“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan minimarket.
Malam itu, Gede berdiri di tengah kerumunan penonton Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026. Pandangannya tertuju ke panggung Giri Stage, tempat Imelda Rosalin Quintet tampil. Tangannya sesekali bergerak mengikuti irama. Kepalanya mengangguk pelan. Tubuhnya berjoged ringan. Ia menikmati musik yang belum sepenuhnya ia pahami.
“Saya memang belum terlalu paham jazz, tapi rasanya jazz bisa jadi musik refleksi buat saya,” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari panggung.
Untuk pertama kalinya, Gede datang menyaksikan UVJF. Festival musik tahunan yang sejak 2023 berpindah ke Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott, di Mawang, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali, itu kembali digelar pada 7–8 Agustus 2026. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-13 sejak festival tersebut pertama kali digelar pada 2013.
Penampilan Imelda Rosalin Quintet menjadi salah satu bagian dari rangkaian pembukaan pada Jumat, 7 Agustus 2026. Setelah itu, Heru Djatmiko (main committee UVJF), dan Lasta Arimbawa (General Manager Sthala), memberikan sambutan. Keduanya kemudian membuka festival secara resmi bersama seluruh panitia utama.


Heru menegaskan bahwa perjalanan 13 tahun UVJF dibangun dengan pilihan yang sejak awal tidak berubah, yakni mempertahankan jazz sebagai identitas festival.
“Ini adalah penyelenggaraan ke-13, dan dari penyelenggaraan pertama sampai saat ini, kami tidak pernah berfokus pada keuntungan semata. Tetapi kami benar-benar ingin menjadi festival yang konsisten di jalur jazz. Musik yang benar-benar jazz. Tidak ada pop, RnB, apalagi dangdut. Kami bersetia pada jazz,” tegas Heru Djatmiko.
Pilihan itu menjadi semakin penting ketika penyelenggara festival musik berhadapan dengan tuntutan pasar. Musik yang populer lebih mudah menjadi magnet penonton dan penjualan tiket. UVJF justru memilih tidak mengambil jalur tersebut.
Lasta Arimbawa melihat pilihan itu dari sisi lain. Baginya, keberhasilan festival tahun ini tidak semata-mata diukur dari jumlah orang yang datang.
“Ini adalah UVJF ke-4 yang diselenggarakan di Sthala. Tahun ini tidak hanya soal musik, tetapi juga memerhatikan pengalaman pengunjung. Pada saat konferensi pers, banyak media bertanya, apa goals dari event tahun ini? Dengan kagum saya mendengar para founder mengatakan, ‘kami tidak peduli dengan pengunjung berkurang, kami lebih berharap pengunjung yang datang akan mendapatkan pengalaman yang berkesan dan bisa membagikannya ke mana-mana. Kami rasa itu sudah lebih dari cukup. Kalau pengunjung lebih banyak dari tahun sebelumnya, itu adalah bonus’,” ujar Lasta.
Pernyataan itu berangkat dari kondisi yang memang tidak ringan. Dalam jumpa pers di Sanur, Kamis, 30 Juli 2026, Co-founder Sthala Ubud Village Jazz Festival, Anom Darsana, mengakui penyelenggaraan tahun ini menjadi salah satu yang paling berat sejak festival dimulai.

“Jujur dari sisi finansial kami tahun ini parah sekali. Mungkin kami rugi, mudah-mudahan tidak. Tapi untung rugi bukan menjadi masalah. Yang penting festival ini tetap berjalan,” ujar Anom.
Bagi Anom, mempertahankan festival bukan berarti mempertahankan sebuah konser musik. Sejak awal, UVJF dirancang sebagai ruang yang juga memiliki fungsi edukasi dan pertemuan komunitas.
“Ini bukan hanya festival musik. Ini festival yang ada edukasinya,” katanya.
Karena itu, rangkaian UVJF tidak berhenti pada penampilan di panggung. Ada workshop, diskusi, ruang kolaborasi, pameran seni, hingga perjumpaan antarkomunitas. Tahun ini, untuk pertama kalinya, UVJF menggandeng komunitas Westside DJ asal Bali.
“Biasanya orang menganggap DJ identik dengan party. Kami justru memberi ruang kepada mereka untuk memainkan tune yang lebih jazz. Kami ingin semua komunitas di Bali merasa dirangkul,” kata Anom.
Bagi Anom, memperluas komunitas pendukung jazz merupakan bagian dari cara menjaga keberlangsungan musik itu sendiri. Jazz tidak hanya dipertemukan dengan musisi, tetapi juga dengan orang-orang dan komunitas yang mungkin selama ini berada di luar lingkarannya.


