ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak, kah, surealisme, kah, atau justru realisme?
Pertanyaan itu mungkin terdengar klise, tapi percayalah, pada era modern ini 70% dari publik kita masih terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah sebegitu diyakini itu. Sayangnya, seni rupa tak menunggu mereka yang terlalu meromantisir masa-masa lampau. Ia melesat begitu cepat, dinamis, dan penuh dengan pergolakan.
Kita bisa balik melihat bagaimana Gerakan Seni Rupa Baru meproklamirkan “Lima Jurus Gebrakan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia” dalam terbitan bukunya tahun 1979, yang berisi pernyataan ideologi yang mencoba membongkar konvensi-konvensi klasik tentang apa yang para pendahulu mereka yakini sebagai seni rupa sebelum era 70-an.

Menjauhi segala jenis isme-isme dan kemasteran dalam satu jenis atau gaya seni tertentu adalah misi utama mereka. Gerakan itu merangsek untuk merumuskan ulang bagaimana seni rupa bisa hadir tanpa terikat aturan-aturan bentuk tersebut. Lebih-lebih bagaimana gagasan bisa hadir dengan kemungkinan rupa apa saja, bahkan dari objek-objek paling banal sekalipun.
G. Sidharta—seorang tokoh pembaharu seni patung—dalam salah satu tulisannya yang dimuat pada buku GSRBI (1979) sudah menyoal problematika gaya yang menggerogoti sebagian besar para master seni rupa, yang pada masa itu sedemikan percayanya pada satu gaya yang melekat dalam nadi kesenimanan mereka.
Di sana tertulis: “Pertama, identitas yang diartikan dengan “gaya”. Artinya, bila seseorang sudah kelihatan mempunyai gaya dalam karyanya, dan kelihatan “consistent” pada gaya tersebut, dia bisa dianggap telah memiliki identitas……… Celakanya penemuan diri ini sering dianggap sebagai sesuatu yang tetap…. Bahwa identitas itu berkaitan dengan manusia yang belum mati, belum berhenti, dan masih hidup dan berkembang, tidak pernah terjangkau oleh pengertian tersebut!”

Dalam kutipan tersebut kita paham bahwa 47 tahun lalu kesenian sudah mengambil kopernya untuk berangkat menuju pemberhentian selanjutnya. Meninggalkan serta menanggalkan pemahaman tentang seni rupa yang telah mereka anggap usang.
Jika kita menarik konteks tersebut pada kecenderungan karya dan seniman yang hadir hari ini, maka sudah tentu tidak lagi relevan. Menetapkan satu label tertentu— yang kita yakinkan melekat sepenuhnya sama dengan isme atau gaya yang dipilihnya —dalam kurun waktu hingga seniman tersebut mangkat.
Misal di Jogja kita menemukan seniman semacam Ugo Untoro, yang tidak percaya betul tentang eksistensi sebuah gaya atau aliran dalam menciptakan sebuah karya. Sehingga kamu bisa menemukan dirinya dalam satu pameran yang sama, dengan karya-karya dalam penilaian artistik yang terpaut jauh berbeda.

Atau di Bali kita melihat seniman sekaliber Mahendra Yasa, seorang ilmuwan yang menyamar di balik selimut seni rupa. Di mana ia memperlakukan karyanya sebagai medium dari eksperimentasi, percobaan dan pendobrakan terhadap kreatifitas manusia. Di satu masa ia pernah dengan getol menggandrungi realisme, lalu di tengah-tengah masa itu ia juga menekuni abstrak dengan segala perihal kebentukannya. Hingga yang paling muktahir pada percobaan dan pemikirannya terkait seni lukis tradisi Bali yang mengkristal dalam gerakan “Neo Pitamaha”.

