2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Api Menjadi Cermin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia bahkan terasa bersahabat ketika menghangatkan tubuh pada malam yang dingin. Tetapi api yang sama dapat berubah menjadi monster ketika manusia kehilangan kendali.

Rabu dini hari, 12 Agustus 2026, kabar tentang terbakarnya Kapal Motor Penumpang Putri Yasmin di perairan Bali kembali mengagetkan kita. Kapal yang berangkat dari Padangbai menuju Lembar itu terbakar di tengah perjalanan. Lebih dari dua ratus orang berhasil dievakuasi, tetapi satu nyawa dilaporkan hilang. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Belum lama sebelumnya, KMP Mutiara Sentosa II juga mengalami kebakaran yang menewaskan lima orang. Kapal terbakar di laut. Pada saat bersamaan, hutan dan lahan terbakar di daratan.

Bromo terbakar. Gunung Soputan terbakar. Sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Bromo bahkan sempat ditutup total karena kebakaran meluas dan mengancam kawasan ekosistem serta pariwisata. Laporan Reuters menyebut sekitar 550 hektare kawasan Bromo terdampak.

Lalu kita bertanya: apakah semua ini sekadar kebetulan? Mungkin iya. Tetapi mungkin juga tidak. Sebab ada satu benda yang mempertemukan kapal yang terbakar dan hutan yang terbakar: api.

Dan jauh sebelum para ahli keselamatan kapal, ahli kehutanan, klimatologi, atau para pejabat kebencanaan berbicara tentang api, Al-Qur’an sudah mengajak manusia untuk merenungkan api.

Api yang Diciptakan

Allah berfirman dalam QS. Yasin ayat 80: “(Allah) yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”

Ayat ini menarik. Api ternyata dapat keluar dari sesuatu yang tampaknya justru bertentangan dengannya: kayu yang hijau.

Di tangan manusia, api adalah energi. Ia membantu memasak, menghangatkan, menggerakkan mesin dan menopang peradaban. Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada manfaat. Dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 71–73, manusia diajak bertanya: “Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat dalam. Kamukah yang menumbuhkannya? Seolah-olah manusia sedang ditegur: jangan terlalu cepat merasa menjadi penguasa atas sesuatu yang sesungguhnya bukan ciptaanmu.

Kita memang bisa menyalakan api. Tetapi kita tidak menciptakan hukum-hukum alam yang membuat api menyala. Kita bisa membuat kapal. Tetapi kita tidak menciptakan laut. Kita bisa membuat mesin. Tetapi kita tidak menciptakan hukum fisika yang membuat mesin itu bekerja.

Kita bisa membuka hutan. Tetapi kita tidak menciptakan hujan, tanah, pohon, angin dan keseimbangan ekosistem. Manusia sering kali hebat ketika sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Tetapi menjadi sangat kecil ketika alam mengingatkan bahwa ia mempunyai hukum sendiri.

Api sebagai Peringatan

Al-Waqi’ah bahkan menyebut api sebagai “peringatan dan bahan kegunaan bagi orang-orang yang musafir.” Ini menarik jika kita hubungkan dengan kapal Putri Yasmin. Kapal adalah kendaraan bagi manusia yang sedang melakukan perjalanan. Musafir di darat mempunyai jalan. Musafir di laut mempunyai kapal.

Tetapi perjalanan selalu mengandung risiko. Kapal dapat dibuat sebesar apa pun. Mesinnya dapat secanggih apa pun. Sistem navigasinya dapat semakin modern. Namun keselamatan tetap membutuhkan satu hal yang sering dianggap remeh: “kedisiplinan manusia”.

Api di kapal bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga merupakan ujian terhadap sistem. Apakah pemeriksaan dilakukan sungguh-sungguh?Apakah alat keselamatan tersedia dan berfungsi? Apakah jumlah penumpang sesuai manifes? Apakah prosedur evakuasi benar-benar dipahami awak dan penumpang?

Apakah keselamatan menjadi prioritas atau sekadar dokumen yang ditandatangani? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini justru penting karena laporan awal kebakaran Putri Yasmin menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah orang yang tercatat dalam manifes dan jumlah orang yang berhasil dievakuasi. Penyebab kebakaran sendiri masih menunggu hasil penyelidikan.

Di sinilah satire kehidupan kita muncul. Kita sering sangat teliti menghitung uang. Tetapi kadang-kadang kurang teliti menghitung manusia. Kita sangat serius menghitung pendapatan. Tetapi keselamatan penumpang terkadang seperti angka tambahan dalam laporan. Padahal satu manusia bukan angka. Satu nyawa bukan statistik. Satu keluarga yang kehilangan anggota keluarganya bukan sekadar “korban satu orang”.

