“Kapan Nikah?” Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang ditanya. Semakin bertambah usia perempuan tanpa status “menikah”, semakin ramai juga komentar yang berdatangan. Dari basa-basi keluarga saat lebaran, bisik-bisik tetangga, hingga bahasan di kehidupan sosial lainnya.
Sebagai orang yang bergelut dengan ilmu komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekedar obrolan santai. Ini adalah bentuk komunikasi yang sarat muatan sosial, cara masyarakat menegosiasikan norma, menegakkan aturan tak tertulis tentang “jadwal hidup ideal” seorang perempuan, lewat pertanyaan yang seolah polos, dianggap harmless.
Ketika Usia Menjadi Vonis
Dalam ilmu komunikasi dan sosiologi, ada istilah labelling atau pelabelan: proses ketika masyarakat menempelkan sebutan tertentu pada seseorang berdasarkan kondisi maupun perilaku yang dianggap tidak lazim. Perempuan yang belum menikah diusia matang acap kali disebut “perawan tua”, “tidak laku”, atau sering dicap “kebanyakan memilih”. Padahal tidak ada salahnya dalam memilih.
Riset tentang perempuan etnis Madura yang diterbitkan di Jurnal Dinamika Sosial Budaya (Al Farisi & Bawono, 2024) menggambarkan hal ini dengan gamblang. Perempuan yang menunda atau memilih tidak menikah di sana memiliki sebutan sendiri: “prabhen towah”. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan-perempuan ini menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar, dianggap tidak laku, terlalu memilih pasangan, sampai jadi bahan omongan keluarga jauh yang sebenarnya tidak tahu-menahu soal alasan di balik keputusan hidup mereka.
Padahal dari penelitian yang sama, alasan seorang perempuan tetap melajang jauh lebih kompleks: ada yang membawa trauma dari rumah tangga akibat perceraian orang tua, ada yang gagal menikah karena berbagai alasan, ada juga yang sekedar belum menemukan orang yang tepat untuk diajak berbagi hidup.
Yang menarik, riset tersebut menunjukkan sisi lain yang jarang diperhatikan: para perempuan ini pada akhirnya membangun mekanisme coping mereka sendiri, mulai mendekatkan diri secara spiritual, membangun kemandirian ekonomi, sampai pada titik penerimaan diri yang membuat mereka merasa lebih tenang menjalani hidup. Artinya, melajang bukan otomatis hidup kita gagal atau kosong. Ia adalah jalan hidup dengan dinamika psikologisnya sendiri yang layak dipahami bukan dihakimi.
Layar Kaca Pun Ikut Pelit Ruang
Stigma yang tidak lahir dari ruang hampa, ia dipupuk terus menerus lewat representasi media dan budaya populer yang kita konsumsi setiap hari. Tulisan di blog Oxford Institue of Population Ageing (2023) mengangkat sorotan yang relevan: perempuan yang beranjak tua kerap tersingkir dari layar populer, dan ketika pun tampil, mereka sering digambarkan sebagai sosok yang bergantung pada orang lain, kurang menarik, atau semata berperan sebagai ibu dan nenek, bukan sebagai individu dengan cerita dan keinginannya sendiri. Standar kecantikan dan daya tarik yang beredar di ruang publik pun masih lekat dengan citra muda, sehingga perempuan yang usianya bertambah nyaris tidak diberi ruang untuk tetap dianggap relevan, apalagi menarik dalam narasi arus utama.
Konstruksi semacam ini yang akhirnya merembes ke percakapan sehari-hari. Ketika media jarang menampilkan sosok perempuan matang yang utuh dan bahagia dengan pilihannya sendiri, wajar jika masyarakat pun kesulitan membayangkan hidup tanpa status menikah bisa jadi pilihan sadar, bukan kegagalan yang harus dikasihani.
Terlambat Menikah Bukan Berarti Merugi
Ada satu asumsi yang perlu diluruskan: seolah menikah lebih lambat dari “usia ideal” itu selalu berarti kerugian. Sebuah penelitian terhadap pria dan wanita Malaysia yang menikah di usia lebih matang (dipublikasikan di International Journal of Research and Innovation in Social Science, 2025) justru menemukan sederet dampak yang jauh dari kesan buruk. Dari sisi ekonomi, mereka yang menikah lebih matang cenderung punya kestabilan finansial yang lebih baik, aset yang lebih mapan, dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding jika menikah lebih dini.
Dari sisi kematangan diri, penelitian ini mencatat adanya pertumbuhan spiritual yang lebih dalam pada individu yang menikah di usia matang. Memang ada juga sisi psikologisnya yang perlu diperhatikan, seperti potensi stres dan pergulatan dengan rasa percaya diri, tapi justru menunjukkan bahwa pengalaman menunda pernikahan itu manusiawi dan berlapis, bukan sekedar “telat” yang layak dicemooh.
Rahim Bukan Ranah Komentar Orang Lain
Salah satu kekhawatiran yang paling sering dilontarkan pada perempuan matang yang belum menikah adalah soal keturunan. Seolah usia menjadi satu-satunya jaminan seseorang bisa atau tidak bisa memiliki anak. Padahal seperti yang pernah disampaikan dr. Gia Pratama Putra, urusan rahim sepenuhnya berada di tangan Tuhan.
Tidak ada jaminan medis atau usia berapa pun yang bisa memastikan seseorang pasti langsung memiliki anak begitu menikah. Maka menjadikan usia sebagai dasar untuk menghakimi kesiapan atau nasib reproduksi seorang perempuan sesungguhnya berangkat dari asumsi yang keliru.
Dari titik inilah kembali lagi ke soal komunikasi. Ada banyak topik lain yang bisa dipakai untuk basa-basi, istilah dalam ilmu komunikasi menyebutnya komunikasi fatis, obrolan ringan yang fungsinya sekedar menjaga hubungan sosial tetap hangat. Kita tidak harus mengorbankan privasi orang lain, apalagi urusan sesensitif pernikahan dan keturunan, hanya demi mencairkan suasana atau malah memang untuk menyerang personal seseorang.
Sesama Perempuan Mari Saling Menjaga
Yang paling menyayat justru ketika komentar semacam ini datang dari sesama perempuan. Padahal siapa pun paling tahu betapa beratnya tekanan yang datang bertubi-tubi soal jodoh, usia, dan tubuh. Kesuksesan dan kebahagiaan seorang perempuan tidak lahir dari status. Ia bisa datang dari karier yang dibangun dengan susah payah, dari kemandirian yang diperjuangkan, dari hubungan yang hangat dengan keluarga dan sahabat, atau dari ketenangan batin yang ia temukan sendiri.
Setiap perempuan apa pun status hidupnya, berapa pun usianya, BERHAK dihargai apa adanya. Bukan diukur kapan dia menikah, atau seberapa cepat dia punya keturunan, tetapi bagaimana ia menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan dan pilihan sendiri. Setiap manusia, apapun gender/statusnya, mereka berharga. [I]






























