15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 26, 2026
in Esai
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Ilustrasi tatkala.co

“Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya.”

KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaban Swami Vivekananda kepada murid-muridnya itu mengandung makna yang jauh melampaui persoalan moralitas. Ketika ada yang mengeluhkan bahwa perempuan-perempuan yang dianggap “tidak bermoral” sering memasuki kamar tempat Sri Ramakrishna dahulu tinggal, Vivekananda justru menjawab bahwa mereka memang boleh datang, sebab Sang Guru hadir justru untuk mereka yang telah jatuh. Jawaban itu bukan pembenaran terhadap perilaku yang menyimpang, melainkan penegasan bahwa kasih seorang guru melampaui stigma sosial. Guru sejati tidak datang untuk mengumpulkan orang-orang yang sudah merasa suci, tetapi untuk membangunkan mereka yang masih tertidur dalam ketidaksadaran.

Jawaban Vivekananda mengingatkan kita bahwa inti spiritualitas bukanlah penghukuman, melainkan transformasi. Dunia sering kali lebih mudah mengingat kesalahan seseorang daripada perjuangannya untuk berubah. Sekali seseorang diberi cap sebagai pendosa, penjahat, atau orang gagal, label itu seakan melekat seumur hidup. Akan tetapi, sejarah para mahaguru justru menunjukkan hal yang berbeda. Mereka melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh kebanyakan orang, yaitu potensi Ilahi yang masih tersembunyi di balik segala kelemahan manusia. Cara pandang inilah yang menjadi dasar seluruh perjalanan spiritual.

Guru Sejati Tidak Datang untuk Menghakimi

Dalam kehidupan modern, budaya menghakimi berkembang begitu cepat. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi hakim bagi orang lain hanya dalam hitungan detik. Kesalahan seseorang dapat tersebar luas, sementara proses pertobatan dan perubahan sering kali luput dari perhatian. Akibatnya, masyarakat lebih mengenal dosa daripada kemungkinan lahirnya kebajikan. Kita lebih mudah mengingat siapa seseorang dahulu dibandingkan melihat siapa dirinya hari ini.

Berbeda dengan kecenderungan tersebut, para guru spiritual selalu memandang manusia sebagai makhluk yang sedang bertumbuh. Mereka tidak mengingkari adanya karma maupun tanggung jawab moral, tetapi mereka juga tidak menutup pintu bagi pertobatan. Dalam tradisi Sanātana Dharma, Tuhan dikenal sebagai Patita Pavana, penyelamat mereka yang jatuh. Sebutan ini mengandung makna yang sangat mendalam bahwa belas kasih Ilahi tidak pernah berhenti hanya karena manusia pernah melakukan kesalahan. Selama masih ada kesadaran untuk berubah, selalu ada jalan kembali menuju dharma.

Seorang dokter tidak membuka praktik untuk orang-orang yang sehat. Seorang guru tidak mengajar murid yang sudah mengetahui semuanya. Demikian pula seorang guru spiritual. Kehadirannya memperoleh makna justru karena masih ada manusia yang terluka, tersesat, dan kehilangan arah. Oleh sebab itu, Sri Ramakrishna tidak pernah membatasi kasihnya hanya kepada mereka yang dianggap saleh. Kasih seorang guru bukanlah hadiah bagi orang yang sempurna, melainkan jembatan bagi mereka yang ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Ratnakara dan Lubdhaka: Cahaya Selalu Menemukan Jalannya

Kisah Ratnakara merupakan salah satu contoh transformasi terbesar dalam tradisi Hindu. Sebelum dikenal sebagai Maharsi Valmiki, ia adalah seorang perampok yang hidup dari kekerasan. Hidupnya berubah bukan karena hukuman yang keras, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana dari Resi Narada mengenai siapa yang bersedia menanggung akibat karmanya. Pertanyaan itu mengguncang kesadarannya lebih kuat daripada ancaman apa pun. Ia mulai melihat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipikul sendiri.

Ratnakara kemudian menjalani tapa yang sangat panjang hingga tubuhnya tertutup sarang semut atau valmika. Dari pengalaman itulah lahir nama Valmiki. Yang menarik, Tuhan tidak menghapus masa lalunya. Justru pengalaman kelam itu menjadi fondasi kebijaksanaan yang membuatnya mampu menulis Ramayana, salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah umat manusia. Masa lalu ternyata tidak selalu menjadi beban; ia dapat menjadi pupuk bagi lahirnya kebijaksanaan apabila diolah melalui kesadaran.

Pesan serupa terdapat dalam kisah Lubdhaka yang dikaitkan dengan perayaan Maha Sivaratri. Lubdhaka hanyalah seorang pemburu biasa. Ia bukan seorang resi, bukan pula ahli kitab suci. Namun melalui pengalaman yang tampaknya sederhana, ia memperoleh anugerah Siwa. Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Ilahi tidak bekerja berdasarkan status sosial maupun reputasi seseorang. Yang dilihat bukanlah penampilan luar, melainkan kesiapan hati untuk terbuka terhadap cahaya kesadaran.

Pancamaya Kośa dan Peta Kesadaran Hawkins

Mengapa manusia dapat berubah sedemikian besar? Filsafat Vedanta memberikan jawaban melalui konsep Pañcamaya Kośa, yaitu lima lapis kesadaran manusia. Yang mengalami kekotoran bukanlah Ātman, melainkan lapisan-lapisan yang membungkusnya. Tubuh dapat melakukan kesalahan, pikiran dapat dipenuhi kebencian, ego dapat dikuasai keserakahan, tetapi hakikat terdalam manusia tetap murni. Spiritualitas adalah proses membersihkan diri agar cahaya Ātman kembali bersinar.

