15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 6, 2026
in Khas
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Anjing dan babi dalam cerita I Jaum dari Desa Pedawa, Buleleng

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini dua cerita yang telah direvitalisasi (IJuam dan I Kilap) dapat ”dibaca” pada sebuah mural di balai desa setempat. Lukisan di dinding berukuran sangat besar ini dikerjakan oleh mahasiswa HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, dalam rangka Program Desa Binaan tahun 2026.

Cerita I Jaum dan I Kilap dalam bentuk lukisan dinding

Memang tidak mungkin ada pilihan lain selain melakukan gerakan kembali menyadari pentingnya lokalitas. Lokalitas dan independensi, kemandirian desa-desa di Bali adat mulai pecah ketika modernisasi mulai terjadi dan penggabungan desa adat dan desa dinas. Lalu masuklah pendidikan yang seragam, rogram-program pembinaan agama dari PHDI serta migrasi dan mobilisasi masyarakat karena kemajuan pembangunan jalan raya dan adanya alat-alat transportasi bermesin. Hubungan budaya di tingkat local, hubungan tradisi mulai terjadi.

Lewat pendidikan tercipta penyeragaman-penyeragaman budaya. Hal ini misalnya dilihat pada ragam karya sastra yang diajarkan di sekolah. Demikian pula ragam bahasa Bali. Salah satu ciri lokalitas dalam bahasa Bali adalah dialek. Pengajaran bahasa Bali di sekolah yang sangat mulia tentu tidak mungkin sampai ke persoalan khusus yaitu dialek. Kurikulum Bahasa Bali misalnya pun menjadikan dialek-dialek bahasa Bali pegunungan korban dan tidak diajarkan. Begitu pula halnya dengan karya sastra, diam-diam karya sastra lokal tidak lagi diceritakan tetapi lebih banyak cerita-cerita yang dikenal bersumber pada pelajaran di sekolah, seperti cerita Ni Dyah Tantri.

Akhirnya lambat laun cerita-cerita lokal itu hilang. Hilang karena tidak diceritakan lagi. Sementara itu dokumentasi tertulis pun tidak ada. Beberapa desa mungkin lebih beruntung karena ada peneliti yang bekerja di sini dan sempat melakukan dokumentasi cerita. Cerita yang didokumentasi oleh para peneliti pada masa lampau di Bali sangat penting untuk membuka kembali pada suatu waktu kekayaan cerita yang terpendam. Berbeda halnya dengan cerita yang lisan ketika penuturnya sudah tua dan pikun, akhirnya meninggal maka cerita itu pun ikut dibawa mati.

Kondisi inilah yang disadari oleh seorang tokoh lokal dalam artian bahwa dia sangat mengagumi kebudayaan desanya yang termasuk desa Bali aga.  Dia seorang dosen bahasa Jepang yang bekerja di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha. Sebagai dosen ia tetap memilih inggal di rumahnya, berkarya untuk desanya dan membangun desanya dari luar sistem atau luar struktur pemerintahan desa dinas.

Wayan Sadnyana, demikian namanya, mengajak orang-orang datang untuk mempelajari desanya dengan melibatkan secara langsung masyarakat setempat. Pola penelitian-penelitian yang ia kembangkan menemani para mahasiswa asing dan peneliti adalah dengan cara melibatkan warga desa.

Inilah yang membedakan model penelitian dengan para sarjana kolonial di mana orang-orang lokal (penduduk desa) yang diteliti benar-benar menjadi objek kajian semata. Banyak juga orang atau lembaga yang memilih Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, untuk berkegiatan. Ini adalah model konservasi yang melibatkan kaum akademisi. Kajian-kajian kaum akademisi itu, baik berupa penelitian maupun pelayanan kepada masyarakat betul-betul mengubah pola pikir masyarakat setempat. Cara kerjanya yang semacam ini sungguh sangat penting menjadikan desa kembali menyadari secara akademik potensi-potensi yang sudah hilang atau yang sedang ada.

