15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
in Cerpen
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belakang Pandawa, atau menunduk pada tahta Amartapura. Raga dan pikirannya memberi alarm, bahwa dirinya sudah terlalu lama berada di lingkar kekuasaan. Ini tidak baik, harus diakhiri. Sekarang hasratnya mengerucut, ingin mengurus perut rakyat. Maka ditempuhlah jalan paling sederhana, yaitu menjadi kawulo alit.

Semar tahu, kesehatan tubuh bisa bertahan lama jika diimbangi dengan aktivitas yang rutin. Rutinitas itu akan membuat otaknya tidak tumpul, tetap sehat serta stabil. Oleh karena itu, ia berniat jualan makanan.

Di Karang Kadhempel, wilayah perdikan yang tidak mempunyai kewajiban menyetor pajak ke kas kerajaan, Semar memulainya dengan membuat beberapa tungku dari tanah liat. Menyiapkan arang, penjepit, kipas bambu, dingklik (kursi pendek).

Setiap pagi buta, saat embun masih ragu-ragu untuk turun, ia sudah menggerakkan tangan, menaikturunkan alu kayu untuk menumbuk beras menjadi tepung, kemudian di ayak, sebelum mencampurnya dengan santan kelapa tua, dan meracik menjadi jladren(adonan). Tangannya bekerja cekatan nan terukur, seolah setiap gerak menyimpan konsekuensi.

Ia membuat serabi.

Kenapa harus serabi? Karena bahan dasarnya mudah diperoleh di tempatnya. Beras melimpah ruah, santan tinggal memetik kelapa yang pohonnya berjejeran di pelosok desa, dan satu hal lain yang lebih penting, yaitu, ketiadaan penganan lain yang mampu meninggalkan kesan.

Didepan lapaknya tertancap papan kayu bertulisan Serabi Semar Pagi, dengan tagline Kudapan klasik penghapus dendam sekaligus pelipur lara. Ia memilih Karang Kadhempel sebagai pusat unjuk usaha bukan karena sunyi, melainkan karena mudah diakses oleh siapa pun yang kelaparan-mantan prajurit, janda, pejabat kecil, kurir istana. Semua butuh kudapan.

Serabi itu istimewa kalau pun boleh disebut aneh. Lembutnya tidak wajar. Manisnya melekat berpadu gurih menetap lama di syaraf pengecap. Harumnya menusuk penciuman bak purnama memberi penerang pada pengembara malam. Orang-orang bilang, sekali mencicipi, lidah tak lagi bisa berdusta pada kualitas makanan lain. Kelezatan serabi mengundang para kawulo berdatangan dari berbagai tempat. Bahkan serombongan utusan kahyangan rela antre duduk di bale-bale bambu, berbaur bersama rakyat jelata.

Mereka datang juga sekalian bercerita tentang hal-hal usai perang. Semar mendengarkan dengan tekun. Syaraf-syaraf telinganya menegang mengendur untuk memetakan potensi-potensi. Siapa yang cepat marah sekaligus mudah lelah, yang gampang di provokasi, atau siapa yang suatu hari nanti akan membuat huru-hara, menimbulkan gangguan keamanan.

Ia mencatat di kepalanya, karena otaknya terbiasa menempelkan tanda-tanda.

“Ini bukan serabi,” kata utusan itu pelan, setelah suapan pertama. “Ini welas asih dari hati paling jujur, paling bijaksana, paling luhur!”

Semar hanya tersenyum mesem.

“Benar,” ujar yang lain. “Cita rasa dari kedalaman batin seorang penasihat unggul.”

Gerak tangan Semar menuju wajan tanah liat untuk menukil adonan yang telah matang. Dijejerkan selarik demi selarik pada tampah. Bau khasnya kian menggoyang hasrat untuk mengudap. 

Siapa pun boleh mengambil. Karena memang sejak awal sudah di niatkan gratis. Asal sopan serta mematuhi syarat lain yang tidak tertulis. Harus dihabiskan sampai remah terakhir. Tidak boleh meninggalkan sisa, walaupun secuil. Jika nekat, dipastikan malamnya akan di hantui mimpi buruk berwujud seringai mayat-mayat yang menumpuk di medan perang, jerit yang tak selesai akibat lidah dibetot dari anak tekaknya, tangan-tangan yang belepotan darah kental, juga tentang kepala-kepala pecah akibat hantaman gada rujakpolo milik Werkudoro.