Pilihan mempertahankan identitas tersebut tentu memiliki konsekuensi. Anom melihat banyak festival musik memasukkan lebih banyak musisi pop untuk mendongkrak penjualan tiket.
“Festival lain mungkin 60 sampai 70 persen pop, sisanya jazz. Kami tidak mau seperti itu,” katanya.
Konsistensi itu pula yang dilihat Devy Ferdianto, pendiri Salamander Big Band. Kelompok musik tersebut kembali tampil dalam Sthala UVJF 2026 dengan membawa sekitar 38 kru dan musisi.
“Dari sekian banyak festival yang kami ikuti, yang paling konsisten adalah Sthala Ubud Village Jazz Festival,” ujarnya.
Membawa puluhan musisi dan kru ke Bali tentu membutuhkan biaya perjalanan, akomodasi, dan produksi yang tidak sedikit. Namun, bagi Devy, UVJF tetap menjadi salah satu festival yang memilih jazz sebagai identitas utama ketika banyak penyelenggara harus berkompromi dengan pasar.

Di sisi lain, Co-founder UVJF Yuri Mahatma melihat festival ini sebagai platform bagi musisi Indonesia, termasuk mereka yang belum memperoleh panggung besar. Regenerasi menjadi bagian dari tanggung jawab komunitas jazz. Karena itu, musisi muda ditempatkan berdampingan dengan nama-nama yang telah dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Pilihan itu kemudian diterjemahkan ke dalam ruang festival.
Sthala berada di kawasan tepian Sungai Wos dengan kontur lahan bertingkat. Kondisi tersebut direspons melalui tiga level panggung. Di bagian atas terdapat Giri Stage yang merepresentasikan kawasan pegunungan. Di tengah terdapat Panggung Kolaborasi yang menjadi ruang bagi workshop, komunitas, aktivitas kreatif, dan pertunjukan lintas disiplin. Sementara di bagian bawah, dekat sungai, terdapat Subak Stage yang merepresentasikan perjalanan air dari hulu menuju hilir.
Tata ruang itu mengikuti tema besar Island Life, yang menghubungkan manusia, alam, dan kebudayaan dalam pengalaman festival.
Pada hari pertama, delapan penampil mengisi dua panggung utama. Subak Stage menghadirkan Rason Trio, LaDju, Dattie Do Duo with Warman Sanjaya & Sinuksma, serta Michael Ananda Trio. Di Giri Stage, penonton menyaksikan Imelda Rosalin Quintet, Salamander Big Band, Simone Prattico Java Collective ft Sri Hanuraga & Kevin Yosua, serta Straight & Stretch ft Dian Pratiwi, Glen Wee, Mashiko Kitahara.
Sementara pada hari kedua, akan diisi oleh sembilan penampil. Di Subak Stage akan tampil JZ.KA Trio, Watchdog, Dodot Trio, dan String Corner. Sementara di Giri Stage penonton disuguhkan Koko Harsoe & San Trio, Pong Nakornchai Ensemble, H Zettrio, Jadi Peperzak Quartet ft. Kasyfi Kalyasyena, dan ditutup Salamander Big Band.

Di antara penonton, musik jazz itu bekerja dengan caranya sendiri. Ada yang menganggukkan kepala mengikuti ketukan. Ada pula yang berdansa kecil bersama pasangan. Tidak semua datang dengan pengetahuan tentang teori musik atau notasi jazz. Sebagian datang untuk mendengar, sebagian lain untuk menemukan pengalaman baru.
Konsep yang dibawa festival juga menyentuh persoalan lingkungan. UVJF kembali menerapkan konsep minim sampah dengan melarang penggunaan produk sekali pakai selama festival. Minuman disajikan menggunakan gelas pakai ulang melalui sistem deposit 20 ribu rupiah. Gelas dapat digunakan berulang kali, ditukar ketika kotor, atau dikembalikan pada akhir acara untuk memperoleh kembali uang deposit.

Makanan disajikan menggunakan wadah tradisional seperti ingke dan tekor. Panitia juga menyediakan stasiun pengisian daya berbasis panel surya, Eco Games, pameran seni, workshop, serta instalasi bambu yang dikembangkan bersama komunitas arsitektur dan perancang lokal.
Semua itu membuat Sthala UVJF 2026 tidak hanya berbicara tentang siapa yang tampil di atas panggung. Ada pilihan tentang musik apa yang hendak dipertahankan, komunitas mana yang hendak diberi ruang, bagaimana sebuah festival memaksimalkan tempat, hingga bagaimana kegiatan berskala besar meninggalkan jejak sampah lebih sedikit.
Namun, pada akhirnya, jazz tetap menjadi pusatnya.
Di depan Giri Stage, Gede Diarta masih menyaksikan pertunjukan. Ia mungkin belum memahami seluruh percakapan yang berlangsung di atasnya. Bagi Gede, jazz itu meneduhkan sekaligus mengajak berpikir. Dan malam itu, di tengah riuh festival, ia menemukan alasan sendiri untuk terus mendengarkan jazz.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto






























