4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh.”

Di ruang terbuka lantai atas rumahnya, dengan diterangi temaran rembulan,  saya memperhatikan seorang perempuan setengah baya duduk bersila di depan selembar kain putih. Tidak ada percakapan. Tidak ada musik yang mengalun. Yang terdengar hanya bunyi halus tetesan malam yang menyentuh kain dan sesekali desis kecil dari kompor pemanas lilin.

Ia bekerja berjam-jam tanpa tergesa.Tangannya begitu tenang, seolah telah berdamai dengan waktu. Saya mulai menyadari, mungkin yang sedang ia buat bukan sekadar selembar batik. Mungkin ia sedang menata dirinya sendiri.

Beberapa tahun terakhir, batik kembali mendapatkan perhatian yang luas. Setelah UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009, batik tidak lagi hanya dipandang sebagai produk tekstil tradisional, melainkan sebagai ekspresi kebudayaan yang menyimpan pengetahuan, simbol, dan filosofi yang diwariskan lintas generasi. Di berbagai daerah—Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Banyumas, Madura hingga Papua—setiap motif lahir dari sejarah, lingkungan, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan.

Namun, di balik seluruh narasi budaya itu, ada sisi lain yang sering luput diperhatikan. Batik bukan hanya berbicara tentang identitas bangsa. Ia juga berbicara tentang identitas seseorang. Tentang bagaimana manusia mengolah sunyi.

Perempuan itu, sebagaimana kemudian saya ketahui, memilih membatik bukan semata karena pekerjaan. Membatik adalah caranya bertahan. Ketika rumah mulai sepi. Ketika anak-anak telah memiliki kehidupannya sendiri. Ketika percakapan semakin sedikit. Ketika hari-hari menjadi begitu panjang. Ia tidak melawan kesunyian dengan kebisingan. Ia justru masuk lebih dalam ke dalam kesunyian itu. Dan dari sanalah lahir motif demi motif.

Fenomenologi menyebut pengalaman semacam ini sebagai lived experience—pengalaman yang tidak cukup dipahami melalui penjelasan rasional, melainkan harus dihayati sebagaimana ia dialami. Dalam bahasa psikologi modern, pengalaman itu sering beririsan dengan konsep flow yang diperkenalkan Mihaly Csikszentmihalyi: keadaan ketika seseorang tenggelam sepenuhnya dalam aktivitas yang bermakna sehingga waktu terasa menghilang dan kesadaran menyatu dengan pekerjaannya.

Mungkin itulah yang sedang terjadi. Batik menjadi ruang kontemplasi. Canting menjadi jalan pulang menuju dirinya sendiri.

Jika kita membaca batik sebagai sebuah teks, setiap unsur di dalamnya sesungguhnya adalah tanda-tanda kehidupan. Semiotika mengajarkan bahwa manusia hidup di tengah dunia yang penuh simbol. Tidak ada benda yang benar-benar netral; makna lahir dari cara kita memaknainya. Begitu pula batik. Di balik alat-alat sederhana itu tersembunyi pelajaran hidup yang luar biasa.

“Malam”, misalnya. Dalam kehidupan sehari-hari, “malam “adalah waktu ketika matahari tenggelam. Namun dalam dunia batik, “malam” adalah lilin panas yang justru melindungi warna. Ia menutup sebagian permukaan kain agar warna lain tidak masuk.

Bukankah hidup juga demikian? Ada luka yang tidak perlu diumbar kepada semua orang. Ada kesedihan yang tidak selalu harus dipertontonkan. Bukan karena ingin berpura-pura kuat, melainkan karena beberapa luka membutuhkan ruang sunyi agar dapat berubah menjadi kebijaksanaan.

Malam mengajarkan bahwa ketabahan kadang bukan berarti menghapus rasa sakit, melainkan menjaga agar rasa sakit itu tidak merusak seluruh hidup kita.

Lalu ada canting. Bagi orang awam, ia hanyalah alat kecil dari tembaga. Namun sesungguhnya ia lebih menyerupai pena. Bedanya, pena menulis dengan tinta. Canting menulis dengan lilin. Ia tidak menghasilkan huruf, tetapi menghasilkan cerita. Setiap garis yang keluar dari ujung canting adalah kalimat yang tak pernah diucapkan. Barangkali memang tidak semua kisah harus ditulis dalam buku. Ada kisah yang cukup hidup dalam selembar kain.

Kemudian ada mori, kain putih yang menjadi tempat semua motif bermula. Begitu bersih. Begitu sederhana. Begitu menerima.

