5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 26, 2026
in Esai
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Ilustrasi tatkala.co

“Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya.”

KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaban Swami Vivekananda kepada murid-muridnya itu mengandung makna yang jauh melampaui persoalan moralitas. Ketika ada yang mengeluhkan bahwa perempuan-perempuan yang dianggap “tidak bermoral” sering memasuki kamar tempat Sri Ramakrishna dahulu tinggal, Vivekananda justru menjawab bahwa mereka memang boleh datang, sebab Sang Guru hadir justru untuk mereka yang telah jatuh. Jawaban itu bukan pembenaran terhadap perilaku yang menyimpang, melainkan penegasan bahwa kasih seorang guru melampaui stigma sosial. Guru sejati tidak datang untuk mengumpulkan orang-orang yang sudah merasa suci, tetapi untuk membangunkan mereka yang masih tertidur dalam ketidaksadaran.

Jawaban Vivekananda mengingatkan kita bahwa inti spiritualitas bukanlah penghukuman, melainkan transformasi. Dunia sering kali lebih mudah mengingat kesalahan seseorang daripada perjuangannya untuk berubah. Sekali seseorang diberi cap sebagai pendosa, penjahat, atau orang gagal, label itu seakan melekat seumur hidup. Akan tetapi, sejarah para mahaguru justru menunjukkan hal yang berbeda. Mereka melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh kebanyakan orang, yaitu potensi Ilahi yang masih tersembunyi di balik segala kelemahan manusia. Cara pandang inilah yang menjadi dasar seluruh perjalanan spiritual.

Guru Sejati Tidak Datang untuk Menghakimi

Dalam kehidupan modern, budaya menghakimi berkembang begitu cepat. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi hakim bagi orang lain hanya dalam hitungan detik. Kesalahan seseorang dapat tersebar luas, sementara proses pertobatan dan perubahan sering kali luput dari perhatian. Akibatnya, masyarakat lebih mengenal dosa daripada kemungkinan lahirnya kebajikan. Kita lebih mudah mengingat siapa seseorang dahulu dibandingkan melihat siapa dirinya hari ini.

Berbeda dengan kecenderungan tersebut, para guru spiritual selalu memandang manusia sebagai makhluk yang sedang bertumbuh. Mereka tidak mengingkari adanya karma maupun tanggung jawab moral, tetapi mereka juga tidak menutup pintu bagi pertobatan. Dalam tradisi Sanātana Dharma, Tuhan dikenal sebagai Patita Pavana, penyelamat mereka yang jatuh. Sebutan ini mengandung makna yang sangat mendalam bahwa belas kasih Ilahi tidak pernah berhenti hanya karena manusia pernah melakukan kesalahan. Selama masih ada kesadaran untuk berubah, selalu ada jalan kembali menuju dharma.

Seorang dokter tidak membuka praktik untuk orang-orang yang sehat. Seorang guru tidak mengajar murid yang sudah mengetahui semuanya. Demikian pula seorang guru spiritual. Kehadirannya memperoleh makna justru karena masih ada manusia yang terluka, tersesat, dan kehilangan arah. Oleh sebab itu, Sri Ramakrishna tidak pernah membatasi kasihnya hanya kepada mereka yang dianggap saleh. Kasih seorang guru bukanlah hadiah bagi orang yang sempurna, melainkan jembatan bagi mereka yang ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Ratnakara dan Lubdhaka: Cahaya Selalu Menemukan Jalannya

Kisah Ratnakara merupakan salah satu contoh transformasi terbesar dalam tradisi Hindu. Sebelum dikenal sebagai Maharsi Valmiki, ia adalah seorang perampok yang hidup dari kekerasan. Hidupnya berubah bukan karena hukuman yang keras, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana dari Resi Narada mengenai siapa yang bersedia menanggung akibat karmanya. Pertanyaan itu mengguncang kesadarannya lebih kuat daripada ancaman apa pun. Ia mulai melihat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipikul sendiri.

Ratnakara kemudian menjalani tapa yang sangat panjang hingga tubuhnya tertutup sarang semut atau valmika. Dari pengalaman itulah lahir nama Valmiki. Yang menarik, Tuhan tidak menghapus masa lalunya. Justru pengalaman kelam itu menjadi fondasi kebijaksanaan yang membuatnya mampu menulis Ramayana, salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah umat manusia. Masa lalu ternyata tidak selalu menjadi beban; ia dapat menjadi pupuk bagi lahirnya kebijaksanaan apabila diolah melalui kesadaran.

Pesan serupa terdapat dalam kisah Lubdhaka yang dikaitkan dengan perayaan Maha Sivaratri. Lubdhaka hanyalah seorang pemburu biasa. Ia bukan seorang resi, bukan pula ahli kitab suci. Namun melalui pengalaman yang tampaknya sederhana, ia memperoleh anugerah Siwa. Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Ilahi tidak bekerja berdasarkan status sosial maupun reputasi seseorang. Yang dilihat bukanlah penampilan luar, melainkan kesiapan hati untuk terbuka terhadap cahaya kesadaran.

Pancamaya Kośa dan Peta Kesadaran Hawkins

Mengapa manusia dapat berubah sedemikian besar? Filsafat Vedanta memberikan jawaban melalui konsep Pañcamaya Kośa, yaitu lima lapis kesadaran manusia. Yang mengalami kekotoran bukanlah Ātman, melainkan lapisan-lapisan yang membungkusnya. Tubuh dapat melakukan kesalahan, pikiran dapat dipenuhi kebencian, ego dapat dikuasai keserakahan, tetapi hakikat terdalam manusia tetap murni. Spiritualitas adalah proses membersihkan diri agar cahaya Ātman kembali bersinar.

