19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
March 20, 2026
in Liputan Khusus
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

Umat Hindu sembahyang bersama serangkaian tawur kesanga dan Hari Nyepi di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan berpuasa, tapi malah makan besar.” Made Bagus Aditya Putra, 19, memberi tahu saya. Mahasiswa Hindu dari Sidoarjo itu menjawab pertanyaan yang saya ajukan dengan singkat-singkat. “Ketika Nyepi tiba, saya sepenuhnya mengurung diri dalam ruangan, tidur dan membaca kitab,” sambungnya.

Surabaya dikenal sebagai kota pelabuhan yang kosmopolitan. Beragam etnis dan agama bertemu di sini: Jawa, Madura, Tionghoa, Arab, hingga Bali. Keberagaman itu pula yang membuat agama Hindu memiliki ruang untuk tumbuh, meski jumlahnya tidak sebesar di Bali.

Pada 2019, menurut data Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, ada 7.999 umat Hindu yang tinggal di Surabaya. Tak ada data terbaru mengenai jumlah pasti umat Hindu di Surabaya saat ini—meski data 2019 itu telah diperbarui pada 2025.

Tawur kesanga di Surabaya

Sebagian besar umat Hindu Surabaya berasal dari komunitas Bali yang merantau untuk bekerja, berdagang, atau menempuh pendidikan. Dalam struktur komunitasnya, lebih dari seribu kepala keluarga tergabung dalam organisasi Banjar Surabaya—sebuah wadah sosial dan budaya yang menjaga tradisi Hindu Bali di perantauan.

Jumlah itu mungkin kecil dibandingkan populasi Surabaya yang mencapai hampir tiga juta jiwa. Namun komunitas ini tetap hidup, merawat identitas, serta menjaga ritual keagamaan yang diwariskan turun-temurun.

Di tengah dominasi rumah ibadah agama lain, umat Hindu Surabaya memiliki beberapa pura yang menjadi pusat aktivitas spiritual. Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur tahun 2023, terdapat 10 pura di Surabaya dan sekitarnya. Dan yang paling terkenal adalah Pura Agung Jagat Karana di kawasan Tanjung Perak. Pura ini dibangun pada 1968 dan diresmikan pada 1969, dengan area sekitar 7.703 meter persegi yang terdiri dari tiga bagian utama: mandala utama, madya, dan nista.

Selain itu, ada pula Pura Segara Kenjeran yang berada di kawasan pesisir Kenjeran. Pura ini sering menjadi tempat kegiatan besar seperti upacara Melasti menjelang Nyepi dan berbagai ritual penyucian lainnya.  Beberapa pura lain juga tersebar di berbagai wilayah kota, seperti Pura Candi Cemara Agung di Tandes dan Pura Tirta Empul di Babatan. Meski jumlahnya tidak banyak, pura-pura ini menjadi ruang spiritual sekaligus pusat komunitas bagi umat Hindu Surabaya. Di tengah kota yang terus berubah, pura-pura kecil itu juga menjadi semacam jangkar spiritual—tempat umat Hindu Surabaya kembali menemukan dirinya.

Sembahyang bersama

Ya, bagi banyak umat Hindu Surabaya, menjalankan tradisi bukan hanya soal ritual keagamaan. Ia juga cara menjaga identitas budaya. Sebagian besar dari mereka, sekali lagi, adalah perantau dari Bali. Mereka membawa serta bahasa, adat, dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan leluhur. Banjar-banjar komunitas menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan merayakan hari besar bersama. Anak-anak muda belajar menabuh gamelan, menari Bali, hingga membuat ogoh-ogoh. Dengan cara itu, tradisi tetap hidup meski jauh dari tanah asal.

Adit, satu dari sekian umat Hindu yang menjalankan Nyepi di tengah ramainya Kota Surabaya, bercerita kepada saya bagaimana ia hanya berdiam diri di kosnya di daerah Mulyorejo, Manyar, saat Nyepi tiba. Meski di luar ramai, menurutya tantangannya tidak sesusah itu. Ia hanya terganggu karena suasana ruangan menjadi tambah panas. “Tidak bisa menyalakan kipas atau AC karena listrik tidak dinyalakan,” katanya.

Berbeda dengan Adit, Ni Made Ayu Indri Harya Putti, 22—mahasiswa asal Ubud yang merantau ke Surabaya itu—menyatakan bahwa tantangan terbesar saat menjalankan Catur Brata Penyepian adalah lingkungan yang tidak sepenuhnya hening—sebagaimana di Bali. Lingkungan tempatnya indekos di daerah Ketintang tak bisa ia kontrol dan kondisikan. Kebisingan nyaris selalu ada. Saat kamar kos lain cukup bising, ia hanya bisa memfokuskan diri karena cukup sulit jika menjelaskan ke penghuni lain kalau ia sedang beribadah. Ya, tentu saja tak ada Pecalang di sekitar kosnya.

