31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
in Esai
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

Ilustrasi tatkala.co | Gambar diolah dari Canva

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja keinginan manusia. Kita mengira keinginan akan membawa kita lebih dekat kepada sesuatu yang kita cari, tetapi dalam banyak keadaan, keinginan justru membuat jarak antara kita dan apa yang kita inginkan terasa semakin lebar.

Kita ingin percaya diri, lalu mulai memperhatikan betapa seringnya kita merasa malu, ragu, atau cemas. Kita ingin sukses, lalu setiap kesalahan kecil terasa seperti bukti bahwa kita sebenarnya tidak cukup baik. Kita ingin terlihat cantik, lalu cermin berubah menjadi tempat untuk mencari kekurangan. Kita ingin dicintai, tetapi semakin besar kebutuhan untuk dicintai, semakin mudah kita mencurigai bahwa orang lain mungkin tidak benar-benar menyayangi kita.

Barangkali masalahnya bukan pada apa yang kita inginkan, melainkan pada cara keinginan bekerja di dalam pikiran. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, perhatian kita menjadi seperti magnet. Ia terus-menerus menarik kita kembali kepada hal yang belum ada. Kita tidak lagi melihat kehidupan sebagaimana adanya, melainkan membandingkannya dengan gambaran tentang kehidupan yang seharusnya kita miliki. Di situlah penderitaan mulai tumbuh.

Bukan karena hidup kita selalu buruk, tetapi karena hidup yang nyata terus-menerus dibandingkan dengan kehidupan ideal yang hanya ada di kepala. Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Pada hari-hari biasa, kita mungkin tidak terlalu memikirkan penampilan. Namun ketika kita mulai memiliki keinginan kuat untuk menjadi lebih menarik, tiba-tiba wajah kita terasa penuh kekurangan.

Ada bentuk hidung yang tidak sesuai harapan, kulit yang tidak sempurna, rambut yang dianggap kurang bagus, atau tubuh yang terasa tidak ideal. Padahal, sebagian besar kekurangan itu sudah ada sebelumnya dan tidak pernah benar-benar mengganggu kehidupan kita. Yang berubah bukan tubuh kita, melainkan cara kita memandangnya. Hal yang sama terjadi pada kesuksesan.

Ketika tidak terlalu memikirkan kesempurnaan, sebuah kesalahan kecil mungkin hanya terasa sebagai kesalahan. Kita memperbaikinya, lalu melanjutkan pekerjaan. Tetapi ketika keberhasilan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi harga diri, kesalahan kecil berubah menjadi ancaman. Satu presentasi yang kurang bagus bisa terasa seperti kegagalan besar. Satu komentar yang tidak menyenangkan bisa terus terngiang sepanjang hari.

Satu kesempatan yang terlewat dapat membuat kita mempertanyakan seluruh kemampuan diri sendiri. Keinginan membuat perhatian kita menyempit. Kita mulai melihat apa yang kurang, bukan apa yang sudah ada. Kita melihat jarak antara diri kita sekarang dan diri kita yang kita bayangkan seharusnya menjadi. Semakin besar jarak itu terasa, semakin kuat pula keinginan untuk menutupinya.

Kita kemudian bekerja lebih keras, mengejar lebih banyak pencapaian, mencari lebih banyak pengakuan, membeli lebih banyak barang, memperbaiki lebih banyak bagian dari diri sendiri. Anehnya, setelah mendapatkan sesuatu yang kita kejar, ketenangan itu sering kali tidak bertahan lama. Tidak lama kemudian, muncul keinginan baru.

Kita mungkin berkata, “Kalau saja saya mendapatkan pekerjaan ini, saya akan tenang.” Setelah mendapatkannya, kita berkata, “Kalau saja jabatan saya naik, saya akan lebih bahagia.” Setelah naik jabatan, standar kembali bergerak. Kita ingin penghasilan yang lebih besar, rumah yang lebih baik, hubungan yang lebih ideal, tubuh yang lebih menarik, atau kehidupan sosial yang lebih menyenangkan. Seolah-olah garis finis selalu beberapa langkah lebih jauh dari tempat kita berdiri.

Di sinilah saya mulai melihat keinginan dengan cara yang sedikit berbeda. Mungkin keinginan memang tidak bisa dan tidak perlu dihilangkan. Kita terlalu sering menganggap keinginan sebagai sumber masalah, padahal keinginan juga merupakan salah satu tenaga yang membuat manusia bergerak. Tanpa keinginan, mungkin tidak ada alasan untuk belajar, menciptakan sesuatu, mencintai, bekerja, memperbaiki keadaan, atau membangun masa depan.

