17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
in Cerpen
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belakang Pandawa, atau menunduk pada tahta Amartapura. Raga dan pikirannya memberi alarm, bahwa dirinya sudah terlalu lama berada di lingkar kekuasaan. Ini tidak baik, harus diakhiri. Sekarang hasratnya mengerucut, ingin mengurus perut rakyat. Maka ditempuhlah jalan paling sederhana, yaitu menjadi kawulo alit.

Semar tahu, kesehatan tubuh bisa bertahan lama jika diimbangi dengan aktivitas yang rutin. Rutinitas itu akan membuat otaknya tidak tumpul, tetap sehat serta stabil. Oleh karena itu, ia berniat jualan makanan.

Di Karang Kadhempel, wilayah perdikan yang tidak mempunyai kewajiban menyetor pajak ke kas kerajaan, Semar memulainya dengan membuat beberapa tungku dari tanah liat. Menyiapkan arang, penjepit, kipas bambu, dingklik (kursi pendek).

Setiap pagi buta, saat embun masih ragu-ragu untuk turun, ia sudah menggerakkan tangan, menaikturunkan alu kayu untuk menumbuk beras menjadi tepung, kemudian di ayak, sebelum mencampurnya dengan santan kelapa tua, dan meracik menjadi jladren(adonan). Tangannya bekerja cekatan nan terukur, seolah setiap gerak menyimpan konsekuensi.

Ia membuat serabi.

Kenapa harus serabi? Karena bahan dasarnya mudah diperoleh di tempatnya. Beras melimpah ruah, santan tinggal memetik kelapa yang pohonnya berjejeran di pelosok desa, dan satu hal lain yang lebih penting, yaitu, ketiadaan penganan lain yang mampu meninggalkan kesan.

Didepan lapaknya tertancap papan kayu bertulisan Serabi Semar Pagi, dengan tagline Kudapan klasik penghapus dendam sekaligus pelipur lara. Ia memilih Karang Kadhempel sebagai pusat unjuk usaha bukan karena sunyi, melainkan karena mudah diakses oleh siapa pun yang kelaparan-mantan prajurit, janda, pejabat kecil, kurir istana. Semua butuh kudapan.

Serabi itu istimewa kalau pun boleh disebut aneh. Lembutnya tidak wajar. Manisnya melekat berpadu gurih menetap lama di syaraf pengecap. Harumnya menusuk penciuman bak purnama memberi penerang pada pengembara malam. Orang-orang bilang, sekali mencicipi, lidah tak lagi bisa berdusta pada kualitas makanan lain. Kelezatan serabi mengundang para kawulo berdatangan dari berbagai tempat. Bahkan serombongan utusan kahyangan rela antre duduk di bale-bale bambu, berbaur bersama rakyat jelata.

Mereka datang juga sekalian bercerita tentang hal-hal usai perang. Semar mendengarkan dengan tekun. Syaraf-syaraf telinganya menegang mengendur untuk memetakan potensi-potensi. Siapa yang cepat marah sekaligus mudah lelah, yang gampang di provokasi, atau siapa yang suatu hari nanti akan membuat huru-hara, menimbulkan gangguan keamanan.

Ia mencatat di kepalanya, karena otaknya terbiasa menempelkan tanda-tanda.

“Ini bukan serabi,” kata utusan itu pelan, setelah suapan pertama. “Ini welas asih dari hati paling jujur, paling bijaksana, paling luhur!”

Semar hanya tersenyum mesem.

“Benar,” ujar yang lain. “Cita rasa dari kedalaman batin seorang penasihat unggul.”

Gerak tangan Semar menuju wajan tanah liat untuk menukil adonan yang telah matang. Dijejerkan selarik demi selarik pada tampah. Bau khasnya kian menggoyang hasrat untuk mengudap. 

Siapa pun boleh mengambil. Karena memang sejak awal sudah di niatkan gratis. Asal sopan serta mematuhi syarat lain yang tidak tertulis. Harus dihabiskan sampai remah terakhir. Tidak boleh meninggalkan sisa, walaupun secuil. Jika nekat, dipastikan malamnya akan di hantui mimpi buruk berwujud seringai mayat-mayat yang menumpuk di medan perang, jerit yang tak selesai akibat lidah dibetot dari anak tekaknya, tangan-tangan yang belepotan darah kental, juga tentang kepala-kepala pecah akibat hantaman gada rujakpolo milik Werkudoro.

