20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
in Esai
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ilustrasi tatkala.co | Gambar diolah dari Canva

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja keinginan manusia. Kita mengira keinginan akan membawa kita lebih dekat kepada sesuatu yang kita cari, tetapi dalam banyak keadaan, keinginan justru membuat jarak antara kita dan apa yang kita inginkan terasa semakin lebar.

Kita ingin percaya diri, lalu mulai memperhatikan betapa seringnya kita merasa malu, ragu, atau cemas. Kita ingin sukses, lalu setiap kesalahan kecil terasa seperti bukti bahwa kita sebenarnya tidak cukup baik. Kita ingin terlihat cantik, lalu cermin berubah menjadi tempat untuk mencari kekurangan. Kita ingin dicintai, tetapi semakin besar kebutuhan untuk dicintai, semakin mudah kita mencurigai bahwa orang lain mungkin tidak benar-benar menyayangi kita.

Barangkali masalahnya bukan pada apa yang kita inginkan, melainkan pada cara keinginan bekerja di dalam pikiran. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, perhatian kita menjadi seperti magnet. Ia terus-menerus menarik kita kembali kepada hal yang belum ada. Kita tidak lagi melihat kehidupan sebagaimana adanya, melainkan membandingkannya dengan gambaran tentang kehidupan yang seharusnya kita miliki. Di situlah penderitaan mulai tumbuh.

Bukan karena hidup kita selalu buruk, tetapi karena hidup yang nyata terus-menerus dibandingkan dengan kehidupan ideal yang hanya ada di kepala. Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Pada hari-hari biasa, kita mungkin tidak terlalu memikirkan penampilan. Namun ketika kita mulai memiliki keinginan kuat untuk menjadi lebih menarik, tiba-tiba wajah kita terasa penuh kekurangan.

Ada bentuk hidung yang tidak sesuai harapan, kulit yang tidak sempurna, rambut yang dianggap kurang bagus, atau tubuh yang terasa tidak ideal. Padahal, sebagian besar kekurangan itu sudah ada sebelumnya dan tidak pernah benar-benar mengganggu kehidupan kita. Yang berubah bukan tubuh kita, melainkan cara kita memandangnya. Hal yang sama terjadi pada kesuksesan.

Ketika tidak terlalu memikirkan kesempurnaan, sebuah kesalahan kecil mungkin hanya terasa sebagai kesalahan. Kita memperbaikinya, lalu melanjutkan pekerjaan. Tetapi ketika keberhasilan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi harga diri, kesalahan kecil berubah menjadi ancaman. Satu presentasi yang kurang bagus bisa terasa seperti kegagalan besar. Satu komentar yang tidak menyenangkan bisa terus terngiang sepanjang hari.

Satu kesempatan yang terlewat dapat membuat kita mempertanyakan seluruh kemampuan diri sendiri. Keinginan membuat perhatian kita menyempit. Kita mulai melihat apa yang kurang, bukan apa yang sudah ada. Kita melihat jarak antara diri kita sekarang dan diri kita yang kita bayangkan seharusnya menjadi. Semakin besar jarak itu terasa, semakin kuat pula keinginan untuk menutupinya.

Kita kemudian bekerja lebih keras, mengejar lebih banyak pencapaian, mencari lebih banyak pengakuan, membeli lebih banyak barang, memperbaiki lebih banyak bagian dari diri sendiri. Anehnya, setelah mendapatkan sesuatu yang kita kejar, ketenangan itu sering kali tidak bertahan lama. Tidak lama kemudian, muncul keinginan baru.

Kita mungkin berkata, “Kalau saja saya mendapatkan pekerjaan ini, saya akan tenang.” Setelah mendapatkannya, kita berkata, “Kalau saja jabatan saya naik, saya akan lebih bahagia.” Setelah naik jabatan, standar kembali bergerak. Kita ingin penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih baik, hubungan yang lebih ideal, tubuh yang lebih menarik, atau kehidupan sosial yang lebih menyenangkan. Seolah-olah garis finis selalu beberapa langkah lebih jauh dari tempat kita berdiri.

Di sinilah saya mulai melihat keinginan dengan cara yang sedikit berbeda. Mungkin keinginan memang tidak bisa dan tidak perlu dihilangkan. Kita terlalu sering menganggap keinginan sebagai sumber masalah, padahal keinginan juga merupakan salah satu tenaga yang membuat manusia bergerak. Tanpa keinginan, mungkin tidak ada alasan untuk belajar, menciptakan sesuatu, mencintai, bekerja, memperbaiki keadaan, atau membangun masa depan.

