6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
in Esai
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

Bung Karno dan Chairil Anwar | Ilustrasi diolah tatkala.co

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno. Ketiganya adalah tokoh bangsa yang mencintai bangsanya dengan cara berbeda. Chairil Anwar mencintai bangsanya dengan menjaga, merawat, dan mengabadikan Bung Karno dalam puisinya yang terkenal “Persetujuan dengan Bung Karno”. Sementara itu, Sjahrir adalah ring satu lingkar  kekuasaan  Bung Karno.

Jika mencermati asal-usul, Chairil Anwar adalah keponakan Sutan Sjahrir berasal dari Medan, sedangkan Bung Karno dari  Jawa Timur beribu Bali, Ida Ayu Nyoman Rai. Bung Karno adalah macan podium yang menjinakkan macan Amerika dan Inggris. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”, tanda nyali besar Sang Bung Karno seperti Sang Fajar menyingsing. Pantas disebut Putra Sang Pajar. Makin siang makin galak dan makin ganas menaklukkan lawan. Semangat Bung Karno, terasa benar  dalam puisi “Dipenogoro”-nya Chairil yang   menggambarkan : “Pedang di kanan, keris di kiri/Berselempang semangat yang tak bisa mati”. Bahkan sampai kini,  di Bali  Bulan Bung Karno dirayakan dari tingkat sekolah, desa, Kecamatan, Kabupaten,  dan Provinsi. Itu berlangsung sejak Gubernur Wayan Koster.

Sesaat setelah meninggal Bung Karno pada 21 Juni 1970, tetua Bali bahkan mengimajinasikan Bung Karno muncul di bulan. Imajinasi tanda kesetiaan pada Bung Karno.  Pengagum Bung Karno di Bali rerata memajang foto/lukisan  Bung Karno yang memegang keris sebagai simbol senjata tradisional. Artinya, semangat nasionalisme Bung Karno tidak meninggalkan kearifan lokal Nusantara. Pun tidak minder di hadapan bangsa-bangsa maju di dunia. Pertanda Bung Karno pejuang yang memuliakan glonakalisasi (global, nasional, lokal)- -isasi sebagai medium diplomasi. Hanya orang yang berkecerdasan tinggi mampu menyeimbangkan dan mengutuhkan ketiga semangat itu dalam elan nafas perjuangan. Sejalan dengan semangat Ki Hadjar Dewantara dengan Trikon-nya yang Bung Karno terjemahkan dalam  semangat Trisakti untuk menata bangsa.

Baik Ki Hadjar Dewantara maupun Bung Karno sama-sama memiliki pandangan yang sama dalam bidang kebudayaan. Ki Hadjar Dewantara menerjemahkan kebudayaan dengan tiga mantra sakti Caraka (cipta, rasa, dan karsa) sebagai unsur pembentuk. Kelak, mantra inilah menjadi asal-muasal secara etimologi Ceraken Kebudayaan (Bali). Ki Hadjar Dewantara juga memperkenalkan Trikon (konsentris, kontinuitas, konvergensi) dalam membina dan menumbuhkembangkan Pendidikan dan kebudayaan. Growth mindset  dari psikolog Stanford, Carol Dweck sejalan dengan Ki Hadjar Dewantara mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan secara linguistik dipersepsikan sebagai Kata Benda, dalam pola pikir Growth mindset , kebudayaan adalah Kata Kerja. Kerja-kerja kebudayaan adalah kerja dinamis tanpa berkesudahan (kontinuitas).

Di dalam mantra trisakti-nya Bung Karno, kebudayaan diterjemahkan dalam satu frase : berkepribadian dalam kebudayaan. Dua frase yang lain adalah berdikari secara ekonomi dan berdaulat secara politik. Jadi, kedua tokoh besar ini sama dalam memandang kebudayaan yang kelak keduanya juga sama-sama mengaplikasikan ke ranah berbangsa dan bernegara. Ki Hadjar Dewantara melalui Departemen  Pendidikan dan Pengajaran, Bung Karno mengorkestrasi melalui tahta presiden selama 20 tahun.