Penduduk Karang Kadhempel mengucap syukur atas kemunculan lapak serabi Semar. Mereka merasakan, sejak Semar kembali ke padepokan dan berjualan serabi, desa itu bertambah sejahtera, aman, ayem tentrem. Nir pencurian, nir perkelahian. Bahkan kematian bukan hal yang menakutkan. Karena sudah terbiasa melihat mayat-mayat bergelimpangan kala perang terjadi.

Di hari yang dipenuhi semilir angin, datanglah seorang pensiunan prajurit membawa kemarahan yang masih mentah. Ia menyebut angka korban peperangan tidak sesuai dengan keyakinannya. Ia menyebut banyak perintah yang lolos dari pengamatan klerek(juru tulis).

Semar menyajikan serabi tanpa menatapnya.

“Kerajaan melakukan manipulasi data,” ujarnya marah.

“Kau ingin keadilan,” tanya Semar datar sembari menyuruhnya duduk. Ia memilihkan serabi yang paling tebal.

Prajurit itu mengangguk. Tangannya menjumput kemudian mengunyah dengan perlahan. Parasnya sedikit terkendali.

“Perang hanya menyengsarakan rakyat. Itulah bentuk egoisme para petinggi kerajaan,” ucapnya pedih.

“Semua pihak menderita. Untungnya, perang sudah berakhir,” kata Semar. “Kerajaan ingin kedamaian serta kesejahteraan berputar kembali. Saatnya membangun, saling sengkuyung(mendukung)!”

Prajurit itu menikmati kelembutan. Ia tidak perlu diyakinkan. Semar ngerti sak durunge winarah (paham sebelum diberitahu), bekas prajurit itu hanya lelah batin. Keesokan harinya, ia kembali ke sawah ladangnya dengan kemarahan yang belum pupus.

“Rakyat hanya butuh kepastian tentang perutnya. Kerajaan wajib memastikan mereka tidak kelaparan,” lirih Semar. “Ini lebih efektif dari pada nggedabrus (membual atau berbicara tanpa fakta) yang dibalut retorika dalam pidato!”

Tiba-tiba Semar menolehkan wajahnya ke satu arah mata angin. Dari jauh dilihatnya, sebuah titik kecil tampak mendekati keberadaan dirinya.

“Dia telah datang,” lirih Semar. Mulutnya komat-kamit merapal mantra kesegaran. Sebuah cara mengantisipasi kegaduhan.

Ternyata semakin dekat mewujud sesosok pria bertubuh tinggi besar, berkulit ireng njanges (hitam pekat) dengan mata biru. Badannya penuh luka yang menjijikkan. Kedatangannya dibarengi dengan langkah kurang bertenaga, wajah muram, lelah, menggambarkan gilasan penderitaan. Sepertinya, kakinya telah melakukan perjalanan yang sungguh jauh. Ia tidak menyebutkan namanya, hanya melagukan ratapan, “Oh, Batara. Bisakah kau cabut kutukan ini? Penderitaanku sungguh berat. Inginku akhiri semuanya.”

Semar tidak menggubris. Ia disibukkan dengan adonannya. Cairan kental itu di aduk supaya serabi terbentuk sesempurna mungkin. Api di kendalikan, ditambah diturunkan. Menuangkan adonan dengan sangat hati-hati.

“Apa hubungan serabi dengan perang?” tanya pria itu.

Semar belum terusik oleh pertanyaannya. Ia menunggu hingga serabi matang sempurna, baru menjawab, “Perang tidak pernah selesai di medan laga”, jawabnya. “Sedangkan serabi adalah penyembuh duka bagi yang lara!”

Semar berharap, serabi buatannya mampu mengubah seseorang yang keji, bangsat, penipu, bajingan korup, menjadi beradab dan mendapat pencerahan batin.

Pria itu menggigit serabi sedikit tergesa. Tangannya bergetar, sulit dihentikan. Setelah serabi ketiga masuk ke mulut, ia menangis tersedu-sedu. Tubuhnya lunglai, jatuh, seperti benteng tua yang rata dengan tanah.

