26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 26, 2026
in Esai
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Ilustrasi tatkala.co

“Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya.”

KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaban Swami Vivekananda kepada murid-muridnya itu mengandung makna yang jauh melampaui persoalan moralitas. Ketika ada yang mengeluhkan bahwa perempuan-perempuan yang dianggap “tidak bermoral” sering memasuki kamar tempat Sri Ramakrishna dahulu tinggal, Vivekananda justru menjawab bahwa mereka memang boleh datang, sebab Sang Guru hadir justru untuk mereka yang telah jatuh. Jawaban itu bukan pembenaran terhadap perilaku yang menyimpang, melainkan penegasan bahwa kasih seorang guru melampaui stigma sosial. Guru sejati tidak datang untuk mengumpulkan orang-orang yang sudah merasa suci, tetapi untuk membangunkan mereka yang masih tertidur dalam ketidaksadaran.

Jawaban Vivekananda mengingatkan kita bahwa inti spiritualitas bukanlah penghukuman, melainkan transformasi. Dunia sering kali lebih mudah mengingat kesalahan seseorang daripada perjuangannya untuk berubah. Sekali seseorang diberi cap sebagai pendosa, penjahat, atau orang gagal, label itu seakan melekat seumur hidup. Akan tetapi, sejarah para mahaguru justru menunjukkan hal yang berbeda. Mereka melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh kebanyakan orang, yaitu potensi Ilahi yang masih tersembunyi di balik segala kelemahan manusia. Cara pandang inilah yang menjadi dasar seluruh perjalanan spiritual.

Guru Sejati Tidak Datang untuk Menghakimi

Dalam kehidupan modern, budaya menghakimi berkembang begitu cepat. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi hakim bagi orang lain hanya dalam hitungan detik. Kesalahan seseorang dapat tersebar luas, sementara proses pertobatan dan perubahan sering kali luput dari perhatian. Akibatnya, masyarakat lebih mengenal dosa daripada kemungkinan lahirnya kebajikan. Kita lebih mudah mengingat siapa seseorang dahulu dibandingkan melihat siapa dirinya hari ini.

Berbeda dengan kecenderungan tersebut, para guru spiritual selalu memandang manusia sebagai makhluk yang sedang bertumbuh. Mereka tidak mengingkari adanya karma maupun tanggung jawab moral, tetapi mereka juga tidak menutup pintu bagi pertobatan. Dalam tradisi Sanātana Dharma, Tuhan dikenal sebagai Patita Pavana, penyelamat mereka yang jatuh. Sebutan ini mengandung makna yang sangat mendalam bahwa belas kasih Ilahi tidak pernah berhenti hanya karena manusia pernah melakukan kesalahan. Selama masih ada kesadaran untuk berubah, selalu ada jalan kembali menuju dharma.

Seorang dokter tidak membuka praktik untuk orang-orang yang sehat. Seorang guru tidak mengajar murid yang sudah mengetahui semuanya. Demikian pula seorang guru spiritual. Kehadirannya memperoleh makna justru karena masih ada manusia yang terluka, tersesat, dan kehilangan arah. Oleh sebab itu, Sri Ramakrishna tidak pernah membatasi kasihnya hanya kepada mereka yang dianggap saleh. Kasih seorang guru bukanlah hadiah bagi orang yang sempurna, melainkan jembatan bagi mereka yang ingin bertumbuh menuju kesempurnaan.

Ratnakara dan Lubdhaka: Cahaya Selalu Menemukan Jalannya

Kisah Ratnakara merupakan salah satu contoh transformasi terbesar dalam tradisi Hindu. Sebelum dikenal sebagai Maharsi Valmiki, ia adalah seorang perampok yang hidup dari kekerasan. Hidupnya berubah bukan karena hukuman yang keras, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana dari Resi Narada mengenai siapa yang bersedia menanggung akibat karmanya. Pertanyaan itu mengguncang kesadarannya lebih kuat daripada ancaman apa pun. Ia mulai melihat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipikul sendiri.

Ratnakara kemudian menjalani tapa yang sangat panjang hingga tubuhnya tertutup sarang semut atau valmika. Dari pengalaman itulah lahir nama Valmiki. Yang menarik, Tuhan tidak menghapus masa lalunya. Justru pengalaman kelam itu menjadi fondasi kebijaksanaan yang membuatnya mampu menulis Ramayana, salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah umat manusia. Masa lalu ternyata tidak selalu menjadi beban; ia dapat menjadi pupuk bagi lahirnya kebijaksanaan apabila diolah melalui kesadaran.

Pesan serupa terdapat dalam kisah Lubdhaka yang dikaitkan dengan perayaan Maha Sivaratri. Lubdhaka hanyalah seorang pemburu biasa. Ia bukan seorang resi, bukan pula ahli kitab suci. Namun melalui pengalaman yang tampaknya sederhana, ia memperoleh anugerah Siwa. Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Ilahi tidak bekerja berdasarkan status sosial maupun reputasi seseorang. Yang dilihat bukanlah penampilan luar, melainkan kesiapan hati untuk terbuka terhadap cahaya kesadaran.

Pancamaya Kośa dan Peta Kesadaran Hawkins

Mengapa manusia dapat berubah sedemikian besar? Filsafat Vedanta memberikan jawaban melalui konsep Pañcamaya Kośa, yaitu lima lapis kesadaran manusia. Yang mengalami kekotoran bukanlah Ātman, melainkan lapisan-lapisan yang membungkusnya. Tubuh dapat melakukan kesalahan, pikiran dapat dipenuhi kebencian, ego dapat dikuasai keserakahan, tetapi hakikat terdalam manusia tetap murni. Spiritualitas adalah proses membersihkan diri agar cahaya Ātman kembali bersinar.

