20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Ega Surya Mahendra by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
in Khas
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996. | Doc. Arsip Banjar Keladian.

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman saya, Jembrana. Jalan yang macet, penuh jebakan, dan penuh asap truk pengangkut barang itu saya terpaksa tempuh dalam kurun waktu 4 jam, karena ada truk terguling di daerah Soka, Tabanan.

Tapi, penat saya terbayar setelah saya memasuki gapura “Selamat datang di Kota Negara”, gapura yang tetap menjadi patokan saya bahwa rumah sudah diujung hidung.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya terkejut. Mendapati saya yang tiba-tiba pulang dengan kondisi wajah hitam penuh debu dan noda asap knalpot truk.

Tanpa lala-lele saya langsung cuci muka, ngaturang rarapan, dan duduk diteras sembari merokok.

Di teras rumah, saya sedikit berbincang dengan bapak saya membahas soal festival perayaan HUT Kota Negara yang digelar bulan ini, saya mengeluh karena banyak pementasan kesenian yang harus saya skip akibat terhalang hari kerja. Tiba tiba kakek saya dengan wangi minyak urut yang semerbak datang menghampiri dan nyeletuk, “Pekak pidan nak taen mase pentas dadi janger!” Kakek dulu juga pernah pentas janger.

Saya hanya bisa mengingat sekelebat tentang kakek saya yang dulunya penari janger, yang saya bisa ingat hanya foto kakek saya dengan almarhum nenek pertama saya, dengan kostum janger yang sederhana. Saya meminta kakek untuk menceritakan bagaimana awal mula ia ikut menjadi penari janger. Dia tidak ingat semuanya, maklum umurnya hampir kepala 7, tapi yang dia ceritakan membuat saya seakan pergi menjelajahi waktu.

Di era 1992/1993 adalah awal mula terbentuknya Sekaa Janger di Banjar Keladian, Jembrana. Sekaa ini tebentuk melalui instruksi dari Bupati Jembrana di tahun itu.

Kata kakek saya seperti ini kira-kira instruksi Sang Bupati. “Keladian coba bikin sekaa janger, nanti saya kasi sumbangan satu set gamelan baleganjur!”

Kakek menirukan instruksi Bupati dalam bahasa Bali.

Maka terbentuklah sekaa janger di Keladian. Sekaa janger pada saat itu beranggotakan 5 pasang suami istri berumur matang, bahkan kakek saya sudah punya 3 anak pada saat itu.

Saya lalu mempertanyakan gambelan apa yang digunakan mengiringi penari janger pada saat itu, karena setahu saya Banjar Keladian tidak punya jegog atau gambelan untuk mengiringi janger. Saya bertanya seperti itu, barangkali karena referensi janger di kepala saya adalah janger yang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), seperti Janger Pegok, Janger Kedaton, dan yang lainnya.

Tapi ternyata, pada saat itu, sebagaimana dituturkan kakek, di banjar saya pentas janger menggunakan sepasang kendang janger (dugaan saya itu adalah kendang krumpungan), satu kecek, dua suling, satu kajar bambu, dan 3 rebana. Cukup sederhana jika saya bayangkan, alat-alat yang cukup minimalis dan ringkas, tidak sebanyak apa yang saya bayangkan.

Tetabuhannya hanya, “Pung. pung prung pung-pung deg dug byar”, kata kakek saya. Saya sempat tertawa melihat kakek saya memperagakan gerakannya pada saat menjadi janger. Tapi, tentu saja, pada masanya, menjadi penari janger, pasti membuatnya merasa keren.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Kakek saya lanjut menuturkan tentang perhelatan janger yang pernah jaya di era-nya. Pentas di Pendopo Kesari, sebuah gedung pementasan di tengah kota, adalah hal yang paling diingat kakek saya. Kata dia, pentas di Pendopo saat itu sudah seperti pentas di PKB, ditonton banyak orang, mendapat upah, dan atensi dari masyarakat.

Setelah kakek saya menceritakan hal itu, bapak saya menyambar dengan kata

“Bapak pidan di lapangan Dauhwaru taen pentas!” Bapak dulu di lapangan Dauhwaru pernah pentas!

“Hah? Pentas ape?” sahut saya bertanya tentang apa yang dipentaskan saat itu.

“Dadi janger anak-anak,” sahut bapak saya dengan bangga. Menjadi janger anak-anak.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Dan, ya. Ternyata bapak saya juga penari janger anak-anak. Bapak adalah salah satu saksi keberlajutan ekosistem janger di Banjar Keladian. Dia dulu dipilih menjadi janger dengan teman-teman sepermainannya di rumah. Seingat dia, Bapak dipilih menjadi janger pada saat umur 13 atau 14 tahun, pada saat ia masih SMP.

Bapak lanjut menuturkan bahwa ia awalnya disuruh menjadi Dag, pemimpin pementasan dengan pakaian seperti tentara Jepang, dan dengan hiasan seperti bondres. Mungkin karena dia tidak lucu, jadi, dia menjadi kecak janger.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

 Penabuh pengiringnya diambil dari sekha janger bapak-bapak, kakek saya salah satunya. Dia menjadi penabuh rebana yang paling besar, konyolnya, kakek saya hanya memukul rebana disetiap akhir kalimat gending.

“Nak kene beneh. Blarrr!” kata kakek saya sembari memperagakan gayanya menabuh.


Penabuh rebana pada Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Bapak menceritakan pada saat dia pentas di lapangan Dauhwaru. Kata Bapak, dia pentas ditonton puluhan sampai ratusan orang, dengan kakek saya sebagai penabuh pengiringnya. Bahkan dia sempat ditaksir teman sekolahnya karena ia penari janger. Zaman itu memang beda. Jadi penari janger saja bisa langsung ditaksir perempuan.

Dan pada akhirnya, generasi janger Keladian hanya bertahan sampai tahun 1999/2000-an. Entah apa yang menyebabkan generasinya kutung/putus, tapi, yang jelas Keladian pernah punya nama yang harum dengan Jangernya.

Cerita dari dua orang penari janger ini saya sampaikan pada idola saya, Bli Gus Onet (koreografer baleganjur Jembrana). Karena, saya anggap ia lebih tahu tentang janger daripada saya. Dia menanggapi bahwa janger di Jembrana awalnya adalah sebagai media untuk propaganda, melawan penjajahan Jepang pada saat itu. Lalu ia juga sempat menyebut tentang pengaruh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada ekosistem janger di Jembrana.

Cerita itu membuat saya ingin melanjutkan pembahasan ini, menuju hal kelam, tentang Janger, LEKRA, dan cerita di baliknya. Tunggu saja. [T]

Penulis: I Putu Ega Surya Mahendra
Editor: Adnyana Ole

Tags: jangerjanger balijembranakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

Next Post

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ega Surya Mahendra

Ega Surya Mahendra

I Putu Ega Surya Mahendra. Lahir di Keladian,Jembrana. Suka kegiatan kesenian. Pegawai swasta yang bergantung pada pariwisata.

Related Posts

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails
Next Post
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses Tebal: vii + 138...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co