15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
in Panggung
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di depan meja kecil. Di hadapannya terdapat mesin tik. Jemarinya mulai bergerak, disusul bunyi ketukan logam yang berulang-ulang memecah kesunyian. Di sekelilingnya, para pemain berjalan perlahan sembari membawa buku dan lentera, seolah sedang menelusuri lorong waktu nan gelap.

Lalu, sebuah puisi dibacakan.

Bukan puisi yang baru lahir kemarin sore, melainkan puisi yang diyakini sebagai puisi Indonesia pertama yang pernah diterbitkan di Bali: “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd. P. Kertanadi yang dimuat dalam Majalah Bali Adnjana pada 1 Januari 1925. Dari titik itulah perjalanan panjang sastra Indonesia di Bali dimulai, dan dari titik itu pula Komunitas Mahima mengajak penonton menyusuri satu abad perkembangan puisi melalui pertunjukan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali.”

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pertunjukan yang dipentaskan dalam rangka Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 itu tidak hadir sebagai pembacaan puisi biasa. Ia merupakan pertemuan berbagai disiplin seni, mulai dari teater, tari, musik, visual, hingga diskusi akademik yang disusun menjadi satu narasi utuh tentang bagaimana puisi tumbuh, berubah, dan terus menemukan bentuknya mengikuti perjalanan masyarakat Bali selama seratus tahun. 

Produksi ini diproduseri Kadek Sonia Piscayanti dengan naskah yang ditulis bersama Made Adnyana Ole. Penyutradaraan dipercayakan kepada Wahyu Mahaputra dan I Putu Ardiyasa. Pertunjukan dipilih sebagai mesin waktu yang membawa penonton menyaksikan perjalanan puisi dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga memasuki zaman media sosial dan kecerdasan buatan. 

Babak pertama membawa penonton kembali ke Bali pada dekade 1920-an hingga 1930-an. Suasana panggung dipenuhi nuansa temaram, mesin tik tua, buku-buku, serta visual majalah lawas yang diproyeksikan ke layar. Semua elemen itu menghadirkan kesan bahwa puisi lahir dari ruang-ruang sunyi, dari halaman-halaman majalah yang menjadi tempat pertama para penyair menyuarakan zamannya.

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Di babak inilah penonton kembali bertemu “Och. Ratna” karya M. Oke yang dimuat dalam Djatajoe tahun 1938. Puisi tersebut menghadirkan Bali sebagai perempuan jelita yang dipuja banyak orang. Metafora itu terasa masih relevan hingga kini. Bali tetap memesona dunia, tetapi sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang lahir dari pesona tersebut. Melalui pembacaan puisi yang dipadukan dengan gerak tubuh para penari, makna karya itu tidak hanya terdengar, tetapi juga tampak hidup di atas panggung. 

Suasana kemudian berubah. Musik menjadi lebih dinamis, warna-warna panggung menghangat, dan para pemain membangun instalasi dari kursi-kursi kayu. Babak kedua menandai hadirnya Indonesia yang telah merdeka. Jika pada masa kolonial puisi banyak berbicara tentang identitas dan kebangkitan, maka pada era ini puisi berkembang menjadi ruang memikirkan pembangunan, kemanusiaan, cinta, hingga pencarian jati diri.

Puisi “Dharmaku” karya Windhya Wirawan tampil sederhana, tetapi menyimpan gagasan besar. Bahwa setiap profesi dapat menulis sejarah melalui caranya masing-masing. Petani menulis sejarah dengan padi, buruh dengan peluh, prajurit dengan darah, sementara penyair menulisnya dengan pena. Sebuah pengingat bahwa sastra bukan sesuatu yang berdiri jauh dari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Dari kiri ke kanan, I Nyoman Darma Putra, I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, dan I Made Sujaya│Foto: Dok. FSBJ

Pertunjukan kian menarik ketika alur dramatiknya berhenti sejenak, lalu berubah menjadi ruang dialog terbuka. Tiga akademisi sastra ꟷ I Nyoman Darma Putra, I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, dan I Made Sujaya ꟷ naik ke atas panggung. Mereka tidak hadir sebagai pengisi seminar yang terpisah dari pertunjukan, melainkan menjadi bagian dari dramaturgi itu sendiri.

