2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perias Jenazah Menyingkap Tabir

Chusmeru by Chusmeru
January 29, 2026
in Fiksi
‘Orang Ketiga’ yang Selalu Menggoda

MELAYANI orang lain adalah tugasnya. Sesuai namanya, Sudarmo. Ia memberikan darma bakti kepada sesama manusia. Melayani dan mengabdi untuk orang-orang yang sedang berduka. Sudarmo memberi pelayanan merias jenazah.

Profesinya sebagai perias jenazah tidak dipelajari secara khusus. Sudarmo hanya tamat SMA yang kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya. Kebetulan suatu hari ia berkenalan dengan teman gerejanya yang membuka usaha jasa merias jenazah. Sudarmo ditawari untuk menggantikan salah satu pegawai yang berhenti bekerja.

Pada awalnya ia ragu menerima tawaran kerja itu. Profesi itu memerlukan keterampilan khusus dan ketahanan mental. Sudarmo tidak memiliki keterampilan merias, bahkan pengetahuan tentang tata rias pun ia tak punya. Ia juga belum memiliki mental yang kuat untuk berhadapan dengan jenazah, apalagi merias jenazah itu.

Namun teman gereja Sudarmo meyakinkan, bahwa semua dapat dipelajari. Lagi pula ia bukan perias utama atau mortician.Sudarmo hanya membantu perias utama ketika ada jenazah yang baru datang. Tentang mental, teman Sudarmo mengatakan nantinya juga akan terbiasa. Tidak perlu takut. Orang yang sudah meninggal tidak akan mengganggu kita.

Pasrah pada akhirnya. Sudarmo menerima tawaran sebagai perias jenazah. Apalagi gaji yang ia terima lumayan untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Ia tidak harus bekerja keras di bawah terik matahari. Merias jenazah dilakukan di ruang tertutup dan ber-AC. Lebih dari itu, Sudarmo juga ingin memberikan pelayanan kemanusiaan bagi keluarga yang sedang berduka ditinggal orang tercinta.

Istri dan kedua anaknya pada awalnya juga khawatir dan kasihan pada Sudarmo yang harus bekerja merias jenazah. Mereka takut Sudarmo tidak kuat mental berhadapan dengan jenazah yang  beragam kondisinya. Akan tetapi Sudarmo meyakinkan mereka, semua butuh proses. Jika memang nantinya ia tidak mampu bertahan, ia akan berhenti bekerja.

Seiring perjalanan waktu Sudarmo mulai mampu menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Perias utamanya juga sering mengajarkan Sudarmo bagaimana merias jenazah yang baik, yang dapat membuat jenazah tampak seperti masih hidup. Dan tentu saja merias jenazah yang membuat anggota keluarga jenazah itu dapat dengan tenang, tabah, dan senang hati melihat jenazah itu. Tidak mudah memang. Namun lama-kelamaan Sudarmo mengerti teknik merias jenazah yang baik.

  ***

Suatu malam, Sudarmo mendapat telepon dari perusahaannya. Ada jenazah baru yang harus segera dirias, karena akan dimakamkan esok pagi. Sedangkan perias utama sedang liburan ke luar kota. Itu berarti Sudarmo harus menggantikannya merias jenazah. Sendirian. Mendadak Sudarmo merinding. Ia membayangkan berada dalam ruangan hanya bersama jenazah yang diriasnya.

Namun Sudarmo siap untuk berangkat. Ia justru berpikir, bila ia dapat menjalankan tugas merias jenazah dengan baik, siapa tahu suatu saat ia akan menjadi perias utama. Penghasilannya tentu akan bertambah besar. Oleh karenanya ia tepis semua rasa takut untuk merias jenazah di malam hari. Bergegas ia menuju ruang rias jenazah.

Informasi yang ia dapatkan dari perusahaan, jenazah yang harus dirias malam hari adalah seorang pengusaha di kotanya. Usianya belum begitu lanjut. Namun ia dikabarkan mengidap komplikasi penyakit yang sudah menahun.

Perlahan Sudarmo merias jenazah itu. Wajah jenazah dalam pandangan Sudarmo seperti menanggung beban berat. Sudarmo harus merias wajah itu agar tampak lebih segar, ceria, dan tanpa beban. Bukan pekerjaan yang mudah. Diperlukan rasa simpati yang dalam terhadap jenazah agar Sudarmo bisa merias dengan baik.

Ruang jenazah terasa lebih dingin dari suhu udara yang diatur Sudarmo. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan mencekam saat Sudarmo berhadapan dengan jenazah itu. Mungkin karena baru pertama ia merias jenazah sendirian atau memang ada sesuatu dalam ruang rias itu. Sudarmo merasa seolah-olah pengusaha itu belum meninggal.

Dipandangi agak lama jenazah itu sebelum Sudarmo meriasnya. Ia mulai menggunakan masker dan sarung tangan sebelum merias. Kemudian dipersiapkan sisir rambut, alas bedak, spons, kuas, pembersih wajah dan perlengkapan lain. Saat ia mulai merias wajah, ia dikagetkan dengan sebuah suara lembut di telinganya.

“Anak-anak saya sudah berebut warisan sebelum saya meninggal”.

Sudarmo terkesiap. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, mencari arah suara. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan jenazah itu. Bulu kuduknya berdiri. Ia tatap kembali wajah jenazah itu. Kali ini Sudarmo terkejut. Mata jenazah itu tampak sembab seperti baru saja menangis.

“Apakah jenazah ini yang tadi berbicara?” tanya Sudarmo pada diri sendiri.