Penduduk Karang Kadhempel mengucap syukur atas kemunculan lapak serabi Semar. Mereka merasakan, sejak Semar kembali ke padepokan dan berjualan serabi, desa itu bertambah sejahtera, aman, ayem tentrem. Nir pencurian, nir perkelahian. Bahkan kematian bukan hal yang menakutkan. Karena sudah terbiasa melihat mayat-mayat bergelimpangan kala perang terjadi.

Di hari yang dipenuhi semilir angin, datanglah seorang pensiunan prajurit membawa kemarahan yang masih mentah. Ia menyebut angka korban peperangan tidak sesuai dengan keyakinannya. Ia menyebut banyak perintah yang lolos dari pengamatan klerek(juru tulis).

Semar menyajikan serabi tanpa menatapnya.

“Kerajaan melakukan manipulasi data,” ujarnya marah.

“Kau ingin keadilan,” tanya Semar datar sembari menyuruhnya duduk. Ia memilihkan serabi yang paling tebal.

Prajurit itu mengangguk. Tangannya menjumput kemudian mengunyah dengan perlahan. Parasnya sedikit terkendali.

“Perang hanya menyengsarakan rakyat. Itulah bentuk egoisme para petinggi kerajaan,” ucapnya pedih.

“Semua pihak menderita. Untungnya, perang sudah berakhir,” kata Semar. “Kerajaan ingin kedamaian serta kesejahteraan berputar kembali. Saatnya membangun, saling sengkuyung(mendukung)!”

Prajurit itu menikmati kelembutan. Ia tidak perlu diyakinkan. Semar ngerti sak durunge winarah (paham sebelum diberitahu), bekas prajurit itu hanya lelah batin. Keesokan harinya, ia kembali ke sawah ladangnya dengan kemarahan yang belum pupus.

“Rakyat hanya butuh kepastian tentang perutnya. Kerajaan wajib memastikan mereka tidak kelaparan,” lirih Semar. “Ini lebih efektif dari pada nggedabrus (membual atau berbicara tanpa fakta) yang dibalut retorika dalam pidato!”

Tiba-tiba Semar menolehkan wajahnya ke satu arah mata angin. Dari jauh dilihatnya, sebuah titik kecil tampak mendekati keberadaan dirinya.

“Dia telah datang,” lirih Semar. Mulutnya komat-kamit merapal mantra kesegaran. Sebuah cara mengantisipasi kegaduhan.

Ternyata semakin dekat mewujud sesosok pria bertubuh tinggi besar, berkulit ireng njanges (hitam pekat) dengan mata biru. Badannya penuh luka yang menjijikkan. Kedatangannya dibarengi dengan langkah kurang bertenaga, wajah muram, lelah, menggambarkan gilasan penderitaan. Sepertinya, kakinya telah melakukan perjalanan yang sungguh jauh. Ia tidak menyebutkan namanya, hanya melagukan ratapan, “Oh, Batara. Bisakah kau cabut kutukan ini? Penderitaanku sungguh berat. Inginku akhiri semuanya.”

Semar tidak menggubris. Ia disibukkan dengan adonannya. Cairan kental itu di aduk supaya serabi terbentuk sesempurna mungkin. Api di kendalikan, ditambah diturunkan. Menuangkan adonan dengan sangat hati-hati.

“Apa hubungan serabi dengan perang?” tanya pria itu.

Semar belum terusik oleh pertanyaannya. Ia menunggu hingga serabi matang sempurna, baru menjawab, “Perang tidak pernah selesai di medan laga”, jawabnya. “Sedangkan serabi adalah penyembuh duka bagi yang lara!”

Semar berharap, serabi buatannya mampu mengubah seseorang yang keji, bangsat, penipu, bajingan korup, menjadi beradab dan mendapat pencerahan batin.

Pria itu menggigit serabi sedikit tergesa. Tangannya bergetar, sulit dihentikan. Setelah serabi ketiga masuk ke mulut, ia menangis tersedu-sedu. Tubuhnya lunglai, jatuh, seperti benteng tua yang rata dengan tanah.