Konsep Public Lecture Performance menjadi salah satu pembeda utama produksi ini. Penonton tidak hanya menikmati puisi sebagai pengalaman estetik, tetapi juga diajak memahami konteks sejarah yang melahirkannya. Diskusi mengenai perkembangan puisi sejak era kolonial, pascakemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, hingga munculnya media sosial dan kecerdasan buatan menjadi jembatan yang menghubungkan karya sastra dengan perjalanan masyarakat Bali. 

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Memasuki babak ketiga, panggung berubah drastis. Mesin tik menghilang. Sebagai gantinya, para pemain datang membawa laptop. Cahaya biru mendominasi ruang, sementara layar digital menampilkan visual-visual abstrak yang mengingatkan pada dunia komputasi.

Perubahan properti itu terasa sangat simbolis. Jika generasi awal penyair bergantung pada mesin tik dan halaman majalah, penyair masa kini hidup bersama layar, internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan. Perubahan medium menjadi penanda bahwa sastra selalu bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan esensinya.

Deretan puisi karya Warih Wisatsana, Oka Rusmini, Nanoq da Kansas, Tan Lioe Ie, Cok Sawitri, Mas Ruscita Dewi, Kadek Sonia Piscayanti, hingga Made Adnyana Ole dibacakan bergantian. Masing-masing membawa tema yang berbeda, mulai dari identitas, kemanusiaan, spiritualitas, lingkungan, hingga kegelisahan hidup modern. Perbedaan gaya antargenerasi justru memperlihatkan betapa luasnya lanskap puisi Indonesia di Bali saat ini. 

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika seorang aktor duduk menatap layar laptop sembari membacakan puisi “://Folder Rahasia Kakak” karya Manik Sukadana. Puisi itu menghadirkan percakapan antara manusia dan kecerdasan buatan mengenai cinta, keluarga, kehilangan, dan ingatan yang tersimpan dalam folder-folder digital.

Pilihan karya tersebut terasa sangat tepat sebagai penutup perjalanan sejarah. Setelah melewati mesin tik, buku, majalah, dan surat kabar, puisi akhirnya memasuki ruang digital. Namun yang berubah hanyalah medianya. Yang tetap tinggal adalah pertanyaan-pertanyaan manusia tentang cinta, kehilangan, rumah, dan harapan. 

Secara artistik, produksi Mahima menunjukkan keberanian menggabungkan berbagai bahasa seni tanpa membuatnya saling berebut perhatian. Tata cahaya berfungsi sebagai penanda zaman, musik menjadi pengikat emosi, tari memperluas makna puisi, sementara visual multimedia memperkaya imajinasi penonton. Seluruh unsur itu bergerak serempak melayani satu tujuan: membuat puisi tidak hanya dibaca, tetapi dialami.

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Yang menarik, pertunjukan ini juga menghindari romantisisme sejarah. Tidak ada upaya menempatkan satu periode sebagai masa keemasan. Sebaliknya, setiap zaman diperlakukan sebagai mata rantai yang saling menyambung. Era kolonial melahirkan fondasi, masa kemerdekaan memperluas tema, sedangkan era digital menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru.

Ketika lampu panggung perlahan meredup, terucap sebuah kalimat yang menjadi penutup pertunjukan: “Puisi pada era manakah yang lebih baik?” Sejenak panggung hening. Lalu suara lain menjawab, “Bukan itu pertanyaannya!”

Sesi foto dengan Bapak dan Ibu Gubernur Bali—Wayan Koster & Putri Suastini Koster│Foto: Dok. FSBJ

Jawaban itu barangkali menjadi simpulan paling penting. Selama seratus tahun, puisi Indonesia di Bali tidak pernah berhenti bertransformasi. Ia berpindah dari mesin tik ke laptop, dari halaman majalah ke layar gawai. Bentuknya boleh berganti, mediumnya boleh berubah, tetapi denyutnya tetap sama—menjadi cara manusia merekam sejarah, menyuarakan kegelisahan, dan menjaga imaji agar tetap hidup.

Melalui pertunjukan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali”, Komunitas Mahima tidak sekadar memperingati satu abad perjalanan puisi. Mereka menunjukkan bahwa puisi adalah warisan yang terus bertumbuh, berdialog dengan zamannya, dan akan selalu menemukan cara baru untuk menyapa generasi berikutnya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Komunitas Mahima
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

Next Post

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co