4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh.”

Di ruang terbuka lantai atas rumahnya, dengan diterangi temaran rembulan,  saya memperhatikan seorang perempuan setengah baya duduk bersila di depan selembar kain putih. Tidak ada percakapan. Tidak ada musik yang mengalun. Yang terdengar hanya bunyi halus tetesan malam yang menyentuh kain dan sesekali desis kecil dari kompor pemanas lilin.

Ia bekerja berjam-jam tanpa tergesa.Tangannya begitu tenang, seolah telah berdamai dengan waktu. Saya mulai menyadari, mungkin yang sedang ia buat bukan sekadar selembar batik. Mungkin ia sedang menata dirinya sendiri.

Beberapa tahun terakhir, batik kembali mendapatkan perhatian yang luas. Setelah UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009, batik tidak lagi hanya dipandang sebagai produk tekstil tradisional, melainkan sebagai ekspresi kebudayaan yang menyimpan pengetahuan, simbol, dan filosofi yang diwariskan lintas generasi. Di berbagai daerah—Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Banyumas, Madura hingga Papua—setiap motif lahir dari sejarah, lingkungan, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan.

Namun, di balik seluruh narasi budaya itu, ada sisi lain yang sering luput diperhatikan. Batik bukan hanya berbicara tentang identitas bangsa. Ia juga berbicara tentang identitas seseorang. Tentang bagaimana manusia mengolah sunyi.

Perempuan itu, sebagaimana kemudian saya ketahui, memilih membatik bukan semata karena pekerjaan. Membatik adalah caranya bertahan. Ketika rumah mulai sepi. Ketika anak-anak telah memiliki kehidupannya sendiri. Ketika percakapan semakin sedikit. Ketika hari-hari menjadi begitu panjang. Ia tidak melawan kesunyian dengan kebisingan. Ia justru masuk lebih dalam ke dalam kesunyian itu. Dan dari sanalah lahir motif demi motif.

Fenomenologi menyebut pengalaman semacam ini sebagai lived experience—pengalaman yang tidak cukup dipahami melalui penjelasan rasional, melainkan harus dihayati sebagaimana ia dialami. Dalam bahasa psikologi modern, pengalaman itu sering beririsan dengan konsep flow yang diperkenalkan Mihaly Csikszentmihalyi: keadaan ketika seseorang tenggelam sepenuhnya dalam aktivitas yang bermakna sehingga waktu terasa menghilang dan kesadaran menyatu dengan pekerjaannya.

Mungkin itulah yang sedang terjadi. Batik menjadi ruang kontemplasi. Canting menjadi jalan pulang menuju dirinya sendiri.

Jika kita membaca batik sebagai sebuah teks, setiap unsur di dalamnya sesungguhnya adalah tanda-tanda kehidupan. Semiotika mengajarkan bahwa manusia hidup di tengah dunia yang penuh simbol. Tidak ada benda yang benar-benar netral; makna lahir dari cara kita memaknainya. Begitu pula batik. Di balik alat-alat sederhana itu tersembunyi pelajaran hidup yang luar biasa.

“Malam”, misalnya. Dalam kehidupan sehari-hari, “malam “adalah waktu ketika matahari tenggelam. Namun dalam dunia batik, “malam” adalah lilin panas yang justru melindungi warna. Ia menutup sebagian permukaan kain agar warna lain tidak masuk.

Bukankah hidup juga demikian? Ada luka yang tidak perlu diumbar kepada semua orang. Ada kesedihan yang tidak selalu harus dipertontonkan. Bukan karena ingin berpura-pura kuat, melainkan karena beberapa luka membutuhkan ruang sunyi agar dapat berubah menjadi kebijaksanaan.

Malam mengajarkan bahwa ketabahan kadang bukan berarti menghapus rasa sakit, melainkan menjaga agar rasa sakit itu tidak merusak seluruh hidup kita.

Lalu ada canting. Bagi orang awam, ia hanyalah alat kecil dari tembaga. Namun sesungguhnya ia lebih menyerupai pena. Bedanya, pena menulis dengan tinta. Canting menulis dengan lilin. Ia tidak menghasilkan huruf, tetapi menghasilkan cerita. Setiap garis yang keluar dari ujung canting adalah kalimat yang tak pernah diucapkan. Barangkali memang tidak semua kisah harus ditulis dalam buku. Ada kisah yang cukup hidup dalam selembar kain.

Kemudian ada mori, kain putih yang menjadi tempat semua motif bermula. Begitu bersih. Begitu sederhana. Begitu menerima.