Di belakang angka satu itu ada seorang ibu, seorang ayah, seorang anak, seorang suami, seorang istri, atau seseorang yang mungkin sedang ditunggu kepulangannya.

Hutan Pun Tidak Pernah Diam

Kini kita pindah dari laut menuju gunung. Api tidak lagi membakar kapal. Ia membakar rumput, pepohonan, semak, lahan, bahkan kawasan yang menjadi habitat berbagai makhluk hidup.

Bromo terbakar. Gunung Soputan terbakar. Di tempat lain, asap menutup pandangan dan mengganggu kehidupan manusia. Ada sesuatu yang ironis. Manusia menyebut hutan sebagai sumber kehidupan.Tetapi setiap musim kemarau, kita seolah terkejut ketika hutan terbakar.

Setiap tahun kita kembali menemukan berita yang hampir sama. Hutan terbakar. Asap mengepul.Petugas dikerahkan. Helikopter water bombing diterjunkan. Lahan terbakar sekian hektare. Kerugian mencapai sekian triliun.

Kemudian setelah api padam, kita kembali sibuk dengan urusan lain. Sampai tahun berikutnya api datang lagi. Bukankah ini seperti orang yang setiap tahun rumahnya kebanjiran, tetapi setelah air surut ia hanya membeli ember baru? Padahal mungkin masalahnya bukan kekurangan ember.

Masalahnya adalah saluran air yang tidak pernah diperbaiki. Begitu pula karhutla. Pemadaman memang penting. Tetapi pemadaman bukanlah satu-satunya jawaban. Kalau penyebab dasarnya tidak disentuh, kita hanya menjadi bangsa yang semakin terampil memadamkan api, tetapi tidak semakin pintar mencegah api.

Jangan Semua Disalahkan kepada El Niño

Dalam beberapa pemberitaan, kebakaran tahun ini dikaitkan dengan fenomena yang populer disebut “El Niño Godzilla”. Istilah itu terdengar mengerikan. Godzilla datang. Godzilla membawa panas. Godzilla membakar hutan. Selesai. Mudah sekali. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.

BMKG sendiri menegaskan bahwa “El Niño Godzilla” bukan istilah resmi klimatologi. Pada April 2026, BMKG menyebut ENSO masih netral dan memperkirakan kemungkinan berkembangnya El Niño lemah hingga moderat pada semester kedua.

Memang ada pemberitaan ilmiah yang menyebut potensi El Niño 2026 sangat kuat dan bahkan membandingkannya dengan kejadian ekstrem masa lalu. Tetapi kita perlu hati-hati.

Jangan sampai El Niño menjadi kambing hitam yang terlalu nyaman. Sebab cuaca kering mungkin membuat vegetasi mudah terbakar. Angin mungkin membuat api cepat menyebar. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:

Siapa yang Menyalakan Api?

Dan kalau bukan manusia yang menyalakannya, mengapa sistem pencegahan kita begitu mudah dikalahkan oleh api?

Kita tidak boleh menjadikan fenomena alam sebagai alasan untuk membebaskan manusia dari tanggung jawab. El Niño mungkin memperbesar risiko. Tetapi manusia sering kali menyediakan bahan bakarnya.

Kita terlalu suka datang setelah bencana. Ada kebiasaan buruk dalam manajemen bencana kita. Kita sangat hebat ketika bencana sudah terjadi. Ketika kapal terbakar, semua bergerak cepat. Ketika hutan terbakar, helikopter dikerahkan. Ketika asap sudah menutup kota, masker dibagikan. Ketika korban sudah berjatuhan, rapat koordinasi segera dilakukan.Ketika rumah sudah hanyut, bantuan datang.

Kita seperti bangsa yang baru percaya bahwa jembatan itu rapuh setelah jembatannya runtuh. Padahal keselamatan seharusnya bekerja sebelum bencana.

Dalam konteks transportasi laut, reformasi keselamatan tidak boleh berhenti pada pemeriksaan setelah kecelakaan. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan kapal, manifes penumpang, kesiapan awak, peralatan pemadam, jalur evakuasi, latihan keselamatan, pengawasan operator, hingga penegakan hukum.

Demikian pula karhutla. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum api terlihat. Pengawasan kawasan rawan harus diperkuat. Praktik pembakaran lahan harus dikendalikan. Kondisi vegetasi harus dipantau. Masyarakat harus dilibatkan.