Keinginan bukan musuh. Yang membuatnya menyakitkan adalah ketika kita menyerahkan seluruh rasa aman dan harga diri kepada hasil dari keinginan tersebut. Ada perbedaan besar antara berkata, “Saya ingin berhasil,” dan “Saya harus berhasil agar merasa diri saya berharga.” Yang pertama adalah keinginan yang sehat. Yang kedua sudah menjadi tuntutan terhadap kehidupan.

Begitu keinginan berubah menjadi tuntutan, kenyataan akan selalu terasa mengecewakan karena kehidupan tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rencana kita. Mungkin kita tidak perlu berhenti menginginkan sesuatu. Kita hanya perlu berhenti menganggap bahwa kebahagiaan kita harus menunggu sampai keinginan itu terpenuhi.

Saya ingin percaya diri, tetapi saya tidak harus menunggu menjadi orang yang sepenuhnya percaya diri untuk menjalani hidup. Saya boleh merasa gugup dan tetap berbicara. Saya boleh merasa malu dan tetap mencoba. Saya boleh melakukan kesalahan tanpa menjadikannya bukti bahwa saya adalah orang yang gagal. Demikian pula dengan kesuksesan. Saya boleh mengejar sesuatu dengan serius tanpa harus mengubah setiap kegagalan kecil menjadi penilaian terhadap nilai diri saya.

Begitu pula dengan penampilan. Kita boleh ingin terlihat lebih baik tanpa menjadikan tubuh sebagai proyek yang tidak pernah selesai. Ada perbedaan antara merawat diri dan terus-menerus memusuhi diri sendiri. Ada perbedaan antara ingin berkembang dan merasa bahwa diri kita yang sekarang tidak layak untuk diterima. Barangkali kedewasaan bukan tentang berhenti menginginkan, melainkan tentang belajar menginginkan tanpa diperbudak oleh keinginan.

Kita masih boleh mempunyai ambisi, tetapi tidak harus hidup dalam ketakutan akan kegagalan. Kita masih boleh menginginkan cinta, tetapi tidak harus memohon kepada setiap orang untuk mengonfirmasi bahwa kita layak dicintai. Kita masih boleh menginginkan uang, kebebasan, pengakuan, kecantikan, pengetahuan, dan kehidupan yang lebih baik, tetapi kita juga perlu mampu melihat bahwa kehidupan yang sedang berlangsung sekarang bukan sekadar ruang tunggu menuju kehidupan ideal.

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya sangat sulit. Pikiran manusia memang cenderung bergerak ke masa depan. Kita membayangkan apa yang belum terjadi, lalu mengukur kehidupan sekarang berdasarkan bayangan tersebut. Kita jarang benar-benar puas karena begitu satu keinginan terpenuhi, pikiran segera menemukan sesuatu yang lain untuk dikejar. Mungkin memang demikian sifat manusia. Kita selalu meraih sesuatu yang berada sedikit di depan kita.

Karena itu, mungkin solusi yang lebih masuk akal bukan memutus semua keinginan, melainkan mengubah hubungan kita dengan keinginan. Kita bisa menginginkan sesuatu tanpa terus-menerus mengingatkan diri bahwa kita belum memilikinya. Kita bisa mengejar tujuan tanpa membuat kehidupan saat ini terasa tidak sah. Kita bisa berharap tanpa menjadikan harapan sebagai syarat untuk merasa cukup.

Hidup mungkin bukan tentang mencapai titik ketika kita tidak menginginkan apa pun lagi. Mungkin titik seperti itu memang tidak pernah ada. Selama kita hidup, kita akan menginginkan sesuatu. Kita akan berharap, kecewa, mencoba lagi, mendapatkan sesuatu, lalu menginginkan hal lain. Siklus itu mungkin tidak perlu dilawan.

Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana tetap hadir di dalam kehidupan yang nyata, bahkan ketika pikiran sedang sibuk membayangkan kehidupan yang kita inginkan. Sebab mungkin masalah terbesar dari keinginan bukan karena ia membuat kita menginginkan terlalu banyak, melainkan karena ia membuat kita lupa melihat apa yang sudah ada.

Kita terlalu sibuk mengejar kehidupan yang belum terjadi sampai tidak sadar bahwa kehidupan yang kita tunggu-tunggu itu sedang berlangsung sekarang. Dan mungkin, pada akhirnya, kebebasan bukan berarti tidak lagi menginginkan apa pun. Kebebasan adalah ketika kita mampu berkata, “Saya menginginkan ini, tetapi saya tidak harus memilikinya untuk merasa hidup saya berarti.” [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupkehidupanruang tunggu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Next Post

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co