17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 27, 2026
in Khas
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Diskusi di International Craft Discussion yang bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

—Catatan dari International Craft Discussion “Prakriti–Pustaka–Padma” di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud

ADA masa ketika seni kriya dipandang sebagai penghuni halaman belakang dunia seni. Ia hadir di rumah-rumah, pura, pasar, hingga ruang upacara, tetapi jarang memperoleh tempat sebagai medan pemikiran. Kriya lebih sering dipuji karena ketelitian tangan daripada gagasan yang melahirkannya. Seolah-olah ia hanya keterampilan, bukan cara membaca dunia.

Padahal, di Bali, batas antara seni dan kriya tidak pernah benar-benar tegas. Sebilah keris, selembar kain tenun, atau topeng kayu bukan sekadar benda yang indah dipandang. Di dalamnya bersemayam pengetahuan tentang alam, keyakinan, sejarah, teknologi lokal, bahkan cara sebuah masyarakat memahami hubungan manusia dengan semesta. Kriya, dengan demikian, bukan sekadar hasil kerja tangan, melainkan cara berpikir yang diwujudkan melalui material.

Kesadaran itulah yang mengemuka dalam International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma yang diselenggarakan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, pada Sabtu, 25 Juli 2026. Diskusi ini tidak sekadar menjadi forum penutup sebuah pameran, melainkan upaya mengembalikan seni kriya ke ruang percakapan intelektual yang selama ini kerap terabaikan.

Ketua panitia, Prof. Dr. I Wayan Suardana, M.Sn., saat memberi sambutan | Foto: Dok. ISI Bali

Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma yang berlangsung di ARMA pada 5–18 Juli 2026 dalam rangka peringatan 30 tahun museum tersebut. Pameran ini mempertemukan 79 karya dari 50 seniman asal delapan negara, yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, dan Iran. Tiga kuratornya, Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Wayan Seriyoga Parta, merancang tema yang mempertautkan Prakriti sebagai alam dan sumber penciptaan, Pustaka sebagai pengetahuan dan tradisi intelektual, serta Padma sebagai simbol pencapaian nilai estetik sekaligus spiritual dalam seni kriya.

Ketua panitia, Prof. Dr. I Wayan Suardana, M.Sn., menyayangkan kenyataan bahwa banyak pameran seni berakhir begitu saja setelah ruang pamer ditutup. Karya-karya yang telah menyedot perhatian publik dibongkar tanpa meninggalkan percakapan yang memadai. Menurutnya, sebuah pameran tidak cukup hanya menghadirkan karya yang baik, tetapi juga harus melahirkan wacana yang memungkinkan karya-karya tersebut terus hidup dalam ingatan dan diskusi publik.

Bagi Program Studi Kriya ISI Bali, penciptaan dan pewacanaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Karya seni memerlukan ruang tafsir, kritik, dan dialog agar tidak berhenti sebagai pengalaman visual sesaat. Karena itu, diskusi ini diselenggarakan untuk mempertanyakan kembali posisi seni kriya dalam lanskap seni rupa kontemporer sekaligus mencari jawaban atas tantangan yang dihadapi kriya di tengah perubahan zaman.

Harapan serupa juga disampaikan para kurator Becoming. Warih Wisatsana, Jean Couteau, dan Wayan Seriyoga Parta menilai pameran kriya lintas negara seperti ini layak diselenggarakan secara berkala, baik setiap tahun maupun dalam format biennale. Dengan tata kelola yang semakin profesional dan kualitas karya yang terus berkembang, mereka melihat peluang besar bagi Bali untuk menjadi salah satu simpul penting dialog seni kriya internasional.

Akademisi Undiksha Dr. I Ketut Supir, M.Hum dalam diskusi International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

Dimoderatori Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet, M.Si., diskusi menghadirkan tiga pembicara yang berasal dari disiplin berbeda, tetapi bertemu pada satu kegelisahan yang sama: bagaimana menempatkan kembali seni kriya sebagai praktik budaya sekaligus praktik intelektual. Budayawan Warih Wisatsana, antropolog Jean Couteau, dan akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Dr. I Ketut Supir, M.Hum., mengulas tema Shaping the Future of Craft: Tradition, Innovation, and Global Dialogue. Tema ini tidak hanya mengajak peserta membayangkan masa depan seni kriya, melainkan juga menimbang bagaimana tradisi, inovasi, dan dialog global dapat saling menghidupi tanpa kehilangan akar kebudayaannya.

