4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
in Panggung
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di depan meja kecil. Di hadapannya terdapat mesin tik. Jemarinya mulai bergerak, disusul bunyi ketukan logam yang berulang-ulang memecah kesunyian. Di sekelilingnya, para pemain berjalan perlahan sembari membawa buku dan lentera, seolah sedang menelusuri lorong waktu nan gelap.

Lalu, sebuah puisi dibacakan.

Bukan puisi yang baru lahir kemarin sore, melainkan puisi yang diyakini sebagai puisi Indonesia pertama yang pernah diterbitkan di Bali: “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd. P. Kertanadi yang dimuat dalam Majalah Bali Adnjana pada 1 Januari 1925. Dari titik itulah perjalanan panjang sastra Indonesia di Bali dimulai, dan dari titik itu pula Komunitas Mahima mengajak penonton menyusuri satu abad perkembangan puisi melalui pertunjukan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali.”

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Pertunjukan yang dipentaskan dalam rangka Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 itu tidak hadir sebagai pembacaan puisi biasa. Ia merupakan pertemuan berbagai disiplin seni, mulai dari teater, tari, musik, visual, hingga diskusi akademik yang disusun menjadi satu narasi utuh tentang bagaimana puisi tumbuh, berubah, dan terus menemukan bentuknya mengikuti perjalanan masyarakat Bali selama seratus tahun. 

Produksi ini diproduseri Kadek Sonia Piscayanti dengan naskah yang ditulis bersama Made Adnyana Ole. Penyutradaraan dipercayakan kepada Wahyu Mahaputra dan I Putu Ardiyasa. Pertunjukan dipilih sebagai mesin waktu yang membawa penonton menyaksikan perjalanan puisi dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga memasuki zaman media sosial dan kecerdasan buatan. 

Babak pertama membawa penonton kembali ke Bali pada dekade 1920-an hingga 1930-an. Suasana panggung dipenuhi nuansa temaram, mesin tik tua, buku-buku, serta visual majalah lawas yang diproyeksikan ke layar. Semua elemen itu menghadirkan kesan bahwa puisi lahir dari ruang-ruang sunyi, dari halaman-halaman majalah yang menjadi tempat pertama para penyair menyuarakan zamannya.

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Di babak inilah penonton kembali bertemu “Och. Ratna” karya M. Oke yang dimuat dalam Djatajoe tahun 1938. Puisi tersebut menghadirkan Bali sebagai perempuan jelita yang dipuja banyak orang. Metafora itu terasa masih relevan hingga kini. Bali tetap memesona dunia, tetapi sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang lahir dari pesona tersebut. Melalui pembacaan puisi yang dipadukan dengan gerak tubuh para penari, makna karya itu tidak hanya terdengar, tetapi juga tampak hidup di atas panggung. 

Suasana kemudian berubah. Musik menjadi lebih dinamis, warna-warna panggung menghangat, dan para pemain membangun instalasi dari kursi-kursi kayu. Babak kedua menandai hadirnya Indonesia yang telah merdeka. Jika pada masa kolonial puisi banyak berbicara tentang identitas dan kebangkitan, maka pada era ini puisi berkembang menjadi ruang memikirkan pembangunan, kemanusiaan, cinta, hingga pencarian jati diri.

Puisi “Dharmaku” karya Windhya Wirawan tampil sederhana, tetapi menyimpan gagasan besar. Bahwa setiap profesi dapat menulis sejarah melalui caranya masing-masing. Petani menulis sejarah dengan padi, buruh dengan peluh, prajurit dengan darah, sementara penyair menulisnya dengan pena. Sebuah pengingat bahwa sastra bukan sesuatu yang berdiri jauh dari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Dari kiri ke kanan, I Nyoman Darma Putra, I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, dan I Made Sujaya│Foto: Dok. FSBJ

Pertunjukan kian menarik ketika alur dramatiknya berhenti sejenak, lalu berubah menjadi ruang dialog terbuka. Tiga akademisi sastra ꟷ I Nyoman Darma Putra, I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, dan I Made Sujaya ꟷ naik ke atas panggung. Mereka tidak hadir sebagai pengisi seminar yang terpisah dari pertunjukan, melainkan menjadi bagian dari dramaturgi itu sendiri.

