PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) dan PT Penerbitan Pelangi Indonesia, sebuah diskusi mendalam bertajuk “Menumbuhkan Generasi Peduli Bumi Melalui Literasi Anak” sukses digelar secara virtual pada Jumat, 5 Juni 2026.
Acara yang berlangsung melalui platform Zoom ini berhasil menarik perhatian lebih dari 170 partisipan dari berbagai kalangan. Fokus utama dalam pertemuan ini adalah strategi memanfaatkan media literasi sebagai senjata utama dalam mengedukasi generasi muda menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Sebagai pionir dalam pengembangan literasi anak, YLAI memperkenalkan 32 seri buku nonfiksi informatif yang dirancang khusus dengan tema lingkungan. Buku-buku tersebut bukan sekadar bacaan biasa, melainkan media edukasi kontekstual untuk menanamkan nilai kepedulian terhadap bumi sejak usia sekolah dasar.
Direktur Eksekutif YLAI, Ni Ketut Ayu Sugati, menegaskan bahwa pengembangan buku bacaan ramah anak yang berwawasan lingkungan adalah investasi jangka panjang. Menurutnya, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi bagaimana anak-anak mampu memahami isu global dan mengambil peran sebagai agen perubahan di lingkungan mereka sendiri.

Senada dengan hal tersebut, Koordinator Pendidikan Perubahan Iklim INOVASI, Affifudin, menyoroti pentingnya integrasi isu perubahan iklim ke dalam kebijakan dan praktik pendidikan nasional. Langkah ini dinilai strategis untuk membekali siswa dengan keterampilan dasar yang relevan dengan kondisi bumi masa kini.
Sudut pandang praktisi pendidikan dihadirkan oleh Sofiatunnisa, seorang guru dari SDN Klagen Sukodono, Sidoarjo. Ia berbagi pengalaman mengenai efektivitas pembelajaran kontekstual dalam menumbuhkan kecintaan membaca sekaligus kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar.
Sementara itu dari sisi regulasi, Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olah Raga Kabupaten Badung, Rai Twistyanti Raharja, memaparkan penguatan kebijakan pendidikan berwawasan lingkungan melalui perencanaan infrastruktur yang tepat.
Eka Yuliati selaku moderator acara, saat dihubungi pada Sabtu, 6 Juni 2026, menyatakan rasa bangganya atas antusiasme luar biasa dari para peserta. Ia menyimpulkan bahwa metode belajar melalui buku cetak yang berkualitas mampu meningkatkan retensi pengetahuan. Hal ini terjadi karena membaca buku fisik melibatkan lebih banyak indera manusia dalam menyerap informasi dibandingkan dengan metode digital biasa.
Menutup rangkaian acara, Koordinator Pengembangan Buku YLAI, Grace Mailuhu, menginformasikan bahwa masyarakat kini sudah dapat mengakses katalog buku inspiratif Seri Kenali Perubahan Iklim melalui laman [ https://s.literasi.org/KatalogBuku ].
Bagi pihak sekolah, pegiat literasi, maupun orang tua yang ingin memesan buku tersebut sebagai koleksi perpustakaan dan bahan ajar, pre-order sudah dapat dilakukan dengan mengisi formulir di tautan [ https://s.literasi.org/pesanbukuylai ].
Melalui inisiatif ini, diharapkan literasi anak Indonesia tidak hanya berkembang secara kualitas, tetapi juga mampu menciptakan generasi yang lebih hijau, peduli, dan tangguh di masa depan. [T][***/Ad]






























