31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Ega Surya Mahendra by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
in Khas
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996. | Doc. Arsip Banjar Keladian.

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman saya, Jembrana. Jalan yang macet, penuh jebakan, dan penuh asap truk pengangkut barang itu saya terpaksa tempuh dalam kurun waktu 4 jam, karena ada truk terguling di daerah Soka, Tabanan.

Tapi, penat saya terbayar setelah saya memasuki gapura “Selamat datang di Kota Negara”, gapura yang tetap menjadi patokan saya bahwa rumah sudah diujung hidung.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya terkejut. Mendapati saya yang tiba-tiba pulang dengan kondisi wajah hitam penuh debu dan noda asap knalpot truk.

Tanpa lala-lele saya langsung cuci muka, ngaturang rarapan, dan duduk diteras sembari merokok.

Di teras rumah, saya sedikit berbincang dengan bapak saya membahas soal festival perayaan HUT Kota Negara yang digelar bulan ini, saya mengeluh karena banyak pementasan kesenian yang harus saya skip akibat terhalang hari kerja. Tiba tiba kakek saya dengan wangi minyak urut yang semerbak datang menghampiri dan nyeletuk, “Pekak pidan nak taen mase pentas dadi janger!” Kakek dulu juga pernah pentas janger.

Saya hanya bisa mengingat sekelebat tentang kakek saya yang dulunya penari janger, yang saya bisa ingat hanya foto kakek saya dengan almarhum nenek pertama saya, dengan kostum janger yang sederhana. Saya meminta kakek untuk menceritakan bagaimana awal mula ia ikut menjadi penari janger. Dia tidak ingat semuanya, maklum umurnya hampir kepala 7, tapi yang dia ceritakan membuat saya seakan pergi menjelajahi waktu.

Di era 1992/1993 adalah awal mula terbentuknya Sekaa Janger di Banjar Keladian, Jembrana. Sekaa ini tebentuk melalui instruksi dari Bupati Jembrana di tahun itu.

Kata kakek saya seperti ini kira-kira instruksi Sang Bupati. “Keladian coba bikin sekaa janger, nanti saya kasi sumbangan satu set gamelan baleganjur!”

Kakek menirukan instruksi Bupati dalam bahasa Bali.

Maka terbentuklah sekaa janger di Keladian. Sekaa janger pada saat itu beranggotakan 5 pasang suami istri berumur matang, bahkan kakek saya sudah punya 3 anak pada saat itu.

Saya lalu mempertanyakan gambelan apa yang digunakan mengiringi penari janger pada saat itu, karena setahu saya Banjar Keladian tidak punya jegog atau gambelan untuk mengiringi janger. Saya bertanya seperti itu, barangkali karena referensi janger di kepala saya adalah janger yang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), seperti Janger Pegok, Janger Kedaton, dan yang lainnya.

Tapi ternyata, pada saat itu, sebagaimana dituturkan kakek, di banjar saya pentas janger menggunakan sepasang kendang janger (dugaan saya itu adalah kendang krumpungan), satu kecek, dua suling, satu kajar bambu, dan 3 rebana. Cukup sederhana jika saya bayangkan, alat-alat yang cukup minimalis dan ringkas, tidak sebanyak apa yang saya bayangkan.

Tetabuhannya hanya, “Pung. pung prung pung-pung deg dug byar”, kata kakek saya. Saya sempat tertawa melihat kakek saya memperagakan gerakannya pada saat menjadi janger. Tapi, tentu saja, pada masanya, menjadi penari janger, pasti membuatnya merasa keren.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Kakek saya lanjut menuturkan tentang perhelatan janger yang pernah jaya di era-nya. Pentas di Pendopo Kesari, sebuah gedung pementasan di tengah kota, adalah hal yang paling diingat kakek saya. Kata dia, pentas di Pendopo saat itu sudah seperti pentas di PKB, ditonton banyak orang, mendapat upah, dan atensi dari masyarakat.

Setelah kakek saya menceritakan hal itu, bapak saya menyambar dengan kata

“Bapak pidan di lapangan Dauhwaru taen pentas!” Bapak dulu di lapangan Dauhwaru pernah pentas!

“Hah? Pentas ape?” sahut saya bertanya tentang apa yang dipentaskan saat itu.

“Dadi janger anak-anak,” sahut bapak saya dengan bangga. Menjadi janger anak-anak.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Dan, ya. Ternyata bapak saya juga penari janger anak-anak. Bapak adalah salah satu saksi keberlajutan ekosistem janger di Banjar Keladian. Dia dulu dipilih menjadi janger dengan teman-teman sepermainannya di rumah. Seingat dia, Bapak dipilih menjadi janger pada saat umur 13 atau 14 tahun, pada saat ia masih SMP.

Bapak lanjut menuturkan bahwa ia awalnya disuruh menjadi Dag, pemimpin pementasan dengan pakaian seperti tentara Jepang, dan dengan hiasan seperti bondres. Mungkin karena dia tidak lucu, jadi, dia menjadi kecak janger.

Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

 Penabuh pengiringnya diambil dari sekha janger bapak-bapak, kakek saya salah satunya. Dia menjadi penabuh rebana yang paling besar, konyolnya, kakek saya hanya memukul rebana disetiap akhir kalimat gending.

“Nak kene beneh. Blarrr!” kata kakek saya sembari memperagakan gayanya menabuh.


Penabuh rebana pada Pementasan Janger di Balai Banjar Keladian sekitar tahun 1995/1996 | Dok. Arsip Banjar Keladian

Bapak menceritakan pada saat dia pentas di lapangan Dauhwaru. Kata Bapak, dia pentas ditonton puluhan sampai ratusan orang, dengan kakek saya sebagai penabuh pengiringnya. Bahkan dia sempat ditaksir teman sekolahnya karena ia penari janger. Zaman itu memang beda. Jadi penari janger saja bisa langsung ditaksir perempuan.

Dan pada akhirnya, generasi janger Keladian hanya bertahan sampai tahun 1999/2000-an. Entah apa yang menyebabkan generasinya kutung/putus, tapi, yang jelas Keladian pernah punya nama yang harum dengan Jangernya.

Cerita dari dua orang penari janger ini saya sampaikan pada idola saya, Bli Gus Onet (koreografer baleganjur Jembrana). Karena, saya anggap ia lebih tahu tentang janger daripada saya. Dia menanggapi bahwa janger di Jembrana awalnya adalah sebagai media untuk propaganda, melawan penjajahan Jepang pada saat itu. Lalu ia juga sempat menyebut tentang pengaruh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada ekosistem janger di Jembrana.

Cerita itu membuat saya ingin melanjutkan pembahasan ini, menuju hal kelam, tentang Janger, LEKRA, dan cerita di baliknya. Tunggu saja. [T]

Penulis: I Putu Ega Surya Mahendra
Editor: Adnyana Ole

Tags: jangerjanger balijembranakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

Next Post

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ega Surya Mahendra

Ega Surya Mahendra

I Putu Ega Surya Mahendra. Lahir di Keladian,Jembrana. Suka kegiatan kesenian. Pegawai swasta yang bergantung pada pariwisata.

Related Posts

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails
Next Post
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co