12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Api Menjadi Cermin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia bahkan terasa bersahabat ketika menghangatkan tubuh pada malam yang dingin. Tetapi api yang sama dapat berubah menjadi monster ketika manusia kehilangan kendali.

Rabu dini hari, 12 Agustus 2026, kabar tentang terbakarnya Kapal Motor Penumpang Putri Yasmin di perairan Bali kembali mengagetkan kita. Kapal yang berangkat dari Padangbai menuju Lembar itu terbakar di tengah perjalanan. Lebih dari dua ratus orang berhasil dievakuasi, tetapi satu nyawa dilaporkan hilang. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Belum lama sebelumnya, KMP Mutiara Sentosa II juga mengalami kebakaran yang menewaskan lima orang. Kapal terbakar di laut. Pada saat bersamaan, hutan dan lahan terbakar di daratan.

Bromo terbakar. Gunung Soputan terbakar. Sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Bromo bahkan sempat ditutup total karena kebakaran meluas dan mengancam kawasan ekosistem serta pariwisata. Laporan Reuters menyebut sekitar 550 hektare kawasan Bromo terdampak.

Lalu kita bertanya: apakah semua ini sekadar kebetulan? Mungkin iya. Tetapi mungkin juga tidak. Sebab ada satu benda yang mempertemukan kapal yang terbakar dan hutan yang terbakar: api.

Dan jauh sebelum para ahli keselamatan kapal, ahli kehutanan, klimatologi, atau para pejabat kebencanaan berbicara tentang api, Al-Qur’an sudah mengajak manusia untuk merenungkan api.

Api yang Diciptakan

Allah berfirman dalam QS. Yasin ayat 80: “(Allah) yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”

Ayat ini menarik. Api ternyata dapat keluar dari sesuatu yang tampaknya justru bertentangan dengannya: kayu yang hijau.

Di tangan manusia, api adalah energi. Ia membantu memasak, menghangatkan, menggerakkan mesin dan menopang peradaban. Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada manfaat. Dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 71–73, manusia diajak bertanya: “Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat dalam. Kamukah yang menumbuhkannya? Seolah-olah manusia sedang ditegur: jangan terlalu cepat merasa menjadi penguasa atas sesuatu yang sesungguhnya bukan ciptaanmu.

Kita memang bisa menyalakan api. Tetapi kita tidak menciptakan hukum-hukum alam yang membuat api menyala. Kita bisa membuat kapal. Tetapi kita tidak menciptakan laut. Kita bisa membuat mesin. Tetapi kita tidak menciptakan hukum fisika yang membuat mesin itu bekerja.

Kita bisa membuka hutan. Tetapi kita tidak menciptakan hujan, tanah, pohon, angin dan keseimbangan ekosistem. Manusia sering kali hebat ketika sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Tetapi menjadi sangat kecil ketika alam mengingatkan bahwa ia mempunyai hukum sendiri.

Api sebagai Peringatan

Al-Waqi’ah bahkan menyebut api sebagai “peringatan dan bahan kegunaan bagi orang-orang yang musafir.” Ini menarik jika kita hubungkan dengan kapal Putri Yasmin. Kapal adalah kendaraan bagi manusia yang sedang melakukan perjalanan. Musafir di darat mempunyai jalan. Musafir di laut mempunyai kapal.

Tetapi perjalanan selalu mengandung risiko. Kapal dapat dibuat sebesar apa pun. Mesinnya dapat secanggih apa pun. Sistem navigasinya dapat semakin modern. Namun keselamatan tetap membutuhkan satu hal yang sering dianggap remeh: “kedisiplinan manusia”.

Api di kapal bukan sekadar persoalan teknis. Ia juga merupakan ujian terhadap sistem. Apakah pemeriksaan dilakukan sungguh-sungguh?Apakah alat keselamatan tersedia dan berfungsi? Apakah jumlah penumpang sesuai manifes? Apakah prosedur evakuasi benar-benar dipahami awak dan penumpang?

Apakah keselamatan menjadi prioritas atau sekadar dokumen yang ditandatangani? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini justru penting karena laporan awal kebakaran Putri Yasmin menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah orang yang tercatat dalam manifes dan jumlah orang yang berhasil dievakuasi. Penyebab kebakaran sendiri masih menunggu hasil penyelidikan.