“Syukurnya, pemilik kos memahami kalau saya sedang Nyepi. Jadi, biasanya beliau bantu memberitahu penghuni kos lain untuk tidak ramai,” terang Indri.

Kota Surabaya memang tidak pernah benar-benar diam. Gelak datang dari warung kopi yang teronggoh di segala penjuru, deru motor memecah udara, klakson mobil bersahutan di persimpangan, dan pelabuhan di utara kota nyaris selalu sibuk oleh kapal-kapal yang datang dan pergi. Kontras itu terasa begitu nyata. Nyepi yang identik dengan kesunyian justru dijalankan di tengah kota metropolitan yang tak pernah berhenti bergerak.

Namun, menurut Ir. Ketut Gotra, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Surabaya, tantangan terbesar melaksanakan Catur Brata Penyepian di Surabaya kebanyakan tidak datang dari luar, justru datang dari diri sendiri. “Misal saja tidur biasa pakai AC; tapi saat Nyepi listrik dimatikan,” terang pria 68 tahun itu, seolah mengulang apa yang Adit sampaikan.

Sembahyang bersama

Selama ini, kata Gotra, umat Hindu di Surabaya selalu aman saat melaksanakan Nyepi. Tidak ada gangguan apa pun dari luar, kecuali deru dan panas metropolitan yang sudah menjadi keniscayaan. “Pada umumnya, tetangga kami mengetahui kalau kami sedang Nyepi,” ujarnya.

Nyepi di Surabaya atau di Bali, Sama Saja

Pada dasarnya, Nyepi di Surabaya tidak jauh berbeda dengan di Bali. “Prinsipnya sama. Hanya hal-hal kecil yang tidak berarti yang membedakan,” kata Ir. Ketut Gotra. Ia tidak memberi contoh riil untuk “hal-hal kecil yang tidak berarti” itu. Yang jelas, sebelum Nyepi, di Surabaya juga ada upacara Melasti dan Tawur Agung Kesanga sebagaimana umat Hindu di Bali.

Pada pagi menjelang Nyepi, Sabtu, 14 Maret 2026, ribuan umat Hindu berjalan kaki dari Pura Segara Kenjeran menuju Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran. Mereka membawa pratima—simbol-simbol suci dari pura—serta sesaji yang disusun rapi dalam wadah anyaman. Iringan baleganjur (gamelan Bali) mengalun di antara langkah-langkah mereka. Di sepanjang jalan, warga Surabaya yang berbeda agama sering berhenti sejenak untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Sesampainya di pantai, doa-doa dipanjatkan. Air laut dipercikkan sebagai simbol penyucian diri. Sebagian sesaji kemudian dilarung ke laut sebagai lambang pelepasan segala kotoran lahir dan batin. Melasti bukan sekadar ritual, kata Gotra, ia adalah perjalanan spiritual yang menandai dimulainya rangkaian Hari Raya Nyepi.

Pemuda Hindu Surabaya megambel balaganjur saat prosesi melasti

Selain Melasti, umat Hindu Surabaya juga melaksanakan Tawur Agung Kesanga sebelum Nyepi. Jika Melasti bertujuan mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudra, maka sehari sebelum Nyepi saatnya mensucikan alam semesta beserta isinya dan melaksanakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan; manusia dengan manusia; dan manusia dengan alam. “Upacara ini dilaksanakan di Catus Pata—perempatan jalan atau di jaba pura,” Gotra menjawab pertanyaan saya.

Selesai Tawur Kesanga, pada sore hari, di beberapa kawasan Surabaya, patung raksasa ogoh-ogoh juga diarak keliling. Wajah-wajah raksasa itu menggambarkan buta kala—simbol sifat buruk manusia seperti amarah, keserakahan, dan iri hati. Arak-arakan ogoh-ogoh sering digelar di sekitar pura, seperti di kawasan Pura Segara Kenjeran, serta di beberapa titik kota.

Anak-anak muda Bali di Surabaya menjadi motor penggerak pembuatan ogoh-ogoh. Mereka bekerja berminggu-minggu, merancang kerangka bambu, melapisinya dengan kertas dan cat warna-warni. Sore itu, Kamis, 18 Maret 2026, Surabaya terasa berbeda. Jalanan di sekitar Pura Segara Kenjeran yang biasanya dipenuhi kendaraan berubah menjadi ruang perayaan budaya. Ogoh-ogoh diarak dari Pura Segara Kenjeran, melintasi Jalan Bambang Sutoro dan Jalan Wiratno menuju kawasan Pantai Mentari sebelum akhirnya kembali ke titik awal di Pura Segara.

