17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

Fitria Hani Aprina by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
in Esai
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Fitria Hani Aprina

“Kapan Nikah?” Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang ditanya. Semakin bertambah usia perempuan tanpa status “menikah”, semakin ramai juga komentar yang berdatangan. Dari basa-basi keluarga saat lebaran, bisik-bisik tetangga, hingga bahasan di kehidupan sosial lainnya.

Sebagai orang yang bergelut dengan ilmu komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekedar obrolan santai. Ini adalah bentuk komunikasi yang sarat muatan sosial, cara masyarakat menegosiasikan norma, menegakkan aturan tak tertulis tentang “jadwal hidup ideal” seorang perempuan, lewat pertanyaan yang seolah polos, dianggap harmless.

Ketika Usia Menjadi Vonis

Dalam ilmu komunikasi dan sosiologi, ada istilah labelling atau pelabelan: proses ketika masyarakat menempelkan sebutan tertentu pada seseorang berdasarkan kondisi maupun perilaku yang dianggap tidak lazim. Perempuan yang belum menikah diusia matang acap kali disebut “perawan tua”, “tidak laku”, atau sering dicap “kebanyakan memilih”. Padahal tidak ada salahnya dalam memilih.

Riset tentang perempuan etnis Madura yang diterbitkan di Jurnal Dinamika Sosial Budaya (Al Farisi & Bawono, 2024) menggambarkan hal ini dengan gamblang. Perempuan yang menunda atau memilih tidak menikah di sana memiliki sebutan sendiri: “prabhen towah”. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan-perempuan ini menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar, dianggap tidak laku, terlalu memilih pasangan, sampai jadi bahan omongan keluarga jauh yang sebenarnya tidak tahu-menahu soal alasan di balik keputusan hidup mereka.

Padahal dari penelitian yang sama, alasan seorang perempuan tetap melajang jauh lebih kompleks: ada yang membawa trauma dari rumah tangga akibat perceraian orang tua, ada yang gagal menikah karena berbagai alasan, ada juga yang sekedar belum menemukan orang yang tepat untuk diajak berbagi hidup.

Yang menarik, riset tersebut menunjukkan sisi lain yang jarang diperhatikan: para perempuan ini pada akhirnya membangun mekanisme coping mereka sendiri, mulai mendekatkan diri secara spiritual, membangun kemandirian ekonomi, sampai pada titik penerimaan diri yang membuat mereka merasa lebih tenang menjalani hidup. Artinya, melajang bukan otomatis hidup kita gagal atau kosong. Ia adalah jalan hidup dengan dinamika psikologisnya sendiri yang layak dipahami bukan dihakimi.

Layar Kaca Pun Ikut Pelit Ruang

Stigma yang tidak lahir dari ruang hampa, ia dipupuk terus menerus lewat representasi media dan budaya populer yang kita konsumsi setiap hari. Tulisan di blog Oxford Institue of Population Ageing (2023) mengangkat sorotan yang relevan: perempuan yang beranjak tua kerap tersingkir dari layar populer, dan ketika pun tampil, mereka sering digambarkan sebagai sosok yang bergantung pada orang lain, kurang menarik, atau semata berperan sebagai ibu dan nenek, bukan sebagai individu dengan cerita dan keinginannya sendiri. Standar kecantikan dan daya tarik yang beredar di ruang publik pun masih lekat dengan citra muda, sehingga perempuan yang usianya bertambah nyaris tidak diberi ruang untuk tetap dianggap relevan, apalagi menarik dalam narasi arus utama.

Konstruksi semacam ini yang akhirnya merembes ke percakapan sehari-hari. Ketika media jarang menampilkan sosok perempuan matang yang utuh dan bahagia dengan pilihannya sendiri, wajar jika masyarakat pun kesulitan membayangkan hidup tanpa status menikah bisa jadi pilihan sadar, bukan kegagalan yang harus dikasihani.

Terlambat Menikah Bukan Berarti Merugi

Ada satu asumsi yang perlu diluruskan: seolah menikah lebih lambat dari “usia ideal” itu selalu berarti kerugian. Sebuah penelitian terhadap pria dan wanita Malaysia yang menikah di usia lebih matang (dipublikasikan di International Journal of Research and Innovation in Social Science, 2025) justru menemukan sederet dampak yang jauh dari kesan buruk. Dari sisi ekonomi, mereka yang menikah lebih matang cenderung punya kestabilan finansial yang lebih baik, aset yang lebih mapan, dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding jika menikah lebih dini.

Dari sisi kematangan diri, penelitian ini mencatat adanya pertumbuhan spiritual yang lebih dalam pada individu yang menikah di usia matang. Memang ada juga sisi psikologisnya yang perlu diperhatikan, seperti potensi stres dan pergulatan dengan rasa percaya diri, tapi justru menunjukkan bahwa pengalaman menunda pernikahan itu manusiawi dan berlapis, bukan sekedar “telat” yang layak dicemooh.

Rahim Bukan Ranah Komentar Orang Lain

Salah satu kekhawatiran yang paling sering dilontarkan pada perempuan matang yang belum menikah adalah soal keturunan. Seolah usia menjadi satu-satunya jaminan seseorang bisa atau tidak bisa memiliki anak. Padahal seperti yang pernah disampaikan dr. Gia Pratama Putra, urusan rahim sepenuhnya berada di tangan Tuhan.

Tidak ada jaminan medis atau usia berapa pun yang bisa memastikan seseorang pasti langsung memiliki anak begitu menikah. Maka menjadikan usia sebagai dasar untuk menghakimi kesiapan atau nasib reproduksi seorang perempuan sesungguhnya berangkat dari asumsi yang keliru.

Dari titik inilah kembali lagi ke soal komunikasi. Ada banyak topik lain yang bisa dipakai untuk basa-basi, istilah dalam ilmu komunikasi menyebutnya komunikasi fatis, obrolan ringan yang fungsinya sekedar menjaga hubungan sosial tetap hangat. Kita tidak harus mengorbankan privasi orang lain, apalagi urusan sesensitif pernikahan dan keturunan, hanya demi mencairkan suasana atau malah memang untuk menyerang personal seseorang.

Sesama Perempuan Mari Saling Menjaga

Yang paling menyayat justru ketika komentar semacam ini datang dari sesama perempuan. Padahal siapa pun paling tahu betapa beratnya tekanan yang datang bertubi-tubi soal jodoh, usia, dan tubuh. Kesuksesan dan kebahagiaan seorang perempuan tidak lahir dari status. Ia bisa datang dari karier yang dibangun dengan susah payah, dari kemandirian yang diperjuangkan, dari hubungan yang hangat dengan keluarga dan sahabat, atau dari ketenangan batin yang ia temukan sendiri.

Setiap perempuan apa pun status hidupnya, berapa pun usianya, BERHAK dihargai apa adanya. Bukan diukur kapan dia menikah, atau seberapa cepat dia punya keturunan, tetapi bagaimana ia menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan dan pilihan sendiri. Setiap manusia, apapun gender/statusnya, mereka berharga. [I]

Tags: Perempuanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Next Post

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Fitria Hani Aprina

Fitria Hani Aprina

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Aaron's English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co