17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
in Esai
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Ilustrasi Canva

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kalimat yang tercatat dalam Kitab Suci itu sering dipahami sebagai ajaran spiritual tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Jika dilepaskan sejenak dari konteks keagamaan, kalimat tersebut sesungguhnya menyimpan pemikiran yang sangat mendalam mengenai hakikat manusia. Ia mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sulit dijawab dengan jujur: apakah kita benar-benar hidup sebagai manusia yang bebas?

Pada zaman modern, kebebasan hampir selalu diukur dari banyaknya pilihan yang dimiliki seseorang. Kita menganggap diri bebas karena dapat memilih pekerjaan, menentukan pasangan hidup, menyampaikan pendapat di media sosial, membeli apa yang diinginkan, atau bepergian ke mana pun tanpa banyak hambatan.

Kebebasan kemudian direduksi menjadi kemampuan untuk melakukan apa saja selama tidak ada larangan dari pihak lain. Akibatnya, semakin sedikit batasan eksternal yang kita hadapi, semakin bebas pula kita merasa. Padahal, ukuran semacam itu hanya menyentuh permukaan. Manusia mungkin terbebas dari tekanan politik, bebas dari kemiskinan, atau hidup dalam sistem demokrasi yang menjamin hak-haknya.

Kendati demikian, belum tentu ia bebas dari dirinya sendiri. Ada bentuk penjara yang jauh lebih sunyi daripada tembok besi, yaitu penjara yang dibangun oleh ego. Penjara ini tidak terlihat, tetapi mampu mengendalikan hampir seluruh keputusan yang diambil seseorang. Ironisnya, semakin seseorang merasa berkuasa, semakin sulit pula ia menyadari bahwa dirinya sedang diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang tidak pernah ia pertanyakan.

Ego sering dipahami sebagai rasa percaya diri atau identitas diri. Padahal, dalam pengertian yang lebih luas, ego adalah kecenderungan untuk selalu menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu. Ego membuat seseorang haus akan pengakuan, takut kehilangan status, enggan menerima kritik, dan merasa harus selalu benar.

Ia tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang kasar. Kadang ego justru bersembunyi di balik sikap yang tampak rendah hati, kebaikan yang mengharapkan pujian, bahkan pengorbanan yang diam-diam menuntut balasan. Bayangkan seseorang yang hidup berkecukupan, memiliki jabatan tinggi, dihormati banyak orang, dan bebas menentukan arah hidupnya.

Dari luar, ia tampak sebagai simbol keberhasilan sekaligus kebebasan. Namun, setiap keputusan yang ia ambil sebenarnya didorong oleh rasa takut kehilangan citra. Ia bekerja tanpa henti bukan karena mencintai pekerjaannya, melainkan karena tidak sanggup membayangkan dirinya gagal.

Ia mengumpulkan kekayaan bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan agar tetap dipandang lebih unggul dibanding orang lain. Ia marah ketika dikritik karena harga dirinya bergantung pada penilaian publik. Apakah orang seperti ini benar-benar bebas? Secara hukum mungkin iya, tetapi secara batin ia adalah tawanan dari egonya sendiri.

Fenomena tersebut semakin jelas terlihat pada kehidupan digital saat ini. Media sosial menjanjikan ruang ekspresi tanpa batas, tetapi dalam praktiknya justru menciptakan ketergantungan baru terhadap validasi. Banyak orang mengukur nilai dirinya berdasarkan jumlah suka, komentar, atau pengikut.

Mereka membangun citra yang menarik, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Pendapat diutarakan bukan karena diyakini benar, melainkan karena berpotensi mendapatkan apresiasi. Bahkan kemarahan pun kadang dipertontonkan agar terlihat memiliki kepedulian.

Dalam situasi seperti ini, kebebasan berubah menjadi ilusi. Seseorang merasa sedang mengekspresikan diri, padahal sebenarnya ia sedang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Inilah sebabnya mengapa kebenaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebebasan. Kebenaran bukan sekadar kumpulan fakta yang harus diketahui, melainkan keberanian untuk melihat realitas apa adanya, termasuk realitas tentang diri sendiri.

