TAK bisa dipungkiri, “Under the Spell of the Batur Volcano” adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur dicatat dengan cermat sehingga bisa dijadikan pijakan untuk merawat dan mrefleksikan nilai budaya Batur dalam kehidupan masa kini dan masa depan.
Buku itu adalah karya terakhir Prof. Brigitta Hauser-Schäublin sebelum meninggal dunia pada pertengahan 2025. Adapun pada kisaran 2023 ia datang ke Batur untuk terakhir kalinya, setelah melakukan riset mendalam selama puluhan tahun.
Pada acara Batur Village Festival 2026, yang merupakan rangkaian 100 Tahun Rarud Batur, buku karya Prof. Brigitta itu dibedah sekaligus untuk mengenang guru besar itu atas jasa-jasanya mencatat Batur dengan baik. Acara peluncuran dan bedah buku itu diadakan dlam suasa sejuk di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Selasa, 4 Agustus 2026.
“Buku ini juga menjadi salah satu pustaka yang wajib dibaca di kemudian hari,” kata Jero Penyarikan Duuran Batur, mewakili Palinggih Dane Jero Gede Batur, selaku salah satu penggagas Batur Village Festival 2026.
Pada kesempatan itu, Jero Penyarikan juga menyatakan bahwa diskusi buku tersebut juga merupakan momentum pihaknya memberi penghormatan pada mendiang Prof. Brigitta Hauser-Schäublin, seorang antropolog asal Swiss yang telah banyak melakukan kerja akademis di Batur dan desa-desa pegunungan di Bali.
Dr. W.A. Sindhu Gitananda (akademisi UNHI Denpasar) sebagai pembedah buku “Under the Spell of the Batur Volcano” mengatakan buku tersebut memberi gambadan tentang Batur sebagai komunitas yang telah melalui berbagai dinamika zaman. Batur menjadi wilayah terbuka dalam kebudayaan, tetapi pada sisi yang sama juga mempertahankan resistensinya pada kebudayaan luar.
“Dari buku ini kita tahu bahwa Batur adalah wilayah terbuka, tetapi ada resistensinya. Ada negosiasi dalam menerima pengaruh luar, misalnya melalui kehadiran konsep Dane Sareng Nem yang merupakan produk negosiasi atas pengaruh politik Majapahit di kisaran abad ke-14,” kata Sindhu sembari menambahkan, buku tersebut turut merekam bagaimana ideologi masyarakat Batur, misalnya tentang narasi Pura Cempaga.
“Menurut Brigitta, Desa Cempaga yang awalnya terletak di Batur pernah melakukan pemberontakan ketika penguasa daerah tidak sesuai dengan apa yang dipahami masyatakat dan bagaimana mekanisme ritual dijalankan. Ini adalah salah satu karakter yang penting untuk disorot dalam memahami karakter orang Batur saat ini dalam merawat budaya dan kawasannya,” kata Sindhu.
Selain “Under the Spell of the Batur Volcano” karya Brigitta Hauser-Schäublin (2025), ada dua buku lagi yang diluncurkan dalam acara itu, yakni buku berjudul “Sandyakala Huluning Toya” karya akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI), dan “Seabad Relokasi Batur” karya 32 penulis yang diinisiasi Lingkar Studi Batur (2025).
Pembedah buku “Sandyakala Huluning Toya” adalah Dr. I Ngurah Suryawan (akademisi Universitas Papua), dan Ni Kadek Desi Nurani (Mulawali Institute) sebagai pembedah buku “Seabad Relokasi Batur”. Acara dimoderatori oleh I Gede Diyana Putra (akademisi Institut Hindu Negeri Mpu Kuturan, Singaraja).
Ngurah Suryawan yang bertugas membedah buku “Sandyaka Huluning Toya” menilai buku terbebut menyajikan terobosan metodologis, dengan melihat lebih dalam, tanpa menjangkau semua. “Sayang buku ini tidak ada narasi perempuan,” kata dia.
Desi Nurani yang membedah buku “Seabad Relokasi Batur” mengatakan tulisan-tulisan dalam buku yang ditulis oleh perempuan pada buku itu mengingatkannya pada mitos-mitos masa kanak-kanaknya. “Buku ini memberi ruang pada perempuan sekaligus turut menyuarakan keresahan perempuan saat ini sebagai pelaku kebudayaan, yang juga menjadi refleksi penting bagi saya,” ucap dia.

Rektor UNHI, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., dalam peluncuran buku “Sandyakala Huluning Toya” mengatakan bahwa Batur bukan sekadar ruang fisik yang di dalamnya terdapat gunung dan danau. Menurutnya, Batur adalah laboratorium peradaban hulu Bali dan ruang studi yang tiada habisnya untuk dipelajari. “Di dalamnya terdapat pelajaran berharga tentang resiliensi sosio-kultural-religius. Kemampuan adaptasi di tempat yang baru (Kalanganyar) membuktikan bahwa identitas kultural, spiritualitas dan keguyuban adalah fondasi kuat dalam menghadapi krisis.
Kami juga memandang penulisan buku ini sebagai wujud tanggung jawab moral dan intelektual,” katanya.
Secara kesejarahan, katanya, UNHI lahir melalui inspirasi di titik pertemuan air (Campuhan Ubud), ketika para maha kulina Bali, narawidya, para cendekiawan mecampuh dalam satu agenda penting: dharma asrama. Di titik pertemuan air yang bersumber dari Batur inilah inspirasi itu lahir, sehingga melahirkan kesepakatan mendirikan asrama pengadyayan dengan nama Maha Widya Bawana sebagai cikap bakal dari UNHI.
“Bisa dikatakan, UNHI adalah pasihan lain dari Batur. Jika dalam sistem pasihan subak-subak yang menerima aliran kasih dari Dewi Danu menghaturkan sarin tahun berupa pangan dan hasil sawah, sebagai lembaga yang juga lahir dari inspirasi di titik pertemuan air, UNHI berupaya menghaturkan candi pustaka sebagai wujud jnana yadnya pada Dewi Danu. Warisan sastra kita menyatakan adhyapanam brahmā yajnyaḥ. Jika bisa diibaratkan, UNHI adalah ineng sastra, atau tempat menyimpan sari-sari pengetahuan yang bisa dipanen oleh orang yang senantiasa suntuk bertani di ladang sastra. Oleh sebab itulah yang UNHI bisa haturkan bukanlah berbagai bentuk pala bungkah, pala gantung, atau pala wija, tetapi berupa bija-bija aksara yang dimanifestasikan dalam buku ini,” jelasnya.
Jero Penyarikan Duuran Batur, mewakili Palinggih Dane Jero Gede Batur, mengucapkan terima kasih atas kehadiran buku tersebut. Ia merasa terharu karena kehadiran buku itu, turut mendorong kebertahanan Batur menghadapi dinamika zaman.
“Lewat buku yang merupakan muara dari kerja-kerja akademik ini, Batur sesungguhnya telah didorong maju dan bertahan dari dinamika kehidupan. Kini Ida Bhatari Batur bukan saja sebagai entitas yang memegang sumber air, tetapi sebagai poros memutar jantra sastra, yakni pengetahuan. Saya jadi ingat ungkapan Ida Pedanda Made Sidemen, ‘tong sing ngelah karang sawah, karang awake tandurin’. Ini kini telah menubuh di Batur, yang membuat saya optimis Batur bisa bertahan dari potensi rarud kedua,” jelasnya. [T]
Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole































