6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
in Khas
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Diskusi mengenal dunia editorial bersama Andi Tarigan di Beranda Pustaka, Festival Seni Bali Jani 2026│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21 Juli 2026. Di hadapan para peserta, sebuah layar besar menampilkan wajah Andi Tarigan yang berbicara dari Jakarta melalui sambungan daring. Rencana awal menghadirkannya secara langsung harus berubah menjadi diskusi hibrida karena suatu hal. Kendati demikian, antusiasme peserta tidak surut. Justru ada pengalaman baru yang membuat sesi itu terasa berbeda.

Di sisi panggung, dua juru bahasa isyarat (JBI), Stary Brasnan dan Eka Pudji Astuti, menerjemahkan setiap kalimat yang saya ucapkan dan setiap penjelasan yang disampaikan narasumber. Itu adalah pengalaman pertama saya memandu sebuah diskusi yang didampingi juru bahasa isyarat. Rasanya menyenangkan menyaksikan bagaimana percakapan tentang buku dan dunia editorial dapat diakses lebih luas, termasuk oleh kawan-kawan Tuli—membuat diskusi hari itu menjadi ruang yang lebih inklusif. 

Sesi yang diselenggarakan Beranda Pustaka dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 itu mengangkat tema “Mengenal Dunia Editorial: Dari Naskah Menjadi Buku”. Topik yang terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyimpan banyak pertanyaan yang acap muncul di kalangan penulis: mengapa sebuah naskah diterima penerbit, sementara naskah lain ditolak? Apa sebenarnya yang dilakukan editor? Sejauh mana editor ikut menentukan lahirnya sebuah buku?

Dari kiri ke kanan, Stary Brasnan, Eka Pudji Astuti, Dede Putra Wiguna (saya)│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijawab satu per satu oleh Andi Tarigan, Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama (GPU), yang telah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia penerbitan. Selama kariernya, ia menangani berbagai naskah, mulai dari filsafat, sejarah, politik, biografi, hingga bisnis. Pengalamannya memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah buku ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar selesai ditulis. 

Andi membuka paparannya dengan membongkar gambaran yang selama ini kerap luput dari perhatian penulis. Banyak orang mengira buku lahir setelah naskah selesai ditulis. Padahal, penulisan justru baru merupakan titik awal.

“Satu naskah biasanya menempuh lima tahap utama, mulai dari akuisisi, penyuntingan, produksi, cetak dan distribusi, hingga pemasaran. Proses itu bisa memakan waktu enam sampai dua belas bulan,” jelasnya.

Tahapan tersebut menunjukkan bahwa sebuah buku merupakan hasil kerja panjang banyak orang, bukan hanya penulisnya. 

Lantas, apa sebenarnya dicari editor ketika membaca sebuah naskah?

Andi mengatakan, editor tidak langsung terpikat oleh tebal-tipisnya naskah ataupun nama besar penulis. Ada enam pertanyaan mendasar yang selalu mereka ajukan sejak halaman pertama.

“Apakah premisnya kuat? Apakah penulis memiliki suara yang khas? Siapa target pembacanya? Apakah strukturnya rapi? Apa orisinalitasnya? Dan, apakah naskah ini punya potensi pasar?” paparnya.

Enam pertanyaan itu menjadi gerbang awal sebelum editor memutuskan apakah sebuah naskah layak diteruskan ke tahap berikutnya.

Stary Brasnan dan Eka Pudji Astuti (Juru Bahasa Isyarat) saat membersamai diskusi│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

Bagian tentang premis menjadi salah satu pembahasan menarik. Andi menilai masih banyak penulis yang menyamakan premis dengan tema, padahal keduanya berbeda.

“Premis bukan sekadar tema. Premis adalah inti cerita atau argumen yang bisa diringkas dalam satu atau dua kalimat, tetapi langsung membuat orang ingin tahu lebih jauh.”

Menurutnya, premis yang baik harus menghadirkan ketegangan, memiliki arah yang jelas, serta menawarkan sudut pandang yang berbeda. Namun, ia mengingatkan bahwa premis yang kuat saja belum cukup.

“Premis yang kuat perlu dieksekusi dengan tuntas dan meyakinkan,” tegas Andi.