Di sinilah satire kehidupan kita muncul. Kita sering sangat teliti menghitung uang. Tetapi kadang-kadang kurang teliti menghitung manusia. Kita sangat serius menghitung pendapatan. Tetapi keselamatan penumpang terkadang seperti angka tambahan dalam laporan. Padahal satu manusia bukan angka. Satu nyawa bukan statistik. Satu keluarga yang kehilangan anggota keluarganya bukan sekadar “korban satu orang”.

Di belakang angka satu itu ada seorang ibu, seorang ayah, seorang anak, seorang suami, seorang istri, atau seseorang yang mungkin sedang ditunggu kepulangannya.

Hutan Pun Tidak Pernah Diam

Kini kita pindah dari laut menuju gunung. Api tidak lagi membakar kapal. Ia membakar rumput, pepohonan, semak, lahan, bahkan kawasan yang menjadi habitat berbagai makhluk hidup.

Bromo terbakar. Gunung Soputan terbakar. Di tempat lain, asap menutup pandangan dan mengganggu kehidupan manusia. Ada sesuatu yang ironis. Manusia menyebut hutan sebagai sumber kehidupan.Tetapi setiap musim kemarau, kita seolah terkejut ketika hutan terbakar.

Setiap tahun kita kembali menemukan berita yang hampir sama. Hutan terbakar. Asap mengepul.Petugas dikerahkan. Helikopter water bombing diterjunkan. Lahan terbakar sekian hektare. Kerugian mencapai sekian triliun.

Kemudian setelah api padam, kita kembali sibuk dengan urusan lain. Sampai tahun berikutnya api datang lagi. Bukankah ini seperti orang yang setiap tahun rumahnya kebanjiran, tetapi setelah air surut ia hanya membeli ember baru? Padahal mungkin masalahnya bukan kekurangan ember.

Masalahnya adalah saluran air yang tidak pernah diperbaiki. Begitu pula karhutla. Pemadaman memang penting. Tetapi pemadaman bukanlah satu-satunya jawaban. Kalau penyebab dasarnya tidak disentuh, kita hanya menjadi bangsa yang semakin terampil memadamkan api, tetapi tidak semakin pintar mencegah api.

Jangan Semua Disalahkan kepada El Niño

Dalam beberapa pemberitaan, kebakaran tahun ini dikaitkan dengan fenomena yang populer disebut “El Niño Godzilla”. Istilah itu terdengar mengerikan. Godzilla datang. Godzilla membawa panas. Godzilla membakar hutan. Selesai. Mudah sekali. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.

BMKG sendiri menegaskan bahwa “El Niño Godzilla” bukan istilah resmi klimatologi. Pada April 2026, BMKG menyebut ENSO masih netral dan memperkirakan kemungkinan berkembangnya El Niño lemah hingga moderat pada semester kedua.

Memang ada pemberitaan ilmiah yang menyebut potensi El Niño 2026 sangat kuat dan bahkan membandingkannya dengan kejadian ekstrem masa lalu. Tetapi kita perlu hati-hati.

Jangan sampai El Niño menjadi kambing hitam yang terlalu nyaman. Sebab cuaca kering mungkin membuat vegetasi mudah terbakar. Angin mungkin membuat api cepat menyebar. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:

Siapa yang Menyalakan Api?

Dan kalau bukan manusia yang menyalakannya, mengapa sistem pencegahan kita begitu mudah dikalahkan oleh api?

Kita tidak boleh menjadikan fenomena alam sebagai alasan untuk membebaskan manusia dari tanggung jawab. El Niño mungkin memperbesar risiko. Tetapi manusia sering kali menyediakan bahan bakarnya.

Kita terlalu suka datang setelah bencana. Ada kebiasaan buruk dalam manajemen bencana kita. Kita sangat hebat ketika bencana sudah terjadi. Ketika kapal terbakar, semua bergerak cepat. Ketika hutan terbakar, helikopter dikerahkan. Ketika asap sudah menutup kota, masker dibagikan. Ketika korban sudah berjatuhan, rapat koordinasi segera dilakukan.Ketika rumah sudah hanyut, bantuan datang.

Kita seperti bangsa yang baru percaya bahwa jembatan itu rapuh setelah jembatannya runtuh. Padahal keselamatan seharusnya bekerja sebelum bencana.

Dalam konteks transportasi laut, reformasi keselamatan tidak boleh berhenti pada pemeriksaan setelah kecelakaan. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan kapal, manifes penumpang, kesiapan awak, peralatan pemadam, jalur evakuasi, latihan keselamatan, pengawasan operator, hingga penegakan hukum.

