26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 6, 2026
in Khas
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Anjing dan babi dalam cerita I Jaum dari Desa Pedawa, Buleleng

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini dua cerita yang telah direvitalisasi (IJuam dan I Kilap) dapat ”dibaca” pada sebuah mural di balai desa setempat. Lukisan di dinding berukuran sangat besar ini dikerjakan oleh mahasiswa HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, dalam rangka Program Desa Binaan tahun 2026.

Cerita I Jaum dan I Kilap dalam bentuk lukisan dinding

Memang tidak mungkin ada pilihan lain selain melakukan gerakan kembali menyadari pentingnya lokalitas. Lokalitas dan independensi, kemandirian desa-desa di Bali adat mulai pecah ketika modernisasi mulai terjadi dan penggabungan desa adat dan desa dinas. Lalu masuklah pendidikan yang seragam, rogram-program pembinaan agama dari PHDI serta migrasi dan mobilisasi masyarakat karena kemajuan pembangunan jalan raya dan adanya alat-alat transportasi bermesin. Hubungan budaya di tingkat local, hubungan tradisi mulai terjadi.

Lewat pendidikan tercipta penyeragaman-penyeragaman budaya. Hal ini misalnya dilihat pada ragam karya sastra yang diajarkan di sekolah. Demikian pula ragam bahasa Bali. Salah satu ciri lokalitas dalam bahasa Bali adalah dialek. Pengajaran bahasa Bali di sekolah yang sangat mulia tentu tidak mungkin sampai ke persoalan khusus yaitu dialek. Kurikulum Bahasa Bali misalnya pun menjadikan dialek-dialek bahasa Bali pegunungan korban dan tidak diajarkan. Begitu pula halnya dengan karya sastra, diam-diam karya sastra lokal tidak lagi diceritakan tetapi lebih banyak cerita-cerita yang dikenal bersumber pada pelajaran di sekolah, seperti cerita Ni Dyah Tantri.

Akhirnya lambat laun cerita-cerita lokal itu hilang. Hilang karena tidak diceritakan lagi. Sementara itu dokumentasi tertulis pun tidak ada. Beberapa desa mungkin lebih beruntung karena ada peneliti yang bekerja di sini dan sempat melakukan dokumentasi cerita. Cerita yang didokumentasi oleh para peneliti pada masa lampau di Bali sangat penting untuk membuka kembali pada suatu waktu kekayaan cerita yang terpendam. Berbeda halnya dengan cerita yang lisan ketika penuturnya sudah tua dan pikun, akhirnya meninggal maka cerita itu pun ikut dibawa mati.

Kondisi inilah yang disadari oleh seorang tokoh lokal dalam artian bahwa dia sangat mengagumi kebudayaan desanya yang termasuk desa Bali aga.  Dia seorang dosen bahasa Jepang yang bekerja di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha. Sebagai dosen ia tetap memilih inggal di rumahnya, berkarya untuk desanya dan membangun desanya dari luar sistem atau luar struktur pemerintahan desa dinas.

Wayan Sadnyana, demikian namanya, mengajak orang-orang datang untuk mempelajari desanya dengan melibatkan secara langsung masyarakat setempat. Pola penelitian-penelitian yang ia kembangkan menemani para mahasiswa asing dan peneliti adalah dengan cara melibatkan warga desa.

Inilah yang membedakan model penelitian dengan para sarjana kolonial di mana orang-orang lokal (penduduk desa) yang diteliti benar-benar menjadi objek kajian semata. Banyak juga orang atau lembaga yang memilih Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, untuk berkegiatan. Ini adalah model konservasi yang melibatkan kaum akademisi. Kajian-kajian kaum akademisi itu, baik berupa penelitian maupun pelayanan kepada masyarakat betul-betul mengubah pola pikir masyarakat setempat. Cara kerjanya yang semacam ini sungguh sangat penting menjadikan desa kembali menyadari secara akademik potensi-potensi yang sudah hilang atau yang sedang ada.

Demikian pun akan tampak pada salah satu topik lokalitas di Desa Pedawa atau di desa Bali aga yaitu cerita-cerita lokal. Melalui kerja sama dengan beberapa peneliti atau beberapa pengabdi dari lembaga-lembaga bahasa yang ada di Bali seperti Balai Bahasa Provinsi Bali Wayan Sadnyana membuka hubungan untuk melakukan revitalisasi atau penggalian kembali cerita rakyat Bali aga (Desa Pedawa).

Penggalian itu berhasil dan menemukan sejumlah cerita rakyat, yang sebelumnya dilupakan, seperti I Jaum, I Kilap, I Trenyi, Ni Klenting Sari, dan Pan Srunang. Cerita rakyat itu hidup kembali di tengah-tengah masyarakat apalagi salah satu cerita rakyatnya yang berjudul I Jaum telah dipentaskan di balai desa.

Penggalian dan kembalinya cerita ini kepada ingatan, kini mungkin sudah ada yang ditulis akan menunjukkan betapa masyarakat sebenarnya tidak benar-benar melupakan kekayaan ceritanya. I Jaum ternyata tetap berakar di hati warga desa dan anak-anak Pedawa. Dalam waktu singkat cerita ini kembali menjadi perbincangan dan ingatan. Anak-anak mudah diarahkan kalau berbicara mengenai cerita lokal mereka.

Lantas sebagai tindak lanjut dari konservasi eksplorasi atau revitalisasi cerita rakyat Bali aga pengabdi dari Fakultas Bahasa dan Seni, tepatnya dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tergerak hati untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan atau di seputar hasil revitalisasi cerita rakyat I Jaum dan beberapa cerita rakyat lainnya. Pengabdian ini berjalan di bawah payung program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni tahun 2026 yang memilih Desa Pedawa sebagai lokasinya.

Program Desa binaan ini mengambil lokasi dengan suatu pertimbangan dan beberapa program kegiatan yang dikaitkan dengan Tri dharma perguruan tinggi yang melibatkan baik dosen maupun mahasiswa. Dalam bentuk tindak lanjut revitalisasi cerita rakyat Bali aga tim pengabdi Universitas Pendidikan Ganesha dalam hal ini Fakultas Bahasa dan Seni yang diketuai oleh Drs. I Gede Nurjaya, M. Pd. menyelenggarakan satu kegiatan workshop dengan topik, Nilai dan identitas yang dibentuk dari khazanah cerita rakyat lokal.

Pada pelatihan ini dikembangkan suatu asumsi bahwa cerita rakyat itu, lewat kandungan nilai dan pesan-pesan moralnya yang arif, berfungsi sebenarnya sebagai identitas masyarakat. Karena sebagai identitas cerita rakyat bersifat unik dan khas. Keunikan cerita rakyat itu sendiri membentuk lokalitas yang membedakan dengan desa-desa lainnya.

Karena itulah beberapa cerita rakyat yang ada di Desa Pedawa diberi judul yang sangat berbeda  (I Jaum, I Kilap, I Trenyi, Ni Klenting Sari, dan Pan Srunang) walaupun cerita rakyat ini karena dia mungkin dulu pernah menyebar dari satu tempat ke tempat lain memiliki kemiripan namun untuk di Desa Pedawa sengaja judulnya diberikan lokal sehingga dari judul itu ada identitas yang mana cerita tersebut identik dengan desa ini. Identitas desa tidak hanya dibangun melalui kesenian, arsitektur, tradisi, aturan-aturan lokal dan juga mungkin upacara; tetapi di luar itu semua, teks-teks verbal atau teks teks lisan sastrawi sangat berperan penting menjadi identitas sebuah desa.

Anjing dan babi dalam cerita I Jaum

Identitas perlu dipertahankan karena di dalamnya terbangun ideologi lokal desa. Ini memang belum disadari karena masyarakat pada umumnya bergerak sendiri-sendiri di tengah perubahan dan kemajuan yang datang ke Desa Pedawa. Pembangunan desa juga harus kembali menekankan nonfisik yang berupa pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pola pikir masyarakat. Hal ini bisa diterjadikan dengan banyak hal seperti yang sudah dilakukan oleh Desa Pedawa yang digawangi atau ditokohi oleh Wayan Sadnyana. Ia menekankan pentingnya pembangunan desa pada suatu konsep kembalinya kepada ideologi Bali aga, ideologi desa yang jelas berbeda dengan ideologi baru berupa penyeragaman yang dibawa oleh pemerintah maupun oleh lembaga agama seperti PHDI.