Pandangan tersebut memiliki keselarasan yang menarik dengan peta kesadaran David R. Hawkins. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat bergerak dari tingkat kesadaran rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, kasih, damai, hingga pencerahan. Dengan demikian, seseorang tidak selamanya terperangkap dalam satu tingkat kesadaran. Evolusi batin selalu mungkin terjadi selama seseorang mau belajar, merenung, dan memperbaiki dirinya.

Ratnakara mengalami lompatan kesadaran. Lubdhaka mengalami lompatan kesadaran. Orang-orang yang oleh masyarakat disebut sebagai “the fallen” pun memiliki kemungkinan yang sama. Karena itu, spiritualitas tidak berhenti di satu titik tetapi sebuah proses perjalanan. Spiritualitas selalu bertanya bagaimana seseorang dapat bertumbuh menjadi lebih sadar.

The Turning Point: Revolusi Cara Pandang

Dalam The Turning Point, Fritjof Capra menjelaskan bahwa krisis terbesar umat manusia bukan pertama-tama krisis ekonomi, politik, ataupun lingkungan hidup. Akar dari berbagai persoalan tersebut adalah krisis cara pandang (crisis of perception). Dunia modern terlalu lama dibangun di atas paradigma mekanistik yang melihat manusia sebagai kumpulan bagian-bagian yang dapat dipisahkan, dikategorikan, dan diberi label. Akibatnya, manusia kehilangan pandangan yang utuh terhadap kehidupan.

Apabila gagasan Capra dibaca bersama kisah Ratnakara, Lubdhaka, dan ajaran Sri Ramakrishna, tampak bahwa semuanya berbicara mengenai perubahan paradigma. Yang harus diubah bukan hanya perilaku seseorang, melainkan cara kita memandang dirinya. Selama kita melihat seseorang hanya dari masa lalunya, kita sebenarnya sedang mempertahankan paradigma lama. Paradigma baru memandang manusia sebagai makhluk yang terus berevolusi dalam kesadaran. Ia bukan hasil akhir, melainkan proses yang terus berlangsung.

Pandangan Capra juga sangat dekat dengan pemikiran Guruji Anand Krishna mengenai kesehatan holistik. Menurut Guruji Anand Krishna, manusia tidak dapat dipahami hanya dari tubuh fisiknya. Pikiran, emosi, energi kehidupan, nilai-nilai spiritual, bahkan hubungannya dengan alam semesta membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perubahan sejati selalu bersifat holistik. Ia bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan cara memandang diri sendiri, sesama, dan seluruh kehidupan.

Peradaban Baru Dimulai dari Kesempatan Kedua

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang tidak pernah menghukum kesalahan. Sebaliknya, hukum tetap harus ditegakkan demi keadilan. Akan tetapi, peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang mampu memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah. Menghukum tanpa membuka ruang rehabilitasi hanya akan melahirkan lingkaran kebencian yang tidak pernah berakhir. Belas kasih bukanlah lawan dari keadilan, melainkan penyempurnanya.

Narada melihat seorang resi di balik seorang perampok. Siwa melihat ketulusan di balik seorang pemburu. Sri Ramakrishna melihat kerinduan jiwa di balik mereka yang dicap masyarakat sebagai orang-orang yang telah jatuh. Fritjof Capra melihat masa depan dunia bergantung pada perubahan paradigma. David Hawkins melihat kemungkinan kenaikan kesadaran setiap manusia. Guruji Anand Krishna mengajak kita membangun kesehatan holistik melalui transformasi batin. Meskipun lahir dari zaman dan latar belakang yang berbeda, semuanya menunjuk kepada arah yang sama, yaitu bahwa perubahan sejati selalu berawal dari kesadaran.

Inilah pelajaran terbesar yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Kita hidup di zaman yang begitu cepat memberi cap, tetapi begitu lambat memberi kesempatan. Padahal sejarah membuktikan bahwa manusia-manusia besar sering lahir dari titik balik kehidupannya, bukan dari kesempurnaannya. Ratnakara menjadi Valmiki bukan karena ia tidak pernah berdosa, melainkan karena ia berani berubah. Lubdhaka memperoleh anugerah bukan karena ia telah sempurna, melainkan karena hatinya akhirnya terbuka. Sri Ramakrishna menerima mereka yang dianggap jatuh karena beliau melihat kemungkinan yang belum mampu dilihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, perubahan terbesar dalam sejarah bukanlah ketika manusia menemukan teknologi baru, membangun kota-kota megah, atau mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa. Perubahan terbesar terjadi ketika kesadaran berbalik arah (turning point), dari ego menuju kasih, dari penghukuman menuju pembinaan, dari keterpisahan menuju kesatuan, dan dari kegelapan menuju terang. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk mengubah kesadarannya, selama itu pula tidak ada jiwa yang benar-benar terlambat. Itulah harapan abadi yang diajarkan oleh para mahaguru lintas zaman: setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada dharma, menemukan hakikat dirinya sebagai Ātman, dan ikut membangun peradaban yang lebih utuh, lebih holistik, dan lebih manusiawi. Inner Peace Communal Love Global Harmony, sebagaimana misi Anand Ashram Foundation. [T]

Tags: Fritjof CapraLubdaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co