30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

Jaswanto by Jaswanto
January 28, 2026
in Liputan Khusus
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

Ketut Resiani, penenun di Desa Julah yang masih bertahan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja itu bukan jenis pekerjaan kemarin sore. Menenun—di samping memintal benang dan mewarnai kain—merupakan profesi yang sudah ada sejak abad ke-9 (mungkin juga jauh sebelum itu) di Bali. Hal ini bukan tembung omong-kosong belaka, sebab pekerjaan-pekerjaan wastra ini memang sudah disebut di beberapa prasasti tua (antara abad 9-11) yang ditemukan di beberapa wilayah di Bali.

Menurut Goris (1954), kata tnunan sudah muncul dalam Prasasti Batur, Prasasti Pura Abang A yang berbahasa Jawa Kuno, dan berangka tahun caka 933 (1011 Masehi)—IIIa.3… “tnunan laway, wdihan, basahan, kurug.” Artinya, “tenunan benang, jenis pakaian untuk laki-laki, pakaian upacara, dan baju zirah” (Ardika & Beratha, 1996). Kata tnunan disebutkan dengan jelas karena berkaitan dengan pajak dan perajin tenun memiliki peran yang sangat penting untuk memajukan perekonomian kerajaan.

Pada masa lalu, penenun mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dan merupakan masyarakat kesayangan raja. Seseorang penenun menjadi perhatian raja karena karya yang dihasilkan sangat berperan penting, baik yang difungsikan sebagai sarana religius maupun sandang bagi raja dan masyarakatnya. Lebih jauh, Goris (1974) menjelaskan bahwa dalam Prasasti Bayungan, perajin tenunan dibebaskan dari kewajiban untuk gotong-royong, termasuk mengeluarkan sesuatu yang terkait anyam-menganyam.

Berbicara hikayat tenun di Tejakula, harus mengakui fakta bahwa Kintamani memiliki peran penting dalam hal pendistribusian kapas—yang notabene sebagai bahan baku pembuatan benang dan kain—seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya.

Data epigrafi dan etnografi pada masa klasik antara abad IX-XII di Bali memang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bersifat dendritik antara desa-desa di pesisir Tejuka dengan wilayah di pedalaman Kintamani. Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan upacara di Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani—desa yang disebut sebagai sentra penanaman kapas pada masa Bali Kuna.

Upacara di pura tersebut dilakukan oleh aliansi desa kelompok setimanan yang berjumlah 45 orang: 22 anggota dari pesisir Tejakula dan Les, sedangkan sisanya (23 anggota) dari Sukawana. Desa Sukawana juga menjalin aliansi dengan desa lain, terutama Sembiran, Pacung, dan Julah. Ketiga desa tersebut menghaturkan sesajen tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana, Jero Kubayan dan Jero Bau, yang khusus ditugaskan untuk para penenun dari Julah dan Sembiran. Para penenun dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih) (Ardika, 2022).

Dalam laporan singkatnya tentang Bali, Raffles menegaskan bahwa Pulau Bali “menghasilkan kapas dengan kualitas terbaik dan dalam jumlah yang sangat besar” dan menyebutkan benang katun dan kain kasar sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Dan pekerjaan menenun selalu erat kaitannya dengan profesi-profesi yang lain. Dalam prasasti abad 9-11 yang ditemukan di Bali, menenun barangkali berhubungan dengan beberapa profesi seperti mangiket, mangnila, mamangkudu, dan marundan—meski kegiatan menenun sama sekali tidak tersurat dalam 33 buah prasasti berbahasa Bali Kuna yang terbit pada abad 9-11.

Dalam hasil penelitian yang berjudul Perajin pada Masa Bali Kuna Abad IX-XI Masehi (1996), I Wayan Ardika dan Ni Luh Sutjiati Beratha menjelaskan bahwa kata mangiket berasal dari urat kata iket, yakni kata dari bahasa Austronesia yang berarti mengikat. Tapi Goris (1954) mengartikan ikat atau iket dengan menenun.

Namun, mangiket kemungkinan lebih tepat diartikan sebagai perajin yang mempunyai keahlian sebagai pembuat pola kain tenun ikat, yaitu dengan cara mengikat benang yang digunakan sebagai bahan kain tersebut sebelum dicelupkan ke dalam bahan pewarna. Sebab, dalam prasasti Bali Kuna abad 9-11, kata mangiket dituliskan berpasangan dengan perajin lain, yakni mangnila (tukang celup dengan warna biru), mangkudu (tukang celup dengan warna merah), dan marundan (pemintal benang?).

Sebagaimana telah disinggung di atas, dalam pustaka yang sama Ardika dan Beratha (1996) mengatakan bahwa kata mangnila berasal dari kata nila (Sansekerta)—yang merujuk pada tanaman indigofera tinctoria, jenis tanaman yang mengeluarkan warna biru setelah diekstrak. Singkatnya, mangnila berarti profesi yang berkaitan dengan tumbuhan nila (nilo—Jawa), atau tukang celup kain dengan menggunakan daun indigo sebagai pewarnanya.