Ke-Medan-an Sjahrir dan Chairil yang cenderung blakblakan dan ceplas-ceplos dengan tingkat kepercayaan tinggi memberikan keleluasaan keduanya membangun narasi yang kuat berpijak pada literatur yang terpercaya. Keduanya juga kutu buku. Bahkan demi memenuhi hausnya membaca, Chairil pernah mencuri buku di Pasar Senen Batavia toko buku milik Belanda.  Dalam konteks Bali, Chairil Anwar adalah maling maguna. Yang membedakan keduanya adalah jalan perjuangan yang ditempuh. Yang satu melalui jalur birokrasi yang ketat menjaga marwah kepemimpinan dengan puncak jabatan sebagai Perdana Menteri, yang satunya bohemian urakan yang memungut kata-kata kasar dan tajam untuk membingkai puisinya. Dari kata-kata paling sarkas hingga kata-kata paling humanis, ia berpuisi. Semangat zaman pun terpotret melalui puisinya. Bahkan kata-kata dalam puisinya menyejarah dan sering dikutip : Aku ingin hidup seribu tahun lagi, hidup hanya menunda kekalahan, sebelum pada akhirnya menyerah, sekali berarti setelah itu mati, dan sejumlah kata-kata bertuah penyemangat dan motivasi.

Keliteratan keduanya berhasil menaklukkan kata-kata untuk memperjuangkan nama Indonesia di kancah pergaulan bangsa-bangsa yang beradab. Bagi, Chairil, pena adalah senjata. Kata-kata adalah pelor yang ditembakkan untuk menjinakkan lawan di tengah situasi yang gamang sesaat Proklamasi dibacakan Bung Karno didampingi Bung Hatta.

Dalam puisinya berjudul, “Karawang Bekasi” Chairil menulis bait-bait yang bukan fiktif tetapi fakta hasil pergumulannya dengan lingkar kekuasaan. Mengabadikan tokoh sejarah bangsa dalam puisi, seperti mematri namanya dalam prasasti :

Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Apa makna puisi-puisi kebangsaan Chairil  bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pertama, keleluasaan Chairil berada di lingkar satu Sjahrir yang Perdana Menteri pertama RI, memungkinkannya mendapatkan saripati kata bertuah termasuk nuansa emosi yang menyertainya. Diskusi dan perdebatan antara Soekarno, Hatta, dan Sjahrir tampaknya juga mengilhami puisi-puisi Chairil. Namun di ujungnya, semua dicatat dan ditulis dengan indah. Semua diberi tempat dan ruang. Tiada ada yang ditinggal, yang bajik dan yang batil. Yang halus dan yang kasar. Namun, tidak mungkin semua peristiwa di lingkar kekuasaan itu dapat dinyatakan dalam puisi dengan kata-kata terbatas. Paling tidak, puisi-puisi Chairil Anwar cukup memadai untuk menjadi pendamping bacaan sejarah. Oleh karena itu, guru Sejarah pun perlu mengapresiasi karya sastra termasuk puisi. Pendekatan interdisipliner antar mata pelajaran adalah hal yang diseyogyakan. Tidak zamannya lagi untuk menunjukkan egosektoral dalam bidang keilmuan karena pada hakikatnya semua cabang ilmu yang terpilah-pilah menjadi mata pelajaran itu beribukan satu : Filsafat.  

Kedua, Chairil menempatkan ketiga tokoh bangsa itu sebagai pahlawan yang setara saling melengkapi. Repetisi kata “menjaga” menandakan pengamanan dan penegasan bahwa para pejuang itu  selalu diajak bergandengan tangan seperti dinyatakan dalam “Persetujuan dengan Bung Karno”. Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu/ Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945/Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu/Aku sekarang api aku sekarang laut….

Ketiga, Chairil selain mencatat dan ikut membesarkan Soekarno yang memang sudah besar sebelum Chairil lahir 1922, ketika Bung Karno sudah aktif di pergerakan. Chairil yang dimuliakan kewafatannya sebagai Hari Puisi pada 28 April, sementara Juni sepenuhnya milik Bung Karno. Sejarah lahirnya istilah Pancasila pada 1 Juni 1945, Bung Karno lahir 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970, dalam usia 69 tahun.  Walaupun demikian, keduanya sama-sama  pendobrak. Bung Karno adalah pendobrak yang memerdekakan bangsanya dan Chairil adalah pendobrak bahasa yang meninggalkan gaya bahasa pujangga baru. Hebatnya Chairil bisa merangsek di ring satu kekuasaan sebagai penyair walaupun mati muda dalam usia 27 tahun. Dengan tinta emas Chairil menjaga Bung Karno. Selamat merayakan Bulan Bung Karno. Salam Budaya! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bung KarnoChairil AnwarSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
0
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

Read moreDetails

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co