DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya yang tersembunyi, membuat banyak orang mungkin tak pernah menyadari bahwa di sana terdapat Perpustakaan Widya Kusuma. Padahal, selama lebih dari sebulan terakhir, ruang yang biasanya sepi itu menjelma menjadi salah satu titik temu paling hangat bagi buku, seni, dan percakapan.
Di tempat itulah Beranda Pustaka 2026 berlangsung. Bukan sekadar pameran buku dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, melainkan sebuah upaya menghidupkan kembali perpustakaan sebagai ruang publik yang terbuka bagi siapa saja. Selama 43 hari, sejak 13 Juni hingga 25 Juli 2026, perpustakaan yang sehari-hari lebih sering tertutup itu dipenuhi berbagai macam aktivitas. Orang datang bukan hanya untuk membeli buku, tetapi juga membaca, berdiskusi, mengikuti peluncuran buku, ataupun sekadar beristirahat dari riuhnya festival.
Keputusan memperpanjang penyelenggaraan menjadi lebih dari enam pekan ꟷ sedari perhelatan Pesta Kesenian Bali ke-48 ꟷ menjadi pembeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya berlangsung sekitar dua pekan.

Komunitas Aghumi, yang dipercaya mengelola Beranda Pustaka tahun ini, memang tidak menginginkan program tersebut sekadar sebagai agenda festival. Mereka ingin perpustakaan kembali menjalankan fungsi yang paling mendasar: menjadi ruang yang hidup.
“Beranda Pustaka kami hadirkan bukan sekadar sebagai pameran buku, melainkan sebagai upaya mengaktivasi Perpustakaan Widya Kusuma yang dibangun sejak tahun 1970-an sebagai ruang publik. Yang kami bangun adalah ruang yang mempertemukan buku, pembaca, penulis, penerbit, komunitas, dan masyarakat untuk membaca, berdiskusi, serta bertukar gagasan,” ujar Wulan Dewi Saraswati, Direktur Kreatif Komunitas Aghumi sekaligus penanggung jawab Beranda Pustaka 2026.
Bagi Wulan, teks tidak pernah berhenti sebagai deretan kata di atas kertas. Buku menjadi medium untuk membaca kehidupan, memahami kota, mengingat budaya, sekaligus merefleksikan kehidupan manusia.
Pandangan itu terasa nyata ketika memasuki ruang perpustakaan. Di salah satu sudut, sekelompok anak-anak duduk melingkar membaca buku cerita bergambar. Di meja lain, sekelompok remaja berdiskusi sembari membuka halaman demi halaman buku yang baru mereka temukan. Ada pula yang datang membawa tugas sekolah, memanfaatkan suasana tenang perpustakaan untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR).
Pengalaman itulah paling membekas bagi I Gusti Putu Oka Wikan Nanda, siswa berusia 16 tahun yang menjadi Koordinator Buku Beranda Pustaka 2026. Selama lebih dari satu bulan mendampingi kegiatan, ia menyaksikan sendiri bagaimana perpustakaan berubah menjadi ruang yang akrab bagi banyak orang.
“Selama jadi koordinator buku di Beranda Pustaka, saya senang bisa turut berkontribusi menghadirkan sebuah ruang temu antara literasi, buku, dan kesenian bersama Komunitas Aghumi. Selama 43 hari ini, banyak anak-anak yang sering mampir ke Beranda Pustaka untuk membaca buku dongeng, mengobrol, membuat PR, dan berbagai aktivitas lainnya. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bisa turut menciptakan tempat yang aman dan nyaman bagi masyarakat untuk ‘memperlambat diri’ sejenak di tengah derasnya arus kehidupan saat ini,” tuturnya.
Ungkapan ‘memperlambat diri’ barangkali menjadi salah satu gambaran paling tepat tentang suasana Beranda Pustaka. Di tengah budaya digital serba cepat, membaca menuntut ritme yang berbeda. Orang harus berhenti sejenak, membuka halaman demi halaman, memberi waktu bagi pikiran untuk menyerap makna. Ruang seperti inilah yang perlahan mulai langka di kota-kota besar.

Karena itu, keberadaan Beranda Pustaka sesungguhnya melampaui fungsi festival. Ia menghadirkan pengalaman membaca sebagai aktivitas sosial. Buku bukan lagi benda yang diam di rak, melainkan alasan untuk bertemu, berbincang, saling bertukar rekomendasi, bahkan membangun komunitas baru.
Akademisi dan pengamat sastra, I Made Sujaya, menilai keberadaan Beranda Pustaka patut dipertahankan.
“Tahun ini, saya hanya dua kali hadir ke Beranda Pustaka, jadi memang tidak mengikuti secara intens. Tapi, Beranda Pustaka saya rasa tetap harus ada. Pengelolaannya terus diperbarui sehingga makin menarik orang untuk mampir. Beranda Pustaka makin baik, terutama keragaman kegiatan dan produksi konten di media sosial,” ujarnya.
Menurut Sujaya, pengembangan program tetap perlu dilakukan agar dampaknya semakin besar terhadap ekosistem literasi Bali. Salah satunya dengan memberi ruang yang lebih luas bagi karya-karya penulis lokal.
“Acara peluncuran dan diskusi buku perlu memberi ruang lebih banyak bagi buku-buku karya pengarang atau penulis lokal,” tambahnya.
Pandangan serupa turut disampaikan I Made Adnyana, akademisi sekaligus pengamat musik. Menurutnya, penyelenggaraan Beranda Pustaka tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup jelas.
“Beranda Pustaka tahun ini lebih rapi dan teratur. Ada upaya serius untuk mengabarkan keberadaannya kepada publik. Berbagai kegiatan pendukung yang dihadirkan pun menjadikan Beranda Pustaka lebih menarik dan lebih ramai,” kata penulis buku ‘Kènè Kèto Musik Bali’ itu.
Tentu masih ada tantangan yang harus dijawab. Letak perpustakaan yang tersembunyi membuat banyak pengunjung festival tidak menyadari keberadaan Beranda Pustaka. Ironisnya, perpustakaan yang nyaman dengan fasilitas memadai itu justru lebih sering tertutup pada hari-hari biasa. Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa ruang publik yang dibangun untuk masyarakat belum benar-benar hadir dalam keseharian masyarakat?

Barangkali di situlah makna terpenting Beranda Pustaka. Program ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan sekadar soal ketersediaan buku atau rendahnya minat baca, melainkan bagaimana menghadirkan ruang yang membuat orang ingin datang, membaca, berbincang, dan kembali lagi esok hari.
Harapan itu pula yang disampaikan Wulan Dewi Saraswati. Baginya, pengalaman selama 43 hari membuktikan bahwa ruang membaca masih dibutuhkan oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga lansia.
“Literasi bukan hanya milik dunia sastra, tetapi kebutuhan setiap orang,” ujarnya. Ia berharap Beranda Pustaka 2026 dapat menjadi awal lahirnya lebih banyak ruang baca dan aktivasi literasi yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga perpustakaan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pada akhirnya, yang ditinggalkan Beranda Pustaka 2026 bukan sekadar deretan buku di rak atau panjangnya daftar acara yang terselenggara. Warisan sesungguhnya adalah jejak-jejak yang tumbuh selama enam pekan itu: anak-anak yang menemukan kegembiraan membaca, remaja yang menjadikan perpustakaan ruang berkumpul, pembaca yang dipertemukan dengan penulis, serta masyarakat yang kembali menyadari bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang yang menumbuhkan gagasan, percakapan, dan harapan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto






