Mori mengingatkan kita pada hati manusia. Tidak ada hati yang sejak awal telah penuh warna. Kehidupanlah yang perlahan menggoreskan motif-motifnya. Ada yang berupa kegembiraan. Ada yang berupa kehilangan. Ada pula yang berupa penyesalan. Namun semuanya meninggalkan jejak. Dan justru jejak-jejak itulah yang membuat hidup memiliki coraknya sendiri.

Saya juga selalu menyukai isen-isen, titik-titik kecil yang memenuhi ruang kosong pada batik. Sering kali orang hanya memperhatikan motif besarnya. Padahal keindahan batik justru lahir dari ribuan detail kecil yang nyaris tidak terlihat.

Bukankah hidup kita juga demikian? Kebahagiaan tidak selalu datang melalui peristiwa besar. Ia sering hadir dalam secangkir teh hangat. Dalam sapaan sederhana. Dalam mata yang mendengarkan. Dalam pesan singkat yang datang pada waktu yang tepat. Dalam pelukan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Kita terlalu sering mengejar hal-hal besar hingga lupa bahwa hidup sebenarnya dibangun oleh titik-titik kecil. Dan isen-isen mengingatkan kita akan hal itu.

                                                                        ***

Namun dari semua pelajaran yang diajarkan batik, ada satu paradoks yang selalu membuat saya terdiam. Dalam proses membatik, sesuatu justru harus ditutup agar gambar dapat muncul. Semakin rapi bagian yang dilindungi “malam”, semakin indah motif yang akan terlihat setelah seluruh proses selesai.

Paradoks ini terasa begitu dekat dengan kehidupan. Kadang manusia ingin semua hal terlihat. Semua perasaan diungkapkan. Semua luka diperlihatkan. Semua pengalaman diumbar.

Padahal hidup justru sering bertumbuh melalui apa yang kita simpan dengan bijaksana. Bukan berarti memendam semuanya. Melainkan memilih mana yang layak menjadi konsumsi dunia dan mana yang perlu menjadi percakapan pribadi dengan Tuhan, dengan waktu, atau dengan diri sendiri. Ada kesedihan yang tidak perlu menjadi tontonan. Ada air mata yang lebih bermakna ketika jatuh tanpa penonton.

Sebagaimana “malam” yang menutup sebagian kain, ada pengalaman hidup yang sengaja disimpan agar karakter perlahan tumbuh tanpa kehilangan martabat. Ternyata, tidak semua yang disembunyikan adalah kepalsuan. Sebagian justru merupakan proses pendewasaan.

Semakin lama saya memperhatikan perempuan itu membatik, semakin saya yakin bahwa ia sebenarnya sedang mengolah rasa. Setiap tetes “malam” bukan sekadar lilin. Ia adalah kesabaran yang dicairkan. Setiap garis bukan sekadar motif. Ia adalah latihan menerima hidup yang tidak selalu lurus.

Membatik tidak pernah bisa dipercepat. Sedikit tergesa, garis akan patah. Sedikit lengah, “malam” akan menetes ke tempat yang salah. Barangkali karena itulah batik mengajarkan sesuatu yang semakin langka di zaman serba instan ini: kesabaran.

Kesabaran bukan menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kesabaran adalah bekerja dengan penuh ketelitian sambil mempercayai bahwa hasil terbaik membutuhkan waktu.

Pada akhirnya saya memahami bahwa perempuan itu tidak sedang melawan kesunyian. Ia sedang berdamai dengannya. Kesunyian yang semula terasa seperti ruang kosong perlahan berubah menjadi ruang kreatif. Sunyi tidak lagi menjadi musuh. Sunyi menjadi medium.

Mungkin di situlah makna terdalam membatik. Ia bukan sekadar keterampilan membuat motif pada selembar kain. Ia adalah seni mengubah pengalaman menjadi keindahan. Mengubah luka menjadi kebijaksanaan. Mengubah sepi menjadi karya. Dan mungkin, tanpa kita sadari, itulah yang sepanjang hidup sedang kita lakukan.

Kita semua sedang membatik. Bukan di atas kain mori. Melainkan di atas lembaran kehidupan kita masing-masing. Dengan canting pengalaman. Dengan “malam” kesabaran. Dengan isen-isen berupa detail-detail kecil yang sering terlupakan.

Hingga suatu hari nanti, ketika seluruh warna kehidupan telah selesai, kita akan melihat bahwa tidak ada satu tetes pun yang benar-benar sia-sia. Semua telah menjadi motif yang utuh—mungkin bukan motif yang sempurna, tetapi motif yang sepenuhnya manusiawi. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: batikkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

Next Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails
Next Post
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co