Demikian pula karhutla. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum api terlihat. Pengawasan kawasan rawan harus diperkuat. Praktik pembakaran lahan harus dikendalikan. Kondisi vegetasi harus dipantau. Masyarakat harus dilibatkan.

Dan ketika ada kelalaian atau kesengajaan, hukum harus bekerja bukan hanya ketika kamera televisi sudah menyala.

Api Tidak Bersalah

Barangkali kita perlu mengatakan sesuatu yang sederhana: Api tidak bersalah. Api hanya menjalankan sifatnya. Yang menentukan apakah ia menjadi sahabat atau bencana adalah bagaimana manusia memperlakukannya.

Api di dapur memberi kehidupan. Api di tungku memberi kehangatan. Api di mesin memberi tenaga. Tetapi api yang dibiarkan tanpa pengawasan dapat menjadi malapetaka. Begitu pula teknologi.

Kapal bukan musuh manusia. Mesin bukan musuh manusia. Pembangunan bukan musuh manusia. Masalahnya muncul ketika manusia terlalu percaya kepada teknologi dan lupa kepada tanggung jawab.

Kita membangun kapal yang semakin besar, tetapi apakah budaya keselamatannya juga semakin besar?

Kita membangun kawasan wisata yang semakin ramai, tetapi apakah daya dukung alamnya juga semakin diperhatikan?

Kita mempunyai teknologi water bombing, drone, satelit dan berbagai sistem pemantauan. Tetapi apakah kita juga memiliki keberanian untuk mencegah sebelum api menjadi besar? Itulah pertanyaan yang lebih penting.

Api sebagai Cermin

Mungkin inilah makna terdalam dari ayat Al-Waqi’ah. Allah bertanya: “Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?” Pertanyaan itu bukan sekadar tentang api. Ia tentang kesombongan manusia.

Kita sering merasa sebagai penguasa bumi. Padahal kita hanya penumpang di dalamnya. Kita menumpang di kapal bernama bumi. Kita menumpang pada udara yang kita hirup. Kita menumpang pada air yang kita minum. Kita menumpang pada hutan yang memberi oksigen. Kita menumpang pada laut yang menyediakan pangan dan jalur perjalanan.

Tetapi anehnya, penumpang sering bertingkah seperti pemilik kapal. Lalu ketika kapal mulai berguncang, kita panik.

Ketika hutan terbakar, kita menangis. Ketika udara berasap, kita mencari siapa yang harus disalahkan. Padahal mungkin alam sedang berkata: Aku sudah lama memberimu tanda. Mengapa baru sekarang engkau mendengarkan? Jangan Menunggu Api Berikutnya

Kebakaran Putri Yasmin harus menjadi lebih dari sekadar berita satu hari. Kebakaran Mutiara Sentosa II tidak boleh menjadi berita yang hilang setelah beberapa hari.

Karhutla Bromo tidak boleh berhenti sebagai angka luas lahan yang terbakar. Gunung Soputan tidak boleh hanya menjadi gambar kepulan asap.

Sebab di balik semua itu ada pertanyaan besar tentang cara kita membangun negeri. Negeri kepulauan seperti Indonesia tidak bisa bermain-main dengan keselamatan transportasi laut. Negeri tropis dengan hutan luas juga tidak boleh menganggap kebakaran hutan sebagai agenda musiman yang muncul setiap kemarau.

Kita membutuhkan reformasi internal dan eksternal. Internal berarti memperbaiki budaya keselamatan, disiplin, kompetensi, pengawasan dan tanggung jawab setiap operator.

Eksternal berarti memperbaiki regulasi, pengawasan pemerintah, koordinasi antarlembaga, penegakan hukum dan keterlibatan masyarakat.

Sebab bencana memang bisa datang dari alam. Tetapi “besarnya bencana sering ditentukan oleh kualitas manusia dalam mengelolanya”. Dan mungkin di situlah pesan Al-Qur’an tentang api menjadi sangat relevan. Api diberikan sebagai manfaat. Api juga menjadi peringatan. Masalahnya bukan pada api.

Masalahnya adalah apakah manusia mau belajar dari api. Sebab jika tidak, jangan heran kalau suatu hari nanti kita kembali membaca berita: kapal terbakar, hutan terbakar, lahan terbakar, rumah terbakar, dan kita kembali berkata: “Sungguh musibah.”

Padahal mungkin api sedang berkata: “Bukan hanya musibah. Ini peringatan.” Dan peringatan yang terus diabaikan, pada akhirnya bukan lagi sekadar peringatan. Ia berubah menjadi pertanggungjawaban.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bencana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Next Post

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co