Pandangan tersebut memiliki keselarasan yang menarik dengan peta kesadaran David R. Hawkins. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat bergerak dari tingkat kesadaran rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, kasih, damai, hingga pencerahan. Dengan demikian, seseorang tidak selamanya terperangkap dalam satu tingkat kesadaran. Evolusi batin selalu mungkin terjadi selama seseorang mau belajar, merenung, dan memperbaiki dirinya.

Ratnakara mengalami lompatan kesadaran. Lubdhaka mengalami lompatan kesadaran. Orang-orang yang oleh masyarakat disebut sebagai “the fallen” pun memiliki kemungkinan yang sama. Karena itu, spiritualitas tidak berhenti di satu titik tetapi sebuah proses perjalanan. Spiritualitas selalu bertanya bagaimana seseorang dapat bertumbuh menjadi lebih sadar.

The Turning Point: Revolusi Cara Pandang

Dalam The Turning Point, Fritjof Capra menjelaskan bahwa krisis terbesar umat manusia bukan pertama-tama krisis ekonomi, politik, ataupun lingkungan hidup. Akar dari berbagai persoalan tersebut adalah krisis cara pandang (crisis of perception). Dunia modern terlalu lama dibangun di atas paradigma mekanistik yang melihat manusia sebagai kumpulan bagian-bagian yang dapat dipisahkan, dikategorikan, dan diberi label. Akibatnya, manusia kehilangan pandangan yang utuh terhadap kehidupan.

Apabila gagasan Capra dibaca bersama kisah Ratnakara, Lubdhaka, dan ajaran Sri Ramakrishna, tampak bahwa semuanya berbicara mengenai perubahan paradigma. Yang harus diubah bukan hanya perilaku seseorang, melainkan cara kita memandang dirinya. Selama kita melihat seseorang hanya dari masa lalunya, kita sebenarnya sedang mempertahankan paradigma lama. Paradigma baru memandang manusia sebagai makhluk yang terus berevolusi dalam kesadaran. Ia bukan hasil akhir, melainkan proses yang terus berlangsung.

Pandangan Capra juga sangat dekat dengan pemikiran Guruji Anand Krishna mengenai kesehatan holistik. Menurut Guruji Anand Krishna, manusia tidak dapat dipahami hanya dari tubuh fisiknya. Pikiran, emosi, energi kehidupan, nilai-nilai spiritual, bahkan hubungannya dengan alam semesta membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perubahan sejati selalu bersifat holistik. Ia bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan cara memandang diri sendiri, sesama, dan seluruh kehidupan.

Peradaban Baru Dimulai dari Kesempatan Kedua

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang tidak pernah menghukum kesalahan. Sebaliknya, hukum tetap harus ditegakkan demi keadilan. Akan tetapi, peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang mampu memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah. Menghukum tanpa membuka ruang rehabilitasi hanya akan melahirkan lingkaran kebencian yang tidak pernah berakhir. Belas kasih bukanlah lawan dari keadilan, melainkan penyempurnanya.

Narada melihat seorang resi di balik seorang perampok. Siwa melihat ketulusan di balik seorang pemburu. Sri Ramakrishna melihat kerinduan jiwa di balik mereka yang dicap masyarakat sebagai orang-orang yang telah jatuh. Fritjof Capra melihat masa depan dunia bergantung pada perubahan paradigma. David Hawkins melihat kemungkinan kenaikan kesadaran setiap manusia. Guruji Anand Krishna mengajak kita membangun kesehatan holistik melalui transformasi batin. Meskipun lahir dari zaman dan latar belakang yang berbeda, semuanya menunjuk kepada arah yang sama, yaitu bahwa perubahan sejati selalu berawal dari kesadaran.

Inilah pelajaran terbesar yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Kita hidup di zaman yang begitu cepat memberi cap, tetapi begitu lambat memberi kesempatan. Padahal sejarah membuktikan bahwa manusia-manusia besar sering lahir dari titik balik kehidupannya, bukan dari kesempurnaannya. Ratnakara menjadi Valmiki bukan karena ia tidak pernah berdosa, melainkan karena ia berani berubah. Lubdhaka memperoleh anugerah bukan karena ia telah sempurna, melainkan karena hatinya akhirnya terbuka. Sri Ramakrishna menerima mereka yang dianggap jatuh karena beliau melihat kemungkinan yang belum mampu dilihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, perubahan terbesar dalam sejarah bukanlah ketika manusia menemukan teknologi baru, membangun kota-kota megah, atau mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa. Perubahan terbesar terjadi ketika kesadaran berbalik arah (turning point), dari ego menuju kasih, dari penghukuman menuju pembinaan, dari keterpisahan menuju kesatuan, dan dari kegelapan menuju terang. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk mengubah kesadarannya, selama itu pula tidak ada jiwa yang benar-benar terlambat. Itulah harapan abadi yang diajarkan oleh para mahaguru lintas zaman: setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada dharma, menemukan hakikat dirinya sebagai Ātman, dan ikut membangun peradaban yang lebih utuh, lebih holistik, dan lebih manusiawi. Inner Peace Communal Love Global Harmony, sebagaimana misi Anand Ashram Foundation. [T]

Tags: Fritjof CapraLubdaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co