Mori mengingatkan kita pada hati manusia. Tidak ada hati yang sejak awal telah penuh warna. Kehidupanlah yang perlahan menggoreskan motif-motifnya. Ada yang berupa kegembiraan. Ada yang berupa kehilangan. Ada pula yang berupa penyesalan. Namun semuanya meninggalkan jejak. Dan justru jejak-jejak itulah yang membuat hidup memiliki coraknya sendiri.

Saya juga selalu menyukai isen-isen, titik-titik kecil yang memenuhi ruang kosong pada batik. Sering kali orang hanya memperhatikan motif besarnya. Padahal keindahan batik justru lahir dari ribuan detail kecil yang nyaris tidak terlihat.

Bukankah hidup kita juga demikian? Kebahagiaan tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Ia sering hadir dalam secangkir teh hangat. Dalam sapaan sederhana. Dalam mata yang mendengarkan. Dalam pesan singkat yang datang pada waktu yang tepat. Dalam pelukan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Kita terlalu sering mengejar hal-hal besar hingga lupa bahwa hidup sebenarnya dibangun oleh titik-titik kecil. Dan isen-isen mengingatkan kita akan hal itu.

                                                                        ***

Namun dari semua pelajaran yang diajarkan batik, ada satu paradoks yang selalu membuat saya terdiam. Dalam proses membatik, sesuatu justru harus ditutup agar gambar dapat muncul. Semakin rapi bagian yang dilindungi “malam”, semakin indah motif yang akan terlihat setelah seluruh proses selesai.

Paradoks ini terasa begitu dekat dengan kehidupan. Kadang manusia ingin semua hal terlihat. Semua perasaan diungkapkan. Semua luka diperlihatkan. Semua pengalaman diumbar.

Padahal hidup justru sering bertumbuh melalui apa yang kita simpan dengan bijaksana. Bukan berarti memendam semuanya. Melainkan memilih mana yang layak menjadi konsumsi dunia dan mana yang perlu menjadi percakapan pribadi dengan Tuhan, dengan waktu, atau dengan diri sendiri. Ada kesedihan yang tidak perlu menjadi tontonan. Ada air mata yang lebih bermakna ketika jatuh tanpa penonton.

Sebagaimana “malam” yang menutup sebagian kain, ada pengalaman hidup yang sengaja disimpan agar karakter perlahan tumbuh tanpa kehilangan martabat. Ternyata, tidak semua yang disembunyikan adalah kepalsuan. Sebagian justru merupakan proses pendewasaan.

Semakin lama saya memperhatikan perempuan itu membatik, semakin saya yakin bahwa ia sebenarnya sedang mengolah rasa. Setiap tetes “malam” bukan sekadar lilin. Ia adalah kesabaran yang dicairkan. Setiap garis bukan sekadar motif. Ia adalah latihan menerima hidup yang tidak selalu lurus.

Membatik tidak pernah bisa dipercepat. Sedikit tergesa, garis akan patah. Sedikit lengah, “malam” akan menetes ke tempat yang salah. Barangkali karena itulah batik mengajarkan sesuatu yang semakin langka di zaman serba instan ini: kesabaran.

Kesabaran bukan menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kesabaran adalah bekerja dengan penuh ketelitian sambil mempercayai bahwa hasil terbaik membutuhkan waktu.

Pada akhirnya saya memahami bahwa perempuan itu tidak sedang melawan kesunyian. Ia sedang berdamai dengannya. Kesunyian yang semula terasa seperti ruang kosong perlahan berubah menjadi ruang kreatif. Sunyi tidak lagi menjadi musuh. Sunyi menjadi medium.

Mungkin di situlah makna terdalam membatik. Ia bukan sekadar keterampilan membuat motif pada selembar kain. Ia adalah seni mengubah pengalaman menjadi keindahan. Mengubah luka menjadi kebijaksanaan. Mengubah sepi menjadi karya. Dan mungkin, tanpa kita sadari, itulah yang sepanjang hidup sedang kita lakukan.

Kita semua sedang membatik. Bukan di atas kain mori. Melainkan di atas lembaran kehidupan kita masing-masing. Dengan canting pengalaman. Dengan “malam” kesabaran. Dengan isen-isen berupa detail-detail kecil yang sering terlupakan.

Hingga suatu hari nanti, ketika seluruh warna kehidupan telah selesai, kita akan melihat bahwa tidak ada satu tetes pun yang benar-benar sia-sia. Semua telah menjadi motif yang utuh—mungkin bukan motif yang sempurna, tetapi motif yang sepenuhnya manusiawi. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Next Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co