26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 6, 2026
in Esai
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Bohr pada tahun 1922 | Gambar diambil dari Wikipedia

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri

DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika kuantum dan Interpretasi Kopenhagen. Namun di balik reputasinya sebagai fisikawan besar, terdapat sisi lain yang menarik untuk direnungkan: sikapnya terhadap agama, Tuhan, dan misteri kehidupan.

Bohr pernah menyatakan bahwa gagasan tentang personal God terasa asing baginya. Dalam hal ini ia merasa dekat dengan Paul Dirac, fisikawan jenius yang dikenal sangat skeptis terhadap agama. Akan tetapi, jika Dirac cenderung menolak agama secara tegas, Bohr mengambil posisi yang lebih halus dan reflektif.

Bohr tidak menerima konsep Tuhan yang dipahami secara antropomorfis, yakni Tuhan yang memiliki sifat-sifat manusia seperti marah, menghukum, atau memberi hadiah. Namun ia juga tidak menganggap pengalaman religius sebagai sesuatu yang harus ditolak oleh sains.

Bagi Bohr, agama dan sains berbicara dalam bahasa yang berbeda. Sains menggunakan konsep-konsep yang dapat diuji dan diverifikasi, sedangkan agama menggunakan simbol, mitos, metafora, dan paradoks untuk mengungkapkan dimensi realitas yang lebih sulit dijelaskan.

Sikap ini menunjukkan kerendahan hati intelektual yang jarang ditemukan pada masa modern. Bohr tidak mengklaim mengetahui hakikat tertinggi realitas. Ia justru mengingatkan bahwa manusia harus berhati-hati ketika berbicara tentang apa yang sesungguhnya berada di luar jangkauan pengetahuan empiris.

Dalam dunia yang sering terjebak pada klaim-klaim absolut, kerendahan hati seperti ini merupakan bentuk spiritualitas tersendiri.

Komplementaritas: Ketika Dua Kebenaran Dapat Hidup Bersama

Salah satu sumbangan terbesar Bohr adalah prinsip komplementaritas (complementarity). Menurut prinsip ini, suatu fenomena dapat menampilkan aspek-aspek yang tampaknya bertentangan tetapi sebenarnya saling melengkapi.

Cahaya, misalnya, dapat dipahami sebagai gelombang sekaligus partikel. Kedua gambaran tersebut tidak saling meniadakan, melainkan memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang realitas. Bohr kemudian melihat bahwa prinsip serupa juga berlaku dalam kehidupan manusia.

Kita sering terjebak dalam pola pikir skala atau niskala. Padahal banyak persoalan hidup bersifat skala sekaligus niskala. Rasionalitas dan intuisi, sains dan agama, kebebasan dan keteraturan, individu dan masyarakat—semuanya dapat dipahami sebagai pasangan yang saling melengkapi.

Pandangan ini mengingatkan pada simbol Yin-Yang dalam Taoisme yang bahkan dipilih Bohr sebagai lambang pribadinya dengan moto Contraria Sunt Complementa—hal-hal yang berlawanan saling melengkapi.

Dalam konteks spiritualitas, prinsip ini membuka ruang dialog antara pengetahuan ilmiah dan pengalaman batin. Sains dapat menjelaskan mekanisme alam, sementara spiritualitas membantu manusia menemukan makna di balik pengalaman hidupnya.

Komplementaritas mengajarkan bahwa realitas sering kali lebih luas daripada kategori-kategori yang kita gunakan untuk memahaminya.

Pancakosha dan Evolusi Kesadaran Manusia

Dalam filsafat Vedanta, manusia dipahami melalui konsep Pancakosha, yaitu lima lapisan kesadaran yang menyelubungi Atman. Lapisan pertama adalah Annamaya Kosha, tubuh fisik yang tersusun dari makanan dan materi. Lapisan kedua adalah Pranamaya Kosha, tubuh energi yang menghidupi seluruh fungsi biologis. Lapisan ketiga adalah Manomaya Kosha, lapisan pikiran, emosi, persepsi, dan reaksi psikologis.Lapisan keempat adalah Vijnanamaya Kosha, lapisan kebijaksanaan, intuisi, diskriminasi, dan pemahaman mendalam.Lapisan kelima adalah Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan transendental yang paling dekat dengan realisasi Atman.