“Aswathama tidak pernah mati,” katanya. “Ia hanya dikubur hidup-hidup oleh ingatan. Ia menyesali perbuatannya!”

Pria itu berurai air mata. Ia bersandar pada tonggak kayu penyangga lapak. Wajahnya kuyu, menggambarkan penderitaan yang terlalu panjang.

Semar mengangguk, kemudian berkata, “Aswathama membunuh karena dendam memang harus dibayarkan.”

Semua berawal dari tipu daya pihak Pandawa yang mengakibatkan resi Durna gugur. Panglima Kurawa itu menerima kabar peperangan di hari ke 15, kalau Aswathama mati. Guru dari Pandawa dan Kurawa itu menanyakan pada pihak Pandawa apakah memang benar kabar tersebut. Taktik licik Khresna untuk melemahkan mental Durna dan mengangkat kemenangan Pandawa membuatnya bertindak curang.

Khresna punya pendapat, dalam dunia yang sudah sedemikian bobrok, kemenangan sering tidak bisa dicapai jika terlalu saklek mematuhi aturan. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan yang secara moral sedikit kotor untuk mempertahankan dharma. Karena kalau Pandawa tetap berpegang teguh pada aturan ksatria, mereka kemungkinan akan kalah.

Akhirnya semua bersepakat, mengangguk meyakini, kalau Aswathama memang mati.

Bermula dari tindakan Werkudoro-atas perintah Khresna-yang membunuh seekor gajah bernama Aswathama. Kemudian ia berteriak, “Aswathama mati!” Teriakan itu diulang-ulang dan menyesaki palagan perang. Tapi resi Durna belum percaya. Untuk terakhir kalinya, ia menanyakan pada Yudhistira, manusia paling jujur yang tidak pernah sekalipun berdusta selama hidup. Di atas kereta perang dengan Khresna sebagai kusirnya, Yudhistira menatap gurunya yang berjalan lambat.

“Muridku, Yudhistira. Apakah memang benar Aswathama mati?”

Yudhistira tercekat. Ini pertanyaan paling krusial. Sebelumnya Khresna telah mewanti-wanti Yudhistira untuk menjalankan skenario guna mematahkan mental resi Durna.

“Kanda Khresna, saya tidak mau berbohong!”

“Siapa yang menyuruh kamu berbohong? Aku hanya menyuruhmu untuk mengatakan hal itu saja.”

Perlu diketahui, Aswathama adalah anak tunggal kesayangan resi Durna, hasil perkawinannya dengan Kripi.

“Benar, guru. Aswathama seekor gajah telah mati,” jawab Yudhistira sedih serta kecewa. Ia melantangkan kata Aswathama, tapi merendahkan kata seekor gajah. Kemudian kata telah mati dikeraskan kembali. Pendengaran resi Durna bermasalah akibat peristiwa penganiayaan yang menimpa dirinya dikala muda serta lengkung usia. Jadi yang terdengar, Aswathama……telah mati. Khresna tersenyum mendengarnya.

Mendengar ucapan itu, resi Durna lunglai. Kesedihan merajam. Menurutnya, dunia telah sirna. Akhirnya ia meletakkan senjatanya. Dalam kondisi duduk bersimpuh belum sempurna, kepalanya ditebas oleh Drestyajumena yang pada saat itu kemasukan arwah Bambang Ekalaya atau Palgunadi. Tindakan tak patut itu mendapat kritik pedas dari Arjuna dan Setyaki.

“Tidak pantas seorang ksatria membunuh lawannya yang belum siap,” teriak Arjuna marah.

“Apa pun alasannya, berhadap-hadapan muka adalah pertarungan yang paling beretika,” sembur Setyaki murka.

Drestyajumena menyesal atas tindakannya.

Kejadian tersebut sampai ke telinga Aswathama, hingga emosinya meledak. Ketika perang usai, dan pihak Kurawa hanya menyisakan guru Krepa, Kartomarmo serta dirinya. Otaknya merencanakan balas dendam. Pada suatu malam yang panjang, pasukan Panchala ia habisi. Ketika tertidur pulas, kepala Drestyajumena ia pisahkan dari tubuhnya. Tubuh Srikandi ia mutilasi menjadi beberapa bagian. Anak-anak Pandawa ia bunuh ketika sedang tidur nyenyak di sebuah tenda perkemahan.

