12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 1, 2026
in Khas
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Gamelan selonding yang pelawahnya dibuat dengan olahan sampah plastik

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi, pura, dan ruang-ruang kesenian Bali kini berdiri dengan pelawah yang bukan terbuat dari kayu. Plastik!

Bahan yang biasanya kita kenali dalam bentuk kantong belanja, botol, kemasan makanan, atau barang-barang yang setelah dipakai segera kita masukkan ke tempat sampah. Kali ini plastik tidak dibuang. Plastik-plastik itu, disusun, diolah, dibentuk, lalu menjadi tempat bertumpunya bilah-bilah gamelan. Tentu saja plastik yang dipakai tidak sembarangan.

Plastik jenis HDPE seperti botol oli atau tutup botol menjadi bahan utamanya. Prosesnya pun sama seperti kerajinan sampah plastik yang diproduksi oleh Rumah Plastik Mandiri milik Eka Darmawan.

Sampah plastik itu dicacah lalu dipres, kemudian dibentuk menjadi pelawah atau “rumah” bagi bilah-bilah selonding.

Ketika dipukul, bunyinya tetap datang dari logam. Dentingnya tetap berat. Tetap dalam. Tidak serta-merta terdengar seperti benda asing hanya karena tubuh yang menopangnya dibuat dari sesuatu yang biasanya kita anggap sebagai sampah. Mungkin justru di situlah keanehannya.

Gamelan selonding yang pelawahnya dibuat dengan olahan sampah plastik

Kita sering mengira sampah adalah sesuatu yang sudah selesai. Ketika dibuang, urusannya dianggap berakhir. Padahal, seperti yang diperlihatkan selonding ini, sesuatu yang kita sebut sampah ternyata masih bisa mempunyai perjalanan lain.

I Dewa Gede Bayu Agastya, seniman yang terlibat dalam proses pembuatannya, mengatakan teknik memainkan gamelan ini tidak berbeda dengan gamelan tradisional lainnya. “Sama saja,” katanya.

Yang berbeda adalah material pelawahnya. Bayu menyebut eksperimen ini sebagai sudut pandang baru. Ia tidak sedang mengatakan bahwa kayu harus digantikan plastik. Ia sedang mencoba membuka kemungkinan bahwa material yang selama ini berada di luar bayangan kita tentang seni tradisi ternyata bisa masuk ke dalamnya. Ia mengatakan sebuah kalimat yang barangkali terdengar seperti puisi. “Kayu adalah suara semesta. Plastik adalah semesta yang bersuara.”

Kalimat itu membuat kita berhenti sebentar. Sebab plastik memang sudah menjadi bagian dari semesta kita, suka atau tidak. Plastik ada di dapur. Di pasar. Di sekolah. Di tempat kerja. Di jalan. Di sungai. Di pantai.

Dan, sayangnya, juga di laut.

Gamelan selonding yang pelawahnya dibuat dengan olahan sampah plastik

Ide membuat gamelan dengan pelawah plastik bukan muncul begitu saja. Eka Darmawan, pemilik Rumah Plastik Mandiri, sudah lama memikirkan kemungkinan tersebut. Hanya saja, gagasan itu tidak segera menjadi benda. Ia tidak mempunyai pengetahuan mengenai pembuatan instrumen gamelan. Pertemuan dengan Bayu kemudian membuat gagasan itu menemukan jalan.

Enam bulan digunakan untuk melakukan riset. Material dicoba. Bentuk dirancang. Resonansi suara dipelajari. Ada bagian-bagian yang mungkin harus dicoba berkali-kali sebelum akhirnya menemukan bentuk yang dianggap cukup. Setelah riset selesai, pengerjaan fisiknya membutuhkan sekitar satu bulan. “Harus hati-hati karena main di resonansi suara,” kata Eka.

Kalimat sederhana itu sebenarnya menunjukkan bahwa membuat karya dari sampah tidak sesederhana memungut barang bekas lalu menjadikannya benda baru. Apalagi jika benda tersebut harus mengemban fungsi tertentu. Harus kuat. Harus tepat.

Dan dalam kasus gamelan, harus mampu menjadi bagian dari sistem bunyi. Ada pengetahuan yang harus dipelajari dan ada kesabaran yang tidak sedikit. Bahkan setelah pelawah selesai, persoalan belum berhenti. Para penabuh juga harus membiasakan diri. Barangkali tubuh mereka memiliki ingatan sendiri tentang bagaimana memainkan gamelan dengan pelawah kayu. Ketika materialnya berubah, ada pengalaman baru yang harus diterima tubuh.

Di sinilah sebuah eksperimen seni menjadi menarik. Bukan karena langsung berhasil. Tetapi karena membuat orang mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Eksperimen itu kemudian tidak berhenti pada gamelan. Plastik daur ulang juga digunakan untuk membuat kostum dan aksesori pertunjukan tari. Bayu bersama penata tari Anak Agung Putra Dalem Segara menyebut gerakan tersebut sebagai Plastic for Art.