Konsep Public Lecture Performance menjadi salah satu pembeda utama produksi ini. Penonton tidak hanya menikmati puisi sebagai pengalaman estetik, tetapi juga diajak memahami konteks sejarah yang melahirkannya. Diskusi mengenai perkembangan puisi sejak era kolonial, pascakemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, hingga munculnya media sosial dan kecerdasan buatan menjadi jembatan yang menghubungkan karya sastra dengan perjalanan masyarakat Bali. 

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Memasuki babak ketiga, panggung berubah drastis. Mesin tik menghilang. Sebagai gantinya, para pemain datang membawa laptop. Cahaya biru mendominasi ruang, sementara layar digital menampilkan visual-visual abstrak yang mengingatkan pada dunia komputasi.

Perubahan properti itu terasa sangat simbolis. Jika generasi awal penyair bergantung pada mesin tik dan halaman majalah, penyair masa kini hidup bersama layar, internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan. Perubahan medium menjadi penanda bahwa sastra selalu bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan esensinya.

Deretan puisi karya Warih Wisatsana, Oka Rusmini, Nanoq da Kansas, Tan Lioe Ie, Cok Sawitri, Mas Ruscita Dewi, Kadek Sonia Piscayanti, hingga Made Adnyana Ole dibacakan bergantian. Masing-masing membawa tema yang berbeda, mulai dari identitas, kemanusiaan, spiritualitas, lingkungan, hingga kegelisahan hidup modern. Perbedaan gaya antargenerasi justru memperlihatkan betapa luasnya lanskap puisi Indonesia di Bali saat ini. 

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika seorang aktor duduk menatap layar laptop sembari membacakan puisi “://Folder Rahasia Kakak” karya Manik Sukadana. Puisi itu menghadirkan percakapan antara manusia dan kecerdasan buatan mengenai cinta, keluarga, kehilangan, dan ingatan yang tersimpan dalam folder-folder digital.

Pilihan karya tersebut terasa sangat tepat sebagai penutup perjalanan sejarah. Setelah melewati mesin tik, buku, majalah, dan surat kabar, puisi akhirnya memasuki ruang digital. Namun yang berubah hanyalah medianya. Yang tetap tinggal adalah pertanyaan-pertanyaan manusia tentang cinta, kehilangan, rumah, dan harapan. 

Secara artistik, produksi Mahima menunjukkan keberanian menggabungkan berbagai bahasa seni tanpa membuatnya saling berebut perhatian. Tata cahaya berfungsi sebagai penanda zaman, musik menjadi pengikat emosi, tari memperluas makna puisi, sementara visual multimedia memperkaya imajinasi penonton. Seluruh unsur itu bergerak serempak melayani satu tujuan: membuat puisi tidak hanya dibaca, tetapi dialami.

Pertunjukan Puisi ‘Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali’ oleh Komunitas Mahima di FSBJ 2026│Foto: Dok. FSBJ

Yang menarik, pertunjukan ini juga menghindari romantisisme sejarah. Tidak ada upaya menempatkan satu periode sebagai masa keemasan. Sebaliknya, setiap zaman diperlakukan sebagai mata rantai yang saling menyambung. Era kolonial melahirkan fondasi, masa kemerdekaan memperluas tema, sedangkan era digital menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru.

Ketika lampu panggung perlahan meredup, terucap sebuah kalimat yang menjadi penutup pertunjukan: “Puisi pada era manakah yang lebih baik?” Sejenak panggung hening. Lalu suara lain menjawab, “Bukan itu pertanyaannya!”

Sesi foto dengan Bapak dan Ibu Gubernur Bali—Wayan Koster & Putri Suastini Koster│Foto: Dok. FSBJ

Jawaban itu barangkali menjadi simpulan paling penting. Selama seratus tahun, puisi Indonesia di Bali tidak pernah berhenti bertransformasi. Ia berpindah dari mesin tik ke laptop, dari halaman majalah ke layar gawai. Bentuknya boleh berganti, mediumnya boleh berubah, tetapi denyutnya tetap sama—menjadi cara manusia merekam sejarah, menyuarakan kegelisahan, dan menjaga imaji agar tetap hidup.

Melalui pertunjukan “Tak Sepatah Kata: 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali”, Komunitas Mahima tidak sekadar memperingati satu abad perjalanan puisi. Mereka menunjukkan bahwa puisi adalah warisan yang terus bertumbuh, berdialog dengan zamannya, dan akan selalu menemukan cara baru untuk menyapa generasi berikutnya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Komunitas Mahima
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

Next Post

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co