15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
in Esai
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

Bung Karno dan Chairil Anwar | Ilustrasi diolah tatkala.co

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno. Ketiganya adalah tokoh bangsa yang mencintai bangsanya dengan cara berbeda. Chairil Anwar mencintai bangsanya dengan menjaga, merawat, dan mengabadikan Bung Karno dalam puisinya yang terkenal “Persetujuan dengan Bung Karno”. Sementara itu, Sjahrir adalah ring satu lingkar  kekuasaan  Bung Karno.

Jika mencermati asal-usul, Chairil Anwar adalah keponakan Sutan Sjahrir berasal dari Medan, sedangkan Bung Karno dari  Jawa Timur beribu Bali, Ida Ayu Nyoman Rai. Bung Karno adalah macan podium yang menjinakkan macan Amerika dan Inggris. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”, tanda nyali besar Sang Bung Karno seperti Sang Fajar menyingsing. Pantas disebut Putra Sang Pajar. Makin siang makin galak dan makin ganas menaklukkan lawan. Semangat Bung Karno, terasa benar  dalam puisi “Dipenogoro”-nya Chairil yang   menggambarkan : “Pedang di kanan, keris di kiri/Berselempang semangat yang tak bisa mati”. Bahkan sampai kini,  di Bali  Bulan Bung Karno dirayakan dari tingkat sekolah, desa, Kecamatan, Kabupaten,  dan Provinsi. Itu berlangsung sejak Gubernur Wayan Koster.

Sesaat setelah meninggal Bung Karno pada 21 Juni 1970, tetua Bali bahkan mengimajinasikan Bung Karno muncul di bulan. Imajinasi tanda kesetiaan pada Bung Karno.  Pengagum Bung Karno di Bali rerata memajang foto/lukisan  Bung Karno yang memegang keris sebagai simbol senjata tradisional. Artinya, semangat nasionalisme Bung Karno tidak meninggalkan kearifan lokal Nusantara. Pun tidak minder di hadapan bangsa-bangsa maju di dunia. Pertanda Bung Karno pejuang yang memuliakan glonakalisasi (global, nasional, lokal)- -isasi sebagai medium diplomasi. Hanya orang yang berkecerdasan tinggi mampu menyeimbangkan dan mengutuhkan ketiga semangat itu dalam elan nafas perjuangan. Sejalan dengan semangat Ki Hadjar Dewantara dengan Trikon-nya yang Bung Karno terjemahkan dalam  semangat Trisakti untuk menata bangsa.

Baik Ki Hadjar Dewantara maupun Bung Karno sama-sama memiliki pandangan yang sama dalam bidang kebudayaan. Ki Hadjar Dewantara menerjemahkan kebudayaan dengan tiga mantra sakti Caraka (cipta, rasa, dan karsa) sebagai unsur pembentuk. Kelak, mantra inilah menjadi asal-muasal secara etimologi Ceraken Kebudayaan (Bali). Ki Hadjar Dewantara juga memperkenalkan Trikon (konsentris, kontinuitas, konvergensi) dalam membina dan menumbuhkembangkan Pendidikan dan kebudayaan. Growth mindset  dari psikolog Stanford, Carol Dweck sejalan dengan Ki Hadjar Dewantara mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan secara linguistik dipersepsikan sebagai Kata Benda, dalam pola pikir Growth mindset , kebudayaan adalah Kata Kerja. Kerja-kerja kebudayaan adalah kerja dinamis tanpa berkesudahan (kontinuitas).

Di dalam mantra trisakti-nya Bung Karno, kebudayaan diterjemahkan dalam satu frase : berkepribadian dalam kebudayaan. Dua frase yang lain adalah berdikari secara ekonomi dan berdaulat secara politik. Jadi, kedua tokoh besar ini sama dalam memandang kebudayaan yang kelak keduanya juga sama-sama mengaplikasikan ke ranah berbangsa dan bernegara. Ki Hadjar Dewantara melalui Departemen  Pendidikan dan Pengajaran, Bung Karno mengorkestrasi melalui tahta presiden selama 20 tahun.

