16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Krisogonus Kusman by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
in Cerpen
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kelas VIII yang sebentar lagi masuk SMA. Mbak Erna bekerja sebagai guru honorer di sebuah SD negeri. Usianya tahun ini mendekati 30 tahun, tapi ia belum memikirkan pernikahan. Ia menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dunia saat ia berada di semester akhir kuliah. Ayahnya dibunuh atas suruhan kakak kandungnya sendiri, yang iri karena Mbak Erna bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejak itu, ibunya sering jatuh sakit, terutama serangan jantung. Sebagai anak sulung, Mbak Erna menanggung semua kebutuhan keluarga, termasuk biaya pengobatan ibu dan sekolah ketiga adiknya.

Beberapa hari sebelum kematian ayahnya, ia sempat menerima pesan terakhir: “Jangan menikah dulu sebelum adik keduamu menyelesaikan kuliah.” Pesan itu terukir dalam hati Mbak Erna, membuatnya memilih hidup lajang di usia yang seharusnya sudah membangun keluarga baru. Namun, pesan itu tak sebanding dengan gajinya sebagai guru honorer; hanya empat ratus lima puluh ribu sebulan. Uang itu tak cukup untuk membiayai sekolah adik-adiknya, apalagi kebutuhan sehari-hari. Setiap hari, Mbak Erna memilih berjalan kaki ke sekolah meski jaraknya jauh, agar tak ada pengeluaran untuk transportasi.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Mbak Erna tak putus asa meski beberapa kali gagal tes pegawai negeri. Ia tetap setia mengajar demi keluarga, walaupun pemerintah tak peduli pada nasib guru honorer seperti dirinya. Dari gaji yang pas-pasan itu, ia menyisihkan sebagian kecil untuk ditabung dalam celengan, mempersiapkan adik keduanya masuk kuliah. Tapi di pertengahan bulan, ibunya tiba-tiba drop. Mbak Erna dan adik-adiknya buru-buru membawanya ke puskesmas terdekat. Kondisi ibunya kritis, sehingga dirujuk ke rumah sakit umum di kota. Mbak Erna berharap kartu BPJS bisa menanggung pembiayaan rumah sakit, tetapi saat berkonsultasi, kartu itu sudah dinonaktifkan karena iuran tiga tahun terakhir tak pernah dibayar. Putus asa menyelimati pikirannya. Ia putuskan untuk memecah celengan dan mengambil tabungannya demi perawatan ibu. Namun, uang itu tak cukup; biaya rumah sakit tanpa jaminan kartu BPJS tentu sangat mahal. Ia bingung, dari mana lagi mencari tambahan?

Selama merawat ibu di rumah sakit, Mbak Erna absen mengajar. Pihak sekolah memanggilnya berulang kali, tetapi ia mengabaikannya. Akhirnya, ia resmi dihentikan. Hatinya hancur, tetapi ia ikhlaskan semuanya demi ibu. Suatu hari, ia menyuruh adik-adiknya menjaga ibu di ruang perawatan, sementara ia memilih duduk merenung di sebuah warung kopi depan rumah sakit. Dia duduk di sebuah kursi paling pojok dalam warun itu, tanpa memesan apa pun. Ia hanya butuh ketenangan untuk mencari solusi biaya pengobantan ibunya.

Tiba-tiba, seorang perempuan sedikit lebih tua darinya mendekatinya. Rupanya, ia tahu penderitaan Mbak Erna.

“Permisi, boleh saya duduk di sini?” tanya perempuan itu meminta izin ke Mbak Erna sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sampinya. Mbak Erna mengangguk pelan dan berkata, ”Silakan.” Mereka berdua pun saling berkenalan.

“Nama saya Siska,” kata perempuan itu.

“Saya Erna. Panggil saja Mbak Erna,” balasnya.

Mereka duduk berdekatan. Siska memesan dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng seharga dua puluh ribu rupiah.

“Saya tidak usah. Saya tak punya uang untuk membayar,” tolak Mbak Erna.

“Tak apa. Saya yang membayar.” Siska tersenyum tipis.

Pesanan itu tiba, dan Siska menyalakan sebatang rokok Sampoerna Evolution dari tasnya. “Rokok?” tawarnya.

