TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli 2026. Rasa canggung yang biasanya muncul ketika harus berbicara dalam bahasa asing perlahan mencair. Tidak ada murid yang takut salah. Justru dari setiap kesalahan itulah keberanian mereka mulai tumbuh.
Suasana belajar yang berbeda itu dipandu Aaron Daniel O’Brien, atau yang lebih dikenal sebagai Aaron’s English, guru bahasa Inggris sekaligus kreator konten edukasi asal Melbourne, Australia. Selama beberapa jam, puluhan murid kelas X dan XI Program Keperawatan dan Caregiving (KC) Bilingual diajak memahami bahwa menguasai bahasa Inggris tidak semata-mata bergantung pada tata bahasa, melainkan keberanian untuk mulai berbicara.
Berbeda dari pembelajaran yang berfokus pada teori, Aaron mengajak para murid belajar melalui permainan, simulasi percakapan, dan praktik berbicara secara langsung. Pendekatan interaktif tersebut membuat suasana kelas terasa lebih hidup sekaligus mengikis rasa takut melakukan kesalahan yang selama ini menjadi hambatan utama dalam mempelajari bahasa asing. Bagi para murid, kesalahan bukan lagi sesuatu yang harus dihindari, tetapi bagian yang wajar dari proses belajar.

Bagi Aaron, kepercayaan diri merupakan fondasi utama dalam menguasai bahasa Inggris. Ketika seseorang berani mencoba, kemampuan berbahasa akan berkembang dengan sendirinya. Pengalaman mengajarnya selama lebih dari satu dekade di Indonesia membentuk keyakinan bahwa keberhasilan belajar bahasa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan mendorong peserta didik untuk terus berlatih.
Sosok Aaron sendiri bukan nama asing di dunia pendidikan. Guru yang memiliki darah Indonesia dari pihak ibu itu juga dikenal sebagai pengusaha di bidang pendidikan dan kreator konten edukasi yang aktif membagikan tips belajar bahasa Inggris melalui berbagai platform media sosial. Ia juga membangun komunitas belajar serta rutin menggelar sesi latihan speaking di berbagai kota di Indonesia.
“Peserta didiknya luar biasa. Semoga mereka siap menghadapi tantangan di luar sana, khususnya di dunia kesehatan. Semoga kegiatan seperti ini selalu diadakan untuk meningkatkan kompetensi murid di sekolah ini,” ujar Aaron.

Pelatihan tersebut selaras dengan kebutuhan dunia kesehatan yang kian terbuka secara global. Perawat maupun tenaga caregiving tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasien, keluarga pasien, maupun tenaga kesehatan dari berbagai negara. Bagi murid Program KC Bilingual Kesbam, kemampuan berbahasa Inggris menjadi nilai tambah yang kian dibutuhkan seiring terbukanya peluang kerja di sektor kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.
Komitmen itulah yang mendorong SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar menghadirkan praktisi seperti Aaron. Sekolah tidak hanya membekali murid dengan keterampilan profesi, tetapi juga kompetensi komunikasi yang akan menjadi bekal saat memasuki dunia kerja internasional.

Salah satu peserta, Putu Dihari Purnama, murid kelas XI KC Bilingual, merasakan langsung manfaat pelatihan tersebut. Ia mengaku kini lebih percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris.
“Selama ini saya sering takut salah saat berbicara bahasa Inggris. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi lebih berani untuk mencoba. Cara mengajarnya menyenangkan dan membuat kami sadar bahwa salah itu bagian dari proses belajar. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan karena sangat bermanfaat untuk bekal kami nanti di dunia kerja,” tandasnya.
Pelatihan itu pun meninggalkan lebih dari sekadar pengetahuan baru. Ia menumbuhkan keyakinan bahwa kemampuan berbahasa Inggris dapat diasah oleh siapa saja yang berani memulai. Di tengah luasnya peluang kerja tenaga kesehatan di tingkat internasional, keberanian untuk berkomunikasi menjadi modal yang sama pentingnya dengan keterampilan profesi. Dari ruang pertemuan di Kesbam hari itu, para murid tidak hanya belajar berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi juga belajar percaya pada kemampuan diri sendiri.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