“Aswathama tidak pernah mati,” katanya. “Ia hanya dikubur hidup-hidup oleh ingatan. Ia menyesali perbuatannya!”

Pria itu berurai air mata. Ia bersandar pada tonggak kayu penyangga lapak. Wajahnya kuyu, menggambarkan penderitaan yang terlalu panjang.

Semar mengangguk, kemudian berkata, “Aswathama membunuh karena dendam memang harus dibayarkan.”

Semua berawal dari tipu daya pihak Pandawa yang mengakibatkan resi Durna gugur. Panglima Kurawa itu menerima kabar peperangan di hari ke 15, kalau Aswathama mati. Guru dari Pandawa dan Kurawa itu menanyakan pada pihak Pandawa apakah memang benar kabar tersebut. Taktik licik Khresna untuk melemahkan mental Durna dan mengangkat kemenangan Pandawa membuatnya bertindak curang.

Khresna punya pendapat, dalam dunia yang sudah sedemikian bobrok, kemenangan sering tidak bisa dicapai jika terlalu saklek mematuhi aturan. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan yang secara moral sedikit kotor untuk mempertahankan dharma. Karena kalau Pandawa tetap berpegang teguh pada aturan ksatria, mereka kemungkinan akan kalah.

Akhirnya semua bersepakat, mengangguk meyakini, kalau Aswathama memang mati.

Bermula dari tindakan Werkudoro-atas perintah Khresna-yang membunuh seekor gajah bernama Aswathama. Kemudian ia berteriak, “Aswathama mati!” Teriakan itu diulang-ulang dan menyesaki palagan perang. Tapi resi Durna belum percaya. Untuk terakhir kalinya, ia menanyakan pada Yudhistira, manusia paling jujur yang tidak pernah sekalipun berdusta selama hidup. Di atas kereta perang dengan Khresna sebagai kusirnya, Yudhistira menatap gurunya yang berjalan lambat.

“Muridku, Yudhistira. Apakah memang benar Aswathama mati?”

Yudhistira tercekat. Ini pertanyaan paling krusial. Sebelumnya Khresna telah mewanti-wanti Yudhistira untuk menjalankan skenario guna mematahkan mental resi Durna.

“Kanda Khresna, saya tidak mau berbohong!”

“Siapa yang menyuruh kamu berbohong? Aku hanya menyuruhmu untuk mengatakan hal itu saja.”

Perlu diketahui, Aswathama adalah anak tunggal kesayangan resi Durna, hasil perkawinannya dengan Kripi.

“Benar, guru. Aswathama seekor gajah telah mati,” jawab Yudhistira sedih serta kecewa. Ia melantangkan kata Aswathama, tapi merendahkan kata seekor gajah. Kemudian kata telah mati dikeraskan kembali. Pendengaran resi Durna bermasalah akibat peristiwa penganiayaan yang menimpa dirinya dikala muda serta lengkung usia. Jadi yang terdengar, Aswathama……telah mati. Khresna tersenyum mendengarnya.

Mendengar ucapan itu, resi Durna lunglai. Kesedihan merajam. Menurutnya, dunia telah sirna. Akhirnya ia meletakkan senjatanya. Dalam kondisi duduk bersimpuh belum sempurna, kepalanya ditebas oleh Drestyajumena yang pada saat itu kemasukan arwah Bambang Ekalaya atau Palgunadi. Tindakan tak patut itu mendapat kritik pedas dari Arjuna dan Setyaki.

“Tidak pantas seorang ksatria membunuh lawannya yang belum siap,” teriak Arjuna marah.

“Apa pun alasannya, berhadap-hadapan muka adalah pertarungan yang paling beretika,” sembur Setyaki murka.

Drestyajumena menyesal atas tindakannya.

Kejadian tersebut sampai ke telinga Aswathama, hingga emosinya meledak. Ketika perang usai, dan pihak Kurawa hanya menyisakan guru Krepa, Kartomarmo serta dirinya. Otaknya merencanakan balas dendam. Pada suatu malam yang panjang, pasukan Panchala ia habisi. Ketika tertidur pulas, kepala Drestyajumena ia pisahkan dari tubuhnya. Tubuh Srikandi ia mutilasi menjadi beberapa bagian. Anak-anak Pandawa ia bunuh ketika sedang tidur nyenyak di sebuah tenda perkemahan.