“Soryy, saya tidak merokok,” jawab Mbak Erna dengan tangan melambai.

Mereka saling curhat. Sambil menyeruput kopi, Mbak Erna menceritakan kondisi keluarganya: ibu yang dirawat di rumah sakit, dirinya dipecat sebagai guru honorer, adik-adiknya yang masih sekolah, dan ayahnya yang sudah tiada.

“Saya satu-satunya harapan keluarga. Saya tak tahu lagi bagaimana memenuhi kebutuhan ini, itu,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Siska menghela napas panjang, menyalakan rokok lagi, dan menghisap dalam-dalam sebelum menghembuskan asap perlahan. “Apa yang kamu butuhkan sekarang?” tanyanya.

“Uang untuk pengobatan ibu dan membiayai sekolah adik-adik saya.”

Suasana hening, hanya suara kendaraan yang memecahnya. “Kalau mau gaji besar, ikut saya ke kota asal saya. Saya sedang membutuhkan tenaga kerja, kusu perempuan yang masih lajang. Mau?” tawar Siska.

Mbak Erna terkejut sekaligus bahagia, tergiur dengan informasi itu tanpa bertanya jenis pekerjaan. “Gajinya berapa?”

“Lima juta rupiah sebulan, belum termasuk bonus harian,” jawab Siska, meyakinkan Mbak Erna.

Senyum sumringah Mbak Erna sontak membucah. Ia yakin itu cukup untuk segalanya. “Terima kasih, Tuhan,” gumamnya sambil memeluk Siska dengan erat.

Tak terasa, piringan matahai hampir pecah di kaki langit barat. Cangkir kopi tersisa ampas dan pisang goreng di piring tinggal satu. Sebelum keduanya keluar dari warung itu, mereka bertukar nomor telepon. Saat berpisah, Siska menyelinapkan dua ratus lima puluh ribu rupiah ke saku jaket Mbak Erna.

“Terima kasih banyak,” ucap Mbak Erna.

Ia pun kembali ke kamar ibunya dirawat, sementara Siska mengamatinya dari depan warung.

Dua hari kemudian, Mbak Erna mendapat pesan WhatsApp dari Siska, bunyinya; “Besok pukul 13.00 kita ketemu di bandara. Tiket sudah saya siapkan. Terbang ke Nusa Bunga pukul 14.00.”

Mbak Erna terdiam ketika membaca pesan itu. Tatapannya kosong dan handphone dibiarkan kaku di tangannya. Ia tak membalas sekatapun terhadap pesan itu. Ia seolah tak tega meninggalkan adik-adiknya dan ibu dalam keadaan sakit. Tapi ia tak punya pilihan. Dengan berat hati, ia memberi tahu adik-adiknya. “Adik-adikku yang baik, Kakak harus pergi cari uang untuk pengobatan ibu. Kakak janji akan selalu mengirimkan uang. Kalau ibu sembuh, Kakak akan pulang.” Air matanya menetes saat memeluk mereka. “Kak, hati-hati. Kami selalu doakan yang terbaik untuk kakak,” kata adik bungsunya.

Keesokan paginya, ia pamit pada ibunya yang hanya mengangguk lemah. Air matanya membasahi pipi. “Ibu sayang, saya pasti akan pulang membahagiakanmu. Saya janji,” katanya sambil mencium kening ibunya.

Adik-adik mengantarnya ke gerbang rumah sakit, melambai tangan sambil menangis. “Hati-hati, Kak!”

Di bandara, Siska sudah menunggu. Ia langsung membayar ongkos angkot Mbak Erna.

“Terima kasih, Siska. Kamu sangat peduli padaku,” kata Mbak Erna.

Siska tersenyum. Mereka langsung melakukan check-in dan tak lama kemudian, bersama sejumlah penumpang yang lain mereka bergegas menuju pesawat di lapangan parkir. Dari sekian jumlah penumpang masuk ke dalam pesawat, Mbak Erna memilih masuk paling terakhir. Saat kakinya menjejakkan tangga pesawat, ia menoleh ke kota dengan tatapan kosong, sepertinya memikirkan nasib ibu dan adik-adiknya. Di pesawat, ia duduk di samping Siska. Sepanjang penerbangan ia berpura-pura tidur meski hati dan pikirannya bergolak. Dua jam kemudian, mereka tiba di Bandara Nusa Bunga. Sebuah mobil Avanza berwarna hitam telah menunggu. Mereka naik ke dalam mobil tersebut.

