BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) cabang Buleleng, kami didekatkan dengan realta-realita sosial yang sangat menyedihkan tersebut. Di samping juga selama ini kami memang sudah sering menghadapi dampaknya bersama relawan Yayasan Sesama dalam bentuk bantuan ekonomi dan pendampingan medis.
Bersama PKBI kami punya peluang masuk pada area preventif. Tentu saja karena ini di-back up oleh PKBI Daerah maupun PKBI Pusat dengan berbagai project terkait. Cuma kami selalu merasa pesimis, apakah berbagai program preventif yang akan dikerjakan akan berhasil? Mengapa? Karena sikap masyarakat yang cenderung abai tak peduli dan sikap hipokrit yang sangat kuat akibat budaya stigma yang buruk.
Meskipun secara umum pernikahan anak terjadi akibat sikap abai dan munafik, namun saat kami melakukan kunjungan bersama relawan PKBI ke sebuah desa binaan baru-baru ini, mendapatkan satu pengalaman yang lumayan memberi semangat. Memang ada kasus pernikahan anak di sana. Si suami baru berumur 14 tahun, sementara sang istri yang baru mau ke-13 tahun, perutnya subur membesar dengan janin yang telah berusia 8 bulan.
Walau hal ini tetap saja sebuah fakta mengerikan dengan segala risiko buruk ke depannya; ekonomi, kekerasan rumah tangga, anak stunting bahkan perceraian, namun ada beberapa hal yang membuat kami senang.
Pertama, keluarga menerima dengan baik pernikahan mereka. Kedua, mereka juga tak lari dari tanggung jawab dengan memilih jalan aborsi misalnya. Dan, ketiga, yang sangat membuat respek adalah, si calon ayah masih tetap bersekolah dan sang calon ibu, dengan motivasi dari para relawan, siap untuk kejar paket B setelah si baby lahir ke dunia.
Namun sejujurnya, bukanlah itu harapan kita. Satu-satunya yang kita mau adalah jangan ada lagi pernikahan anak.
Terinspirasi dari kisah sarat nilai-nilai, dalam cerita rakyat terkenal Ni Diah Tantri, PKBI mengusung program pencegahan pernikahan anak. Dikisahkan, atas kekuatan advokasi sang putri ananda seorang patih bernama Bande Swarya, mampu mengubah tabiat buruk seorang raja bernama Prabu Eswaryadala. Yang selama ini membuat resah rakyat lantaran setiap hari meminta persembahan seorang gadis untuk dikawini. Tiba giliran Ni Diah Tantri, ia melawan bukan dengan peperangan. Namun dengan sebuah kecerdasan, untaian-untaian narasi dari berbagai fabel atau dongeng kisah-kisah binatang itu yang kemudian menyadarkan sang raja. Sejak itu, raja bukan hanya tak lagi memaksa persembahan gadis saban hari untuk dikawini, namun merasa bahagia dengan mengangkat Ni Diah Tantri sebagai permaisuri kerajaan. Sebuah diplomasi cerdas.
Poin-poin tersebutlah yang akan dilakukan dalam program Tantri di salah satu desa di Buleleng. Ini merupakan satu dari dua desa di Bali yang dijadikan project pencegahan pernikahan anak oleh PKBI Daerah Bali bersama Cabang Buleleng. Program berupa edukasi dan workshop untuk meningkatkan literasi remaja sekolah dan kelompok remaja Seka Truna-truni.
Disamping itu, dilibatkan pula para orang tua dalam peningkatan soft skill dalam memahami biopsikologi remaja. Tentunya dukungan dari pemerintahan desa dan adat sangat diperlukan agar program tersebut dapat memberikan output yang lebih optimal. Namun demikian, satu gagasan yang terus menjadi tantangan hingga saat ini karena berbenturan dengan budaya timur adalah peluang remaja mengakses alat kontrasepsi. Tentu saja hal ini akan dipikirkan dengan sangat matang dan dalam pelaksanaannya wajib diupayakan dengan sangat terukur.
Bagaimanapun kita harus realistis, bahwa hidup ini bukan hanya urusan moral, namun ada aspek biologis yang tak bisa disangkal. Maka, jika suatu hal tak bisa sepenuhnya dilarang, ada baiknya diatur. Itu akan dapat menurunkan penularan penyakit seksual dan kehamilan tak diinginkan sehingga pencegahan pernikahan anak dapat memberi hasil yang lebih nyata. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole






























