25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

Fitria Hani Aprina by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
in Esai
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Fitria Hani Aprina

“Kapan Nikah?” Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang ditanya. Semakin bertambah usia perempuan tanpa status “menikah”, semakin ramai juga komentar yang berdatangan. Dari basa-basi keluarga saat lebaran, bisik-bisik tetangga, hingga bahasan di kehidupan sosial lainnya.

Sebagai orang yang bergelut dengan ilmu komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekedar obrolan santai. Ini adalah bentuk komunikasi yang sarat muatan sosial, cara masyarakat menegosiasikan norma, menegakkan aturan tak tertulis tentang “jadwal hidup ideal” seorang perempuan, lewat pertanyaan yang seolah polos, dianggap harmless.

Ketika Usia Menjadi Vonis

Dalam ilmu komunikasi dan sosiologi, ada istilah labelling atau pelabelan: proses ketika masyarakat menempelkan sebutan tertentu pada seseorang berdasarkan kondisi maupun perilaku yang dianggap tidak lazim. Perempuan yang belum menikah diusia matang acap kali disebut “perawan tua”, “tidak laku”, atau sering dicap “kebanyakan memilih”. Padahal tidak ada salahnya dalam memilih.

Riset tentang perempuan etnis Madura yang diterbitkan di Jurnal Dinamika Sosial Budaya (Al Farisi & Bawono, 2024) menggambarkan hal ini dengan gamblang. Perempuan yang menunda atau memilih tidak menikah di sana memiliki sebutan sendiri: “prabhen towah”. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan-perempuan ini menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar, dianggap tidak laku, terlalu memilih pasangan, sampai jadi bahan omongan keluarga jauh yang sebenarnya tidak tahu-menahu soal alasan di balik keputusan hidup mereka.

Padahal dari penelitian yang sama, alasan seorang perempuan tetap melajang jauh lebih kompleks: ada yang membawa trauma dari rumah tangga akibat perceraian orang tua, ada yang gagal menikah karena berbagai alasan, ada juga yang sekedar belum menemukan orang yang tepat untuk diajak berbagi hidup.

Yang menarik, riset tersebut menunjukkan sisi lain yang jarang diperhatikan: para perempuan ini pada akhirnya membangun mekanisme coping mereka sendiri, mulai mendekatkan diri secara spiritual, membangun kemandirian ekonomi, sampai pada titik penerimaan diri yang membuat mereka merasa lebih tenang menjalani hidup. Artinya, melajang bukan otomatis hidup kita gagal atau kosong. Ia adalah jalan hidup dengan dinamika psikologisnya sendiri yang layak dipahami bukan dihakimi.

Layar Kaca Pun Ikut Pelit Ruang

Stigma yang tidak lahir dari ruang hampa, ia dipupuk terus menerus lewat representasi media dan budaya populer yang kita konsumsi setiap hari. Tulisan di blog Oxford Institue of Population Ageing (2023) mengangkat sorotan yang relevan: perempuan yang beranjak tua kerap tersingkir dari layar populer, dan ketika pun tampil, mereka sering digambarkan sebagai sosok yang bergantung pada orang lain, kurang menarik, atau semata berperan sebagai ibu dan nenek, bukan sebagai individu dengan cerita dan keinginannya sendiri. Standar kecantikan dan daya tarik yang beredar di ruang publik pun masih lekat dengan citra muda, sehingga perempuan yang usianya bertambah nyaris tidak diberi ruang untuk tetap dianggap relevan, apalagi menarik dalam narasi arus utama.

Konstruksi semacam ini yang akhirnya merembes ke percakapan sehari-hari. Ketika media jarang menampilkan sosok perempuan matang yang utuh dan bahagia dengan pilihannya sendiri, wajar jika masyarakat pun kesulitan membayangkan hidup tanpa status menikah bisa jadi pilihan sadar, bukan kegagalan yang harus dikasihani.

Terlambat Menikah Bukan Berarti Merugi

Ada satu asumsi yang perlu diluruskan: seolah menikah lebih lambat dari “usia ideal” itu selalu berarti kerugian. Sebuah penelitian terhadap pria dan wanita Malaysia yang menikah di usia lebih matang (dipublikasikan di International Journal of Research and Innovation in Social Science, 2025) justru menemukan sederet dampak yang jauh dari kesan buruk. Dari sisi ekonomi, mereka yang menikah lebih matang cenderung punya kestabilan finansial yang lebih baik, aset yang lebih mapan, dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding jika menikah lebih dini.

Dari sisi kematangan diri, penelitian ini mencatat adanya pertumbuhan spiritual yang lebih dalam pada individu yang menikah di usia matang. Memang ada juga sisi psikologisnya yang perlu diperhatikan, seperti potensi stres dan pergulatan dengan rasa percaya diri, tapi justru menunjukkan bahwa pengalaman menunda pernikahan itu manusiawi dan berlapis, bukan sekedar “telat” yang layak dicemooh.

Rahim Bukan Ranah Komentar Orang Lain

Salah satu kekhawatiran yang paling sering dilontarkan pada perempuan matang yang belum menikah adalah soal keturunan. Seolah usia menjadi satu-satunya jaminan seseorang bisa atau tidak bisa memiliki anak. Padahal seperti yang pernah disampaikan dr. Gia Pratama Putra, urusan rahim sepenuhnya berada di tangan Tuhan.

Tidak ada jaminan medis atau usia berapa pun yang bisa memastikan seseorang pasti langsung memiliki anak begitu menikah. Maka menjadikan usia sebagai dasar untuk menghakimi kesiapan atau nasib reproduksi seorang perempuan sesungguhnya berangkat dari asumsi yang keliru.

Dari titik inilah kembali lagi ke soal komunikasi. Ada banyak topik lain yang bisa dipakai untuk basa-basi, istilah dalam ilmu komunikasi menyebutnya komunikasi fatis, obrolan ringan yang fungsinya sekedar menjaga hubungan sosial tetap hangat. Kita tidak harus mengorbankan privasi orang lain, apalagi urusan sesensitif pernikahan dan keturunan, hanya demi mencairkan suasana atau malah memang untuk menyerang personal seseorang.

Sesama Perempuan Mari Saling Menjaga

Yang paling menyayat justru ketika komentar semacam ini datang dari sesama perempuan. Padahal siapa pun paling tahu betapa beratnya tekanan yang datang bertubi-tubi soal jodoh, usia, dan tubuh. Kesuksesan dan kebahagiaan seorang perempuan tidak lahir dari status. Ia bisa datang dari karier yang dibangun dengan susah payah, dari kemandirian yang diperjuangkan, dari hubungan yang hangat dengan keluarga dan sahabat, atau dari ketenangan batin yang ia temukan sendiri.

Setiap perempuan apa pun status hidupnya, berapa pun usianya, BERHAK dihargai apa adanya. Bukan diukur kapan dia menikah, atau seberapa cepat dia punya keturunan, tetapi bagaimana ia menjalani hidupnya dengan penuh kesadaran dan dan pilihan sendiri. Setiap manusia, apapun gender/statusnya, mereka berharga. [I]

Tags: Perempuanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

Next Post

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Fitria Hani Aprina

Fitria Hani Aprina

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Aaron's English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co