28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
in Khas
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

Opening Ceremony Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan minimarket.

Malam itu, Gede berdiri di tengah kerumunan penonton Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026. Pandangannya tertuju ke panggung Giri Stage, tempat Imelda Rosalin Quintet tampil. Tangannya sesekali bergerak mengikuti irama. Kepalanya mengangguk pelan. Tubuhnya berjoged ringan. Ia menikmati musik yang belum sepenuhnya ia pahami.

“Saya memang belum terlalu paham jazz, tapi rasanya jazz bisa jadi musik refleksi buat saya,” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari panggung.

Untuk pertama kalinya, Gede datang menyaksikan UVJF. Festival musik tahunan yang sejak 2023 berpindah ke Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott, di Mawang, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali, itu kembali digelar pada 7–8 Agustus 2026. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-13 sejak festival tersebut pertama kali digelar pada 2013. 

Penampilan Imelda Rosalin Quintet menjadi salah satu bagian dari rangkaian pembukaan pada Jumat, 7 Agustus 2026. Setelah itu, Heru Djatmiko (main committee UVJF), dan Lasta Arimbawa (General Manager Sthala), memberikan sambutan. Keduanya kemudian membuka festival secara resmi bersama seluruh panitia utama.

Salamander Big Band tampil di Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Pengunjung Sthala UVJF 2026 di depan Giri Stage│Foto: tatkala.co/Dede

Heru menegaskan bahwa perjalanan 13 tahun UVJF dibangun dengan pilihan yang sejak awal tidak berubah, yakni mempertahankan jazz sebagai identitas festival.

“Ini adalah penyelenggaraan ke-13, dan dari penyelenggaraan pertama sampai saat ini, kami tidak pernah berfokus pada keuntungan semata. Tetapi kami benar-benar ingin menjadi festival yang konsisten di jalur jazz. Musik yang benar-benar jazz. Tidak ada pop, RnB, apalagi dangdut. Kami bersetia pada jazz,” tegas Heru Djatmiko. 

Pilihan itu menjadi semakin penting ketika penyelenggara festival musik berhadapan dengan tuntutan pasar. Musik yang populer lebih mudah menjadi magnet penonton dan penjualan tiket. UVJF justru memilih tidak mengambil jalur tersebut.

Lasta Arimbawa melihat pilihan itu dari sisi lain. Baginya, keberhasilan festival tahun ini tidak semata-mata diukur dari jumlah orang yang datang.

“Ini adalah UVJF ke-4 yang diselenggarakan di Sthala. Tahun ini tidak hanya soal musik, tetapi juga memerhatikan pengalaman pengunjung. Pada saat konferensi pers, banyak media bertanya, apa goals dari event tahun ini? Dengan kagum saya mendengar para founder mengatakan, ‘kami tidak peduli dengan pengunjung berkurang, kami lebih berharap pengunjung yang datang akan mendapatkan pengalaman yang berkesan dan bisa membagikannya ke mana-mana. Kami rasa itu sudah lebih dari cukup. Kalau pengunjung lebih banyak dari tahun sebelumnya, itu adalah bonus’,” ujar Lasta. 

Pernyataan itu berangkat dari kondisi yang memang tidak ringan. Dalam jumpa pers di Sanur, Kamis, 30 Juli 2026, Co-founder Sthala Ubud Village Jazz Festival, Anom Darsana, mengakui penyelenggaraan tahun ini menjadi salah satu yang paling berat sejak festival dimulai.

Salamander Big Band tampil di Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

“Jujur dari sisi finansial kami tahun ini parah sekali. Mungkin kami rugi, mudah-mudahan tidak. Tapi untung rugi bukan menjadi masalah. Yang penting festival ini tetap berjalan,” ujar Anom. 

Bagi Anom, mempertahankan festival bukan berarti mempertahankan sebuah konser musik. Sejak awal, UVJF dirancang sebagai ruang yang juga memiliki fungsi edukasi dan pertemuan komunitas.

“Ini bukan hanya festival musik. Ini festival yang ada edukasinya,” katanya.

Karena itu, rangkaian UVJF tidak berhenti pada penampilan di panggung. Ada workshop, diskusi, ruang kolaborasi, pameran seni, hingga perjumpaan antarkomunitas. Tahun ini, untuk pertama kalinya, UVJF menggandeng komunitas Westside DJ asal Bali. 

“Biasanya orang menganggap DJ identik dengan party. Kami justru memberi ruang kepada mereka untuk memainkan tune yang lebih jazz. Kami ingin semua komunitas di Bali merasa dirangkul,” kata Anom. 

Bagi Anom, memperluas komunitas pendukung jazz merupakan bagian dari cara menjaga keberlangsungan musik itu sendiri. Jazz tidak hanya dipertemukan dengan musisi, tetapi juga dengan orang-orang dan komunitas yang mungkin selama ini berada di luar lingkarannya.

Pameran seni dan stasiun pengisian daya berbasis panel surya di Sthala UVJF 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Pilihan mempertahankan identitas tersebut tentu memiliki konsekuensi. Anom melihat banyak festival musik memasukkan lebih banyak musisi pop untuk mendongkrak penjualan tiket.