Keinginan bukan musuh. Yang membuatnya menyakitkan adalah ketika kita menyerahkan seluruh rasa aman dan harga diri kepada hasil dari keinginan tersebut. Ada perbedaan besar antara berkata, “Saya ingin berhasil,” dan “Saya harus berhasil agar merasa diri saya berharga.” Yang pertama adalah keinginan yang sehat. Yang kedua sudah menjadi tuntutan terhadap kehidupan.

Begitu keinginan berubah menjadi tuntutan, kenyataan akan selalu terasa mengecewakan karena kehidupan tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rencana kita. Mungkin kita tidak perlu berhenti menginginkan sesuatu. Kita hanya perlu berhenti menganggap bahwa kebahagiaan kita harus menunggu sampai keinginan itu terpenuhi.

Saya ingin percaya diri, tetapi saya tidak harus menunggu menjadi orang yang sepenuhnya percaya diri untuk menjalani hidup. Saya boleh merasa gugup dan tetap berbicara. Saya boleh merasa malu dan tetap mencoba. Saya boleh melakukan kesalahan tanpa menjadikannya bukti bahwa saya adalah orang yang gagal. Demikian pula dengan kesuksesan. Saya boleh mengejar sesuatu dengan serius tanpa harus mengubah setiap kegagalan kecil menjadi penilaian terhadap nilai diri saya.

Begitu pula dengan penampilan. Kita boleh ingin terlihat lebih baik tanpa menjadikan tubuh sebagai proyek yang tidak pernah selesai. Ada perbedaan antara merawat diri dan terus-menerus memusuhi diri sendiri. Ada perbedaan antara ingin berkembang dan merasa bahwa diri kita yang sekarang tidak layak untuk diterima. Barangkali kedewasaan bukan tentang berhenti menginginkan, melainkan tentang belajar menginginkan tanpa diperbudak oleh keinginan.

Kita masih boleh mempunyai ambisi, tetapi tidak harus hidup dalam ketakutan akan kegagalan. Kita masih boleh menginginkan cinta, tetapi tidak harus memohon kepada setiap orang untuk mengonfirmasi bahwa kita layak dicintai. Kita masih boleh menginginkan uang, kebebasan, pengakuan, kecantikan, pengetahuan, dan kehidupan yang lebih baik, tetapi kita juga perlu mampu melihat bahwa kehidupan yang sedang berlangsung sekarang bukan sekadar ruang tunggu menuju kehidupan ideal.

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi praktiknya sangat sulit. Pikiran manusia memang cenderung bergerak ke masa depan. Kita membayangkan apa yang belum terjadi, lalu mengukur kehidupan sekarang berdasarkan bayangan tersebut. Kita jarang benar-benar puas karena begitu satu keinginan terpenuhi, pikiran segera menemukan sesuatu yang lain untuk dikejar. Mungkin memang demikian sifat manusia. Kita selalu meraih sesuatu yang berada sedikit di depan kita.

Karena itu, mungkin solusi yang lebih masuk akal bukan memutus semua keinginan, melainkan mengubah hubungan kita dengan keinginan. Kita bisa menginginkan sesuatu tanpa terus-menerus mengingatkan diri bahwa kita belum memilikinya. Kita bisa mengejar tujuan tanpa membuat kehidupan saat ini terasa tidak sah. Kita bisa berharap tanpa menjadikan harapan sebagai syarat untuk merasa cukup.

Hidup mungkin bukan tentang mencapai titik ketika kita tidak menginginkan apa pun lagi. Mungkin titik seperti itu memang tidak pernah ada. Selama kita hidup, kita akan menginginkan sesuatu. Kita akan berharap, kecewa, mencoba lagi, mendapatkan sesuatu, lalu menginginkan hal lain. Siklus itu mungkin tidak perlu dilawan.

Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana tetap hadir di dalam kehidupan yang nyata, bahkan ketika pikiran sedang sibuk membayangkan kehidupan yang kita inginkan. Sebab mungkin masalah terbesar dari keinginan bukan karena ia membuat kita menginginkan terlalu banyak, melainkan karena ia membuat kita lupa melihat apa yang sudah ada.

Kita terlalu sibuk mengejar kehidupan yang belum terjadi sampai tidak sadar bahwa kehidupan yang kita tunggu-tunggu itu sedang berlangsung sekarang. Dan mungkin, pada akhirnya, kebebasan bukan berarti tidak lagi menginginkan apa pun. Kebebasan adalah ketika kita mampu berkata, “Saya menginginkan ini, tetapi saya tidak harus memilikinya untuk merasa hidup saya berarti.” [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupkehidupanruang tunggu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

Next Post

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails
Next Post
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co