Tiga kata yang menjadi payung diskusi, yakni Prakriti, Pustaka, dan Padma—mengandung makna yang saling bertaut. Prakriti merujuk pada alam sebagai sumber kehidupan dan material. Pustaka melambangkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara Padma, bunga teratai, menjadi simbol pertumbuhan yang terus berlangsung meski lahir dari lumpur. Ketiganya menghadirkan pemahaman bahwa kriya lahir dari alam, dipelihara oleh pengetahuan, lalu berkembang melalui kemampuan manusia menafsirkan zamannya. Tradisi bukanlah benda mati yang harus dibekukan, melainkan proses yang terus bergerak.

Warih Wisatsana membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa seni tidak pernah lahir di ruang kosong. Setiap karya merupakan hasil dialog panjang antara manusia, lingkungan, ingatan, dan pengalaman hidupnya. Karena itu, membicarakan kriya berarti membicarakan kebudayaan.

Di tengah logika pasar yang semakin mendominasi dunia seni, Warih mengajak peserta kembali melihat proses kreatif sebagai ruang perenungan, bukan sekadar produksi. Seni kriya lahir dari kesabaran, dari tangan yang mengenali tekstur kayu, kelembutan tanah liat, atau kelenturan bambu. Seorang perajin, katanya, tidak hanya membuat benda, tetapi menerjemahkan pengetahuan yang diwariskan kepadanya.

Menurut Warih, keistimewaan kriya Bali terletak pada kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam rumah, pura, alat musik, perlengkapan upacara, hingga benda-benda yang digunakan masyarakat setiap hari. Keindahan sebuah karya bukan hanya ditentukan oleh kerumitan teknik atau proporsi bentuknya, melainkan oleh kemampuannya menjalankan fungsi sosial dan spiritual. Sebuah bokor, topeng, kain, atau ukiran memperoleh maknanya ketika hadir dalam kehidupan masyarakat yang menggunakannya. Karena itu, kriya tidak dapat dipahami hanya sebagai produk budaya. Ia adalah praktik budaya yang terus diwariskan, dipelajari, dan diperbarui.

Budayawan Warih Wisatsana dalam diskusi International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

Warih juga menegaskan bahwa inovasi tidak bertentangan dengan tradisi. Tradisi yang sehat justru melahirkan pembaruan karena setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda. Material berubah, teknologi berkembang, dan masyarakat terus bergerak. Jika tradisi menolak pembaruan, ia akan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, ketika inovasi berangkat dari pemahaman yang mendalam terhadap akar budaya, ia akan memperkaya kebudayaan itu sendiri. Di era digital, ketika inspirasi dapat diperoleh dari mana saja, identitas justru lahir dari pemahaman terhadap tempat kita berpijak. Masa lalu, bagi Warih, bukan ruang nostalgia, melainkan sumber inspirasi untuk menciptakan masa depan.

Dari pemikiran Warih Wisatsana, percakapan kemudian bergerak ke pertanyaan yang lebih luas. Jika kriya adalah bahasa kebudayaan, bagaimana bahasa itu bertahan ketika masyarakat terus berubah? Bagaimana tradisi bernegosiasi dengan modernitas, pariwisata, dan globalisasi tanpa kehilangan maknanya? Pertanyaan itulah yang dijawab Jean Couteau melalui perspektif antropologi.

Bagi Jean Couteau, kebudayaan tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu berubah mengikuti masyarakat yang menghidupinya. Selama ini Bali sering dipandang sebagai pulau yang berhasil mempertahankan tradisinya secara utuh. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Yang bertahan bukanlah bentuk-bentuknya secara kaku, melainkan nilai-nilai yang memungkinkan masyarakat Bali terus beradaptasi tanpa kehilangan orientasi budayanya. Tradisi, dengan demikian, bukan lawan dari perubahan. Tradisi justru menjadi landasan agar perubahan tidak kehilangan arah.

Pandangan itu menjadi penting ketika seni kriya memasuki ruang global. Kini karya-karya kriya Bali tidak lagi hanya hadir di desa atau pasar seni, tetapi juga dipamerkan di museum internasional, menjadi koleksi pribadi, hingga memasuki ruang-ruang desain kontemporer di berbagai negara. Perjalanan itu membuka kesempatan yang luas sekaligus menghadirkan pertanyaan baru. Apakah sebuah karya masih dapat disebut sebagai kriya Bali ketika bentuk, fungsi, bahkan pasarnya telah berubah?

