JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar dari isi rekeningnya: semesta pasti punya rencana khusus untuk dirinya.
Ia tidak menyebutnya kesombongan. Ia menyebutnya kesadaran spiritual.
Hari pertama, hujan turun tepat saat ia ingin memotret matahari terbit. “Semesta sedang mengujiku,” katanya sambil berteduh di warung.
Hari kedua, motornya mogok di tengah jalan. “Ini bagian dari perjalanan batin.”
Hari ketiga, sebuah proyek yang sangat ia harapkan jatuh ke tangan orang lain yang menurutnya kurang kompeten.
“Alam sedang mengajarkan kerendahan hati.”
Hari keempat, ia terserang diare setelah makan murah yang direkomendasikan seseorang di internet sebagai “pengalaman autentik.”
Untuk pertama kalinya ia mulai curiga. “Mungkin alam sedang mabuk.”
Karena merasa hidupnya tidak berjalan sesuai skenario, Janu menemui seorang lelaki tua yang terkenal bijaksana.
“Aku tidak mengerti,” keluhnya. “Aku bekerja keras, berpikir positif, memvisualisasikan kesuksesan, berbuat baik kepada orang lain. Mengapa kenyataan tidak mengikuti?”
Lelaki tua itu menyeruput kopi.
“Dunia tidak berutang bentuk pada harapanmu.” Janu mengernyit.
“Tapi aku sudah melakukan semuanya dengan benar.” “Menurut siapa?”
“Menurut akal sehat.”
“Masalahnya, dunia tidak dioperasikan oleh akal sehat. Kalau iya, kolom komentar internet sudah lama kosong.”
Janu terdiam.
“Tapi aku punya impian.” “Itu bagus.”
“Tapi kenapa tidak terjadi?”
“Karena impian adalah tujuan, bukan surat perintah.” “Tapi aku percaya pada semesta.”
Lelaki tua itu tertawa kecil.
“Semesta bahkan tidak tahu kau ada. Yang tahu kau ada cuma orang yang masih menagih utangmu.”
Janu tidak menyukai jawaban itu. Ia lebih suka teori konspirasi.
Setidaknya teori konspirasi memberinya seseorang untuk disalahkan. Mungkin ada orang iri.
Mungkin ada energi negatif. Mungkin ada kekuatan gelap.
Namun setelah dipikir-pikir, kenyataannya jauh lebih menyebalkan.
Tidak ada rapat rahasia yang membahas cara menggagalkan hidup Janu.
Tidak ada dewan kosmis yang berkumpul setiap minggu untuk merusak rencananya.
Sebagian besar manusia terlalu sibuk memikirkan masalah mereka sendiri untuk sempat menjadi penjahat dalam cerita hidup orang lain.
“Itu tidak adil,” kata Janu.
“Benar,” jawab lelaki tua itu. “Dan hujan juga tidak memilih atap berdasarkan kualitas moral penghuninya.”
Janu menatap kopinya.
Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu. Selama ini ia tidak benar-benar mencari kebenaran. Ia mencari kenyataan yang setuju dengannya.
Ia mengira kerja keras menjamin hasil. Kebaikan menjamin balasan.
Kejujuran menjamin penghargaan. Padahal hidup tidak menjual garansi. Hidup hanya menjual kemungkinan. Harapan adalah peta.
Bukan perintah kepada medan. Kompas bisa menunjukkan arah.
Tapi kompas tidak pernah berjanji bahwa jalannya rata. Sore itu Janu pulang dengan pikiran yang lebih ringan.
Ia merasa telah memperoleh pencerahan yang selama ini dicarinya. Langkahnya mantap.
Dadanya lapang. Pikirannya jernih.
Lalu, tepat beberapa meter dari rumah, seekor burung menjatuhkan kotoran di kepalanya. Janu berhenti.
Ia menatap langit. Beberapa detik berlalu.
Tidak ada petir kebijaksanaan. Tidak ada musik spiritual.
Tidak ada pesan tersembunyi dari alam semesta. Hanya tahi burung.
Akhirnya ia tertawa.
Keras sekali.
Karena untuk pertama kalinya ia mengerti:
Dunia tidak sedang melawannya.
Dunia juga tidak sedang mendukungnya. Dunia hanya sedang menjadi dunia.
Dan itu sudah cukup untuk menghancurkan hampir semua ilusi manusia. [T]
Kubu Art Space, Lodtunduh Ubud.
Penulis: Wayan Gde Yudane
Editor: Adnyana Ole





