Perlu disadari bahwa ada lokalitas yang memang harus dihormati dan tidak boleh diganti. Kebudayaan-kebudayaan lokal itu banyak yang mati karena terdesak oleh pembaruan namun ini dicoba ditantang dan di atasi dengan berbagai program sosial budaya. Revitalisasi cerita rakyat I Jaum dan cerita lainnya adalah salah satu contohnya dan ini sudah membuahkan hasil dan akan menjadi suatu model bagaimana masyarakat Pedawa kembali menceritakan cerita rakyat atau satwa/cerita aslinya. Sebagai identitas, cerita rakyat ini harus hidup di tengah-tengah masyarakat. Hanya dengan cara dia hidup di tengah-tengah masyarakat dia bisa menjadi pengetahuan bagi seluruh masyarakat desa dan pengetahuan itu bersifat massal; menjadi identitas desa.

Yang terjadi juga di desa pedawa adalah bagaimana hasil-hasil pembangunan dan pengembangan seperti misalnya cerita rakyat itu, lalu di lembagakan ke dalam lembaga formal di mana, sejatinya lembaga formal seperti sekolah dasar atau sekolah menengah pertama yang ada di Desa Pedawa hanya meminjam bentuknya saja yang resmi dan umum atau nasional, namun sejatinya masyarakat yang dididik di dalamnya adalah anak-anak dari desa ini. Inilah juga yang menjadi alasan bagaimana lembaga pendidikan harus mengadopsi pengetahuan-pengetahuan lokal, dalam hal ini misalnya kebudayaan, cerita rakyat, dan kesenian karena sekolah tidak hanya bermain pada kurikulum negara tetapi juga harus melihat siapa siswanya dan untuk beberapa sekolah di Bali seperti sekolah-sekolah di desa yang homogen maka sangat mudah dikenali latar belakang anak didiknya dari desa itu.

Adegan cerita I Kilap (kiri) dan I Jaum dan ibunya dalam cerita I Jaum

Untuk itu kurikulum harus berpihak kepada kebudayaan yang bersifat lokal dan tersedia waktu-waktu pengajaran materi yang berkaitan dengan lokalitas. Inilah yang terjadi di Desa Pedawa dan identitas melalui cerita rakyat dihidupkan di sini, di samping itu ada semacam sekolah yang secara khusus dibangun untuk memelihara atau melakukan konservasi terhadap identitas lokal Bali aga, yakni sekolah adat.

Pedawa dan gerakan kembali kepada ideologi bagi agama mungkin sebagai model bagaimana desa-desa di Bali seharusnya bernegosiasi dengan modernisasi sehingga sesa menjadi modern, tidak harus mengorbankan lokalitas. Inilah prinsip Republik Desa yang mana desa-desa tersebut secara sistem desa adat, tidak ada hubungan dengan desa lain dan tidak ada hubungan dengan lembaga manapun di atasnya. Desa adat benar-benar independen tetapi ada kerancuan di situ dalam sistem pemerintahan dengan dualisme desa adat dan desa dinas. Kekuatan desa dinas sudah dipahami bersama dengan daya dukung negara akhirnya semua kehidupan berorientasi kepada desa dinas dan ini membunuh identitas identitas lokal.

Di atas inilah konservasi dan revitalisasi cerita rakyat I Jaum dan cerita lainnya di Desa Pedawa dibangun karena ada pemikiran, salah satu poin penting dalam independensi desa dan kelokalan itu adalah identitas. Identitas itu ada pada cerita rakyat atau satwa lokal. Identitas ini tumbuh dan hidup jika wadahnya di mana identitas itu melekat tumbuh juga.  Demi itulah cerita rakyat yang sudah mati dan ditinggalkan seperti cerita rakyat  I Jaum  harus dihidupkan dan ini sudah dilakukan di Desa Pedawa. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita rakyatDesa PedawaFakultas Bahasa dan Seni UndikshaPendidikanSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Next Post

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co