26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 26, 2026
in Khas
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Diskusi di International Craft Discussion yang bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

—Catatan dari International Craft Discussion “Prakriti–Pustaka–Padma” di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud

ADA masa ketika seni kriya dipandang sebagai penghuni halaman belakang dunia seni. Ia hadir di rumah-rumah, pura, pasar, hingga ruang upacara, tetapi jarang memperoleh tempat sebagai medan pemikiran. Kriya lebih sering dipuji karena ketelitian tangan daripada gagasan yang melahirkannya. Seolah-olah ia hanya keterampilan, bukan cara membaca dunia.

Padahal, di Bali, batas antara seni dan kriya tidak pernah benar-benar tegas. Sebilah keris, selembar kain tenun, atau topeng kayu bukan sekadar benda yang indah dipandang. Di dalamnya bersemayam pengetahuan tentang alam, keyakinan, sejarah, teknologi lokal, bahkan cara sebuah masyarakat memahami hubungan manusia dengan semesta. Kriya, dengan demikian, bukan sekadar hasil kerja tangan, melainkan cara berpikir yang diwujudkan melalui material.

Kesadaran itulah yang mengemuka dalam International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma yang diselenggarakan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, pada Sabtu, 25 Juli 2026. Diskusi ini tidak sekadar menjadi forum penutup sebuah pameran, melainkan upaya mengembalikan seni kriya ke ruang percakapan intelektual yang selama ini kerap terabaikan.

Ketua panitia, Prof. Dr. I Wayan Suardana, M.Sn., saat memberi sambutan | Foto: Dok. ISI Bali

Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma yang berlangsung di ARMA pada 5–18 Juli 2026 dalam rangka peringatan 30 tahun museum tersebut. Pameran ini mempertemukan 79 karya dari 50 seniman asal delapan negara, yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, dan Iran. Tiga kuratornya, Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Wayan Seriyoga Parta, merancang tema yang mempertautkan Prakriti sebagai alam dan sumber penciptaan, Pustaka sebagai pengetahuan dan tradisi intelektual, serta Padma sebagai simbol pencapaian nilai estetik sekaligus spiritual dalam seni kriya.

Ketua panitia, Prof. Dr. I Wayan Suardana, M.Sn., menyayangkan kenyataan bahwa banyak pameran seni berakhir begitu saja setelah ruang pamer ditutup. Karya-karya yang telah menyedot perhatian publik dibongkar tanpa meninggalkan percakapan yang memadai. Menurutnya, sebuah pameran tidak cukup hanya menghadirkan karya yang baik, tetapi juga harus melahirkan wacana yang memungkinkan karya-karya tersebut terus hidup dalam ingatan dan diskusi publik.

Bagi Program Studi Kriya ISI Bali, penciptaan dan pewacanaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Karya seni memerlukan ruang tafsir, kritik, dan dialog agar tidak berhenti sebagai pengalaman visual sesaat. Karena itu, diskusi ini diselenggarakan untuk mempertanyakan kembali posisi seni kriya dalam lanskap seni rupa kontemporer sekaligus mencari jawaban atas tantangan yang dihadapi kriya di tengah perubahan zaman.

Harapan serupa juga disampaikan para kurator Becoming. Warih Wisatsana, Jean Couteau, dan Wayan Seriyoga Parta menilai pameran kriya lintas negara seperti ini layak diselenggarakan secara berkala, baik setiap tahun maupun dalam format biennale. Dengan tata kelola yang semakin profesional dan kualitas karya yang terus berkembang, mereka melihat peluang besar bagi Bali untuk menjadi salah satu simpul penting dialog seni kriya internasional.

Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet, M.Si saat menjadi moderator diskusi | Foto: Dok. ISI Bali

Dimoderatori Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet, M.Si., diskusi menghadirkan tiga pembicara yang berasal dari disiplin berbeda, tetapi bertemu pada satu kegelisahan yang sama: bagaimana menempatkan kembali seni kriya sebagai praktik budaya sekaligus praktik intelektual. Budayawan Warih Wisatsana, antropolog Jean Couteau, dan akademisi ISI Bali Dr. I Ketut Supir, M.Hum., mengulas tema Shaping the Future of Craft: Tradition, Innovation, and Global Dialogue. Tema ini tidak hanya mengajak peserta membayangkan masa depan seni kriya, melainkan juga menimbang bagaimana tradisi, inovasi, dan dialog global dapat saling menghidupi tanpa kehilangan akar kebudayaannya.

