17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
in Esai
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Ilustrasi Canva

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kalimat yang tercatat dalam Kitab Suci itu sering dipahami sebagai ajaran spiritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Jika dilepaskan sejenak dari konteks keagamaan, kalimat tersebut sesungguhnya menyimpan pemikiran yang sangat mendalam mengenai hakikat manusia. Ia mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sulit dijawab dengan jujur: apakah kita benar-benar hidup sebagai manusia yang bebas?

Pada zaman modern, kebebasan hampir selalu diukur dari banyaknya pilihan yang dimiliki seseorang. Kita menganggap diri bebas karena dapat memilih pekerjaan, menentukan pasangan hidup, menyampaikan pendapat di media sosial, membeli apa yang diinginkan, atau bepergian ke mana pun tanpa banyak hambatan.

Kebebasan kemudian direduksi menjadi kemampuan untuk melakukan apa saja selama tidak ada larangan dari pihak lain. Akibatnya, semakin sedikit batasan eksternal yang kita hadapi, semakin bebas pula kita merasa. Padahal, ukuran semacam itu hanya menyentuh permukaan. Manusia mungkin terbebas dari tekanan politik, bebas dari kemiskinan, atau hidup dalam sistem demokrasi yang menjamin hak-haknya.

Kendati demikian, belum tentu ia bebas dari dirinya sendiri. Ada bentuk penjara yang jauh lebih sunyi daripada tembok besi, yaitu penjara yang dibangun oleh ego. Penjara ini tidak terlihat, tetapi mampu mengendalikan hampir seluruh keputusan yang diambil seseorang. Ironisnya, semakin seseorang merasa berkuasa, semakin sulit pula ia menyadari bahwa dirinya sedang diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang tidak pernah ia pertanyakan.

Ego sering dipahami sebagai rasa percaya diri atau identitas diri. Padahal, dalam pengertian yang lebih luas, ego adalah kecenderungan untuk selalu menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu. Ego membuat seseorang haus akan pengakuan, takut kehilangan status, enggan menerima kritik, dan merasa harus selalu benar.

Ia tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang kasar. Kadang ego justru bersembunyi di balik sikap yang tampak rendah hati, kebaikan yang mengharapkan pujian, bahkan pengorbanan yang diam-diam menuntut balasan. Bayangkan seseorang yang hidup berkecukupan, memiliki jabatan tinggi, dihormati banyak orang, dan bebas menentukan arah hidupnya.

Dari luar, ia tampak sebagai simbol keberhasilan sekaligus kebebasan. Namun, setiap keputusan yang ia ambil sebenarnya didorong oleh rasa takut kehilangan citra. Ia bekerja tanpa henti bukan karena mencintai pekerjaannya, melainkan karena tidak sanggup membayangkan dirinya gagal.

Ia mengumpulkan kekayaan bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan agar tetap dipandang lebih unggul dibanding orang lain. Ia marah ketika dikritik karena harga dirinya bergantung pada penilaian publik. Apakah orang seperti ini benar-benar bebas? Secara hukum mungkin iya, tetapi secara batin ia adalah tawanan dari egonya sendiri.

Fenomena tersebut semakin jelas terlihat pada kehidupan digital saat ini. Media sosial menjanjikan ruang ekspresi tanpa batas, tetapi dalam praktiknya justru menciptakan ketergantungan baru terhadap validasi. Banyak orang mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah suka, komentar, atau pengikut.

Mereka membangun citra yang menarik, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Pendapat diutarakan bukan karena diyakini benar, melainkan karena berpotensi mendapatkan apresiasi. Bahkan kemarahan pun kadang dipertontonkan agar terlihat memiliki kepedulian.

Dalam situasi seperti ini, kebebasan berubah menjadi ilusi. Seseorang merasa sedang mengekspresikan diri, padahal sebenarnya ia sedang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Inilah sebabnya mengapa kebenaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebebasan. Kebenaran bukan sekadar kumpulan fakta yang harus diketahui, melainkan keberanian untuk melihat realitas apa adanya, termasuk realitas tentang diri sendiri.

