28 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
in Khas
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

Opening Ceremony Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan minimarket.

Malam itu, Gede berdiri di tengah kerumunan penonton Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026. Pandangannya tertuju ke panggung Giri Stage, tempat Imelda Rosalin Quintet tampil. Tangannya sesekali bergerak mengikuti irama. Kepalanya mengangguk pelan. Tubuhnya berjoged ringan. Ia menikmati musik yang belum sepenuhnya ia pahami.

“Saya memang belum terlalu paham jazz, tapi rasanya jazz bisa jadi musik refleksi buat saya,” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari panggung.

Untuk pertama kalinya, Gede datang menyaksikan UVJF. Festival musik tahunan yang sejak 2023 berpindah ke Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott, di Mawang, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali, itu kembali digelar pada 7–8 Agustus 2026. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-13 sejak festival tersebut pertama kali digelar pada 2013. 

Penampilan Imelda Rosalin Quintet menjadi salah satu bagian dari rangkaian pembukaan pada Jumat, 7 Agustus 2026. Setelah itu, Heru Djatmiko (main committee UVJF), dan Lasta Arimbawa (General Manager Sthala), memberikan sambutan. Keduanya kemudian membuka festival secara resmi bersama seluruh panitia utama.

Salamander Big Band tampil di Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Pengunjung Sthala UVJF 2026 di depan Giri Stage│Foto: tatkala.co/Dede

Heru menegaskan bahwa perjalanan 13 tahun UVJF dibangun dengan pilihan yang sejak awal tidak berubah, yakni mempertahankan jazz sebagai identitas festival.

“Ini adalah penyelenggaraan ke-13, dan dari penyelenggaraan pertama sampai saat ini, kami tidak pernah berfokus pada keuntungan semata. Tetapi kami benar-benar ingin menjadi festival yang konsisten di jalur jazz. Musik yang benar-benar jazz. Tidak ada pop, RnB, apalagi dangdut. Kami bersetia pada jazz,” tegas Heru Djatmiko. 

Pilihan itu menjadi semakin penting ketika penyelenggara festival musik berhadapan dengan tuntutan pasar. Musik yang populer lebih mudah menjadi magnet penonton dan penjualan tiket. UVJF justru memilih tidak mengambil jalur tersebut.

Lasta Arimbawa melihat pilihan itu dari sisi lain. Baginya, keberhasilan festival tahun ini tidak semata-mata diukur dari jumlah orang yang datang.

“Ini adalah UVJF ke-4 yang diselenggarakan di Sthala. Tahun ini tidak hanya soal musik, tetapi juga memerhatikan pengalaman pengunjung. Pada saat konferensi pers, banyak media bertanya, apa goals dari event tahun ini? Dengan kagum saya mendengar para founder mengatakan, ‘kami tidak peduli dengan pengunjung berkurang, kami lebih berharap pengunjung yang datang akan mendapatkan pengalaman yang berkesan dan bisa membagikannya ke mana-mana. Kami rasa itu sudah lebih dari cukup. Kalau pengunjung lebih banyak dari tahun sebelumnya, itu adalah bonus’,” ujar Lasta. 

Pernyataan itu berangkat dari kondisi yang memang tidak ringan. Dalam jumpa pers di Sanur, Kamis, 30 Juli 2026, Co-founder Sthala Ubud Village Jazz Festival, Anom Darsana, mengakui penyelenggaraan tahun ini menjadi salah satu yang paling berat sejak festival dimulai.

Salamander Big Band tampil di Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

“Jujur dari sisi finansial kami tahun ini parah sekali. Mungkin kami rugi, mudah-mudahan tidak. Tapi untung rugi bukan menjadi masalah. Yang penting festival ini tetap berjalan,” ujar Anom. 

Bagi Anom, mempertahankan festival bukan berarti mempertahankan sebuah konser musik. Sejak awal, UVJF dirancang sebagai ruang yang juga memiliki fungsi edukasi dan pertemuan komunitas.

“Ini bukan hanya festival musik. Ini festival yang ada edukasinya,” katanya.

Karena itu, rangkaian UVJF tidak berhenti pada penampilan di panggung. Ada workshop, diskusi, ruang kolaborasi, pameran seni, hingga perjumpaan antarkomunitas. Tahun ini, untuk pertama kalinya, UVJF menggandeng komunitas Westside DJ asal Bali. 

“Biasanya orang menganggap DJ identik dengan party. Kami justru memberi ruang kepada mereka untuk memainkan tune yang lebih jazz. Kami ingin semua komunitas di Bali merasa dirangkul,” kata Anom. 

Bagi Anom, memperluas komunitas pendukung jazz merupakan bagian dari cara menjaga keberlangsungan musik itu sendiri. Jazz tidak hanya dipertemukan dengan musisi, tetapi juga dengan orang-orang dan komunitas yang mungkin selama ini berada di luar lingkarannya.

Pameran seni dan stasiun pengisian daya berbasis panel surya di Sthala UVJF 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Pilihan mempertahankan identitas tersebut tentu memiliki konsekuensi. Anom melihat banyak festival musik memasukkan lebih banyak musisi pop untuk mendongkrak penjualan tiket.

