11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
in Esai
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ilustrasi tatkala.co | Gambar diolah dari Canva

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja keinginan manusia. Kita mengira keinginan akan membawa kita lebih dekat kepada sesuatu yang kita cari, tetapi dalam banyak keadaan, keinginan justru membuat jarak antara kita dan apa yang kita inginkan terasa semakin lebar.

Kita ingin percaya diri, lalu mulai memperhatikan betapa seringnya kita merasa malu, ragu, atau cemas. Kita ingin sukses, lalu setiap kesalahan kecil terasa seperti bukti bahwa kita sebenarnya tidak cukup baik. Kita ingin terlihat cantik, lalu cermin berubah menjadi tempat untuk mencari kekurangan. Kita ingin dicintai, tetapi semakin besar kebutuhan untuk dicintai, semakin mudah kita mencurigai bahwa orang lain mungkin tidak benar-benar menyayangi kita.

Barangkali masalahnya bukan pada apa yang kita inginkan, melainkan pada cara keinginan bekerja di dalam pikiran. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, perhatian kita menjadi seperti magnet. Ia terus-menerus menarik kita kembali kepada hal yang belum ada. Kita tidak lagi melihat kehidupan sebagaimana adanya, melainkan membandingkannya dengan gambaran tentang kehidupan yang seharusnya kita miliki. Di situlah penderitaan mulai tumbuh.

Bukan karena hidup kita selalu buruk, tetapi karena hidup yang nyata terus-menerus dibandingkan dengan kehidupan ideal yang hanya ada di kepala. Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Pada hari-hari biasa, kita mungkin tidak terlalu memikirkan penampilan. Namun ketika kita mulai memiliki keinginan kuat untuk menjadi lebih menarik, tiba-tiba wajah kita terasa penuh kekurangan.

Ada bentuk hidung yang tidak sesuai harapan, kulit yang tidak sempurna, rambut yang dianggap kurang bagus, atau tubuh yang terasa tidak ideal. Padahal, sebagian besar kekurangan itu sudah ada sebelumnya dan tidak pernah benar-benar mengganggu kehidupan kita. Yang berubah bukan tubuh kita, melainkan cara kita memandangnya. Hal yang sama terjadi pada kesuksesan.

Ketika tidak terlalu memikirkan kesempurnaan, sebuah kesalahan kecil mungkin hanya terasa sebagai kesalahan. Kita memperbaikinya, lalu melanjutkan pekerjaan. Tetapi ketika keberhasilan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi harga diri, kesalahan kecil berubah menjadi ancaman. Satu presentasi yang kurang bagus bisa terasa seperti kegagalan besar. Satu komentar yang tidak menyenangkan bisa terus terngiang sepanjang hari.

Satu kesempatan yang terlewat dapat membuat kita mempertanyakan seluruh kemampuan diri sendiri. Keinginan membuat perhatian kita menyempit. Kita mulai melihat apa yang kurang, bukan apa yang sudah ada. Kita melihat jarak antara diri kita sekarang dan diri kita yang kita bayangkan seharusnya menjadi. Semakin besar jarak itu terasa, semakin kuat pula keinginan untuk menutupinya.

Kita kemudian bekerja lebih keras, mengejar lebih banyak pencapaian, mencari lebih banyak pengakuan, membeli lebih banyak barang, memperbaiki lebih banyak bagian dari diri sendiri. Anehnya, setelah mendapatkan sesuatu yang kita kejar, ketenangan itu sering kali tidak bertahan lama. Tidak lama kemudian, muncul keinginan baru.

Kita mungkin berkata, “Kalau saja saya mendapatkan pekerjaan ini, saya akan tenang.” Setelah mendapatkannya, kita berkata, “Kalau saja jabatan saya naik, saya akan lebih bahagia.” Setelah naik jabatan, standar kembali bergerak. Kita ingin penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih baik, hubungan yang lebih ideal, tubuh yang lebih menarik, atau kehidupan sosial yang lebih menyenangkan. Seolah-olah garis finis selalu beberapa langkah lebih jauh dari tempat kita berdiri.

Di sinilah saya mulai melihat keinginan dengan cara yang sedikit berbeda. Mungkin keinginan memang tidak bisa dan tidak perlu dihilangkan. Kita terlalu sering menganggap keinginan sebagai sumber masalah, padahal keinginan juga merupakan salah satu tenaga yang membuat manusia bergerak. Tanpa keinginan, mungkin tidak ada alasan untuk belajar, menciptakan sesuatu, mencintai, bekerja, memperbaiki keadaan, atau membangun masa depan.

