26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
in Panggung
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

Pementasan tabuh baleganjur kreasi ‘Temurun Warsa’ karya I Putu Rizky Anggara Putra│Foto: Dok. UPMI Bali

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan ketika musim kering datang. Dari tradisi Mendak Hujan yang hidup di tengah masyarakat itulah I Putu Rizky Anggara Putra menemukan gagasan menciptakan ‘Temurun Warsa’, sebuah tabuh baleganjur kreasi yang menggambarkan perjalanan batin manusia saat menanti turunnya hujan.

Karya berjudul ‘Temurun Warsa’ menjadi penutup rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 30 Mei 2026 di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, itu menghadirkan lima karya inovatif mahasiswa angkatan 2022 sebagai representasi capaian pembelajaran mereka di bidang seni pertunjukan.

Sebagaimana karya-karya lain yang dipentaskan malam itu, ‘Temurun Warsa’ tidak sekadar menjadi bagian dari ujian akademik. Diseminasi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengolah gagasan, menerjemahkannya ke dalam bentuk artistik, mengelola proses produksi, hingga membangun kolaborasi untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang utuh.

Di Program Studi Sendratasik UPMI Bali, tugas akhir dapat diwujudkan dalam bentuk proyek inovatif seni pertunjukan yang tetap dilengkapi laporan akademik sebagai bentuk pertanggungjawaban proses kreatif dan keilmuan. Karena itu, setiap karya yang tampil bukan hanya menunjukkan kemampuan artistik mahasiswa, tetapi juga menjadi hasil dari proses riset dan penggalian gagasan yang mendalam.

Pementasan tabuh baleganjur kreasi ‘Temurun Warsa’ karya I Putu Rizky Anggara Putra│Foto: Dok. UPMI Bali

 

Sebagai karya penutup, ‘Temurun Warsa’ hadir membawa tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat Pecatu. Rizky, yang berasal dari Desa Adat Pecatu, memilih mengangkat tradisi yang tumbuh dan hidup di kampung halamannya sendiri. Ketertarikannya pada tradisi Mendak Hujan menjadi titik awal lahirnya karya ini.

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki keunikan tersendiri karena menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Di tengah kondisi alam yang kerap menghadapi musim kering, Mendak Hujan menjadi wujud ikhtiar spiritual masyarakat dalam memohon turunnya hujan sebagai sumber kehidupan.

“Karena saya sangat tertarik dengan tradisi Mendak Hujan di desa saya. Setahu saya, hanya di sini ada tradisi tersebut. Saya memilih menggunakan gamelan Baleganjur Semarandana supaya bisa mengolah nada-nada yang saya inginkan,” ujar Rizky.

Dari tradisi itulah lahir ‘Temurun Warsa’. Judul tersebut mengandung makna turunnya hujan yang dinanti masyarakat. Namun dalam karya ini, hujan tidak hanya dipahami sebagai fenomena alam semata. Hujan menjadi simbol kehidupan, harapan, dan anugerah yang selalu ditunggu ketika alam mulai kehilangan kesuburannya.

Pementasan tabuh baleganjur kreasi ‘Temurun Warsa’ karya I Putu Rizky Anggara Putra│Foto: Dok. UPMI Bali

Dalam sinopsis karya dijelaskan bahwa ‘Temurun Warsa’ lahir dari refleksi spiritual masyarakat Bali terhadap alam semesta melalui prosesi upacara Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu. Karya baleganjur kreasi ini menghadirkan perjalanan batin manusia saat langit mulai hening, tanah mengering, dan doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap demi turunnya hujan sebagai sumber kehidupan. Di balik dentuman ritme, gemuruh kendang, dan dinamika musikal yang terus bergerak, tersimpan suara kegelisahan, keyakinan, sekaligus pengharapan masyarakat kepada alam dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui komposisi baleganjur yang bergerak dinamis dari awal hingga akhir pertunjukan. Ritme yang dibangun secara bertahap menghadirkan suasana yang menggambarkan perubahan perasaan manusia ketika menghadapi kemarau panjang. Ada kegelisahan saat hujan tak kunjung datang, harapan yang terus dipanjatkan melalui doa, dan ada keyakinan bahwa alam pada akhirnya akan kembali menghadirkan kehidupan.

Pilihan menggunakan Baleganjur Semarandana menjadi salah satu unsur penting dalam karya ini. Menurut Rizky, media tersebut dipilih karena mampu mewadahi berbagai kebutuhan musikal yang ingin diwujudkannya.

“Karena saya mengambil bagian iringan atau iring-iringan melasti mendak hujan, jadi saya memakai Baleganjur Semarandana,” katanya.

Melalui perpaduan karakter baleganjur yang dinamis dengan kemungkinan pengolahan nada yang lebih luas, Rizky berusaha menghadirkan suasana musikal yang mampu menggambarkan perjalanan emosional masyarakat dalam menanti datangnya hujan.

Pementasan tabuh baleganjur kreasi ‘Temurun Warsa’ karya I Putu Rizky Anggara Putra│Foto: Dok. UPMI Bali

Di balik penampilannya malam itu, terdapat proses panjang yang harus dilalui. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Rizky selama proses penciptaan adalah keterbatasan waktu.

“Kendala saat penggarapan yaitu waktu berproses yang sedikit. Jadi saya mencoba mencari waktu sebaik mungkin. Untuk pementasan tidak ada kendala, semuanya aman,” bebernya.

Meski waktu yang tersedia tidak banyak, proses kreatif tetap dapat berjalan berkat dukungan berbagai pihak. Dalam penggarapan karya ini, Rizky didukung oleh Saih Pitu Art Community dan Sekaa Gong Yowana Swara Dharma Pertiwi. Dukungan juga datang dari Sitara Costum dan Adianom Costum untuk kebutuhan kostum, sementara gamelan yang digunakan berasal dari Banjar Kauh Pecatu, Badung.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan gagasan yang selama ini ada dalam benak sang pencipta. Bersama para pendukung karya, Rizky berusaha menerjemahkan tradisi yang hidup di masyarakatnya ke dalam sebuah komposisi musikal yang dapat dinikmati oleh khalayak.

Pementasan tabuh baleganjur kreasi ‘Temurun Warsa’ karya I Putu Rizky Anggara Putra│Foto: Dok. UPMI Bali

Ketika pertunjukan mencapai penghujung, tepuk tangan penonton menggema memenuhi wantilan. Bagi Rizky, malam itu bukan hanya akhir dari sebuah pementasan, tetapi juga penanda berakhirnya perjalanan panjang dalam menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa.

“Perasaan saya sangat bangga karena baru di angkatan saya ada tugas akhir seperti ini. Pengalaman ini menambah wawasan saya dalam proses penggarapan. Saya juga senang karena bisa mengolah ide-ide yang selama ini ada di pikiran menjadi sebuah karya,” tandasnya.

Melalui ‘Temurun Warsa’, I Putu Rizky Anggara Putra tidak hanya menuntaskan kewajiban akademiknya. Ia juga membawa sepotong cerita dari Desa Adat Pecatu ke atas panggung. Cerita tentang masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam, doa-doa yang dipanjatkan ketika langit enggan menurunkan hujan, dan keyakinan bahwa setiap harapan akan menemukan jalannya sendiri.[T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baleganjurDesa Adat Pecatukesenian baliTradisiUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Next Post

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails
Next Post
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co