15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
in Panggung
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di PKB 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang dipersembahkan Komunitas Seni Ni Pollok pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII. Legong memang ditunggu-tunggu semua penonton yang hadir.

Itu wajar, karena pergelaran ini menghadirkan rekonstruksi Tari Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis yang pernah dibawakan maestro legong Ni Pollok pada 1928, berdasarkan warisan gerak yang diwariskan langsung oleh gurunya dan disesuaikan dengan karakter tubuh serta kecantikannya.

Sejak tabuh pembuka dimainkan, ribuan pasang mata terpaku ke panggung. Kalangan Angsoka telah dipenuhi penonton jauh sebelum pertunjukan dimulai. Seniman, budayawan, akademisi hingga wisatawan rela bertahan di tempat duduk demi menyaksikan kebangkitan salah satu warisan seni Bali yang telah lama terpendam. Tak sedikit penonton yang ikut menari, walau itu hanya menggeraka kepala atau jemarinya.

“Melalui pementasan ini, Komunitas Ni Pollok berhasil menghidupkan kembali Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis dengan tetap mempertahankan keaslian pakem, kekuatan energi tari, serta penafsiran kisah Raden Panji yang presisi,” kata Koordinator Komunitas Ni Pollok, Kadek Sandra Widari.

Komunitas seni yang berbasis di Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar Timur, itu menyajikan pertunjukan yang sarat nilai filosofis dan spiritual, selaras dengan tema PKB tahun ini, “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha.” Pementasan tersebut menggambarkan perjalanan spiritual manusia menuju penyucian jiwa, melepaskan diri dari belenggu kegelapan hingga mencapai kesadaran suci yang paripurna.

Pertunjukan dibuka dengan Gending Jagul Bebarongan gaya Pagan yang merepresentasikan pergolakan batin manusia melalui gerak yang tegas, ritmis, dan penuh energi. Ketegangan yang tercipta menjadi simbol pertarungan antara dharma dan adharma sebagai bagian dari proses penyadaran diri.

Nuansa spiritual semakin kuat saat Tari Barong Ket ditampilkan sebagai simbol dharma sekaligus pelindung keseimbangan alam semesta. Pertemuan Barong dengan unsur-unsur negatif tidak dimaknai sekadar pertarungan antara baik dan buruk, melainkan refleksi perjalanan manusia dalam menemukan harmoni batin hingga mencapai kondisi siddha parisudha, yaitu kesadaran suci yang terbebas dari kekotoran pikiran dan keterikatan duniawi.

Selanjutnya, penonton disuguhkan Tabuh Petegak Palegongan Janger Omang-Omang yang menghadirkan dinamika kehidupan manusia di dunia sekala. Irama gamelan yang ritmis menggambarkan perjalanan manusia menghadapi godaan, kegelisahan, sekaligus harapan dalam menjalani kehidupan.

Puncak pertunjukan ditandai dengan pementasan Tari Legong Keraton Lasem yang mengisahkan perjalanan cinta Diah Rangkesari dan Raden Panji Inu Kertapati. Kisah tersebut juga menghadirkan Prabu Lasem yang jatuh hati kepada Diah Rangkesari. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena sang putri telah bertunangan dengan Panji Inu Kertapati. Penolakan itu memicu peperangan yang berujung pada kehancuran Prabu Lasem akibat kesombongan dan ketidakmampuannya membaca pertanda alam.

Kadek Sandra Widari mengatakan, dirinya menerima materi legong langsung dari pelatihan intensif bersama Ni Pollok semasa hidupnya. Sebagai menantu dari cucu Ni Pollok yang juga seorang lulusan seni, ia mampu menyerap seluruh teknik gerak halus hingga ekspresi dinamis sang maestro, yang kemudian diperkuat dengan dokumentasi video arsip masa lalu.

“Melalui harmoni gerak dan tabuh bergaya 1930-an, pementasan ini tidak sekadar menjadi tontonan estetis, melainkan sebuah tuntunan spiritual yang menyelaraskan batin manusia dengan nilai-nilai luhur Atma Kerthi,” ucap Kadek Sandra Widari.

Penata tari pementasan, Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti mengungkapkan, berdasarkan riset yang dilakukannya, kemunculan sosok Rangda tersebut secara struktural menggambarkan puncak kekuatan magis dan kemarahan Raden Inukertapati. “Tokoh Rangda ini menggambarkan kekuatan Raden Inukertapati yang diwujudkan dalam bentuk Rangda. Hal itu terlihat pula dari ucap-ucapannya ketika memaki,” jelas Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti.

Nilai mistis dan kehadiran topeng sakral inilah yang dinilai Kurator memberikan determinasi taksu yang kuat pada pementasan tersebut. Selain aspek struktural, keunikan pementasan ini terletak pada teknik gerak (abah) yang sangat spesifik milik mendiang Ni Pollok. Karakter tarian Ni Pollok dikenal memiliki energi yang meluap (over power) tanpa mengorbankan kelenturan.

Karakteristik ini meliputi gerakan badan, bahu yang lentur, serta kaki yang bergerak lincah dan sedikit diangkat (ngumbang) namun tetap kukuh pada pakem legong. “Ketajaman ekspresi mata (sledet) yang khas—tajam, namun tidak sampai mendelik—serta teknik gerak bergeser cepat (nyregseg) dan nguntang laras yang bergetar hingga ke bagian bancangan menjadi identitas utama yang berhasil dihidupkan kembali,” paparnya.

Maestro seni sekaligus Kurator Pesta Kesenian Bali, Prof. Dr. I Made Bandem mengatakan, pementasan ini merupakan sebuah capaian monumental dalam mengembalikan estetika lawas tanpa kehilangan kesakralannya. Komunitas Ni Pollok berhasil merekonstruksi, dan menghidupkan kembali legong klasik dari Kelandis yang ditarikan oleh Ni Pollok pada waktu itu.

“Komunitas ini merekonstruksi dan merevitalisasi Legong Klasik Lasem dengan cerita yang sangat tepat. Sekali lagi saya ucapkan selamat, baik kepada penari maupun penabuhnya. Gayanya sudah kembali pada gaya 1930-an,” ujar Prof. Bandem.

Kekhasan utama yang menjadi diferensiasi Legong Lasem Kelandis ini terletak pada struktur akhir pementasan. Berbeda dengan pakem Legong Lasem pada umumnya yang menampilkan tokoh burung Garuda (kedis goak) atau struktur gedong, versi Kelandis memunculkan sosok Rangda di akhir cerita. Kehadiran Rangda ini sempat memicu teka-teki akademis, namun berdasarkan penelitian mendalam, sosok tersebut merupakan manifestasi teologis dan psikologis yang spesifik.

Sementara itu, maestro seni tari Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengaku terkesan dengan sajian yang ditampilkan. Budayawan asal Gianyar ini menilai pertunjukan tersebut menunjukkan kekhasan yang membedakannya dari kelompok seni lainnya. “Yang saya sukai adalah tabuh bernuansa janger yang menjadi ciri khas sekaa ini. Kehadiran variasi-variasi seperti ini membuktikan bahwa PKB tidak monoton. Justru di dalam kontennya terdapat kreativitas dan kekhasan yang sangat menarik untuk dinikmati,” sebutnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Banjar Kelandislegonglegong klasikNi PollokPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

Next Post

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails
Next Post
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co