“Festival lain mungkin 60 sampai 70 persen pop, sisanya jazz. Kami tidak mau seperti itu,” katanya. 

Konsistensi itu pula yang dilihat Devy Ferdianto, pendiri Salamander Big Band. Kelompok musik tersebut kembali tampil dalam Sthala UVJF 2026 dengan membawa sekitar 38 kru dan musisi.

“Dari sekian banyak festival yang kami ikuti, yang paling konsisten adalah Sthala Ubud Village Jazz Festival,” ujarnya. 

Membawa puluhan musisi dan kru ke Bali tentu membutuhkan biaya perjalanan, akomodasi, dan produksi yang tidak sedikit. Namun, bagi Devy, UVJF tetap menjadi salah satu festival yang memilih jazz sebagai identitas utama ketika banyak penyelenggara harus berkompromi dengan pasar.

Penampilan LaDju (grup musik asal Bali) di Subak Stage. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Di sisi lain, Co-founder UVJF Yuri Mahatma melihat festival ini sebagai platform bagi musisi Indonesia, termasuk mereka yang belum memperoleh panggung besar. Regenerasi menjadi bagian dari tanggung jawab komunitas jazz. Karena itu, musisi muda ditempatkan berdampingan dengan nama-nama yang telah dikenal di tingkat nasional maupun internasional. 

Pilihan itu kemudian diterjemahkan ke dalam ruang festival.

Sthala berada di kawasan tepian Sungai Wos dengan kontur lahan bertingkat. Kondisi tersebut direspons melalui tiga level panggung. Di bagian atas terdapat Giri Stage yang merepresentasikan kawasan pegunungan. Di tengah terdapat Panggung Kolaborasi yang menjadi ruang bagi workshop, komunitas, aktivitas kreatif, dan pertunjukan lintas disiplin. Sementara di bagian bawah, dekat sungai, terdapat Subak Stage yang merepresentasikan perjalanan air dari hulu menuju hilir. 

Tata ruang itu mengikuti tema besar Island Life, yang menghubungkan manusia, alam, dan kebudayaan dalam pengalaman festival. 

Pada hari pertama, delapan penampil mengisi dua panggung utama. Subak Stage menghadirkan Rason Trio, LaDju, Dattie Do Duo with Warman Sanjaya & Sinuksma, serta Michael Ananda Trio. Di Giri Stage, penonton menyaksikan Imelda Rosalin Quintet, Salamander Big Band, Simone Prattico Java Collective ft Sri Hanuraga & Kevin Yosua, serta Straight & Stretch ft Dian Pratiwi, Glen Wee, Mashiko Kitahara. 

Sementara pada hari kedua, akan diisi oleh sembilan penampil. Di Subak Stage akan tampil JZ.KA Trio, Watchdog, Dodot Trio, dan String Corner. Sementara di Giri Stage penonton disuguhkan Koko Harsoe & San Trio, Pong Nakornchai Ensemble, H Zettrio, Jadi Peperzak Quartet ft. Kasyfi Kalyasyena, dan ditutup Salamander Big Band.

Salamander Big Band tampil di Sthala UVJF 2026. Jumat, (7/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Di antara penonton, musik jazz itu bekerja dengan caranya sendiri. Ada yang menganggukkan kepala mengikuti ketukan. Ada pula yang berdansa kecil bersama pasangan. Tidak semua datang dengan pengetahuan tentang teori musik atau notasi jazz. Sebagian datang untuk mendengar, sebagian lain untuk menemukan pengalaman baru.

Konsep yang dibawa festival juga menyentuh persoalan lingkungan. UVJF kembali menerapkan konsep minim sampah dengan melarang penggunaan produk sekali pakai selama festival. Minuman disajikan menggunakan gelas pakai ulang melalui sistem deposit 20 ribu rupiah. Gelas dapat digunakan berulang kali, ditukar ketika kotor, atau dikembalikan pada akhir acara untuk memperoleh kembali uang deposit.

Tampak samping jembatan Sungai Wos di Sthala UVJF 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Makanan disajikan menggunakan wadah tradisional seperti ingke dan tekor. Panitia juga menyediakan stasiun pengisian daya berbasis panel surya, Eco Games, pameran seni, workshop, serta instalasi bambu yang dikembangkan bersama komunitas arsitektur dan perancang lokal. 

Semua itu membuat Sthala UVJF 2026 tidak hanya berbicara tentang siapa yang tampil di atas panggung. Ada pilihan tentang musik apa yang hendak dipertahankan, komunitas mana yang hendak diberi ruang, bagaimana sebuah festival memaksimalkan tempat, hingga bagaimana kegiatan berskala besar meninggalkan jejak sampah lebih sedikit.

Namun, pada akhirnya, jazz tetap menjadi pusatnya.

Di depan Giri Stage, Gede Diarta masih menyaksikan pertunjukan. Ia mungkin belum memahami seluruh percakapan yang berlangsung di atasnya. Bagi Gede, jazz itu meneduhkan sekaligus mengajak berpikir. Dan malam itu, di tengah riuh festival, ia menemukan alasan sendiri untuk terus mendengarkan jazz.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: jazzSthala Ubud Village Jazz Festival 2026Ubud Village Jazz FestivalUVJFUVJF 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Next Post

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co