Keinginan bukan musuh. Yang membuatnya menyakitkan adalah ketika kita menyerahkan seluruh rasa aman dan harga diri kepada hasil dari keinginan tersebut. Ada perbedaan besar antara berkata, “Saya ingin berhasil,” dan “Saya harus berhasil agar merasa diri saya berharga.” Yang pertama adalah keinginan yang sehat. Yang kedua sudah menjadi tuntutan terhadap kehidupan.

Begitu keinginan berubah menjadi tuntutan, kenyataan akan selalu terasa mengecewakan karena kehidupan tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rencana kita. Mungkin kita tidak perlu berhenti menginginkan sesuatu. Kita hanya perlu berhenti menganggap bahwa kebahagiaan kita harus menunggu sampai keinginan itu terpenuhi.

Saya ingin percaya diri, tetapi saya tidak harus menunggu menjadi orang yang sepenuhnya percaya diri untuk menjalani hidup. Saya boleh merasa gugup dan tetap berbicara. Saya boleh merasa malu dan tetap mencoba. Saya boleh melakukan kesalahan tanpa menjadikannya bukti bahwa saya adalah orang yang gagal. Demikian pula dengan kesuksesan. Saya boleh mengejar sesuatu dengan serius tanpa harus mengubah setiap kegagalan kecil menjadi penilaian terhadap nilai diri saya.

Begitu pula dengan penampilan. Kita boleh ingin terlihat lebih baik tanpa menjadikan tubuh sebagai proyek yang tidak pernah selesai. Ada perbedaan antara merawat diri dan terus-menerus memusuhi diri sendiri. Ada perbedaan antara ingin berkembang dan merasa bahwa diri kita yang sekarang tidak layak untuk diterima. Barangkali kedewasaan bukan tentang berhenti menginginkan, melainkan tentang belajar menginginkan tanpa diperbudak oleh keinginan.

Kita masih boleh mempunyai ambisi, tetapi tidak harus hidup dalam ketakutan akan kegagalan. Kita masih boleh menginginkan cinta, tetapi tidak harus memohon kepada setiap orang untuk mengonfirmasi bahwa kita layak dicintai. Kita masih boleh menginginkan uang, kebebasan, pengakuan, kecantikan, pengetahuan, dan kehidupan yang lebih baik, tetapi kita juga perlu mampu melihat bahwa kehidupan yang sedang berlangsung sekarang bukan sekadar ruang tunggu menuju kehidupan ideal.

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya sangat sulit. Pikiran manusia memang cenderung bergerak ke masa depan. Kita membayangkan apa yang belum terjadi, lalu mengukur kehidupan sekarang berdasarkan bayangan tersebut. Kita jarang benar-benar puas karena begitu satu keinginan terpenuhi, pikiran segera menemukan sesuatu yang lain untuk dikejar. Mungkin memang demikian sifat manusia. Kita selalu meraih sesuatu yang berada sedikit di depan kita.

Karena itu, mungkin solusi yang lebih masuk akal bukan memutus semua keinginan, melainkan mengubah hubungan kita dengan keinginan. Kita bisa menginginkan sesuatu tanpa terus-menerus mengingatkan diri bahwa kita belum memilikinya. Kita bisa mengejar tujuan tanpa membuat kehidupan saat ini terasa tidak sah. Kita bisa berharap tanpa menjadikan harapan sebagai syarat untuk merasa cukup.

Hidup mungkin bukan tentang mencapai titik ketika kita tidak menginginkan apa pun lagi. Mungkin titik seperti itu memang tidak pernah ada. Selama kita hidup, kita akan menginginkan sesuatu. Kita akan berharap, kecewa, mencoba lagi, mendapatkan sesuatu, lalu menginginkan hal lain. Siklus itu mungkin tidak perlu dilawan.

Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana tetap hadir di dalam kehidupan yang nyata, bahkan ketika pikiran sedang sibuk membayangkan kehidupan yang kita inginkan. Sebab mungkin masalah terbesar dari keinginan bukan karena ia membuat kita menginginkan terlalu banyak, melainkan karena ia membuat kita lupa melihat apa yang sudah ada.

Kita terlalu sibuk mengejar kehidupan yang belum terjadi sampai tidak sadar bahwa kehidupan yang kita tunggu-tunggu itu sedang berlangsung sekarang. Dan mungkin, pada akhirnya, kebebasan bukan berarti tidak lagi menginginkan apa pun. Kebebasan adalah ketika kita mampu berkata, “Saya menginginkan ini, tetapi saya tidak harus memilikinya untuk merasa hidup saya berarti.” [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupkehidupanruang tunggu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Next Post

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co