Tiga kata yang menjadi payung diskusi, yakni Prakriti, Pustaka, dan Padma—mengandung makna yang saling bertaut. Prakriti merujuk pada alam sebagai sumber kehidupan dan material. Pustaka melambangkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara Padma, bunga teratai, menjadi simbol pertumbuhan yang terus berlangsung meski lahir dari lumpur. Ketiganya menghadirkan pemahaman bahwa kriya lahir dari alam, dipelihara oleh pengetahuan, lalu berkembang melalui kemampuan manusia menafsirkan zamannya. Tradisi bukanlah benda mati yang harus dibekukan, melainkan proses yang terus bergerak.

Warih Wisatsana membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa seni tidak pernah lahir di ruang kosong. Setiap karya merupakan hasil dialog panjang antara manusia, lingkungan, ingatan, dan pengalaman hidupnya. Karena itu, membicarakan kriya berarti membicarakan kebudayaan.

Di tengah logika pasar yang semakin mendominasi dunia seni, Warih mengajak peserta kembali melihat proses kreatif sebagai ruang perenungan, bukan sekadar produksi. Seni kriya lahir dari kesabaran, dari tangan yang mengenali tekstur kayu, kelembutan tanah liat, atau kelenturan bambu. Seorang perajin, katanya, tidak hanya membuat benda, tetapi menerjemahkan pengetahuan yang diwariskan kepadanya.

Menurut Warih, keistimewaan kriya Bali terletak pada kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam rumah, pura, alat musik, perlengkapan upacara, hingga benda-benda yang digunakan masyarakat setiap hari. Keindahan sebuah karya bukan hanya ditentukan oleh kerumitan teknik atau proporsi bentuknya, melainkan oleh kemampuannya menjalankan fungsi sosial dan spiritual. Sebuah bokor, topeng, kain, atau ukiran memperoleh maknanya ketika hadir dalam kehidupan masyarakat yang menggunakannya. Karena itu, kriya tidak dapat dipahami hanya sebagai produk budaya. Ia adalah praktik budaya yang terus diwariskan, dipelajari, dan diperbarui.

Budayawan Warih Wisatsana dalam diskusi International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

Warih juga menegaskan bahwa inovasi tidak bertentangan dengan tradisi. Tradisi yang sehat justru melahirkan pembaruan karena setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda. Material berubah, teknologi berkembang, dan masyarakat terus bergerak. Jika tradisi menolak pembaruan, ia akan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, ketika inovasi berangkat dari pemahaman yang mendalam terhadap akar budaya, ia akan memperkaya kebudayaan itu sendiri. Di era digital, ketika inspirasi dapat diperoleh dari mana saja, identitas justru lahir dari pemahaman terhadap tempat kita berpijak. Masa lalu, bagi Warih, bukan ruang nostalgia, melainkan sumber inspirasi untuk menciptakan masa depan.

Dari pemikiran Warih Wisatsana, percakapan kemudian bergerak ke pertanyaan yang lebih luas. Jika kriya adalah bahasa kebudayaan, bagaimana bahasa itu bertahan ketika masyarakat terus berubah? Bagaimana tradisi bernegosiasi dengan modernitas, pariwisata, dan globalisasi tanpa kehilangan maknanya? Pertanyaan itulah yang dijawab Jean Couteau melalui perspektif antropologi.

Bagi Jean Couteau, kebudayaan tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu berubah mengikuti masyarakat yang menghidupinya. Selama ini Bali sering dipandang sebagai pulau yang berhasil mempertahankan tradisinya secara utuh. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Yang bertahan bukanlah bentuk-bentuknya secara kaku, melainkan nilai-nilai yang memungkinkan masyarakat Bali terus beradaptasi tanpa kehilangan orientasi budayanya. Tradisi, dengan demikian, bukan lawan dari perubahan. Tradisi justru menjadi landasan agar perubahan tidak kehilangan arah.

Pandangan itu menjadi penting ketika seni kriya memasuki ruang global. Kini karya-karya kriya Bali tidak lagi hanya hadir di desa atau pasar seni, tetapi juga dipamerkan di museum internasional, menjadi koleksi pribadi, hingga memasuki ruang-ruang desain kontemporer di berbagai negara. Perjalanan itu membuka kesempatan yang luas sekaligus menghadirkan pertanyaan baru. Apakah sebuah karya masih dapat disebut sebagai kriya Bali ketika bentuk, fungsi, bahkan pasarnya telah berubah?

