7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Krisogonus Kusman by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
in Cerpen
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kelas VIII yang sebentar lagi masuk SMA. Mbak Erna bekerja sebagai guru honorer di sebuah SD negeri. Usianya tahun ini mendekati 30 tahun, tapi ia belum memikirkan pernikahan. Ia menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dunia saat ia berada di semester akhir kuliah. Ayahnya dibunuh atas suruhan kakak kandungnya sendiri, yang iri karena Mbak Erna bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejak itu, ibunya sering jatuh sakit, terutama serangan jantung. Sebagai anak sulung, Mbak Erna menanggung semua kebutuhan keluarga, termasuk biaya pengobatan ibu dan sekolah ketiga adiknya.

Beberapa hari sebelum kematian ayahnya, ia sempat menerima pesan terakhir: “Jangan menikah dulu sebelum adik keduamu menyelesaikan kuliah.” Pesan itu terukir dalam hati Mbak Erna, membuatnya memilih hidup lajang di usia yang seharusnya sudah membangun keluarga baru. Namun, pesan itu tak sebanding dengan gajinya sebagai guru honorer; hanya empat ratus lima puluh ribu sebulan. Uang itu tak cukup untuk membiayai sekolah adik-adiknya, apalagi kebutuhan sehari-hari. Setiap hari, Mbak Erna memilih berjalan kaki ke sekolah meski jaraknya jauh, agar tak ada pengeluaran untuk transportasi.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Mbak Erna tak putus asa meski beberapa kali gagal tes pegawai negeri. Ia tetap setia mengajar demi keluarga, walaupun pemerintah tak peduli pada nasib guru honorer seperti dirinya. Dari gaji yang pas-pasan itu, ia menyisihkan sebagian kecil untuk ditabung dalam celengan, mempersiapkan adik keduanya masuk kuliah. Tapi di pertengahan bulan, ibunya tiba-tiba drop. Mbak Erna dan adik-adiknya buru-buru membawanya ke puskesmas terdekat. Kondisi ibunya kritis, sehingga dirujuk ke rumah sakit umum di kota. Mbak Erna berharap kartu BPJS bisa menanggung pembiayaan rumah sakit, tetapi saat berkonsultasi, kartu itu sudah dinonaktifkan karena iuran tiga tahun terakhir tak pernah dibayar. Putus asa menyelimati pikirannya. Ia putuskan untuk memecah celengan dan mengambil tabungannya demi perawatan ibu. Namun, uang itu tak cukup; biaya rumah sakit tanpa jaminan kartu BPJS tentu sangat mahal. Ia bingung, dari mana lagi mencari tambahan?

Selama merawat ibu di rumah sakit, Mbak Erna absen mengajar. Pihak sekolah memanggilnya berulang kali, tetapi ia mengabaikannya. Akhirnya, ia resmi dihentikan. Hatinya hancur, tetapi ia ikhlaskan semuanya demi ibu. Suatu hari, ia menyuruh adik-adiknya menjaga ibu di ruang perawatan, sementara ia memilih duduk merenung di sebuah warung kopi depan rumah sakit. Dia duduk di sebuah kursi paling pojok dalam warun itu, tanpa memesan apa pun. Ia hanya butuh ketenangan untuk mencari solusi biaya pengobantan ibunya.

Tiba-tiba, seorang perempuan sedikit lebih tua darinya mendekatinya. Rupanya, ia tahu penderitaan Mbak Erna.

“Permisi, boleh saya duduk di sini?” tanya perempuan itu meminta izin ke Mbak Erna sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sampinya. Mbak Erna mengangguk pelan dan berkata, ”Silakan.” Mereka berdua pun saling berkenalan.

“Nama saya Siska,” kata perempuan itu.

“Saya Erna. Panggil saja Mbak Erna,” balasnya.

Mereka duduk berdekatan. Siska memesan dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng seharga dua puluh ribu rupiah.

“Saya tidak usah. Saya tak punya uang untuk membayar,” tolak Mbak Erna.

“Tak apa. Saya yang membayar.” Siska tersenyum tipis.

Pesanan itu tiba, dan Siska menyalakan sebatang rokok Sampoerna Evolution dari tasnya. “Rokok?” tawarnya.