Jean Couteau tidak melihat persoalan itu secara hitam putih. Sejarah Bali sendiri memperlihatkan bahwa kebudayaan pulau ini tumbuh melalui berbagai perjumpaan. Pengaruh India membentuk sistem keagamaan dan estetika. Hubungan dengan Jawa memperkaya sastra dan kesenian. Kontak dengan Tiongkok menghadirkan material dan teknik baru. Pada abad ke-20, interaksi dengan seniman Barat turut memengaruhi perkembangan seni rupa Bali. Semua pengaruh itu tidak menghapus identitas Bali. Sebaliknya, masyarakat Bali memiliki kemampuan untuk menyerap, mengolah, lalu memberi makna baru terhadap unsur-unsur dari luar. Kemampuan berdialog itulah yang membuat kebudayaan tetap hidup.

Dalam pandangan Jean Couteau, kebudayaan yang kuat bukanlah kebudayaan yang menutup diri, melainkan kebudayaan yang mampu memilih dan menafsirkan ulang setiap perubahan berdasarkan nilai yang diyakininya. Hal itu juga tampak pada seni kriya Bali.

Para perajin hari ini mungkin menggunakan alat yang lebih modern, memanfaatkan media sosial untuk memasarkan karya, berdiskusi dengan kolektor dari berbagai negara, atau mengikuti perkembangan desain internasional. Namun, selama proses penciptaannya masih berangkat dari pemahaman terhadap filosofi, simbol, dan hubungan manusia dengan alam, karya tersebut tetap memiliki akar budaya yang kokoh. Yang berubah adalah bentuknya, bukan maknanya.

Antropolog Jean Couteau dalam diskusi International Craft Discussion bertajuk Prakriti-Pustaka-Padma | Foto: Dok. ISI Bali

Jean Couteau mengingatkan pentingnya membedakan perubahan bentuk dengan perubahan makna. Material dapat berganti, fungsi sebuah benda dapat berkembang, tetapi jika nilai yang melandasinya tetap dipahami, perubahan justru menjadi bagian dari perjalanan tradisi. Sebaliknya, sebuah karya bisa saja mempertahankan bentuk lama, tetapi kehilangan jiwanya ketika diproduksi tanpa memahami pengetahuan yang melahirkannya.

Pandangan ini terasa relevan di tengah industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Permintaan pasar sering mendorong reproduksi motif dan bentuk yang dianggap paling laku sehingga karya kriya berisiko direduksi menjadi komoditas atau simbol eksotisme semata. Padahal, di balik setiap ukiran, kain, atau topeng tersimpan pengetahuan, pengalaman sejarah, dan hubungan sosial yang tidak dapat diukur hanya dengan harga jual.

Menjaga kriya, karena itu, tidak cukup dengan menjaga bendanya. Yang lebih penting adalah menjaga kemampuan masyarakat untuk terus membaca makna yang dikandungnya. Dialog internasional pun menjadi penting, bukan sebagai ancaman, melainkan kesempatan memperkenalkan cara pandang Bali kepada dunia.

Dari sana, diskusi bergerak ke pertanyaan yang lebih praktis. Jika tradisi harus terus bergerak dan berdialog dengan zaman, siapa yang akan meneruskan pengetahuan itu? Bagaimana generasi muda belajar memahami akar tradisi sekaligus berani menciptakan pembaruan? Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak paparan Dr. I Ketut Supir, M.Hum., yang menempatkan pendidikan seni sebagai ruang penting untuk memastikan bahwa kriya tidak berhenti sebagai warisan, melainkan terus hidup sebagai praktik budaya.

Dr. I Ketut Supir memulai paparannya dengan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sangat mendasar;  siapa yang akan melanjutkan pengetahuan kriya di masa depan? Di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, pertanyaan itu terasa semakin mendesak. Selama ini banyak keterampilan kriya diwariskan melalui keluarga, sanggar, dan hubungan langsung antara guru dengan murid. Namun, perubahan gaya hidup membuat mata rantai pewarisan itu tidak lagi berjalan seperti dahulu. Semakin sedikit generasi muda yang memiliki kesempatan belajar langsung dari para maestro. Sebagian memilih profesi lain, sebagian lagi tumbuh di tengah dunia digital yang menawarkan ritme hidup berbeda. Di sinilah, menurutnya, pendidikan seni memiliki tanggung jawab yang tidak kecil.

