5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
in Panggung
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di PKB 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang dipersembahkan Komunitas Seni Ni Pollok pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII. Legong memang ditunggu-tunggu semua penonton yang hadir.

Itu wajar, karena pergelaran ini menghadirkan rekonstruksi Tari Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis yang pernah dibawakan maestro legong Ni Pollok pada 1928, berdasarkan warisan gerak yang diwariskan langsung oleh gurunya dan disesuaikan dengan karakter tubuh serta kecantikannya.

Sejak tabuh pembuka dimainkan, ribuan pasang mata terpaku ke panggung. Kalangan Angsoka telah dipenuhi penonton jauh sebelum pertunjukan dimulai. Seniman, budayawan, akademisi hingga wisatawan rela bertahan di tempat duduk demi menyaksikan kebangkitan salah satu warisan seni Bali yang telah lama terpendam. Tak sedikit penonton yang ikut menari, walau itu hanya menggeraka kepala atau jemarinya.

“Melalui pementasan ini, Komunitas Ni Pollok berhasil menghidupkan kembali Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis dengan tetap mempertahankan keaslian pakem, kekuatan energi tari, serta penafsiran kisah Raden Panji yang presisi,” kata Koordinator Komunitas Ni Pollok, Kadek Sandra Widari.

Komunitas seni yang berbasis di Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar Timur, itu menyajikan pertunjukan yang sarat nilai filosofis dan spiritual, selaras dengan tema PKB tahun ini, “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha.” Pementasan tersebut menggambarkan perjalanan spiritual manusia menuju penyucian jiwa, melepaskan diri dari belenggu kegelapan hingga mencapai kesadaran suci yang paripurna.

Pertunjukan dibuka dengan Gending Jagul Bebarongan gaya Pagan yang merepresentasikan pergolakan batin manusia melalui gerak yang tegas, ritmis, dan penuh energi. Ketegangan yang tercipta menjadi simbol pertarungan antara dharma dan adharma sebagai bagian dari proses penyadaran diri.

Nuansa spiritual semakin kuat saat Tari Barong Ket ditampilkan sebagai simbol dharma sekaligus pelindung keseimbangan alam semesta. Pertemuan Barong dengan unsur-unsur negatif tidak dimaknai sekadar pertarungan antara baik dan buruk, melainkan refleksi perjalanan manusia dalam menemukan harmoni batin hingga mencapai kondisi siddha parisudha, yaitu kesadaran suci yang terbebas dari kekotoran pikiran dan keterikatan duniawi.

Selanjutnya, penonton disuguhkan Tabuh Petegak Palegongan Janger Omang-Omang yang menghadirkan dinamika kehidupan manusia di dunia sekala. Irama gamelan yang ritmis menggambarkan perjalanan manusia menghadapi godaan, kegelisahan, sekaligus harapan dalam menjalani kehidupan.

Puncak pertunjukan ditandai dengan pementasan Tari Legong Keraton Lasem yang mengisahkan perjalanan cinta Diah Rangkesari dan Raden Panji Inu Kertapati. Kisah tersebut juga menghadirkan Prabu Lasem yang jatuh hati kepada Diah Rangkesari. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena sang putri telah bertunangan dengan Panji Inu Kertapati. Penolakan itu memicu peperangan yang berujung pada kehancuran Prabu Lasem akibat kesombongan dan ketidakmampuannya membaca pertanda alam.

Kadek Sandra Widari mengatakan, dirinya menerima materi legong langsung dari pelatihan intensif bersama Ni Pollok semasa hidupnya. Sebagai menantu dari cucu Ni Pollok yang juga seorang lulusan seni, ia mampu menyerap seluruh teknik gerak halus hingga ekspresi dinamis sang maestro, yang kemudian diperkuat dengan dokumentasi video arsip masa lalu.

“Melalui harmoni gerak dan tabuh bergaya 1930-an, pementasan ini tidak sekadar menjadi tontonan estetis, melainkan sebuah tuntunan spiritual yang menyelaraskan batin manusia dengan nilai-nilai luhur Atma Kerthi,” ucap Kadek Sandra Widari.

Penata tari pementasan, Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti mengungkapkan, berdasarkan riset yang dilakukannya, kemunculan sosok Rangda tersebut secara struktural menggambarkan puncak kekuatan magis dan kemarahan Raden Inukertapati. “Tokoh Rangda ini menggambarkan kekuatan Raden Inukertapati yang diwujudkan dalam bentuk Rangda. Hal itu terlihat pula dari ucap-ucapannya ketika memaki,” jelas Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti.

Nilai mistis dan kehadiran topeng sakral inilah yang dinilai Kurator memberikan determinasi taksu yang kuat pada pementasan tersebut. Selain aspek struktural, keunikan pementasan ini terletak pada teknik gerak (abah) yang sangat spesifik milik mendiang Ni Pollok. Karakter tarian Ni Pollok dikenal memiliki energi yang meluap (over power) tanpa mengorbankan kelenturan.

Karakteristik ini meliputi gerakan badan, bahu yang lentur, serta kaki yang bergerak lincah dan sedikit diangkat (ngumbang) namun tetap kukuh pada pakem legong. “Ketajaman ekspresi mata (sledet) yang khas—tajam, namun tidak sampai mendelik—serta teknik gerak bergeser cepat (nyregseg) dan nguntang laras yang bergetar hingga ke bagian bancangan menjadi identitas utama yang berhasil dihidupkan kembali,” paparnya.

Maestro seni sekaligus Kurator Pesta Kesenian Bali, Prof. Dr. I Made Bandem mengatakan, pementasan ini merupakan sebuah capaian monumental dalam mengembalikan estetika lawas tanpa kehilangan kesakralannya. Komunitas Ni Pollok berhasil merekonstruksi, dan menghidupkan kembali legong klasik dari Kelandis yang ditarikan oleh Ni Pollok pada waktu itu.

“Komunitas ini merekonstruksi dan merevitalisasi Legong Klasik Lasem dengan cerita yang sangat tepat. Sekali lagi saya ucapkan selamat, baik kepada penari maupun penabuhnya. Gayanya sudah kembali pada gaya 1930-an,” ujar Prof. Bandem.

Kekhasan utama yang menjadi diferensiasi Legong Lasem Kelandis ini terletak pada struktur akhir pementasan. Berbeda dengan pakem Legong Lasem pada umumnya yang menampilkan tokoh burung Garuda (kedis goak) atau struktur gedong, versi Kelandis memunculkan sosok Rangda di akhir cerita. Kehadiran Rangda ini sempat memicu teka-teki akademis, namun berdasarkan penelitian mendalam, sosok tersebut merupakan manifestasi teologis dan psikologis yang spesifik.

Sementara itu, maestro seni tari Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengaku terkesan dengan sajian yang ditampilkan. Budayawan asal Gianyar ini menilai pertunjukan tersebut menunjukkan kekhasan yang membedakannya dari kelompok seni lainnya. “Yang saya sukai adalah tabuh bernuansa janger yang menjadi ciri khas sekaa ini. Kehadiran variasi-variasi seperti ini membuktikan bahwa PKB tidak monoton. Justru di dalam kontennya terdapat kreativitas dan kekhasan yang sangat menarik untuk dinikmati,” sebutnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Banjar Kelandislegonglegong klasikNi PollokPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Next Post

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co