“Soryy, saya tidak merokok,” jawab Mbak Erna dengan tangan melambai.

Mereka saling curhat. Sambil menyeruput kopi, Mbak Erna menceritakan kondisi keluarganya: ibu yang dirawat di rumah sakit, dirinya dipecat sebagai guru honorer, adik-adiknya yang masih sekolah, dan ayahnya yang sudah tiada.

“Saya satu-satunya harapan keluarga. Saya tak tahu lagi bagaimana memenuhi kebutuhan ini, itu,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Siska menghela napas panjang, menyalakan rokok lagi, dan menghisap dalam-dalam sebelum menghembuskan asap perlahan. “Apa yang kamu butuhkan sekarang?” tanyanya.

“Uang untuk pengobatan ibu dan membiayai sekolah adik-adik saya.”

Suasana hening, hanya suara kendaraan yang memecahnya. “Kalau mau gaji besar, ikut saya ke kota asal saya. Saya sedang membutuhkan tenaga kerja, kusu perempuan yang masih lajang. Mau?” tawar Siska.

Mbak Erna terkejut sekaligus bahagia, tergiur dengan informasi itu tanpa bertanya jenis pekerjaan. “Gajinya berapa?”

“Lima juta rupiah sebulan, belum termasuk bonus harian,” jawab Siska, meyakinkan Mbak Erna.

Senyum sumringah Mbak Erna sontak membucah. Ia yakin itu cukup untuk segalanya. “Terima kasih, Tuhan,” gumamnya sambil memeluk Siska dengan erat.

Tak terasa, piringan matahai hampir pecah di kaki langit barat. Cangkir kopi tersisa ampas dan pisang goreng di piring tinggal satu. Sebelum keduanya keluar dari warung itu, mereka bertukar nomor telepon. Saat berpisah, Siska menyelinapkan dua ratus lima puluh ribu rupiah ke saku jaket Mbak Erna.

“Terima kasih banyak,” ucap Mbak Erna.

Ia pun kembali ke kamar ibunya dirawat, sementara Siska mengamatinya dari depan warung.

Dua hari kemudian, Mbak Erna mendapat pesan WhatsApp dari Siska, bunyinya; “Besok pukul 13.00 kita ketemu di bandara. Tiket sudah saya siapkan. Terbang ke Nusa Bunga pukul 14.00.”

Mbak Erna terdiam ketika membaca pesan itu. Tatapannya kosong dan handphone dibiarkan kaku di tangannya. Ia tak membalas sekatapun terhadap pesan itu. Ia seolah tak tega meninggalkan adik-adiknya dan ibu dalam keadaan sakit. Tapi ia tak punya pilihan. Dengan berat hati, ia memberi tahu adik-adiknya. “Adik-adikku yang baik, Kakak harus pergi cari uang untuk pengobatan ibu. Kakak janji akan selalu mengirimkan uang. Kalau ibu sembuh, Kakak akan pulang.” Air matanya menetes saat memeluk mereka. “Kak, hati-hati. Kami selalu doakan yang terbaik untuk kakak,” kata adik bungsunya.

Keesokan paginya, ia pamit pada ibunya yang hanya mengangguk lemah. Air matanya membasahi pipi. “Ibu sayang, saya pasti akan pulang membahagiakanmu. Saya janji,” katanya sambil mencium kening ibunya.

Adik-adik mengantarnya ke gerbang rumah sakit, melambai tangan sambil menangis. “Hati-hati, Kak!”

Di bandara, Siska sudah menunggu. Ia langsung membayar ongkos angkot Mbak Erna.

“Terima kasih, Siska. Kamu sangat peduli padaku,” kata Mbak Erna.

Siska tersenyum. Mereka langsung melakukan check-in dan tak lama kemudian, bersama sejumlah penumpang yang lain mereka bergegas menuju pesawat di lapangan parkir. Dari sekian jumlah penumpang masuk ke dalam pesawat, Mbak Erna memilih masuk paling terakhir. Saat kakinya menjejakkan tangga pesawat, ia menoleh ke kota dengan tatapan kosong, sepertinya memikirkan nasib ibu dan adik-adiknya. Di pesawat, ia duduk di samping Siska. Sepanjang penerbangan ia berpura-pura tidur meski hati dan pikirannya bergolak. Dua jam kemudian, mereka tiba di Bandara Nusa Bunga. Sebuah mobil Avanza berwarna hitam telah menunggu. Mereka naik ke dalam mobil tersebut.

