25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh.”

Di ruang terbuka lantai atas rumahnya, dengan diterangi temaran rembulan,  saya memperhatikan seorang perempuan setengah baya duduk bersila di depan selembar kain putih. Tidak ada percakapan. Tidak ada musik yang mengalun. Yang terdengar hanya bunyi halus tetesan malam yang menyentuh kain dan sesekali desis kecil dari kompor pemanas lilin.

Ia bekerja berjam-jam tanpa tergesa.Tangannya begitu tenang, seolah telah berdamai dengan waktu. Saya mulai menyadari, mungkin yang sedang ia buat bukan sekadar selembar batik. Mungkin ia sedang menata dirinya sendiri.

Beberapa tahun terakhir, batik kembali mendapatkan perhatian yang luas. Setelah UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009, batik tidak lagi hanya dipandang sebagai produk tekstil tradisional, melainkan sebagai ekspresi kebudayaan yang menyimpan pengetahuan, simbol, dan filosofi yang diwariskan lintas generasi. Di berbagai daerah—Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Banyumas, Madura hingga Papua—setiap motif lahir dari sejarah, lingkungan, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan.

Namun, di balik seluruh narasi budaya itu, ada sisi lain yang sering luput diperhatikan. Batik bukan hanya berbicara tentang identitas bangsa. Ia juga berbicara tentang identitas seseorang. Tentang bagaimana manusia mengolah sunyi.

Perempuan itu, sebagaimana kemudian saya ketahui, memilih membatik bukan semata karena pekerjaan. Membatik adalah caranya bertahan. Ketika rumah mulai sepi. Ketika anak-anak telah memiliki kehidupannya sendiri. Ketika percakapan semakin sedikit. Ketika hari-hari menjadi begitu panjang. Ia tidak melawan kesunyian dengan kebisingan. Ia justru masuk lebih dalam ke dalam kesunyian itu. Dan dari sanalah lahir motif demi motif.

Fenomenologi menyebut pengalaman semacam ini sebagai lived experience—pengalaman yang tidak cukup dipahami melalui penjelasan rasional, melainkan harus dihayati sebagaimana ia dialami. Dalam bahasa psikologi modern, pengalaman itu sering beririsan dengan konsep flow yang diperkenalkan Mihaly Csikszentmihalyi: keadaan ketika seseorang tenggelam sepenuhnya dalam aktivitas yang bermakna sehingga waktu terasa menghilang dan kesadaran menyatu dengan pekerjaannya.

Mungkin itulah yang sedang terjadi. Batik menjadi ruang kontemplasi. Canting menjadi jalan pulang menuju dirinya sendiri.

Jika kita membaca batik sebagai sebuah teks, setiap unsur di dalamnya sesungguhnya adalah tanda-tanda kehidupan. Semiotika mengajarkan bahwa manusia hidup di tengah dunia yang penuh simbol. Tidak ada benda yang benar-benar netral; makna lahir dari cara kita memaknainya. Begitu pula batik. Di balik alat-alat sederhana itu tersembunyi pelajaran hidup yang luar biasa.

“Malam”, misalnya. Dalam kehidupan sehari-hari, “malam “adalah waktu ketika matahari tenggelam. Namun dalam dunia batik, “malam” adalah lilin panas yang justru melindungi warna. Ia menutup sebagian permukaan kain agar warna lain tidak masuk.

Bukankah hidup juga demikian? Ada luka yang tidak perlu diumbar kepada semua orang. Ada kesedihan yang tidak selalu harus dipertontonkan. Bukan karena ingin berpura-pura kuat, melainkan karena beberapa luka membutuhkan ruang sunyi agar dapat berubah menjadi kebijaksanaan.

Malam mengajarkan bahwa ketabahan kadang bukan berarti menghapus rasa sakit, melainkan menjaga agar rasa sakit itu tidak merusak seluruh hidup kita.

Lalu ada canting. Bagi orang awam, ia hanyalah alat kecil dari tembaga. Namun sesungguhnya ia lebih menyerupai pena. Bedanya, pena menulis dengan tinta. Canting menulis dengan lilin. Ia tidak menghasilkan huruf, tetapi menghasilkan cerita. Setiap garis yang keluar dari ujung canting adalah kalimat yang tak pernah diucapkan. Barangkali memang tidak semua kisah harus ditulis dalam buku. Ada kisah yang cukup hidup dalam selembar kain.

Kemudian ada mori, kain putih yang menjadi tempat semua motif bermula. Begitu bersih. Begitu sederhana. Begitu menerima.

