6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

Fitria Hani Aprina by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
in Esai
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Fitria Hani Aprina

“Kapan Nikah?” Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang ditanya. Semakin bertambah usia perempuan tanpa status “menikah”, semakin ramai juga komentar yang berdatangan. Dari basa-basi keluarga saat lebaran, bisik-bisik tetangga, hingga bahasan di kehidupan sosial lainnya.

Sebagai orang yang bergelut dengan ilmu komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekedar obrolan santai. Ini adalah bentuk komunikasi yang sarat muatan sosial, cara masyarakat menegosiasikan norma, menegakkan aturan tak tertulis tentang “jadwal hidup ideal” seorang perempuan, lewat pertanyaan yang seolah polos, dianggap harmless.

Ketika Usia Menjadi Vonis

Dalam ilmu komunikasi dan sosiologi, ada istilah labelling atau pelabelan: proses ketika masyarakat menempelkan sebutan tertentu pada seseorang berdasarkan kondisi maupun perilaku yang dianggap tidak lazim. Perempuan yang belum menikah diusia matang acap kali disebut “perawan tua”, “tidak laku”, atau sering dicap “kebanyakan memilih”. Padahal tidak ada salahnya dalam memilih.

Riset tentang perempuan etnis Madura yang diterbitkan di Jurnal Dinamika Sosial Budaya (Al Farisi & Bawono, 2024) menggambarkan hal ini dengan gamblang. Perempuan yang menunda atau memilih tidak menikah di sana memiliki sebutan sendiri: “prabhen towah”. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan-perempuan ini menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar, dianggap tidak laku, terlalu memilih pasangan, sampai jadi bahan omongan keluarga jauh yang sebenarnya tidak tahu-menahu soal alasan di balik keputusan hidup mereka.

Padahal dari penelitian yang sama, alasan seorang perempuan tetap melajang jauh lebih kompleks: ada yang membawa trauma dari rumah tangga akibat perceraian orang tua, ada yang gagal menikah karena berbagai alasan, ada juga yang sekedar belum menemukan orang yang tepat untuk diajak berbagi hidup.

Yang menarik, riset tersebut menunjukkan sisi lain yang jarang diperhatikan: para perempuan ini pada akhirnya membangun mekanisme coping mereka sendiri, mulai mendekatkan diri secara spiritual, membangun kemandirian ekonomi, sampai pada titik penerimaan diri yang membuat mereka merasa lebih tenang menjalani hidup. Artinya, melajang bukan otomatis hidup kita gagal atau kosong. Ia adalah jalan hidup dengan dinamika psikologisnya sendiri yang layak dipahami bukan dihakimi.

Layar Kaca Pun Ikut Pelit Ruang

Stigma yang tidak lahir dari ruang hampa, ia dipupuk terus menerus lewat representasi media dan budaya populer yang kita konsumsi setiap hari. Tulisan di blog Oxford Institue of Population Ageing (2023) mengangkat sorotan yang relevan: perempuan yang beranjak tua kerap tersingkir dari layar populer, dan ketika pun tampil, mereka sering digambarkan sebagai sosok yang bergantung pada orang lain, kurang menarik, atau semata berperan sebagai ibu dan nenek, bukan sebagai individu dengan cerita dan keinginannya sendiri. Standar kecantikan dan daya tarik yang beredar di ruang publik pun masih lekat dengan citra muda, sehingga perempuan yang usianya bertambah nyaris tidak diberi ruang untuk tetap dianggap relevan, apalagi menarik dalam narasi arus utama.

Konstruksi semacam ini yang akhirnya merembes ke percakapan sehari-hari. Ketika media jarang menampilkan sosok perempuan matang yang utuh dan bahagia dengan pilihannya sendiri, wajar jika masyarakat pun kesulitan membayangkan hidup tanpa status menikah bisa jadi pilihan sadar, bukan kegagalan yang harus dikasihani.

Terlambat Menikah Bukan Berarti Merugi

Ada satu asumsi yang perlu diluruskan: seolah menikah lebih lambat dari “usia ideal” itu selalu berarti kerugian. Sebuah penelitian terhadap pria dan wanita Malaysia yang menikah di usia lebih matang (dipublikasikan di International Journal of Research and Innovation in Social Science, 2025) justru menemukan sederet dampak yang jauh dari kesan buruk. Dari sisi ekonomi, mereka yang menikah lebih matang cenderung punya kestabilan finansial yang lebih baik, aset yang lebih mapan, dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding jika menikah lebih dini.

Dari sisi kematangan diri, penelitian ini mencatat adanya pertumbuhan spiritual yang lebih dalam pada individu yang menikah di usia matang. Memang ada juga sisi psikologisnya yang perlu diperhatikan, seperti potensi stres dan pergulatan dengan rasa percaya diri, tapi justru menunjukkan bahwa pengalaman menunda pernikahan itu manusiawi dan berlapis, bukan sekedar “telat” yang layak dicemooh.

Rahim Bukan Ranah Komentar Orang Lain

Salah satu kekhawatiran yang paling sering dilontarkan pada perempuan matang yang belum menikah adalah soal keturunan. Seolah usia menjadi satu-satunya jaminan seseorang bisa atau tidak bisa memiliki anak. Padahal seperti yang pernah disampaikan dr. Gia Pratama Putra, urusan rahim sepenuhnya berada di tangan Tuhan.

Tidak ada jaminan medis atau usia berapa pun yang bisa memastikan seseorang pasti langsung memiliki anak begitu menikah. Maka menjadikan usia sebagai dasar untuk menghakimi kesiapan atau nasib reproduksi seorang perempuan sesungguhnya berangkat dari asumsi yang keliru.

Dari titik inilah kembali lagi ke soal komunikasi. Ada banyak topik lain yang bisa dipakai untuk basa-basi, istilah dalam ilmu komunikasi menyebutnya komunikasi fatis, obrolan ringan yang fungsinya sekedar menjaga hubungan sosial tetap hangat. Kita tidak harus mengorbankan privasi orang lain, apalagi urusan sesensitif pernikahan dan keturunan, hanya demi mencairkan suasana atau malah memang untuk menyerang personal seseorang.

Sesama Perempuan Mari Saling Menjaga

Yang paling menyayat justru ketika komentar semacam ini datang dari sesama perempuan. Padahal siapa pun paling tahu betapa beratnya tekanan yang datang bertubi-tubi soal jodoh, usia, dan tubuh. Kesuksesan dan kebahagiaan seorang perempuan tidak lahir dari status. Ia bisa datang dari karier yang dibangun dengan susah payah, dari kemandirian yang diperjuangkan, dari hubungan yang hangat dengan keluarga dan sahabat, atau dari ketenangan batin yang ia temukan sendiri.

Setiap perempuan apa pun status hidupnya, berapa pun usianya, BERHAK dihargai apa adanya. Bukan diukur kapan dia menikah, atau seberapa cepat dia punya keturunan, tetapi bagaimana ia menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan dan pilihan sendiri. Setiap manusia, apapun gender/statusnya, mereka berharga. [I]

Tags: Perempuanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Next Post

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Fitria Hani Aprina

Fitria Hani Aprina

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Aaron's English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co