“Kita ke mana?” tanya Mbak Erna.

“Langsung ke tempat kerja,” jawab Siska ramah.

Mereka berhenti di sebuah bangunan megah. Di tembok bagian depan, tepat di atas pintu masuk bertuliskan “Selamat Datang di Hotel My Love”.

“Ini tempat kerjamu,” kata Siska saat Mbak Erna turun dari mobil.

Mabak Erna hanya menggangguk. Hatinya tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan bekerja di hotel. Ia tampak ragu karena dirinya seorang sarjana pendidikan, tak mempunyai pengalaman di bidang perhotelan. Ini bukan soal gaji, tetapi tentang keahlian.

Saat Mbak Erna merapikan barang, seorang pria kekar mendekatinya.

“Semua urusanmu saya serahkan dengan dia. Saya pergi dulu,” kata Siska sambil tersenyum, lalu pergi dengan mobil.

Mbak Erna bingung. “Kenapa Siska pergi? Bukankah dia yang ajak saya?”

“Siska hanya perekrut. Tak ada urusan lagi di sini,” jawab pria itu sambil mengangkat tasnya.

Mbak Erna pun mengikuti pria itu masuk ke dalam hotel. Di dalam, Mbak Erna langsung bertemu dengan pemilik hotel. Ia diberi tugas untuk melayani tamu yang memesan minuman. Selama bekerja, ia harus mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh pemilik hotel tersebut seperti: handphone hanya boleh dipakai sekali sebulan, tak boleh keluar tanpa izin, gaji hanya dua puluh persen (sisanya ditabung di tabungan milik hotel. Bisa di ambil ketika masa kontrak selesai), dan wajib memenuhi keinginan tamu apa pun. Mbak Erna terkejut.

“Bagaimana saya hubungi keluarga?” protesnya.

“Kalau mau gaji besar, ikuti aturan. Semua pekerja begitu,” tegas pemilik hotel itu.

Demi uang, ia tak ada pilihan lain selain pasrah. Malam itu, ia melayani pesanan minuman dari sejumlah tamu. Ia heran ketika melihat hotel itu. Namanya hotel, tapi suasananya seperti pub. Tak ada tamu perempuan. Semuanya dipenuhi tamu pria kaya. Palingan, perempuan hanyalah para pelayan yang bekerja di hotel itu.

Seminggu kemudian, tugas Mbak Erna bertambah. Ia tak hanya melayani minuman, tetapi juga melayani nafsu tamu yang ingin berhubungan badan. Namun, ia memberontak.

“Tidak! itu tak bermoral dan sudah melanggar kesepakatan,” bentaknya, saat seorang tamu meraba tubuhnya.

Pemilik hotel marah saat seorang tamu mengeluh bahwa Mabak Erna tak mau melayaninya. Mbak Erna pun dipukul dan disekap di sebuah ruang gelap ketika beberapa kali menolak untuk melayani nafsu para tamu. Namun demikian, Mbak Erna tak pernah melawan. Ia memilih pasrah dan membiarkan dirinya terus dipukul demi menjaga kesucian tubuhnya. Ia tak berdaya. Handpone miliknya masih ditahan, sehingga ia kesulitan untuk melaporkan ke polisi. Barangkali hotel itu dilindungi aparat karena tak pernah melakukan razia. Yang lebih menyiksa, ia tak bisa kontak dengan ibu dan adik-adiknya. Di kegelapan gudang tanpa makanan atau kehangatan, ia menangis. Ia tak punya apa-apa lagi selain rasa sakit. Harapan keluarganya kini terperangkap dalam mimpi buruk yang ia tak pernah bayangkan. [T]

Penulis: Krisogonus Kusman
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Next Post

Maraknya Pernikahan Anak, Kontrasepsi di Kalangan Remaja Sudah Mendesak?

Krisogonus Kusman

Krisogonus Kusman

Biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi atau Gogon merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi atau Gogon suka membaca dan menulis sastra, khususnya cerpen.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Maraknya Pernikahan Anak, Kontrasepsi di Kalangan Remaja Sudah Mendesak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co