perjudian, dan penyalahgunaan kekuasaan hanya akan membawa penderitaan. Sebaliknya, ketulusan, penghormatan kepada sesama, serta kesediaan memperbaiki diri menjadi jalan menuju kemuliaan. Nilai-nilai inilah yang sejak lama diwariskan melalui karya sastra klasik Bali. 


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pilihan mengadaptasi karya sastra klasik ke dalam bahasa pertunjukan modern juga memperlihatkan cara generasi muda menjaga tradisi. Mereka tidak sekadar menghafalkan cerita lama, tetapi berusaha berdialog dengannya. Tradisi diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup, yang dapat terus ditafsirkan sesuai tantangan zaman tanpa kehilangan esensi.

Hal itu terlihat dari keberanian memasukkan berbagai simbol kehidupan generasi digital ke dalam cerita. Kehadiran telepon genggam, kendaraan listrik, hingga gaya komunikasi anak muda bukan sekadar gimmick panggung. Semua itu menjadi metafora bahwa godaan, keserakahan, maupun pencarian jati diri manusia tetap sama, hanya medium dan konteksnya yang berubah.

Pergelaran ini juga menunjukkan kemampuan para siswa mengelola produksi yang cukup kompleks. Perpindahan adegan berlangsung rapi, para pemain mampu menjaga intensitas permainan, sementara koreografi dan tata artistik saling mendukung untuk membangun suasana. Seluruh elemen pertunjukan berpadu menjadi pengalaman menonton yang utuh.

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Di balik pertunjukan tersebut, terdapat kolaborasi berbagai pihak yang mewujudkan gagasan menjadi sebuah karya utuh. Naskah ditulis oleh I Putu Nanda Yoga Mayura, penyutradaraan dipercayakan kepada Dewa Ayu Candra Kirana, sementara iringan musik ditata oleh Made Santiasa, busana oleh Manubada Art, serta I Nyoman Tingkat selaku Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab produksi. 

Pada akhirnya, “Katarsis Jiwa Kelam” memperlihatkan bahwa sastra klasik Bali masih memiliki daya hidup yang kuat ketika dibaca dengan cara kreatif. Kisah tentang perjalanan menuju neraka, pertobatan, hingga kemenangan atas keserakahan tidak terasa sebagai dongeng masa lampau. Di tangan generasi muda, cerita itu berubah menjadi refleksi tentang kehidupan hari ini—tentang pilihan-pilihan moral yang setiap hari dihadapi manusia, di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan zaman.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Katarsis Jiwa KelamSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Next Post

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co