“Festival lain mungkin 60 sampai 70 persen pop, sisanya jazz. Kami tidak mau seperti itu,” katanya. 

Konsistensi itu pula yang dilihat Devy Ferdianto, pendiri Salamander Big Band. Kelompok musik tersebut kembali tampil dalam Sthala UVJF 2026 dengan membawa sekitar 38 kru dan musisi.

“Dari sekian banyak festival yang kami ikuti, yang paling konsisten adalah Sthala Ubud Village Jazz Festival,” ujarnya. 

Membawa puluhan musisi dan kru ke Bali tentu membutuhkan biaya perjalanan, akomodasi, dan produksi yang tidak sedikit. Namun, bagi Devy, UVJF tetap menjadi salah satu festival yang memilih jazz sebagai identitas utama ketika banyak penyelenggara harus berkompromi dengan pasar.

Penampilan LaDju (grup musik asal Bali) di Subak Stage. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Di sisi lain, Co-founder UVJF Yuri Mahatma melihat festival ini sebagai platform bagi musisi Indonesia, termasuk mereka yang belum memperoleh panggung besar. Regenerasi menjadi bagian dari tanggung jawab komunitas jazz. Karena itu, musisi muda ditempatkan berdampingan dengan nama-nama yang telah dikenal di tingkat nasional maupun internasional. 

Pilihan itu kemudian diterjemahkan ke dalam ruang festival.

Sthala berada di kawasan tepian Sungai Wos dengan kontur lahan bertingkat. Kondisi tersebut direspons melalui tiga level panggung. Di bagian atas terdapat Giri Stage yang merepresentasikan kawasan pegunungan. Di tengah terdapat Panggung Kolaborasi yang menjadi ruang bagi workshop, komunitas, aktivitas kreatif, dan pertunjukan lintas disiplin. Sementara di bagian bawah, dekat sungai, terdapat Subak Stage yang merepresentasikan perjalanan air dari hulu menuju hilir. 

Tata ruang itu mengikuti tema besar Island Life, yang menghubungkan manusia, alam, dan kebudayaan dalam pengalaman festival. 

Pada hari pertama, delapan penampil mengisi dua panggung utama. Subak Stage menghadirkan Rason Trio, LaDju, Dattie Do Duo with Warman Sanjaya & Sinuksma, serta Michael Ananda Trio. Di Giri Stage, penonton menyaksikan Imelda Rosalin Quintet, Salamander Big Band, Simone Prattico Java Collective ft Sri Hanuraga & Kevin Yosua, serta Straight & Stretch ft Dian Pratiwi, Glen Wee, Mashiko Kitahara. 

Sementara pada hari kedua, akan diisi oleh sembilan penampil. Di Subak Stage akan tampil JZ.KA Trio, Watchdog, Dodot Trio, dan String Corner. Sementara di Giri Stage penonton disuguhkan Koko Harsoe & San Trio, Pong Nakornchai Ensemble, H Zettrio, Jadi Peperzak Quartet ft. Kasyfi Kalyasyena, dan ditutup Salamander Big Band.

Salamander Big Band tampil di Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Di antara penonton, musik jazz itu bekerja dengan caranya sendiri. Ada yang menganggukkan kepala mengikuti ketukan. Ada pula yang berdansa kecil bersama pasangan. Tidak semua datang dengan pengetahuan tentang teori musik atau notasi jazz. Sebagian datang untuk mendengar, sebagian lain untuk menemukan pengalaman baru.

Konsep yang dibawa festival juga menyentuh persoalan lingkungan. UVJF kembali menerapkan konsep minim sampah dengan melarang penggunaan produk sekali pakai selama festival. Minuman disajikan menggunakan gelas pakai ulang melalui sistem deposit 20 ribu rupiah. Gelas dapat digunakan berulang kali, ditukar ketika kotor, atau dikembalikan pada akhir acara untuk memperoleh kembali uang deposit.

Tampak samping jembatan Sungai Wos di Sthala UVJF 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Makanan disajikan menggunakan wadah tradisional seperti ingke dan tekor. Panitia juga menyediakan stasiun pengisian daya berbasis panel surya, Eco Games, pameran seni, workshop, serta instalasi bambu yang dikembangkan bersama komunitas arsitektur dan perancang lokal. 

Semua itu membuat Sthala UVJF 2026 tidak hanya berbicara tentang siapa yang tampil di atas panggung. Ada pilihan tentang musik apa yang hendak dipertahankan, komunitas mana yang hendak diberi ruang, bagaimana sebuah festival memaksimalkan tempat, hingga bagaimana kegiatan berskala besar meninggalkan jejak sampah lebih sedikit.

Namun, pada akhirnya, jazz tetap menjadi pusatnya.

Di depan Giri Stage, Gede Diarta masih menyaksikan pertunjukan. Ia mungkin belum memahami seluruh percakapan yang berlangsung di atasnya. Bagi Gede, jazz itu meneduhkan sekaligus mengajak berpikir. Dan malam itu, di tengah riuh festival, ia menemukan alasan sendiri untuk terus mendengarkan jazz.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: jazzSthala Ubud Village Jazz Festival 2026Ubud Village Jazz FestivalUVJFUVJF 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Next Post

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails
Next Post
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co