“Kau tahu itu akan terjadi, tapi kenapa tidak kau cegah,” tanya pria itu. “Kalau kau mau sebenarnya bisa.”

“Aku tidak mau merusak hal yang sudah di suratkan. Aswathama harus menjalankan dendamnya sebagai karma bagi Pandawa,” lanjut Semar. “Kalau tidak, keturunan Pandawa akan terseok-seok di kehidupan selanjutnya!”

Semuanya menjadi jelas. Tabir rahasia itu membuka diri.

“Kau tahu banyak hal, tapi selalu kau sembunyikan,” ucap si pria itu, “Kenapa?”

Semar kembali menuangkan adonan. Ia berhenti menanggapi segala pertanyaan pria itu. Sebelumnya, adonan diaduk kembali sebelum di tuang ke wajan.

Adonan serabi Semar bukan sekadar tepung beras dan santan. Ia mencampurkan dengan abu Kurusetra, hasil kristalisasi dari tanah yang menyerap darah ribuan prajurit, ditambah doa yang dipanjatkan terburu-buru, hingga sumpah yang batal ditepati, juga kutukan dari hati yang sakit, bersama dendam yang terbukti.

Ia menumbuknya hingga lembut, sampai tak bisa dibedakan mana yang tepung beras, mana abu Kurusetra. Karena saking halusnya.

Semar tidak membunuh Aswathama. Karena putra resi Durna itu telah dikutuk Khresna menderita penyakit lepra(kusta) hingga mengembara di bumi selama 3000 tahun tanpa rasa kasih sayang. Ia luntang lantung sembari menunggu sukmanya merepih. Dalam kondisi lelah ia bisa merubah dirinya menjadi udara yang bergerak, melanjutkan pengembaraannya. Belantara hutan, semenanjung, hamparan gurun, jantung pegunungan, lautan, menjadi hari-hari pelunasan diri.

Ketika pria itu menghabiskan serabinya, tubuhnya lenyap seperti kepulan asap dari api yang padam. Sejak awal Semar tahu kalau pria itu adalah Aswathama. Tugasnya telah selesai. Semar dan Aswathama menggenapi takdir masing-masing.

Segera Semar menutup lapaknya. Tungku dibongkar. Api arang disiram. Sisa adonan terakhir ditanam di lahan belakang padepokan. Dari situ tumbuh bulir-bulir padi sangat lebat sampai merunduk. Semar meninggalkan warisan padi jenis baru. Hanya saja bukan varietas padi unggul.

Penduduk kecewa. Mereka bertanya-tanya, kenapa Ki lurah Semar menutup lapaknya? Tapi tidak pernah mendapat jawaban pasti.

Sejak hari itu, Karang Kadhempel hilang keramaiannya. Tidak ada lagi seloroh, celoteh yang menguliti kelakuan petinggi kerajaan atau utusan kahyangan. Apalagi cerita tentang perang besar. Seolah dunia kehilangan selera terhadapnya.

Dan Semar, seperti yang selalu ia lakukan, berjalan pergi melenggak-lenggok bersama pantat besarnya, meninggalkan satu kebenaran yang tak pernah dicatat kitab mana pun,

“Kejahatan paling kejam tidak dikalahkan oleh senjata, melainkan dengan dipaksa menjadi makanan kegemaran banyak orang,” ucapnya.

Semar dan Khresna tidak pernah menyebut diri sebagai penyelamat. Keduanya mengetahui persis peran masing-masing di babagan lakon. Bukan untuk menghapus kejahatan, melainkan mengatur agar kejahatan tidak lagi mengganggu jalannya pemerintahan.

Mereka cerdik, bagaimana caranya menjaga kebenaran sekaligus mengelola kebohongan. Kelihatannya munafik, namun tanpa orang-orang seperti mereka, kekuasaan akan bekerja lebih brutal, jauh dari kompas moral. [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Next Post

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Tak Ada Kata Terlambat ---Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga 'The Turning Point Fritjof Capra'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co