Demikian pun akan tampak pada salah satu topik lokalitas di Desa Pedawa atau di desa Bali aga yaitu cerita-cerita lokal. Melalui kerja sama dengan beberapa peneliti atau beberapa pengabdi dari lembaga-lembaga bahasa yang ada di Bali seperti Balai Bahasa Provinsi Bali Wayan Sadnyana membuka hubungan untuk melakukan revitalisasi atau penggalian kembali cerita rakyat Bali aga (Desa Pedawa).

Penggalian itu berhasil dan menemukan sejumlah cerita rakyat, yang sebelumnya dilupakan, seperti I Jaum, I Kilap, I Trenyi, Ni Klenting Sari, dan Pan Srunang. Cerita rakyat itu hidup kembali di tengah-tengah masyarakat apalagi salah satu cerita rakyatnya yang berjudul I Jaum telah dipentaskan di balai desa.

Penggalian dan kembalinya cerita ini kepada ingatan, kini mungkin sudah ada yang ditulis akan menunjukkan betapa masyarakat sebenarnya tidak benar-benar melupakan kekayaan ceritanya. I Jaum ternyata tetap berakar di hati warga desa dan anak-anak Pedawa. Dalam waktu singkat cerita ini kembali menjadi perbincangan dan ingatan. Anak-anak mudah diarahkan kalau berbicara mengenai cerita lokal mereka.

Lantas sebagai tindak lanjut dari konservasi eksplorasi atau revitalisasi cerita rakyat Bali aga pengabdi dari Fakultas Bahasa dan Seni, tepatnya dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tergerak hati untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan atau di seputar hasil revitalisasi cerita rakyat I Jaum dan beberapa cerita rakyat lainnya. Pengabdian ini berjalan di bawah payung program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni tahun 2026 yang memilih Desa Pedawa sebagai lokasinya.

Program Desa binaan ini mengambil lokasi dengan suatu pertimbangan dan beberapa program kegiatan yang dikaitkan dengan Tri dharma perguruan tinggi yang melibatkan baik dosen maupun mahasiswa. Dalam bentuk tindak lanjut revitalisasi cerita rakyat Bali aga tim pengabdi Universitas Pendidikan Ganesha dalam hal ini Fakultas Bahasa dan Seni yang diketuai oleh Drs. I Gede Nurjaya, M. Pd. menyelenggarakan satu kegiatan workshop dengan topik, Nilai dan identitas yang dibentuk dari khazanah cerita rakyat lokal.

Pada pelatihan ini dikembangkan suatu asumsi bahwa cerita rakyat itu, lewat kandungan nilai dan pesan-pesan moralnya yang arif, berfungsi sebenarnya sebagai identitas masyarakat. Karena sebagai identitas cerita rakyat bersifat unik dan khas. Keunikan cerita rakyat itu sendiri membentuk lokalitas yang membedakan dengan desa-desa lainnya.

Karena itulah beberapa cerita rakyat yang ada di Desa Pedawa diberi judul yang sangat berbeda  (I Jaum, I Kilap, I Trenyi, Ni Klenting Sari, dan Pan Srunang) walaupun cerita rakyat ini karena dia mungkin dulu pernah menyebar dari satu tempat ke tempat lain memiliki kemiripan namun untuk di Desa Pedawa sengaja judulnya diberikan lokal sehingga dari judul itu ada identitas yang mana cerita tersebut identik dengan desa ini. Identitas desa tidak hanya dibangun melalui kesenian, arsitektur, tradisi, aturan-aturan lokal dan juga mungkin upacara; tetapi di luar itu semua, teks-teks verbal atau teks teks lisan sastrawi sangat berperan penting menjadi identitas sebuah desa.

Anjing dan babi dalam cerita I Jaum

Identitas perlu dipertahankan karena di dalamnya terbangun ideologi lokal desa. Ini memang belum disadari karena masyarakat pada umumnya bergerak sendiri-sendiri di tengah perubahan dan kemajuan yang datang ke Desa Pedawa. Pembangunan desa juga harus kembali menekankan nonfisik yang berupa pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pola pikir masyarakat. Hal ini bisa diterjadikan dengan banyak hal seperti yang sudah dilakukan oleh Desa Pedawa yang digawangi atau ditokohi oleh Wayan Sadnyana. Ia menekankan pentingnya pembangunan desa pada suatu konsep kembalinya kepada ideologi Bali aga, ideologi desa yang jelas berbeda dengan ideologi baru berupa penyeragaman yang dibawa oleh pemerintah maupun oleh lembaga agama seperti PHDI.