Pembahasan kemudian bergeser pada persoalan yang acap disalahpahami penulis, yakni orisinalitas. Selama ini banyak orang menganggap sebuah karya baru harus menghadirkan ide yang belum pernah ada sebelumnya. Andi justru melihatnya dari sudut yang berbeda.

“Orisinalitas bukan berarti menemukan ide yang sama sekali baru. Yang dicari editor adalah sudut pandang baru terhadap tema yang sudah jamak.”

Ia kemudian mengajak peserta membayangkan rak toko buku yang dipenuhi judul-judul serupa. “Kalau naskah ini ditaruh di sebelah lima buku sejenis, apa yang membuatnya berbeda?” tanyanya.

Pertanyaan itu menjadi ukuran apakah sebuah naskah memiliki identitas yang cukup kuat untuk bersaing dengan karya lain. Orisinalitas, menurutnya, lahir dari cara penulis memandang persoalan, menggabungkan berbagai unsur, serta menghadirkan gaya bertutur yang khas. 

Setelah membahas bagaimana editor menilai sebuah naskah, Andi mengajak peserta melihat apa yang sebenarnya dikerjakan editor. Selama ini, profesi editor sering dipersempit hanya sebagai orang yang memperbaiki salah ketik.

“Penyuntingan bukan hanya memperbaiki salah ketik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyuntingan berlangsung dalam tiga lapis. Penyuntingan substansi membedah struktur besar naskah, memastikan alur cerita maupun argumen tersusun logis dan tidak saling mengulang. Setelah itu dilakukan copyediting untuk memperbaiki kalimat, diksi, ejaan, serta konsistensi istilah sesuai gaya selingkung penerbit. Tahap terakhir adalah proofreading, yakni pemeriksaan detail sebelum naskah naik cetak agar tidak ada lagi kesalahan teknis yang tersisa.

Dari kiri ke kanan, Dede Putra Wiguna (saya), Wulan Dewi Saraswati (panitia, pegiat seni pertunjukan), Andi Tarigan (narasumber)│Foto: Dok. Beranda Pustaka & FSBJ 2026

Agar penjelasannya lebih konkret, Andi memberikan sejumlah contoh. Sebuah tema yang sama bisa terasa segar ketika ditulis dari sudut pandang yang tidak biasa. Kisah pekerja migran, misalnya, dapat menjadi lebih menyentuh ketika diceritakan melalui mata anak yang ditinggalkan di kampung halaman. Begitu pula buku sejarah atau politik akan terasa lebih hidup ketika menghadirkan tokoh-tokoh yang selama ini berada di balik layar, bukan hanya tokoh besar yang sudah sering dibahas. Bagi editor, pengalaman yang autentik dan kedekatan penulis dengan tema menjadi kekuatan yang sukar ditiru. 

Salah satu bagian yang memancing pertanyaan peserta adalah alasan sebuah naskah ditolak penerbit. Andi menjawabnya dengan lugas.

Menurutnya, naskah sering kali gagal karena premisnya terlalu umum, belum melalui swasunting, target pembacanya tidak jelas, atau bab-bab awal belum cukup kuat untuk membuat editor terus membaca. Tidak sedikit pula penulis yang mengabaikan pentingnya sinopsis, surat pengantar, maupun riset terhadap buku-buku pembanding yang telah beredar di pasaran. 

Menjelang akhir sesi, Andi memberikan bekal praktis bagi siapa pun yang ingin menerbitkan buku.

“Pastikan naskah sudah selesai, riset penerbit yang sesuai, susun sinopsis yang tajam, poles bab-bab awal, ikuti pedoman pengiriman, lalu bersabar. Terus menulis dan jangan berhenti pada satu naskah.”

Pesan itu merangkum keseluruhan proses yang telah dipaparkannya sepanjang diskusi. Menerbitkan buku bukan perkara keberuntungan, melainkan perjalanan yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kemauan untuk terus memperbaiki karya. 

Ketika diskusi usai, saya memandang kembali layar yang perlahan dipadamkan. Diskusi sore itu tidak hanya memperkenalkan dunia editorial, tetapi juga mengubah cara pandang saya terhadap sebuah buku. Selama ini perhatian pembaca sering berhenti pada nama penulis yang tercetak di sampul. Padahal, di balik setiap buku yang baik, ada editor yang membaca lebih teliti, mempertanyakan lebih kritis, dan membantu penulis menemukan bentuk terbaik dari gagasannya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Andi TariganFestival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Next Post

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co