11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Ega Surya Mahendra by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
in Khas
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996. | Doc. Arsip Banjar Keladian.

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman saya, Jembrana. Jalan yang macet, penuh jebakan, dan penuh asap truk pengangkut barang itu saya terpaksa tempuh dalam kurun waktu 4 jam, karena ada truk terguling di daerah Soka, Tabanan.

Tapi, penat saya terbayar setelah saya memasuki gapura “Selamat datang di Kota Negara”, gapura yang tetap menjadi patokan saya bahwa rumah sudah diujung hidung.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya terkejut. Mendapati saya yang tiba-tiba pulang dengan kondisi wajah hitam penuh debu dan noda asap knalpot truk.

Tanpa lala-lele saya langsung cuci muka, ngaturang rarapan, dan duduk diteras sembari merokok.

Di teras rumah, saya sedikit berbincang dengan bapak saya membahas soal festival perayaan HUT Kota Negara yang digelar bulan ini, saya mengeluh karena banyak pementasan kesenian yang harus saya skip akibat terhalang hari kerja. Tiba tiba kakek saya dengan wangi minyak urut yang semerbak datang menghampiri dan nyeletuk, “Pekak pidan nak taen mase pentas dadi janger!” Kakek dulu juga pernah pentas janger.

Saya hanya bisa mengingat sekelebat tentang kakek saya yang dulunya penari janger, yang saya bisa ingat hanya foto kakek saya dengan almarhum nenek pertama saya, dengan kostum janger yang sederhana. Saya meminta kakek untuk menceritakan bagaimana awal mula ia ikut menjadi penari janger. Dia tidak ingat semuanya, maklum umurnya hampir kepala 7, tapi yang dia ceritakan membuat saya seakan pergi menjelajahi waktu.

Di era 1992/1993 adalah awal mula terbentuknya Sekaa Janger di Banjar Keladian, Jembrana. Sekaa ini tebentuk melalui instruksi dari Bupati Jembrana di tahun itu.

Kata kakek saya seperti ini kira-kira instruksi Sang Bupati. “Keladian coba bikin sekaa janger, nanti saya kasi sumbangan satu set gamelan baleganjur!”

Kakek menirukan instruksi Bupati dalam bahasa Bali.

Maka terbentuklah sekaa janger di Keladian. Sekaa janger pada saat itu beranggotakan 5 pasang suami istri berumur matang, bahkan kakek saya sudah punya 3 anak pada saat itu.

Saya lalu mempertanyakan gambelan apa yang digunakan mengiringi penari janger pada saat itu, karena setahu saya Banjar Keladian tidak punya jegog atau gambelan untuk mengiringi janger. Saya bertanya seperti itu, barangkali karena referensi janger di kepala saya adalah janger yang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), seperti Janger Pegok, Janger Kedaton, dan yang lainnya.

Tapi ternyata, pada saat itu, sebagaimana dituturkan kakek, di banjar saya pentas janger menggunakan sepasang kendang janger (dugaan saya itu adalah kendang krumpungan), satu kecek, dua suling, satu kajar bambu, dan 3 rebana. Cukup sederhana jika saya bayangkan, alat-alat yang cukup minimalis dan ringkas, tidak sebanyak apa yang saya bayangkan.

Tetabuhannya hanya, “Pung. pung prung pung-pung deg dug byar”, kata kakek saya. Saya sempat tertawa melihat kakek saya memperagakan gerakannya pada saat menjadi janger. Tapi, tentu saja, pada masanya, menjadi penari janger, pasti membuatnya merasa keren.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Kakek saya lanjut menuturkan tentang perhelatan janger yang pernah jaya di era-nya. Pentas di Pendopo Kesari, sebuah gedung pementasan di tengah kota, adalah hal yang paling diingat kakek saya. Kata dia, pentas di Pendopo saat itu sudah seperti pentas di PKB, ditonton banyak orang, mendapat upah, dan atensi dari masyarakat.

Setelah kakek saya menceritakan hal itu, bapak saya menyambar dengan kata

“Bapak pidan di lapangan Dauhwaru taen pentas!” Bapak dulu di lapangan Dauhwaru pernah pentas!

“Hah? Pentas ape?” sahut saya bertanya tentang apa yang dipentaskan saat itu.

“Dadi janger anak-anak,” sahut bapak saya dengan bangga. Menjadi janger anak-anak.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Dan, ya. Ternyata bapak saya juga penari janger anak-anak. Bapak adalah salah satu saksi keberlajutan ekosistem janger di Banjar Keladian. Dia dulu dipilih menjadi janger dengan teman-teman sepermainannya di rumah. Seingat dia, Bapak dipilih menjadi janger pada saat umur 13 atau 14 tahun, pada saat ia masih SMP.

Bapak lanjut menuturkan bahwa ia awalnya disuruh menjadi Dag, pemimpin pementasan dengan pakaian seperti tentara Jepang, dan dengan hiasan seperti bondres. Mungkin karena dia tidak lucu, jadi, dia menjadi kecak janger.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

 Penabuh pengiringnya diambil dari sekha janger bapak-bapak, kakek saya salah satunya. Dia menjadi penabuh rebana yang paling besar, konyolnya, kakek saya hanya memukul rebana disetiap akhir kalimat gending.

“Nak kene beneh. Blarrr!” kata kakek saya sembari memperagakan gayanya menabuh.


Penabuh rebana pada Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Bapak menceritakan pada saat dia pentas di lapangan Dauhwaru. Kata Bapak, dia pentas ditonton puluhan sampai ratusan orang, dengan kakek saya sebagai penabuh pengiringnya. Bahkan dia sempat ditaksir teman sekolahnya karena ia penari janger. Zaman itu memang beda. Jadi penari janger saja bisa langsung ditaksir perempuan.

Dan pada akhirnya, generasi janger Keladian hanya bertahan sampai tahun 1999/2000-an. Entah apa yang menyebabkan generasinya kutung/putus, tapi, yang jelas Keladian pernah punya nama yang harum dengan Jangernya.

Cerita dari dua orang penari janger ini saya sampaikan pada idola saya, Bli Gus Onet (koreografer baleganjur Jembrana). Karena, saya anggap ia lebih tahu tentang janger daripada saya. Dia menanggapi bahwa janger di Jembrana awalnya adalah sebagai media untuk propaganda, melawan penjajahan Jepang pada saat itu. Lalu ia juga sempat menyebut tentang pengaruh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada ekosistem janger di Jembrana.

Cerita itu membuat saya ingin melanjutkan pembahasan ini, menuju hal kelam, tentang Janger, LEKRA, dan cerita di baliknya. Tunggu saja. [T]

Penulis: I Putu Ega Surya Mahendra
Editor: Adnyana Ole

Tags: jangerjanger balijembranakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

Next Post

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ega Surya Mahendra

Ega Surya Mahendra

I Putu Ega Surya Mahendra. Lahir di Keladian,Jembrana. Suka kegiatan kesenian. Pegawai swasta yang bergantung pada pariwisata.

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co