Pandangan tersebut memiliki keselarasan yang menarik dengan peta kesadaran David R. Hawkins. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat bergerak dari tingkat kesadaran rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, kasih, damai, hingga pencerahan. Dengan demikian, seseorang tidak selamanya terperangkap dalam satu tingkat kesadaran. Evolusi batin selalu mungkin terjadi selama seseorang mau belajar, merenung, dan memperbaiki dirinya.

Ratnakara mengalami lompatan kesadaran. Lubdhaka mengalami lompatan kesadaran. Orang-orang yang oleh masyarakat disebut sebagai “the fallen” pun memiliki kemungkinan yang sama. Karena itu, spiritualitas tidak berhenti di satu titik tetapi sebuah proses perjalanan. Spiritualitas selalu bertanya bagaimana seseorang dapat bertumbuh menjadi lebih sadar.

The Turning Point: Revolusi Cara Pandang

Dalam The Turning Point, Fritjof Capra menjelaskan bahwa krisis terbesar umat manusia bukan pertama-tama krisis ekonomi, politik, ataupun lingkungan hidup. Akar dari berbagai persoalan tersebut adalah krisis cara pandang (crisis of perception). Dunia modern terlalu lama dibangun di atas paradigma mekanistik yang melihat manusia sebagai kumpulan bagian-bagian yang dapat dipisahkan, dikategorikan, dan diberi label. Akibatnya, manusia kehilangan pandangan yang utuh terhadap kehidupan.

Apabila gagasan Capra dibaca bersama kisah Ratnakara, Lubdhaka, dan ajaran Sri Ramakrishna, tampak bahwa semuanya berbicara mengenai perubahan paradigma. Yang harus diubah bukan hanya perilaku seseorang, melainkan cara kita memandang dirinya. Selama kita melihat seseorang hanya dari masa lalunya, kita sebenarnya sedang mempertahankan paradigma lama. Paradigma baru memandang manusia sebagai makhluk yang terus berevolusi dalam kesadaran. Ia bukan hasil akhir, melainkan proses yang terus berlangsung.

Pandangan Capra juga sangat dekat dengan pemikiran Guruji Anand Krishna mengenai kesehatan holistik. Menurut Guruji Anand Krishna, manusia tidak dapat dipahami hanya dari tubuh fisiknya. Pikiran, emosi, energi kehidupan, nilai-nilai spiritual, bahkan hubungannya dengan alam semesta membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perubahan sejati selalu bersifat holistik. Ia bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan cara memandang diri sendiri, sesama, dan seluruh kehidupan.

Peradaban Baru Dimulai dari Kesempatan Kedua

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang tidak pernah menghukum kesalahan. Sebaliknya, hukum tetap harus ditegakkan demi keadilan. Akan tetapi, peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang mampu memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah. Menghukum tanpa membuka ruang rehabilitasi hanya akan melahirkan lingkaran kebencian yang tidak pernah berakhir. Belas kasih bukanlah lawan dari keadilan, melainkan penyempurnanya.

Narada melihat seorang resi di balik seorang perampok. Siwa melihat ketulusan di balik seorang pemburu. Sri Ramakrishna melihat kerinduan jiwa di balik mereka yang dicap masyarakat sebagai orang-orang yang telah jatuh. Fritjof Capra melihat masa depan dunia bergantung pada perubahan paradigma. David Hawkins melihat kemungkinan kenaikan kesadaran setiap manusia. Guruji Anand Krishna mengajak kita membangun kesehatan holistik melalui transformasi batin. Meskipun lahir dari zaman dan latar belakang yang berbeda, semuanya menunjuk kepada arah yang sama, yaitu bahwa perubahan sejati selalu berawal dari kesadaran.

Inilah pelajaran terbesar yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Kita hidup di zaman yang begitu cepat memberi cap, tetapi begitu lambat memberi kesempatan. Padahal sejarah membuktikan bahwa manusia-manusia besar sering lahir dari titik balik kehidupannya, bukan dari kesempurnaannya. Ratnakara menjadi Valmiki bukan karena ia tidak pernah berdosa, melainkan karena ia berani berubah. Lubdhaka memperoleh anugerah bukan karena ia telah sempurna, melainkan karena hatinya akhirnya terbuka. Sri Ramakrishna menerima mereka yang dianggap jatuh karena beliau melihat kemungkinan yang belum mampu dilihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, perubahan terbesar dalam sejarah bukanlah ketika manusia menemukan teknologi baru, membangun kota-kota megah, atau mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa. Perubahan terbesar terjadi ketika kesadaran berbalik arah (turning point), dari ego menuju kasih, dari penghukuman menuju pembinaan, dari keterpisahan menuju kesatuan, dan dari kegelapan menuju terang. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk mengubah kesadarannya, selama itu pula tidak ada jiwa yang benar-benar terlambat. Itulah harapan abadi yang diajarkan oleh para mahaguru lintas zaman: setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada dharma, menemukan hakikat dirinya sebagai Ātman, dan ikut membangun peradaban yang lebih utuh, lebih holistik, dan lebih manusiawi. Inner Peace Communal Love Global Harmony, sebagaimana misi Anand Ashram Foundation. [T]

Tags: Fritjof CapraLubdaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co