Hampir sama dengan mangnila, mamangkudu kemungkinan juga merujuk pada satu jenis tumbuhan bernama wungkudu (Austronesia) atau mengkudu. Dalam bahasa Bali modern buah ini disebut tibah. Wungkudu (Morinda citrofolia) adalah jenis tanaman yang akarnya dapat mengluarkan warna merah. Oleh karena itu, mamangkudu besar kemungkian merupakan sebutan bagi orang yang ahli dalam bidang pewarnaan (merah) dengan bahan mengkudu (tibah).

Dalam prasasti Bali Kuna abad 9-11 Masehi, orang Bali sudah mengenal warna biru (nila) dan merah (wungkudu). Namun, dalam prasasti Bali yang berbahasa Jawa Kuna pada abad 10 mulai muncul kata kasumba (Carthamus tinctorius), tanaman perdu yang bunganya berwarna kuning atau oranye. Bunga kasumba digunakan untuk bahan warna kuning dan merah. Menurut beberapa ahli, kasumba digunakan untuk memperoleh warna kuning sebelum kunir (kunyit) digunakan.

Selain itu, ada pula profesi marundan. Menurut Goris (1954), secara etimologi marundan berasal dari kata rundan atau undan yang mengacu pada kelompok perajin yang berkaitan dengan pembuatan kain. Sedangkan menurut Ardika dan Beratha (1996), kata undan mengingatkan kita pada kata undar dalam bahasa Bali modern, yaitu sejenis alat yang digunakan untuk menggulung benang tenun.

Apakah marundan pada masa Bali Kuna merupakan kelompok yang bekerja sebagai pemintal benang? Hal ini masih belum jelas—masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Yang jelas, kata ini ditulis berdampingan dengan kegiatan membuat pola kain dan mencelup dengan warna merah maupun biru seperti tertuang dalam Prasasti Bebetin AI (Saka 818) dan Trunyan AI (saka 813).

Dalam Prasasti Bebetin AI dan Trunyan AI kita dapat mengetahui bahwa profesi-profesi seperti mangnila, mamangkudu, mangiket, dan marundan merupakan pekerjaan yang istimewa pada masa itu.

Prasasti Bebetin AI mengungkapkan “…tani kabakatan tikasan mangnila, mamangkudu, mangiket marundun…” yang artinya “tidak dikenai pajak untuk kegiatan mencelup dengan warna biru, mencelup dengan warna merah, membuat pola kain ikat, dan memintal benang.

Senada dengan itu, Prasasti Trunyan AI juga menuliskan “…tani kna tikasan, mangnila, mangiket, mamangkudu, marundan…” yang artinya “tidak dikenai pajak untuk kegiatan mencelup dengan warna biru, membuat pola kain ikat, mencelup dengan warna mewah dan memintal benang…” (Goris dalam Ardika dan Beratha, 1996).

Sampai di sini, hikayat tenun di kawasan Tejakula ternyata memiliki riwayat yang panjang. Pun, kain-kain dari wilayah Tejakula seperti Sembiran, Julah, dan Pacung tidak hanya digunakan sebatas urusan sandang, melainkan juga bentuk persembahan untuk pendeta di Sukawana.

Kini, tenun-tenun di wilayah Tejakula masih eksis sampai hari ini. Sementara kegiatan mencelup kain (pakaian) dengan pewarna alami belakangan juga dilakukan oleh Pagi Motley—yang bergerak di bidang pewarnaan alam yang meliputi pewarnaan jasa (kulit, kain, serat agel, kayu), tenun, desain interior, natural dye workshop, dan desain pakaian.

Namun, sebagaimana ditulis oleh Brigitta Hauser-Schäublin dan I Wayan Ardika, karena pewarna sintetis telah diperkenalkan di Bali Utara sejak awal abad ke-20 (Fraser, 1908), praktis tidak ada ingatan tentang pewarna alami yang dapat diperoleh dari para penenun Sembiran. Mereka hanya mengingat nila telah digunakan untuk mewarnai biru dan daun dari semak yang tidak dikenal (daun sugih) untuk warna hijau. Rupanya, Tejakula dan sekitarnya, sejak dulu, sudah memiliki spesialisasi dalam pewarnaan alami.[T]

Daftar Bacaan

Ardika, I Wayan. 2022. Manusia dan Kebudayaan Bali 2000 tahun Silam. Denpasar:Universitas Udayana.

Ardika, I Wayan dan Ni Luh Sutjiati Beratha. (1996). Perajin pada masa Bali Kuna abad IX-XI Masehi. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Schäublin, Brigitta Hauser dan I Wayan Ardika. (2008). Burials, Texts and Rituals: Ethnoarchaeological Investigations in North Bali, Indonesia. Göttingen: Universitätsverlag Göttingen .

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  
Tags: bulelengekonomisejarahTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

Next Post

Perias Jenazah Menyingkap Tabir

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

by Jaswanto
October 29, 2026
0
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

Read moreDetails

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

by Jaswanto
October 28, 2026
0
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

Read moreDetails

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

by Jaswanto
October 26, 2026
0
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

Read moreDetails

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

by Jaswanto
October 24, 2026
0
Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

Read moreDetails

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails
Next Post
‘Orang Ketiga’ yang Selalu Menggoda

Perias Jenazah Menyingkap Tabir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co