Namun, meski secara prinsip sama, seperti yang disampaikan Gotra di atas, tetap saja ada perbedaan antara Nyepi di Surabaya dan di Bali. Perbedaan itu terletak pada besaran sesaji persembahan pada rangkaian hari Nyepi—walaupun mungkin ini yang disebut Gotra sebagai “hal-hal kecil yang tidak berarti”.

Di Surabaya, seperti kata Adit, persembahan banten—yang ditujukan kepada Tuhan/Sang Hyang Widhi berupa jajanan, buah-buahan (hasil produksi atau pada umumnya dalam bentuk makanan) yang dihias maupun tidak—tidak terlalu banyak sebagai mana umat Hindu di Bali.

“Berbeda dengan zaman orang tua kami [terutama yang dari Bali], mereka cenderung mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk mebanten. Tidak ada yang salah dengan perilaku itu. Namun mebanten secukupnya saja menurut saya sudah cukup, seperti yang dilakukan keluarga saya di Sidoarjo—karena masih banyak keperluan lain yang perlu dipenuhi,” Adit menegaskan.

Saling Jaga, Saling Dukung

Hari Nyepi sendiri memiliki empat pantangan yang disebut Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Di Bali, aturan ini berlaku hampir total di seluruh pulau. Bandara dan pelabuhan ditutup, jalanan kosong, dan lampu dipadamkan.

Prosesi melasti di Surabaya

Sementara di Surabaya tentu saja situasinya berbeda. Kota besar tidak mungkin berhenti sepenuhnya. Namun umat Hindu tetap menjalankan Nyepi dengan khusyuk di rumah, di kos, atau di pura. Beberapa keluarga memilih mematikan lampu dan menghabiskan hari dengan meditasi serta doa. Ada pula yang berkumpul di pura untuk sembahyang. Meski ada pula yang “terpaksa” melanggar pantangan tersebut.

“Kegiatan berjalan normal seperti libur biasanya. Bahkan pekerjaan orang tua saya saja masih harus berjalan, tidak libur,” terang Adit. Orang tua Adit memiliki usah sendiri.

Menariknya, seperti keterangan Gotra, banyak tetangga dari agama lain yang menghormati tradisi ini. Mereka menahan diri untuk tidak membuat kebisingan di sekitar rumah umat Hindu atau di sekitar pura tempat umat Hindu mekemit. Di kota yang riuh seperti Surabaya, bentuk penghormatan kecil seperti itu terasa sangat berarti.

Selain itu, menjelang Nyepi, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga organisasi masyarakat (ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) mengimbau masjid maupun musala yang berdekatan dengan pura atau rumah umat Hindu untuk tidak menggunakan pengeras suara. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang sedang menjalankan ritual keagamaan. Apalagi Nyepi tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri bagi ormas Islam seperti Muhammadiyah.

Tak sampai di situ, setiap Nyepi, Pemerintah Kota Surabaya selalu membantu umat Hindu. Hal ini disampaikan oleh Ketut Gotra. Katanya, koordinasi pura dengan Pemkot Surabaya dalam pelaksanaan Nyepi selama ini sangat baik. “Terbukti, semua fasilitas dibantu. Mulai acara Melasti sampai acara pasca Nyepi. Kami diberikan tempat, tenda, konsumsi, perahu, toilet portabel, pengeras suara, dll.”

Pada akhirnya, meski di luar pura masih seperti biasa. Kendaraan menyemut, kapal-kapal bersandar di pelabuhan, dan suara kota tetap hidup. Namun bagi umat Hindu di Kota Surabaya, Nyepi tetap hadir—meski hanya dalam ruang kecil yang mereka ciptakan sendiri.

Sunyi tidak selalu berarti ketiadaan suara. Kadang ia hadir sebagai ruang batin: tempat manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah keramaian Surabaya, umat Hindu merawat sunyi itu—setiap tahun, setiap Nyepi. Dan di kota yang tidak pernah benar-benar tidur itu, mereka tetap menemukan cara untuk diam.

“Sebisa mungkin kami menjaga suasana hening di rumah; kami hanya mematikan lampu, semua tetangga sudah mengerti,” Gotra mengulang-ulang perkatannya.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepihinduHindu SurabayaMelastiTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Next Post

Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails
Next Post
Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co