Plastik mencoba masuk ke wilayah yang selama ini identik dengan keindahan. Menjadi bagian dari pakaian. Menjadi ornamen. Menjadi tubuh pertunjukan. Menjadi bagian dari bunyi.

Di sini ada semacam pembalikan cara pandang.

Sesuatu yang biasanya kita sembunyikan karena dianggap kotor dan tidak berguna justru ditampilkan di atas panggung. Namun kita juga perlu berhati-hati. Jangan sampai karena sebuah karya menggunakan material daur ulang, kita buru-buru menganggap persoalan lingkungan telah selesai. Tidak sesederhana itu.

Sebuah gamelan dari plastik tidak akan membuat sungai otomatis bersih. Kostum dari sampah tidak serta-merta membuat orang berhenti menggunakan plastik. Sebuah pertunjukan juga tidak bisa menggantikan pekerjaan memilah sampah dari rumah, mengurangi konsumsi, memperbaiki sistem pengangkutan, atau memastikan sampah tidak berakhir di laut.

Tetapi mungkin seni memang tidak selalu harus menyelesaikan persoalan. Kadang-kadang ia hanya perlu membuat kita melihat persoalan itu dari sisi yang berbeda. Dan mungkin itu yang sedang dilakukan selonding ini.

Bali sudah lama berbicara tentang sampah. Aturan tentang pembatasan plastik sekali pakai sudah diberlakukan. Pengelolaan sampah berbasis sumber juga sudah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah daerah. Tetapi kebijakan, sebagus apa pun bunyinya, pada akhirnya bertemu dengan kebiasaan sehari-hari.

Kita masih membeli sesuatu dengan kemasan plastik. Masih menerima kantong ketika sebenarnya tidak membutuhkannya. Masih mencampur sampah organik dengan anorganik. Dan masih sering menganggap tempat sampah sebagai tempat berakhirnya masalah.

Padahal tempat sampah hanya memindahkan masalah itu dari satu tempat ke tempat lain.

Maka ketika plastik kemudian muncul sebagai bagian dari gamelan, itu seperti sedang mengembalikan sesuatu kepada kita.

“Ini barang yang kalian buang.”

“Sekarang dengarkan.”

Mungkin kira-kira begitu cara paling sederhana membaca karya tersebut.

Pelawah plastik ini memang belum menjadi standar baru dalam dunia karawitan Bali. Dan sebaiknya memang tidak buru-buru dijadikan standar. Ini baru eksperimen. Masih harus diuji oleh waktu, oleh para penabuh, oleh seniman, oleh masyarakat, bahkan oleh material itu sendiri.

Apakah cukup kuat? Apakah mudah dirawat? Apakah bisa digunakan dalam jangka panjang? Apakah masyarakat karawitan akan menerimanya? Apakah plastik benar-benar menjadi solusi atau hanya menjadi cara baru untuk membicarakan masalah lama?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum mempunyai jawaban. Bayu sendiri tidak memberikan satu kesimpulan tentang apa yang seharusnya dimaknai dari karya tersebut.

“Saya memberi ruang tafsir untuk semua peminat,” katanya.

Barangkali memang begitu seharusnya sebuah karya bekerja. Tidak selalu memberikan jawaban. Dan kadang hanya mengetuk pintu pikiran kita. Dan selonding dari plastik ini sedang mengetuk pintu itu. Di satu sisi, berbicara tentang seni dan kemungkinan. Di sisi lain, berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari

Ada ironi kecil di sini. Kita membutuhkan plastik karena praktis. Murah. Ringan. Mudah digunakan. Tetapi setelah selesai digunakan, kita ingin secepat mungkin melupakannya. Sementara plastik tidak punya kemampuan untuk melupakan dirinya sendiri.

Mereka tetap ada. Bertahun-tahun. Puluhan tahun. Mungkin lebih lama dari usia kita. Dan sekarang, untuk beberapa saat, plastik itu berdiri di atas panggung.

Tidak lagi sebagai kantong belanja. Tidak lagi sebagai botol bekas. Tidak lagi sebagai benda yang ingin kita singkirkan. Plastik menjadi pelawah. Lalu bilah-bilah selonding dipukul.

Bunyinya mengalir.

Di antara suara logam dan tubuh plastik itu, mungkin ada satu hal yang sedang kita dengarkan bersama. Bukan hanya musik, tetapi juga cara baru memandang benda yang selama ini kita buang.

Apakah eksperimen ini akan bertahan, belum ada yang tahu. Mungkin akan menjadi sesuatu yang terus dikembangkan. Mungkin juga suatu hari hanya tinggal cerita tentang sebuah percobaan. Tidak apa-apa. Sebab tidak semua percobaan harus langsung menjadi tradisi.

Sebagian memang ditakdirkan untuk menjadi pertanyaan.

Dan barangkali, pelawah selonding dari plastik ini adalah salah satunya. Kalau sesuatu yang kita sebut sampah masih bisa menghasilkan suara, sebenarnya kapan sebuah benda benar-benar menjadi tidak berguna? [T]

Tags: daur ulang sampah plastikgamelan selondingRumah Plastiksampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Api Menjadi Cermin

Next Post

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co