Mori mengingatkan kita pada hati manusia. Tidak ada hati yang sejak awal telah penuh warna. Kehidupanlah yang perlahan menggoreskan motif-motifnya. Ada yang berupa kegembiraan. Ada yang berupa kehilangan. Ada pula yang berupa penyesalan. Namun semuanya meninggalkan jejak. Dan justru jejak-jejak itulah yang membuat hidup memiliki coraknya sendiri.

Saya juga selalu menyukai isen-isen, titik-titik kecil yang memenuhi ruang kosong pada batik. Sering kali orang hanya memperhatikan motif besarnya. Padahal keindahan batik justru lahir dari ribuan detail kecil yang nyaris tidak terlihat.

Bukankah hidup kita juga demikian? Kebahagiaan tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Ia sering hadir dalam secangkir teh hangat. Dalam sapaan sederhana. Dalam mata yang mendengarkan. Dalam pesan singkat yang datang pada waktu yang tepat. Dalam pelukan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Kita terlalu sering mengejar hal-hal besar hingga lupa bahwa hidup sebenarnya dibangun oleh titik-titik kecil. Dan isen-isen mengingatkan kita akan hal itu.

                                                                        ***

Namun dari semua pelajaran yang diajarkan batik, ada satu paradoks yang selalu membuat saya terdiam. Dalam proses membatik, sesuatu justru harus ditutup agar gambar dapat muncul. Semakin rapi bagian yang dilindungi “malam”, semakin indah motif yang akan terlihat setelah seluruh proses selesai.

Paradoks ini terasa begitu dekat dengan kehidupan. Kadang manusia ingin semua hal terlihat. Semua perasaan diungkapkan. Semua luka diperlihatkan. Semua pengalaman diumbar.

Padahal hidup justru sering bertumbuh melalui apa yang kita simpan dengan bijaksana. Bukan berarti memendam semuanya. Melainkan memilih mana yang layak menjadi konsumsi dunia dan mana yang perlu menjadi percakapan pribadi dengan Tuhan, dengan waktu, atau dengan diri sendiri. Ada kesedihan yang tidak perlu menjadi tontonan. Ada air mata yang lebih bermakna ketika jatuh tanpa penonton.

Sebagaimana “malam” yang menutup sebagian kain, ada pengalaman hidup yang sengaja disimpan agar karakter perlahan tumbuh tanpa kehilangan martabat. Ternyata, tidak semua yang disembunyikan adalah kepalsuan. Sebagian justru merupakan proses pendewasaan.

Semakin lama saya memperhatikan perempuan itu membatik, semakin saya yakin bahwa ia sebenarnya sedang mengolah rasa. Setiap tetes “malam” bukan sekadar lilin. Ia adalah kesabaran yang dicairkan. Setiap garis bukan sekadar motif. Ia adalah latihan menerima hidup yang tidak selalu lurus.

Membatik tidak pernah bisa dipercepat. Sedikit tergesa, garis akan patah. Sedikit lengah, “malam” akan menetes ke tempat yang salah. Barangkali karena itulah batik mengajarkan sesuatu yang semakin langka di zaman serba instan ini: kesabaran.

Kesabaran bukan menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kesabaran adalah bekerja dengan penuh ketelitian sambil mempercayai bahwa hasil terbaik membutuhkan waktu.

Pada akhirnya saya memahami bahwa perempuan itu tidak sedang melawan kesunyian. Ia sedang berdamai dengannya. Kesunyian yang semula terasa seperti ruang kosong perlahan berubah menjadi ruang kreatif. Sunyi tidak lagi menjadi musuh. Sunyi menjadi medium.

Mungkin di situlah makna terdalam membatik. Ia bukan sekadar keterampilan membuat motif pada selembar kain. Ia adalah seni mengubah pengalaman menjadi keindahan. Mengubah luka menjadi kebijaksanaan. Mengubah sepi menjadi karya. Dan mungkin, tanpa kita sadari, itulah yang sepanjang hidup sedang kita lakukan.

Kita semua sedang membatik. Bukan di atas kain mori. Melainkan di atas lembaran kehidupan kita masing-masing. Dengan canting pengalaman. Dengan “malam” kesabaran. Dengan isen-isen berupa detail-detail kecil yang sering terlupakan.

Hingga suatu hari nanti, ketika seluruh warna kehidupan telah selesai, kita akan melihat bahwa tidak ada satu tetes pun yang benar-benar sia-sia. Semua telah menjadi motif yang utuh—mungkin bukan motif yang sempurna, tetapi motif yang sepenuhnya manusiawi. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Next Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails
Next Post
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co