Tidak ingin terganggu oleh suasana yang menyeramkan, Sudarmo kembali melanjutkan merias jenazah. Hari ini pertama kali ia menjalankan tugas merias jenazah tanpa didampingi perias utama. Mungkin suatu saat ia juga akan menghadapi kejadian misterius lain selagi merias jenazah.

“Permisi ya, Pak. Saya akan merias wajah Bapak,” kata Sudarmo kepada jenazah itu. Ucapan seperti itu biasa diucapkan Sudarmo sebelum memulai pekerjaannya. Sapaan dan ucapan kepada jenazah sebagai bentuk penghormatan dan perlakuan selayaknya jenazah itu masih hidup.

Esoknya Sudarmo duduk di teras rumah sambil mengopi dan merokok. Pekerjaan merias jenazah semalam menyita tenaga dan perasaannya. Saat ia membuka ponsel dan media sosial, ia dikejutkan dengan sebuah berita di mediaonline. Dikabarkan, beberapa anggota keluarga seorang pengusaha di kotanya saling menggugat di pengadilan terkait harta warisan setelah ayah mereka meninggal.

Sudarmo tertegun. Ia teringat kembali bisikan misterius semalam ketika ia merias jenazah. Apakah suara yang mengatakan anak-anak berebut warisan sebelum meninggal datang dari jenazah itu? Apakah jenazah itu ingin menyingkap tabir kehidupannya dengan mengatakannya kepada Sudarmo?

***

Siang terasa terik. Matahari menyengat tubuh. Sudarmo sudah berada di tempat kerjanya. Kali ini bersama Agus Purnomo, perias utama jenazah. Mereka berbincang tentang cuaca yang tidak menentu. Siang hari panas dan terang-benderang, tiba-tiba sore hari hujan lebat. Tak ketinggalan mereka juga membahas tentang dunia ekonomi dan politik yang juga seperti cuaca, kadang panas, kadang dingin.

Setelah makan siang, mereka mendapat telepon dari perusahaan. Akan datang jenazah seorang mahasiswa korban kecelakaan di jalan raya. Almarhum merupakan anak seorang pejabat penting di kotanya. Agus Purnomo tak bereaksi apa pun. Sedangkan Sudarmo tampak sedikit pucat. Ia berpikir akan menghadapi kondisi jenazah yang mengalami luka-luka di sekujur tubuh.

Begitu jenazah tiba, mereka segera meriasnya. Mahasiswa itu masih sangat muda. Terdapat luka terbuka di dadanya. Kemungkinan terbentur benda keras. Wajahnya juga sedikit rusak akibat goresan aspal di jalan. Dengan hati-hati Agus Purnomo dan Sudarmo merias jenazah itu. Muncul perasaan sedih dan kasihan pada almarhum.

Ruangan yang dingin membuat Sudarmo meremang. Ada perasaan ngeri dan merinding melihat kondisi jenazah itu. Sudarmo merasakan ada sesuatu yang hendak dikatakan jenazah itu. Entahlah. Sejak beberapa kali merias jenazah, ia merasa seolah-olah semua jenazah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Sudarmo merasa jenazah yang diriasnya hendak berpesan kepadanya.

 Benar saja. Ketika tertidur lelap di rumah, Sudarmo mimpi didatangi mahasiswa yang tadi siang diriasnya. Mahasiswa itu datang dalam mimpi dengan wajah yang sedih. Sudarmo berusaha mendekati dan menanyakan apa yang terjadi.

“Tolong sampaikan kepada orang tua saya agar membuka buku harian yang saya taruh di rak buku kamar,” pesan mahasiswa itu.

Sudarmo terbangun. Jam dinding di kamar menunjukkan angka dua. Masih dini hari. Sudarmo menengok kanan kiri. Jenazah yang tadi ia rias hadir dalam mimpi, dan pesan yang harus disampaikan kepada orang tuanya. Sudarmo merenung. Ada apa di balik buku harian almarhum? Adakah tabir yang akan tersingkap dalam buku harian itu? Sudarmo berdebar-debar; antara penasaran, sedih, dan perasaan merinding.

Tanpa berpikir panjang esoknya Sudarmo mendatangi kedua orang tua almarhum mahasiswa korban kecelakaan itu. Disampaikan pesan yang ia terima lewat mimpi. Kedua orang tua mahasiswa itu kaget. Cepat-cepat mereka menuju kamar anak mereka, mencari buku harian yang tersimpan di rak buku. Dibacanya seluruh catatan harian anak mereka. Tak berapa lama mereka berdua menangis.

Kedua orang tua almarhum mahasiswa menceritakan, bahwa anak mereka menulis di buku harian ingin mendapatkan beasiswa untuk studi di salah satu kampus di London, Inggris. Dia berpesan jika keinginannya tidak tercapai, berharap orang tuanya bisa berkunjung ke kampus itu. Sudarmo terharu mendengar cerita orang tua almarhum. Ternyata mimpinya menguak tabir keinginan almarhum.

Berselang sebulan dari meninggalnya mahasiswa yang jenazahnya dirias, Sudarmo mendapat kiriman foto-foto dari orang tua mahasiswa itu. Mereka berfoto di depan sebuah kampus di London. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Sudarmo sambil mengatakan bahwa pesan almarhum sudah mereka tunaikan.

Sudarmo trenyuh, bahagia, dan ikut lega. Walau selalu diliputi rasa ketakutan, ia senang dapat menyampaikan pesan dari jenazah yang diriasnya. Entah tabir apa lagi yang akan disingkap ketika esok ia akan merias jenazah lain. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

Next Post

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda ---Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co