Bagi I Ketut Supir, kampus tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis. Perguruan tinggi seni harus menjadi ruang untuk merawat pengetahuan. Mahasiswa memang belajar memahat, mengukir, menenun, atau mengolah logam, tetapi yang jauh lebih penting ialah memahami mengapa teknik-teknik itu lahir, bagaimana ia berhubungan dengan kehidupan masyarakat, serta nilai-nilai budaya yang dikandungnya. Pendidikan kriya tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan benda yang indah. Ia harus melahirkan kesadaran budaya.

Di sinilah letak perbedaan antara pembuat benda dan kriyawan. Seorang pembuat benda mungkin mampu menghasilkan karya yang rapi dan menarik secara visual. Namun, seorang kriyawan memahami hubungan antara material, fungsi, simbol, hingga konteks sosial tempat karya itu hidup. Ia bekerja bukan hanya dengan tangan, melainkan juga dengan pengetahuan. Karya yang dihasilkannya tidak sekadar selesai sebagai objek, tetapi hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet, M.Si saat menjadi moderator diskusi | Foto: Dok. ISI Bali

Pandangan itu menjadi semakin penting pada masa ketika informasi dapat diperoleh hanya melalui layar telepon genggam. Berbagai teknik mengukir dapat dipelajari melalui video, motif tradisional dapat diunduh dalam hitungan detik, bahkan kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan rancangan visual dalam waktu singkat. Namun, sebagaimana ditegaskan I Ketut Supir, informasi tidak pernah sama dengan pengetahuan.

Pengetahuan tumbuh melalui pengalaman. Seseorang mungkin hafal berbagai jenis kayu dari buku atau internet. Namun, ia baru benar-benar mengenalnya ketika menyentuh seratnya, memahami karakternya, mengetahui kapan kayu itu layak diolah, serta merasakan bagaimana setiap jenis kayu memberi respons berbeda terhadap alat pahat. Pengalaman semacam itu tidak dapat dipindahkan begitu saja melalui teknologi. Karena itu, pendidikan seni pada dasarnya adalah pendidikan tentang kepekaan—peka terhadap material, terhadap lingkungan, terhadap masyarakat, sekaligus terhadap perubahan zaman.

Menurut I Ketut Supir, tantangan pendidikan kriya hari ini bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan membentuk generasi yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan pijakan budayanya. Mahasiswa perlu mengenal perkembangan seni kontemporer, teknologi digital, hingga isu keberlanjutan lingkungan. Namun, semua itu harus dibangun di atas pemahaman yang kuat terhadap tradisi yang melahirkan mereka.

Dalam konteks inilah tema Prakriti–Pustaka–Padma menemukan relevansinya. Prakriti mengingatkan bahwa semua karya bermula dari alam. Tidak ada kriya tanpa material yang disediakan lingkungan. Karena itu, keberlanjutan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan seni kriya. Pustaka mengingatkan pentingnya mendokumentasikan, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan agar tidak berhenti sebagai tradisi lisan. Sementara Padma menjadi simbol pertumbuhan: pendidikan harus melahirkan keberanian untuk bereksperimen dan menawarkan pembacaan baru terhadap tradisi tanpa kehilangan akar budayanya.

Paparan I Ketut Supir melengkapi dua perspektif sebelumnya. Jika Warih Wisatsana menempatkan kriya sebagai bahasa kebudayaan, dan Jean Couteau melihatnya sebagai tradisi yang terus berubah, maka I Ketut Supir menunjukkan bahwa masa depan kriya bergantung pada pendidikan yang mampu merawat sekaligus mengembangkan pengetahuan itu. Kampus, dalam pengertian ini, bukan museum yang menyimpan masa lalu, melainkan laboratorium kebudayaan tempat tradisi diuji, diperkaya melalui riset, dan dipertemukan dengan berbagai disiplin ilmu.

Dari keseluruhan diskusi sore itu, saya menangkap satu benang merah yang terus muncul: masa depan seni kriya tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia mengikuti perkembangan zaman, melainkan oleh kemampuannya menjaga dialog antara alam, pengetahuan, dan manusia. Ketika dialog itu tetap hidup, tradisi tidak akan menjadi beban masa lalu. Ia justru menjadi sumber keberanian untuk membayangkan masa depan.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Agung Rai Museum of ArtInternational Craft DiscussionISI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

Next Post

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails
Next Post
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co