Jika perkembangan kesadaran manusia dipandang sebagai perjalanan dari identifikasi dengan tubuh menuju kebijaksanaan dan akhirnya kesadaran spiritual, maka Pancakosha menawarkan kerangka yang sangat menarik untuk memahami tokoh-tokoh besar ilmu pengetahuan. Pertanyaannya kemudian adalah: pada lapisan kesadaran manakah posisi Niels Bohr?

Tentu tidak mungkin menjawabnya secara mutlak karena hanya individu itu sendiri yang mengetahui pengalaman batinnya. Namun sebagai refleksi filosofis, pertanyaan ini membuka ruang dialog yang sangat menarik antara sains dan spiritualitas.

Bohr dan Vijnanamaya Kosha: Kebijaksanaan di Balik Pengetahuan

Apabila harus menempatkan Bohr dalam kerangka Pancakosha, maka posisi yang paling mendekati tampaknya adalah Vijnanamaya Kosha. Vijnana tidak sekadar berarti pengetahuan intelektual. Ia adalah kebijaksanaan yang lahir dari kemampuan melihat keterbatasan pikiran itu sendiri.

Pada tingkat Manomaya Kosha, manusia cenderung terikat pada opini, keyakinan, dan identitas mental. Ia mudah terjebak dalam dikotomi benar-salah, hitam-putih, atau saya-mereka.  Sebaliknya, Vijnanamaya Kosha ditandai oleh kemampuan melihat berbagai perspektif sekaligus tanpa harus terjebak pada salah satunya.

Sikap Bohr terhadap realitas menunjukkan ciri-ciri tersebut. Ia tidak bersikap dogmatis. Ia tidak mengklaim bahwa fisika telah menjelaskan seluruh kenyataan. Ia juga tidak menganggap agama sebagai musuh sains.

Prinsip komplementaritas yang ia kembangkan merupakan ekspresi khas dari kesadaran Vijnanamaya: kemampuan memahami bahwa dua pandangan yang tampaknya bertentangan dapat sama-sama mengandung kebenaran.

Dalam banyak hal, Bohr menunjukkan karakter seorang bijak intelektual. Ia lebih tertarik memahami kompleksitas realitas daripada mempertahankan ideologi tertentu.

Karena itu, jika Einstein sering dipandang sebagai pencari keteraturan kosmis dan Heisenberg sebagai jembatan menuju refleksi metafisik, maka Bohr dapat dilihat sebagai figur yang mewakili kebijaksanaan epistemologis—kesadaran akan batas-batas pengetahuan manusia.

Dari Vijnanamaya Menuju Anandamaya: Pelajaran untuk Zaman Modern

Meski demikian, menempatkan Bohr pada Vijnanamaya Kosha tidak berarti ia telah berada pada Anandamaya Kosha. Dalam tradisi Vedanta, Anandamaya Kosha bukan sekadar pemahaman intelektual yang mendalam. Ia merupakan pengalaman langsung akan kesatuan eksistensi, kebahagiaan tanpa sebab, dan realisasi Atman sebagai hakikat terdalam diri.

Bohr sendiri tidak pernah mengklaim mengalami pencerahan spiritual semacam itu. Ia tetap berada dalam wilayah refleksi filosofis yang lahir dari sains. Namun justru di sinilah relevansinya bagi manusia modern. Banyak orang masa kini terjebak pada dua ekstrem. Sebagian memutlakkan sains dan menolak seluruh dimensi spiritual. Sebagian lain menolak sains demi mempertahankan keyakinan tertentu.

Bohr menunjukkan jalan tengah yang lebih matang. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan sejati lahir ketika kita mampu mengakui keterbatasan pengetahuan kita sendiri. Dalam bahasa Vedanta, perjalanan menuju Anandamaya Kosha sering kali dimulai dari Vijnanamaya Kosha. Kebijaksanaan menjadi jembatan menuju pengalaman spiritual yang lebih mendalam.

Mungkin inilah warisan terbesar Niels Bohr. Bukan sekadar teori kuantum atau interpretasi fisika modern, melainkan sebuah sikap batin: keberanian untuk hidup bersama misteri tanpa tergesa-gesa mengklaim bahwa kita telah memahami semuanya.

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh kepastian-pastian semu, Bohr mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan sering lahir bukan dari jawaban yang mutlak, melainkan dari kemampuan menghormati pertanyaan yang belum selesai. Dan bisa jadi, justru di ruang misteri itulah sains, filsafat, dan spiritualitas dapat bertemu. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: fisikafisika kuantumNiels Bohr
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

Next Post

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co