Jean Couteau tidak melihat persoalan itu secara hitam putih. Sejarah Bali sendiri memperlihatkan bahwa kebudayaan pulau ini tumbuh melalui berbagai perjumpaan. Pengaruh India membentuk sistem keagamaan dan estetika. Hubungan dengan Jawa memperkaya sastra dan kesenian. Kontak dengan Tiongkok menghadirkan material dan teknik baru. Pada abad ke-20, interaksi dengan seniman Barat turut memengaruhi perkembangan seni rupa Bali. Semua pengaruh itu tidak menghapus identitas Bali. Sebaliknya, masyarakat Bali memiliki kemampuan untuk menyerap, mengolah, lalu memberi makna baru terhadap unsur-unsur dari luar. Kemampuan berdialog itulah yang membuat kebudayaan tetap hidup.

Dalam pandangan Jean Couteau, kebudayaan yang kuat bukanlah kebudayaan yang menutup diri, melainkan kebudayaan yang mampu memilih dan menafsirkan ulang setiap perubahan berdasarkan nilai yang diyakininya. Hal itu juga tampak pada seni kriya Bali.

Para perajin hari ini mungkin menggunakan alat yang lebih modern, memanfaatkan media sosial untuk memasarkan karya, berdiskusi dengan kolektor dari berbagai negara, atau mengikuti perkembangan desain internasional. Namun, selama proses penciptaannya masih berangkat dari pemahaman terhadap filosofi, simbol, dan hubungan manusia dengan alam, karya tersebut tetap memiliki akar budaya yang kokoh. Yang berubah adalah bentuknya, bukan maknanya.

Antropolog Jean Couteau dalam diskusi International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

Jean Couteau mengingatkan pentingnya membedakan perubahan bentuk dengan perubahan makna. Material dapat berganti, fungsi sebuah benda dapat berkembang, tetapi jika nilai yang melandasinya tetap dipahami, perubahan justru menjadi bagian dari perjalanan tradisi. Sebaliknya, sebuah karya bisa saja mempertahankan bentuk lama, tetapi kehilangan jiwanya ketika diproduksi tanpa memahami pengetahuan yang melahirkannya.

Pandangan ini terasa relevan di tengah industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Permintaan pasar sering mendorong reproduksi motif dan bentuk yang dianggap paling laku sehingga karya kriya berisiko direduksi menjadi komoditas atau simbol eksotisme semata. Padahal, di balik setiap ukiran, kain, atau topeng tersimpan pengetahuan, pengalaman sejarah, dan hubungan sosial yang tidak dapat diukur hanya dengan harga jual.

Menjaga kriya, karena itu, tidak cukup dengan menjaga bendanya. Yang lebih penting adalah menjaga kemampuan masyarakat untuk terus membaca makna yang dikandungnya. Dialog internasional pun menjadi penting, bukan sebagai ancaman, melainkan kesempatan memperkenalkan cara pandang Bali kepada dunia.

Dari sana, diskusi bergerak ke pertanyaan yang lebih praktis. Jika tradisi harus terus bergerak dan berdialog dengan zaman, siapa yang akan meneruskan pengetahuan itu? Bagaimana generasi muda belajar memahami akar tradisi sekaligus berani menciptakan pembaruan? Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak paparan Dr. I Ketut Supir, M.Hum., yang menempatkan pendidikan seni sebagai ruang penting untuk memastikan bahwa kriya tidak berhenti sebagai warisan, melainkan terus hidup sebagai praktik budaya.

Dr. I Ketut Supir memulai paparannya dengan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sangat mendasar;  siapa yang akan melanjutkan pengetahuan kriya di masa depan? Di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, pertanyaan itu terasa semakin mendesak. Selama ini banyak keterampilan kriya diwariskan melalui keluarga, sanggar, dan hubungan langsung antara guru dengan murid. Namun, perubahan gaya hidup membuat mata rantai pewarisan itu tidak lagi berjalan seperti dahulu. Semakin sedikit generasi muda yang memiliki kesempatan belajar langsung dari para maestro. Sebagian memilih profesi lain, sebagian lagi tumbuh di tengah dunia digital yang menawarkan ritme hidup berbeda. Di sinilah, menurutnya, pendidikan seni memiliki tanggung jawab yang tidak kecil.

