4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
in Panggung
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah Sang Suratma, pencatat amal perbuatan manusia di akhirat. Dengan gaya yang jenaka, ia mengajak Bagus Diarsa menyusuri perjalanan yang kelak membawanya melihat sisi paling kelam dari kehidupan setelah kematian.

Itulah salah satu potongan adegan dalam “Katarsis Jiwa Kelam”, persembahan SMAN 2 Kuta Selatan pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Madya Mandala, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar, Senin, 20 Juli 2026. Pertunjukan ini tidak sekadar menghidupkan kembali kisah klasik Bali, tetapi juga membawanya masuk ke dunia generasi masa kini melalui drama, tari, musik, humor, hingga simbol-simbol kehidupan di era digital. 

Karya ini berangkat dari Geguritan ‘Bagus Diarsa’, salah satu karya sastra klasik Bali yang telah lama dikenal sebagai media pendidikan moral. Namun, alih-alih mempertahankan latar tradisional sepenuhnya, penggarap memilih pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Telepon pintar, media sosial, hingga gaya hidup modern menjadi bagian dari cerita tanpa menghilangkan ruh utama kisah tersebut.

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pilihan itu membuat pertunjukan terasa hidup. Penonton tidak hanya menyaksikan cerita rakyat, melainkan juga melihat refleksi kehidupan sehari-hari. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang jauh dan kuno, melainkan sebagai sumber nilai yang tetap relevan untuk menjawab persoalan zaman.

Secara garis besar, kisah ini mengikuti perjalanan hidup Bagus Diarsa, seorang pria yang semula hidup berkecukupan, tetapi jatuh miskin akibat kegemarannya berjudi sabung ayam. Kejatuhan ekonomi itu tidak hanya menghancurkan kehidupannya, tetapi juga membawa penderitaan bagi keluarganya. Dalam kondisi tersebut, Dewa Siwa turun ke dunia dengan menyamar untuk menguji sekaligus menyelamatkan hidupnya. 

Perjalanan itu kemudian berubah menjadi sebuah pengembaraan spiritual. Dalam adaptasi ini, Bagus Diarsa ditemani Sang Suratma, sosok pencatat seluruh amalan manusia di akhirat. Sang Suratma mengajaknya menyusuri berbagai lapisan neraka, memperlihatkan bagaimana setiap roh menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya selama hidup.


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Dari perjalanan itulah Bagus Diarsa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan terhadap roh-roh yang semasa hidupnya dipenuhi dosa. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membersihkan batinnya. Ia menyadari kesalahan, memperbaiki diri, hingga akhirnya memperoleh anugerah berupa seekor ayam sakti dari Dewa Siwa untuk mengalahkan Anak Agung, penguasa tamak yang selama ini menindasnya. Setelah berhasil menegakkan keadilan, Bagus Diarsa memimpin wilayahnya menuju kehidupan yang damai dan sejahtera sebelum akhirnya mencapai kemuliaan (moksa). 

Alur klasik itu diterjemahkan di atas panggung dengan pendekatan yang segar. Dialog-dialog ringan disisipkan di antara adegan serius sehingga membuat cerita terasa akrab. Kehadiran unsur komedi berhasil mencairkan suasana tanpa mengurangi bobot pesan moral yang hendak disampaikan.

Kekuatan pertunjukan justru tampak pada keberanian memadukan berbagai disiplin seni. Drama menjadi tulang punggung cerita, sementara tari kontemporer hadir sebagai bahasa visual yang menggambarkan konflik batin tokoh. Ketika kata-kata berhenti, gerak tubuh para penari mengambil alih, menghadirkan gambaran tentang rasa bersalah, penyesalan, harapan, hingga proses penyucian jiwa.


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pada bagian klimaks, tata cahaya memainkan peran penting. Sorot merah, putih, dan kuning berpadu dengan kepulan asap panggung, membangun atmosfer yang dramatis. Formasi para penari yang membentuk komposisi-komposisi simbolik memperkuat kesan bahwa perjalanan manusia menuju kebajikan bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan melalui pergulatan panjang dengan dirinya sendiri.

Iringan musik pun menjadi pengikat seluruh pertunjukan. Nuansa tradisional tetap hadir, tetapi dipadukan dengan pendekatan musikal yang lebih modern sehingga mampu mengikuti dinamika setiap adegan. Perpaduan itu membuat transisi antarbabak terasa mengalir tanpa kehilangan ritme.

Di balik seluruh kemasan modern tersebut, nilai utama yang diangkat tetap bersumber dari geguritan aslinya. Kisah Bagus Diarsa mengingatkan bahwa keserakahan, perjudian, dan penyalahgunaan kekuasaan hanya akan membawa penderitaan. Sebaliknya, ketulusan, penghormatan kepada sesama, serta kesediaan memperbaiki diri menjadi jalan menuju kemuliaan. Nilai-nilai inilah yang sejak lama diwariskan melalui karya sastra klasik Bali. 


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pilihan mengadaptasi karya sastra klasik ke dalam bahasa pertunjukan modern juga memperlihatkan cara generasi muda menjaga tradisi. Mereka tidak sekadar menghafalkan cerita lama, tetapi berusaha berdialog dengannya. Tradisi diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup, yang dapat terus ditafsirkan sesuai tantangan zaman tanpa kehilangan esensi.

Hal itu terlihat dari keberanian memasukkan berbagai simbol kehidupan generasi digital ke dalam cerita. Kehadiran telepon genggam, kendaraan listrik, hingga gaya komunikasi anak muda bukan sekadar gimmick panggung. Semua itu menjadi metafora bahwa godaan, keserakahan, maupun pencarian jati diri manusia tetap sama, hanya medium dan konteksnya yang berubah.

Pergelaran ini juga menunjukkan kemampuan para siswa mengelola produksi yang cukup kompleks. Perpindahan adegan berlangsung rapi, para pemain mampu menjaga intensitas permainan, sementara koreografi dan tata artistik saling mendukung untuk membangun suasana. Seluruh elemen pertunjukan berpadu menjadi pengalaman menonton yang utuh.

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Di balik pertunjukan tersebut, terdapat kolaborasi berbagai pihak yang mewujudkan gagasan menjadi sebuah karya utuh. Naskah ditulis oleh I Putu Nanda Yoga Mayura, penyutradaraan dipercayakan kepada Dewa Ayu Candra Kirana, sementara iringan musik ditata oleh Made Santiasa, busana oleh Manubada Art, serta I Nyoman Tingkat selaku Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab produksi. 

Pada akhirnya, “Katarsis Jiwa Kelam” memperlihatkan bahwa sastra klasik Bali masih memiliki daya hidup yang kuat ketika dibaca dengan cara kreatif. Kisah tentang perjalanan menuju neraka, pertobatan, hingga kemenangan atas keserakahan tidak terasa sebagai dongeng masa lampau. Di tangan generasi muda, cerita itu berubah menjadi refleksi tentang kehidupan hari ini—tentang pilihan-pilihan moral yang setiap hari dihadapi manusia, di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan zaman.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Katarsis Jiwa KelamSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

Next Post

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails
Next Post
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co