Perlu disadari bahwa ada lokalitas yang memang harus dihormati dan tidak boleh diganti. Kebudayaan-kebudayaan lokal itu banyak yang mati karena terdesak oleh pembaruan namun ini dicoba ditantang dan di atasi dengan berbagai program sosial budaya. Revitalisasi cerita rakyat I Jaum dan cerita lainnya adalah salah satu contohnya dan ini sudah membuahkan hasil dan akan menjadi suatu model bagaimana masyarakat Pedawa kembali menceritakan cerita rakyat atau satwa/cerita aslinya. Sebagai identitas, cerita rakyat ini harus hidup di tengah-tengah masyarakat. Hanya dengan cara dia hidup di tengah-tengah masyarakat dia bisa menjadi pengetahuan bagi seluruh masyarakat desa dan pengetahuan itu bersifat massal; menjadi identitas desa.

Yang terjadi juga di desa pedawa adalah bagaimana hasil-hasil pembangunan dan pengembangan seperti misalnya cerita rakyat itu, lalu di lembagakan ke dalam lembaga formal di mana, sejatinya lembaga formal seperti sekolah dasar atau sekolah menengah pertama yang ada di Desa Pedawa hanya meminjam bentuknya saja yang resmi dan umum atau nasional, namun sejatinya masyarakat yang dididik di dalamnya adalah anak-anak dari desa ini. Inilah juga yang menjadi alasan bagaimana lembaga pendidikan harus mengadopsi pengetahuan-pengetahuan lokal, dalam hal ini misalnya kebudayaan, cerita rakyat, dan kesenian karena sekolah tidak hanya bermain pada kurikulum negara tetapi juga harus melihat siapa siswanya dan untuk beberapa sekolah di Bali seperti sekolah-sekolah di desa yang homogen maka sangat mudah dikenali latar belakang anak didiknya dari desa itu.

Adegan cerita I Kilap (kiri) dan I Jaum dan ibunya dalam cerita I Jaum

Untuk itu kurikulum harus berpihak kepada kebudayaan yang bersifat lokal dan tersedia waktu-waktu pengajaran materi yang berkaitan dengan lokalitas. Inilah yang terjadi di Desa Pedawa dan identitas melalui cerita rakyat dihidupkan di sini, di samping itu ada semacam sekolah yang secara khusus dibangun untuk memelihara atau melakukan konservasi terhadap identitas lokal Bali aga, yakni sekolah adat.

Pedawa dan gerakan kembali kepada ideologi bagi agama mungkin sebagai model bagaimana desa-desa di Bali seharusnya bernegosiasi dengan modernisasi sehingga sesa menjadi modern, tidak harus mengorbankan lokalitas. Inilah prinsip Republik Desa yang mana desa-desa tersebut secara sistem desa adat, tidak ada hubungan dengan desa lain dan tidak ada hubungan dengan lembaga manapun di atasnya. Desa adat benar-benar independen tetapi ada kerancuan di situ dalam sistem pemerintahan dengan dualisme desa adat dan desa dinas. Kekuatan desa dinas sudah dipahami bersama dengan daya dukung negara akhirnya semua kehidupan berorientasi kepada desa dinas dan ini membunuh identitas identitas lokal.

Di atas inilah konservasi dan revitalisasi cerita rakyat I Jaum dan cerita lainnya di Desa Pedawa dibangun karena ada pemikiran, salah satu poin penting dalam independensi desa dan kelokalan itu adalah identitas. Identitas itu ada pada cerita rakyat atau satwa lokal. Identitas ini tumbuh dan hidup jika wadahnya di mana identitas itu melekat tumbuh juga.  Demi itulah cerita rakyat yang sudah mati dan ditinggalkan seperti cerita rakyat  I Jaum  harus dihidupkan dan ini sudah dilakukan di Desa Pedawa. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita rakyatDesa PedawaFakultas Bahasa dan Seni UndikshaPendidikanSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Next Post

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails
Next Post
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co