Bagi I Ketut Supir, kampus tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis. Perguruan tinggi seni harus menjadi ruang untuk merawat pengetahuan. Mahasiswa memang belajar memahat, mengukir, menenun, atau mengolah logam, tetapi yang jauh lebih penting ialah memahami mengapa teknik-teknik itu lahir, bagaimana ia berhubungan dengan kehidupan masyarakat, serta nilai-nilai budaya yang dikandungnya. Pendidikan kriya tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan benda yang indah. Ia harus melahirkan kesadaran budaya.

Di sinilah letak perbedaan antara pembuat benda dan kriyawan. Seorang pembuat benda mungkin mampu menghasilkan karya yang rapi dan menarik secara visual. Namun, seorang kriyawan memahami hubungan antara material, fungsi, simbol, hingga konteks sosial tempat karya itu hidup. Ia bekerja bukan hanya dengan tangan, melainkan juga dengan pengetahuan. Karya yang dihasilkannya tidak sekadar selesai sebagai objek, tetapi hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Akademisi ISI Bali Dr. I Ketut Supir, M.Hum dalam diskusi International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

Pandangan itu menjadi semakin penting pada masa ketika informasi dapat diperoleh hanya melalui layar telepon genggam. Berbagai teknik mengukir dapat dipelajari melalui video, motif tradisional dapat diunduh dalam hitungan detik, bahkan kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan rancangan visual dalam waktu singkat. Namun, sebagaimana ditegaskan I Ketut Supir, informasi tidak pernah sama dengan pengetahuan.

Pengetahuan tumbuh melalui pengalaman. Seseorang mungkin hafal berbagai jenis kayu dari buku atau internet. Namun, ia baru benar-benar mengenalnya ketika menyentuh seratnya, memahami karakternya, mengetahui kapan kayu itu layak diolah, serta merasakan bagaimana setiap jenis kayu memberi respons berbeda terhadap alat pahat. Pengalaman semacam itu tidak dapat dipindahkan begitu saja melalui teknologi. Karena itu, pendidikan seni pada dasarnya adalah pendidikan tentang kepekaan—peka terhadap material, terhadap lingkungan, terhadap masyarakat, sekaligus terhadap perubahan zaman.

Menurut I Ketut Supir, tantangan pendidikan kriya hari ini bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan membentuk generasi yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan pijakan budayanya. Mahasiswa perlu mengenal perkembangan seni kontemporer, teknologi digital, hingga isu keberlanjutan lingkungan. Namun, semua itu harus dibangun di atas pemahaman yang kuat terhadap tradisi yang melahirkan mereka.

Dalam konteks inilah tema Prakriti–Pustaka–Padma menemukan relevansinya. Prakriti mengingatkan bahwa semua karya bermula dari alam. Tidak ada kriya tanpa material yang disediakan lingkungan. Karena itu, keberlanjutan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan seni kriya. Pustaka mengingatkan pentingnya mendokumentasikan, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan agar tidak berhenti sebagai tradisi lisan. Sementara Padma menjadi simbol pertumbuhan: pendidikan harus melahirkan keberanian untuk bereksperimen dan menawarkan pembacaan baru terhadap tradisi tanpa kehilangan akar budayanya.

Paparan I Ketut Supir melengkapi dua perspektif sebelumnya. Jika Warih Wisatsana menempatkan kriya sebagai bahasa kebudayaan, dan Jean Couteau melihatnya sebagai tradisi yang terus berubah, maka I Ketut Supir menunjukkan bahwa masa depan kriya bergantung pada pendidikan yang mampu merawat sekaligus mengembangkan pengetahuan itu. Kampus, dalam pengertian ini, bukan museum yang menyimpan masa lalu, melainkan laboratorium kebudayaan tempat tradisi diuji, diperkaya melalui riset, dan dipertemukan dengan berbagai disiplin ilmu.

Dari keseluruhan diskusi sore itu, saya menangkap satu benang merah yang terus muncul: masa depan seni kriya tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia mengikuti perkembangan zaman, melainkan oleh kemampuannya menjaga dialog antara alam, pengetahuan, dan manusia. Ketika dialog itu tetap hidup, tradisi tidak akan menjadi beban masa lalu. Ia justru menjadi sumber keberanian untuk membayangkan masa depan.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Agung Rai Museum of ArtInternational Craft DiscussionISI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Next Post

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
0
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

Read moreDetails
Next Post
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co