Mengenal kebenaran berarti berani mengakui motif-motif tersembunyi yang selama ini menggerakkan tindakan kita. Mengapa kita ingin dipuji? Mengapa kita takut gagal? Mengapa kita sulit memaafkan? Mengapa kita selalu ingin menjadi pemenang dalam setiap perdebatan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tidak nyaman dijawab karena ego selalu mencari alasan untuk mempertahankan dirinya.

Di sinilah letak paradoks kehidupan manusia. Kita begitu sibuk mengubah dunia luar, tetapi jarang berusaha memahami dunia batin. Kita belajar berbagai keterampilan agar sukses, tetapi sedikit sekali yang mengajarkan cara mengenali kesombongan, iri hati, atau rasa takut yang tersembunyi di dalam diri.

Kita mengejar kebebasan melalui pencapaian eksternal, padahal akar perbudakan justru berada di dalam pikiran kita sendiri. Filsuf-filsuf besar sejak zaman Yunani kuno sebenarnya telah mengingatkan hal ini. Mereka meyakini bahwa manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu dan ambisi.

Dalam tradisi Timur pun terdapat keyakinan serupa bahwa penderitaan muncul ketika manusia terlalu melekat pada ego dan keinginan pribadi. Meskipun lahir dari latar belakang yang berbeda, semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: kebebasan sejati bukanlah soal memiliki lebih banyak pilihan, melainkan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh dorongan-dorongan batin yang membutakan.

Tentu saja, membebaskan diri dari ego bukan berarti kehilangan identitas atau berhenti memiliki keinginan. Yang dimaksud adalah menempatkan ego pada posisi yang semestinya. Ego menjadi alat, bukan penguasa. Manusia tetap dapat bercita-cita, bekerja keras, dan menikmati keberhasilan tanpa menjadikan semua itu sebagai sumber harga dirinya.

Ia mampu menerima pujian tanpa menjadi sombong, menerima kritik tanpa merasa hancur, dan menerima kegagalan tanpa kehilangan makna hidup. Kebebasan seperti inilah yang jauh lebih sulit dicapai dibanding sekadar memperoleh kebebasan politik atau ekonomi. Kebenaran memang memiliki daya yang membebaskan karena ia menghancurkan ilusi yang selama ini kita pelihara.

Kebenaran memaksa kita melihat bahwa banyak keputusan yang kita anggap sebagai pilihan bebas ternyata hanyalah respons otomatis dari rasa takut, kesombongan, atau keinginan untuk diakui. Kesadaran itu mungkin menyakitkan, tetapi justru menjadi awal dari kemerdekaan yang sesungguhnya.

Selama manusia masih diperintah oleh ego, ia akan terus mencari sesuatu di luar dirinya untuk mengisi kekosongan yang tidak pernah selesai. Namun ketika ia berani mengenal kebenaran tentang dirinya sendiri, ia mulai menemukan ruang batin yang tidak lagi bergantung pada pujian, status, ataupun kemenangan.

Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan yang telah bertahan selama lebih dari dua ribu tahun itu. Kebebasan bukanlah keadaan ketika kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan, melainkan ketika keinginan-keinginan yang lahir dari ego tidak lagi menguasai hidup kita. Kebenaran tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah, tetapi ia membuat hidup menjadi lebih jernih. Dan dari kejernihan itulah lahir kemerdekaan yang tidak dapat dirampas oleh keadaan, kekuasaan, maupun penilaian orang lain. Dalam dunia yang terus mendorong manusia untuk mengejar pengakuan, mungkin bentuk kebebasan paling langka justru adalah keberanian untuk hidup tanpa diperintah oleh ego. Itulah kebebasan yang tidak bergantung pada situasi apa pun, karena ia lahir dari kemenangan manusia atas dirinya sendiri.[T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Jaswanto

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

Next Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co