“Kau tahu itu akan terjadi, tapi kenapa tidak kau cegah,” tanya pria itu. “Kalau kau mau sebenarnya bisa.”

“Aku tidak mau merusak hal yang sudah di suratkan. Aswathama harus menjalankan dendamnya sebagai karma bagi Pandawa,” lanjut Semar. “Kalau tidak, keturunan Pandawa akan terseok-seok di kehidupan selanjutnya!”

Semuanya menjadi jelas. Tabir rahasia itu membuka diri.

“Kau tahu banyak hal, tapi selalu kau sembunyikan,” ucap si pria itu, “Kenapa?”

Semar kembali menuangkan adonan. Ia berhenti menanggapi segala pertanyaan pria itu. Sebelumnya, adonan diaduk kembali sebelum di tuang ke wajan.

Adonan serabi Semar bukan sekadar tepung beras dan santan. Ia mencampurkan dengan abu Kurusetra, hasil kristalisasi dari tanah yang menyerap darah ribuan prajurit, ditambah doa yang dipanjatkan terburu-buru, hingga sumpah yang batal ditepati, juga kutukan dari hati yang sakit, bersama dendam yang terbukti.

Ia menumbuknya hingga lembut, sampai tak bisa dibedakan mana yang tepung beras, mana abu Kurusetra. Karena saking halusnya.

Semar tidak membunuh Aswathama. Karena putra resi Durna itu telah dikutuk Khresna menderita penyakit lepra(kusta) hingga mengembara di bumi selama 3000 tahun tanpa rasa kasih sayang. Ia luntang lantung sembari menunggu sukmanya merepih. Dalam kondisi lelah ia bisa merubah dirinya menjadi udara yang bergerak, melanjutkan pengembaraannya. Belantara hutan, semenanjung, hamparan gurun, jantung pegunungan, lautan, menjadi hari-hari pelunasan diri.

Ketika pria itu menghabiskan serabinya, tubuhnya lenyap seperti kepulan asap dari api yang padam. Sejak awal Semar tahu kalau pria itu adalah Aswathama. Tugasnya telah selesai. Semar dan Aswathama menggenapi takdir masing-masing.

Segera Semar menutup lapaknya. Tungku dibongkar. Api arang disiram. Sisa adonan terakhir ditanam di lahan belakang padepokan. Dari situ tumbuh bulir-bulir padi sangat lebat sampai merunduk. Semar meninggalkan warisan padi jenis baru. Hanya saja bukan varietas padi unggul.

Penduduk kecewa. Mereka bertanya-tanya, kenapa Ki lurah Semar menutup lapaknya? Tapi tidak pernah mendapat jawaban pasti.

Sejak hari itu, Karang Kadhempel hilang keramaiannya. Tidak ada lagi seloroh, celoteh yang menguliti kelakuan petinggi kerajaan atau utusan kahyangan. Apalagi cerita tentang perang besar. Seolah dunia kehilangan selera terhadapnya.

Dan Semar, seperti yang selalu ia lakukan, berjalan pergi melenggak-lenggok bersama pantat besarnya, meninggalkan satu kebenaran yang tak pernah dicatat kitab mana pun,

“Kejahatan paling kejam tidak dikalahkan oleh senjata, melainkan dengan dipaksa menjadi makanan kegemaran banyak orang,” ucapnya.

Semar dan Khresna tidak pernah menyebut diri sebagai penyelamat. Keduanya mengetahui persis peran masing-masing di babagan lakon. Bukan untuk menghapus kejahatan, melainkan mengatur agar kejahatan tidak lagi mengganggu jalannya pemerintahan.

Mereka cerdik, bagaimana caranya menjaga kebenaran sekaligus mengelola kebohongan. Kelihatannya munafik, namun tanpa orang-orang seperti mereka, kekuasaan akan bekerja lebih brutal, jauh dari kompas moral. [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Next Post

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails
Next Post
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Tak Ada Kata Terlambat ---Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga 'The Turning Point Fritjof Capra'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co