KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah Sang Suratma, pencatat amal perbuatan manusia di akhirat. Dengan gaya yang jenaka, ia mengajak Bagus Diarsa menyusuri perjalanan yang kelak membawanya melihat sisi paling kelam dari kehidupan setelah kematian.
Itulah salah satu potongan adegan dalam “Katarsis Jiwa Kelam”, persembahan SMAN 2 Kuta Selatan pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Madya Mandala, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar, Senin, 20 Juli 2026. Pertunjukan ini tidak sekadar menghidupkan kembali kisah klasik Bali, tetapi juga membawanya masuk ke dunia generasi masa kini melalui drama, tari, musik, humor, hingga simbol-simbol kehidupan di era digital.
Karya ini berangkat dari Geguritan ‘Bagus Diarsa’, salah satu karya sastra klasik Bali yang telah lama dikenal sebagai media pendidikan moral. Namun, alih-alih mempertahankan latar tradisional sepenuhnya, penggarap memilih pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Telepon pintar, media sosial, hingga gaya hidup modern menjadi bagian dari cerita tanpa menghilangkan ruh utama kisah tersebut.


Pilihan itu membuat pertunjukan terasa hidup. Penonton tidak hanya menyaksikan cerita rakyat, melainkan juga melihat refleksi kehidupan sehari-hari. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang jauh dan kuno, melainkan sebagai sumber nilai yang tetap relevan untuk menjawab persoalan zaman.
Secara garis besar, kisah ini mengikuti perjalanan hidup Bagus Diarsa, seorang pria yang semula hidup berkecukupan, tetapi jatuh miskin akibat kegemarannya berjudi sabung ayam. Kejatuhan ekonomi itu tidak hanya menghancurkan kehidupannya, tetapi juga membawa penderitaan bagi keluarganya. Dalam kondisi tersebut, Dewa Siwa turun ke dunia dengan menyamar untuk menguji sekaligus menyelamatkan hidupnya.
Perjalanan itu kemudian berubah menjadi sebuah pengembaraan spiritual. Dalam adaptasi ini, Bagus Diarsa ditemani Sang Suratma, sosok pencatat seluruh amalan manusia di akhirat. Sang Suratma mengajaknya menyusuri berbagai lapisan neraka, memperlihatkan bagaimana setiap roh menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya selama hidup.


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ
Dari perjalanan itulah Bagus Diarsa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan terhadap roh-roh yang semasa hidupnya dipenuhi dosa. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membersihkan batinnya. Ia menyadari kesalahan, memperbaiki diri, hingga akhirnya memperoleh anugerah berupa seekor ayam sakti dari Dewa Siwa untuk mengalahkan Anak Agung, penguasa tamak yang selama ini menindasnya. Setelah berhasil menegakkan keadilan, Bagus Diarsa memimpin wilayahnya menuju kehidupan yang damai dan sejahtera sebelum akhirnya mencapai kemuliaan (moksa).
Alur klasik itu diterjemahkan di atas panggung dengan pendekatan yang segar. Dialog-dialog ringan disisipkan di antara adegan serius sehingga membuat cerita terasa akrab. Kehadiran unsur komedi berhasil mencairkan suasana tanpa mengurangi bobot pesan moral yang hendak disampaikan.
Kekuatan pertunjukan justru tampak pada keberanian memadukan berbagai disiplin seni. Drama menjadi tulang punggung cerita, sementara tari kontemporer hadir sebagai bahasa visual yang menggambarkan konflik batin tokoh. Ketika kata-kata berhenti, gerak tubuh para penari mengambil alih, menghadirkan gambaran tentang rasa bersalah, penyesalan, harapan, hingga proses penyucian jiwa.


Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ
Pada bagian klimaks, tata cahaya memainkan peran penting. Sorot merah, putih, dan kuning berpadu dengan kepulan asap panggung, membangun atmosfer yang dramatis. Formasi para penari yang membentuk komposisi-komposisi simbolik memperkuat kesan bahwa perjalanan manusia menuju kebajikan bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan melalui pergulatan panjang dengan dirinya sendiri.
Iringan musik pun menjadi pengikat seluruh pertunjukan. Nuansa tradisional tetap hadir, tetapi dipadukan dengan pendekatan musikal yang lebih modern sehingga mampu mengikuti dinamika setiap adegan. Perpaduan itu membuat transisi antarbabak terasa mengalir tanpa kehilangan ritme.
Di balik seluruh kemasan modern tersebut, nilai utama yang diangkat tetap bersumber dari geguritan aslinya. Kisah Bagus Diarsa mengingatkan bahwa keserakahan, perjudian, dan penyalahgunaan kekuasaan hanya akan membawa penderitaan. Sebaliknya, ketulusan, penghormatan kepada sesama, serta kesediaan memperbaiki diri menjadi jalan menuju kemuliaan. Nilai-nilai inilah yang sejak lama diwariskan melalui karya sastra klasik Bali.

Drama Musikal Kontemporer “Katarsis Jiwa Kelam” oleh SMAN 2 Kuta Selatan di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ
Pilihan mengadaptasi karya sastra klasik ke dalam bahasa pertunjukan modern juga memperlihatkan cara generasi muda menjaga tradisi. Mereka tidak sekadar menghafalkan cerita lama, tetapi berusaha berdialog dengannya. Tradisi diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup, yang dapat terus ditafsirkan sesuai tantangan zaman tanpa kehilangan esensi.
Hal itu terlihat dari keberanian memasukkan berbagai simbol kehidupan generasi digital ke dalam cerita. Kehadiran telepon genggam, kendaraan listrik, hingga gaya komunikasi anak muda bukan sekadar gimmick panggung. Semua itu menjadi metafora bahwa godaan, keserakahan, maupun pencarian jati diri manusia tetap sama, hanya medium dan konteksnya yang berubah.
Pergelaran ini juga menunjukkan kemampuan para siswa mengelola produksi yang cukup kompleks. Perpindahan adegan berlangsung rapi, para pemain mampu menjaga intensitas permainan, sementara koreografi dan tata artistik saling mendukung untuk membangun suasana. Seluruh elemen pertunjukan berpadu menjadi pengalaman menonton yang utuh.

Di balik pertunjukan tersebut, terdapat kolaborasi berbagai pihak yang mewujudkan gagasan menjadi sebuah karya utuh. Naskah ditulis oleh I Putu Nanda Yoga Mayura, penyutradaraan dipercayakan kepada Dewa Ayu Candra Kirana, sementara iringan musik ditata oleh Made Santiasa, busana oleh Manubada Art, serta I Nyoman Tingkat selaku Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab produksi.
Pada akhirnya, “Katarsis Jiwa Kelam” memperlihatkan bahwa sastra klasik Bali masih memiliki daya hidup yang kuat ketika dibaca dengan cara kreatif. Kisah tentang perjalanan menuju neraka, pertobatan, hingga kemenangan atas keserakahan tidak terasa sebagai dongeng masa lampau. Di tangan generasi muda, cerita itu berubah menjadi refleksi tentang kehidupan hari ini—tentang pilihan-pilihan moral yang setiap hari dihadapi manusia, di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan zaman.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