Mengenal kebenaran berarti berani mengakui motif-motif tersembunyi yang selama ini menggerakkan tindakan kita. Mengapa kita ingin dipuji? Mengapa kita takut gagal? Mengapa kita sulit memaafkan? Mengapa kita selalu ingin menjadi pemenang dalam setiap perdebatan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tidak nyaman dijawab karena ego selalu mencari alasan untuk mempertahankan dirinya.

Di sinilah letak paradoks kehidupan manusia. Kita begitu sibuk mengubah dunia luar, tetapi jarang berusaha memahami dunia batin. Kita belajar berbagai keterampilan agar sukses, tetapi sedikit sekali yang mengajarkan cara mengenali kesombongan, iri hati, atau rasa takut yang tersembunyi di dalam diri.

Kita mengejar kebebasan melalui pencapaian eksternal, padahal akar perbudakan justru berada di dalam pikiran kita sendiri. Filsuf-filsuf besar sejak zaman Yunani kuno sebenarnya telah mengingatkan hal ini. Mereka meyakini bahwa manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu dan ambisi.

Dalam tradisi Timur pun terdapat keyakinan serupa bahwa penderitaan muncul ketika manusia terlalu melekat pada ego dan keinginan pribadi. Meskipun lahir dari latar belakang yang berbeda, semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: kebebasan sejati bukanlah soal memiliki lebih banyak pilihan, melainkan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang membutakan.

Tentu saja, membebaskan diri dari ego bukan berarti kehilangan identitas atau berhenti memiliki keinginan. Yang dimaksud adalah menempatkan ego pada posisi yang semestinya. Ego menjadi alat, bukan penguasa. Manusia tetap dapat bercita-cita, bekerja keras, dan menikmati keberhasilan tanpa menjadikan semua itu sebagai sumber harga dirinya.

Ia mampu menerima pujian tanpa menjadi sombong, menerima kritik tanpa merasa hancur, dan menerima kegagalan tanpa kehilangan makna hidup. Kebebasan seperti inilah yang jauh lebih sulit dicapai dibanding sekadar memperoleh kebebasan politik atau ekonomi. Kebenaran memang memiliki daya yang membebaskan karena ia menghancurkan ilusi yang selama ini kita pelihara.

Kebenaran memaksa kita melihat bahwa banyak keputusan yang kita anggap sebagai pilihan bebas ternyata hanyalah respons otomatis dari rasa takut, kesombongan, atau keinginan untuk diakui. Kesadaran itu mungkin menyakitkan, tetapi justru menjadi awal dari kemerdekaan yang sesungguhnya.

Selama manusia masih diperintah oleh ego, ia akan terus mencari sesuatu di luar dirinya untuk mengisi kekosongan yang tidak pernah selesai. Namun ketika ia berani mengenal kebenaran tentang dirinya sendiri, ia mulai menemukan ruang batin yang tidak lagi bergantung pada pujian, status, ataupun kemenangan.

Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan yang telah bertahan selama lebih dari dua ribu tahun itu. Kebebasan bukanlah keadaan ketika kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan, melainkan ketika keinginan-keinginan yang lahir dari ego tidak lagi menguasai hidup kita. Kebenaran tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah, tetapi ia membuat hidup menjadi lebih jernih. Dan dari kejernihan itulah lahir kemerdekaan yang tidak dapat dirampas oleh keadaan, kekuasaan, maupun penilaian orang lain. Dalam dunia yang terus mendorong manusia untuk mengejar pengakuan, mungkin bentuk kebebasan paling langka justru adalah keberanian untuk hidup tanpa diperintah oleh ego. Itulah kebebasan yang tidak bergantung pada situasi apa pun, karena ia lahir dari kemenangan manusia atas dirinya sendiri.[T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Jaswanto

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Next Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co