Dan ketika ada kelalaian atau kesengajaan, hukum harus bekerja bukan hanya ketika kamera televisi sudah menyala.

Api Tidak Bersalah

Barangkali kita perlu mengatakan sesuatu yang sederhana: Api tidak bersalah. Api hanya menjalankan sifatnya. Yang menentukan apakah ia menjadi sahabat atau bencana adalah bagaimana manusia memperlakukannya.

Api di dapur memberi kehidupan. Api di tungku memberi kehangatan. Api di mesin memberi tenaga. Tetapi api yang dibiarkan tanpa pengawasan dapat menjadi malapetaka. Begitu pula teknologi.

Kapal bukan musuh manusia. Mesin bukan musuh manusia. Pembangunan bukan musuh manusia. Masalahnya muncul ketika manusia terlalu percaya kepada teknologi dan lupa kepada tanggung jawab.

Kita membangun kapal yang semakin besar, tetapi apakah budaya keselamatannya juga semakin besar?

Kita membangun kawasan wisata yang semakin ramai, tetapi apakah daya dukung alamnya juga semakin diperhatikan?

Kita mempunyai teknologi water bombing, drone, satelit dan berbagai sistem pemantauan. Tetapi apakah kita juga memiliki keberanian untuk mencegah sebelum api menjadi besar? Itulah pertanyaan yang lebih penting.

Api sebagai Cermin

Mungkin inilah makna terdalam dari ayat Al-Waqi’ah. Allah bertanya: “Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?” Pertanyaan itu bukan sekadar tentang api. Ia tentang kesombongan manusia.

Kita sering merasa sebagai penguasa bumi. Padahal kita hanya penumpang di dalamnya. Kita menumpang di kapal bernama bumi. Kita menumpang pada udara yang kita hirup. Kita menumpang pada air yang kita minum. Kita menumpang pada hutan yang memberi oksigen. Kita menumpang pada laut yang menyediakan pangan dan jalur perjalanan.

Tetapi anehnya, penumpang sering bertingkah seperti pemilik kapal. Lalu ketika kapal mulai berguncang, kita panik.

Ketika hutan terbakar, kita menangis. Ketika udara berasap, kita mencari siapa yang harus disalahkan. Padahal mungkin alam sedang berkata: Aku sudah lama memberimu tanda. Mengapa baru sekarang engkau mendengarkan? Jangan Menunggu Api Berikutnya

Kebakaran Putri Yasmin harus menjadi lebih dari sekadar berita satu hari. Kebakaran Mutiara Sentosa II tidak boleh menjadi berita yang hilang setelah beberapa hari.

Karhutla Bromo tidak boleh berhenti sebagai angka luas lahan yang terbakar. Gunung Soputan tidak boleh hanya menjadi gambar kepulan asap.

Sebab di balik semua itu ada pertanyaan besar tentang cara kita membangun negeri. Negeri kepulauan seperti Indonesia tidak bisa bermain-main dengan keselamatan transportasi laut. Negeri tropis dengan hutan luas juga tidak boleh menganggap kebakaran hutan sebagai agenda musiman yang muncul setiap kemarau.

Kita membutuhkan reformasi internal dan eksternal. Internal berarti memperbaiki budaya keselamatan, disiplin, kompetensi, pengawasan dan tanggung jawab setiap operator.

Eksternal berarti memperbaiki regulasi, pengawasan pemerintah, koordinasi antarlembaga, penegakan hukum dan keterlibatan masyarakat.

Sebab bencana memang bisa datang dari alam. Tetapi “besarnya bencana sering ditentukan oleh kualitas manusia dalam mengelolanya”. Dan mungkin di situlah pesan Al-Qur’an tentang api menjadi sangat relevan. Api diberikan sebagai manfaat. Api juga menjadi peringatan. Masalahnya bukan pada api.

Masalahnya adalah apakah manusia mau belajar dari api. Sebab jika tidak, jangan heran kalau suatu hari nanti kita kembali membaca berita: kapal terbakar, hutan terbakar, lahan terbakar, rumah terbakar, dan kita kembali berkata: “Sungguh musibah.”

Padahal mungkin api sedang berkata: “Bukan hanya musibah. Ini peringatan.” Dan peringatan yang terus diabaikan, pada akhirnya bukan lagi sekadar peringatan. Ia berubah menjadi pertanggungjawaban.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bencana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Next Post

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails
Next Post
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co