“Kita ke mana?” tanya Mbak Erna.

“Langsung ke tempat kerja,” jawab Siska ramah.

Mereka berhenti di sebuah bangunan megah. Di tembok bagian depan, tepat di atas pintu masuk bertuliskan “Selamat Datang di Hotel My Love”.

“Ini tempat kerjamu,” kata Siska saat Mbak Erna turun dari mobil.

Mabak Erna hanya menggangguk. Hatinya tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan bekerja di hotel. Ia tampak ragu karena dirinya seorang sarjana pendidikan, tak mempunyai pengalaman di bidang perhotelan. Ini bukan soal gaji, tetapi tentang keahlian.

Saat Mbak Erna merapikan barang, seorang pria kekar mendekatinya.

“Semua urusanmu saya serahkan dengan dia. Saya pergi dulu,” kata Siska sambil tersenyum, lalu pergi dengan mobil.

Mbak Erna bingung. “Kenapa Siska pergi? Bukankah dia yang ajak saya?”

“Siska hanya perekrut. Tak ada urusan lagi di sini,” jawab pria itu sambil mengangkat tasnya.

Mbak Erna pun mengikuti pria itu masuk ke dalam hotel. Di dalam, Mbak Erna langsung bertemu dengan pemilik hotel. Ia diberi tugas untuk melayani tamu yang memesan minuman. Selama bekerja, ia harus mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh pemilik hotel tersebut seperti: handphone hanya boleh dipakai sekali sebulan, tak boleh keluar tanpa izin, gaji hanya dua puluh persen (sisanya ditabung di tabungan milik hotel. Bisa di ambil ketika masa kontrak selesai), dan wajib memenuhi keinginan tamu apa pun. Mbak Erna terkejut.

“Bagaimana saya hubungi keluarga?” protesnya.

“Kalau mau gaji besar, ikuti aturan. Semua pekerja begitu,” tegas pemilik hotel itu.

Demi uang, ia tak ada pilihan lain selain pasrah. Malam itu, ia melayani pesanan minuman dari sejumlah tamu. Ia heran ketika melihat hotel itu. Namanya hotel, tapi suasananya seperti pub. Tak ada tamu perempuan. Semuanya dipenuhi tamu pria kaya. Palingan, perempuan hanyalah para pelayan yang bekerja di hotel itu.

Seminggu kemudian, tugas Mbak Erna bertambah. Ia tak hanya melayani minuman, tetapi juga melayani nafsu tamu yang ingin berhubungan badan. Namun, ia memberontak.

“Tidak! itu tak bermoral dan sudah melanggar kesepakatan,” bentaknya, saat seorang tamu meraba tubuhnya.

Pemilik hotel marah saat seorang tamu mengeluh bahwa Mabak Erna tak mau melayaninya. Mbak Erna pun dipukul dan disekap di sebuah ruang gelap ketika beberapa kali menolak untuk melayani nafsu para tamu. Namun demikian, Mbak Erna tak pernah melawan. Ia memilih pasrah dan membiarkan dirinya terus dipukul demi menjaga kesucian tubuhnya. Ia tak berdaya. Handpone miliknya masih ditahan, sehingga ia kesulitan untuk melaporkan ke polisi. Barangkali hotel itu dilindungi aparat karena tak pernah melakukan razia. Yang lebih menyiksa, ia tak bisa kontak dengan ibu dan adik-adiknya. Di kegelapan gudang tanpa makanan atau kehangatan, ia menangis. Ia tak punya apa-apa lagi selain rasa sakit. Harapan keluarganya kini terperangkap dalam mimpi buruk yang ia tak pernah bayangkan. [T]

Penulis: Krisogonus Kusman
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Next Post

Maraknya Pernikahan Anak, Kontrasepsi di Kalangan Remaja Sudah Mendesak?

Krisogonus Kusman

Krisogonus Kusman

Biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi atau Gogon merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi atau Gogon suka membaca dan menulis sastra, khususnya cerpen.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Maraknya Pernikahan Anak, Kontrasepsi di Kalangan Remaja Sudah Mendesak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co