Ke-Medan-an Sjahrir dan Chairil yang cenderung blakblakan dan ceplas-ceplos dengan tingkat kepercayaan tinggi memberikan keleluasaan keduanya membangun narasi yang kuat berpijak pada literatur yang terpercaya. Keduanya juga kutu buku. Bahkan demi memenuhi hausnya membaca, Chairil pernah mencuri buku di Pasar Senen Batavia toko buku milik Belanda.  Dalam konteks Bali, Chairil Anwar adalah maling maguna. Yang membedakan keduanya adalah jalan perjuangan yang ditempuh. Yang satu melalui jalur birokrasi yang ketat menjaga marwah kepemimpinan dengan puncak jabatan sebagai Perdana Menteri, yang satunya bohemian urakan yang memungut kata-kata kasar dan tajam untuk membingkai puisinya. Dari kata-kata paling sarkas hingga kata-kata paling humanis, ia berpuisi. Semangat zaman pun terpotret melalui puisinya. Bahkan kata-kata dalam puisinya menyejarah dan sering dikutip : Aku ingin hidup seribu tahun lagi, hidup hanya menunda kekalahan, sebelum pada akhirnya menyerah, sekali berarti setelah itu mati, dan sejumlah kata-kata bertuah penyemangat dan motivasi.

Keliteratan keduanya berhasil menaklukkan kata-kata untuk memperjuangkan nama Indonesia di kancah pergaulan bangsa-bangsa yang beradab. Bagi, Chairil, pena adalah senjata. Kata-kata adalah pelor yang ditembakkan untuk menjinakkan lawan di tengah situasi yang gamang sesaat Proklamasi dibacakan Bung Karno didampingi Bung Hatta.

Dalam puisinya berjudul, “Karawang Bekasi” Chairil menulis bait-bait yang bukan fiktif tetapi fakta hasil pergumulannya dengan lingkar kekuasaan. Mengabadikan tokoh sejarah bangsa dalam puisi, seperti mematri namanya dalam prasasti :

Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Apa makna puisi-puisi kebangsaan Chairil  bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pertama, keleluasaan Chairil berada di lingkar satu Sjahrir yang Perdana Menteri pertama RI, memungkinkannya mendapatkan saripati kata bertuah termasuk nuansa emosi yang menyertainya. Diskusi dan perdebatan antara Soekarno, Hatta, dan Sjahrir tampaknya juga mengilhami puisi-puisi Chairil. Namun di ujungnya, semua dicatat dan ditulis dengan indah. Semua diberi tempat dan ruang. Tiada ada yang ditinggal, yang bajik dan yang batil. Yang halus dan yang kasar. Namun, tidak mungkin semua peristiwa di lingkar kekuasaan itu dapat dinyatakan dalam puisi dengan kata-kata terbatas. Paling tidak, puisi-puisi Chairil Anwar cukup memadai untuk menjadi pendamping bacaan sejarah. Oleh karena itu, guru Sejarah pun perlu mengapresiasi karya sastra termasuk puisi. Pendekatan interdisipliner antar mata pelajaran adalah hal yang diseyogyakan. Tidak zamannya lagi untuk menunjukkan egosektoral dalam bidang keilmuan karena pada hakikatnya semua cabang ilmu yang terpilah-pilah menjadi mata pelajaran itu beribukan satu : Filsafat.  

Kedua, Chairil menempatkan ketiga tokoh bangsa itu sebagai pahlawan yang setara saling melengkapi. Repetisi kata “menjaga” menandakan pengamanan dan penegasan bahwa para pejuang itu  selalu diajak bergandengan tangan seperti dinyatakan dalam “Persetujuan dengan Bung Karno”. Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu/ Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945/Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu/Aku sekarang api aku sekarang laut….

Ketiga, Chairil selain mencatat dan ikut membesarkan Soekarno yang memang sudah besar sebelum Chairil lahir 1922, ketika Bung Karno sudah aktif di pergerakan. Chairil yang dimuliakan kewafatannya sebagai Hari Puisi pada 28 April, sementara Juni sepenuhnya milik Bung Karno. Sejarah lahirnya istilah Pancasila pada 1 Juni 1945, Bung Karno lahir 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970, dalam usia 69 tahun.  Walaupun demikian, keduanya sama-sama  pendobrak. Bung Karno adalah pendobrak yang memerdekakan bangsanya dan Chairil adalah pendobrak bahasa yang meninggalkan gaya bahasa pujangga baru. Hebatnya Chairil bisa merangsek di ring satu kekuasaan sebagai penyair walaupun mati muda dalam usia 27 tahun. Dengan tinta emas Chairil menjaga Bung Karno. Selamat merayakan Bulan Bung Karno. Salam Budaya! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bung KarnoChairil AnwarSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

Next Post

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co