Gejala-gejala tersebut menjadi jembatan untuk kita memahami bagaimana karya seni dihadirkan serta dipahami hari ini. Bahwa persoalan gaya dan ketakutan akan label artistik, mengalami transformasi yang cukup dinamis, terutama jika kita kerucutkan dalam konteks seni rupa indonesia.
Gaya, Labeling, dan Pasar
Nyatanya, permasalahan menyoal identitas, gaya, dan label yang dicapkan kepada setiap seniman tidak hanya selesai pada persoalan wacana saja. Di sinilah kita mulai melihat bagaimana pasar yang dalam hal ini dipahami sebagai segala sesuatu yang menjadi stakeholder industri kesenian, seperti kolektor, manajer seni, galeri serta berbagai art fair yang menghubungkan seni dengan pertukaran nilai material.
Bukan hanya seniman sang pemasok barang seni, yang harus bersusah payah merelevansi dirinya dengan perkembangan seni rupa yang makin susah untuk dipetakan ini. Individu di luar seniman terutama yang terkait dengan penerimaan publik seni terkait dinamika wacana—seperti yang telah dipersoalkan tadi juga menjadi hal yang sangat penting untuk disadari bersama.
Ketakutan seniman untuk beranjak dari kebiasaan artistiknya, tentu berelasi dengan berbagai momok yang menghantui karier kesenimanannya. Apakah karyaku akan diterima pasar? Apa ada kolektor yang mau membeli karya di luar kebiasaan artistiknya? Atau galeri yang juga belum bisa move on dengan seniman-seniman di era kejayaan para old master, dengan goresan saktinya?
Kadangkala label artistik yang sudah terlanjur tertambat pada seorang individu seniman, malah memenjarakannya dalam pola-pola yang terus berulang. Sehingga dari sanalah muncul stagnasi, hingga berakhir pada kemandatan proses berpikir dan berkesenian seorang seniman.

Di sinilah kecerdikan seniman serta kelenturan pasar harus terus dinegosiasikan untuk perlahan menerima perubahan yang hadir dalam gejala seni rupa kita hari ini. Dari proses tarik-menarik itulah seniman tak lagi perlu risau untuk beranjak dan mengeksplor kemungkinan lain dari potensi imajinasinya.
Di tengah perbincangan inilah kita bertanya, “Apakah pasar sebenarnya betul-betul menginginkan eksperimen atau para kolektor yang belum merelevansi seleranya?” Maka jangan protes jika banyak seniman yang tidak bisa bertarung dalam percakapan seni rupa yang lebih muktahir, ketika penyakit-penyakit itu belum diupayakan kesembuhannya.
Seniman Gen-Z di Era Percepatan Informasi
Seperti yang telah kita cerap dari berbagai diskursus para pakar, bahkan hingga konten-konten edukatif yang bertebaran di internet, menyoal era digital dan percepatan informasi.
Kini, kita sampai pada masa di mana produksi informasi bergerak lebih gesit mendahului kecepatan kita dalam menyerapnya. Akibatnya tentu bisa fatal. Di mana berbagai berita berjejalan hingga membanjiri kapasitas perpustakaan dalam kepala kita.
Dalam konteks kesenian hari ini, hal itu tentu berimplikasi pada melimpahnya referensi visual yang bisa diakses oleh para seniman di era generasi digital ini.
Sebut saja Pinterest, sebuah platform yang kita semua sudah pasti menggunakannya untuk menyegarkan serta menambah bekal amunisi visual yang siap untuk diamati, tiru, dan modifikasi. Seperti lelucon barang KW saja.

Meluapnya referensi bentuk yang bisa dipakai dalam setiap karya hari ini, meninggalkan sebuah pernyataan—yang bahkan sudah dipersoalkan jauh-jauh berabad-abad lalu—“There is nothing new under the sun”. Selama kita masih berdiri di bawah matahari yang sama, nyatanya semua hal di dunia ini adalah pengulangan, replikasi, dan kebaruan yang hanya berlaku dalam konteks lokasi tertentu. Tidak ada yang benar-benar lahir dari sesuatu yang belum pernah ada wujudnya, semua merujuk dari referensi ke referensi berikutnya.
Lalu bagaimana jika kita tarik lagi ke dalam percakapan seni rupa, yang kita sudah tentu tahu bahwa kebaruan adalah fetish yang begitu dikejar oleh tiap-tiap seniman, dari zaman baheula hingga era ketika seni rupa mulai dipergunjingkan dalam berbagai platform digital.
Muncul beragam pertanyaan.
Apa makna originalitas? Kebaruan jenis apa lagi yang harus dihasilkan? Atau persoalan identitas dan gaya seperti apa yang telah dipertanyakan oleh G. Sidharta 47 tahun silam?
Boris Groys dalam artikelnya berjudul Comrades of Time menjelaskan bagaimana kita tidak bisa mengaitkan kebaruan seni rupa kontemporer berdasarkan kemajuan yang linear. Sesuatu yang sedemikian rupanya diyakini dan diperjuangkan oleh modernisme.
Di era kontemporer, lebih jelasnya ketika era digital merangsek dalam kehidupan kita hari ini, memungkinan kehadiran dari segala jenis kesejarahan seni dalam satu waktu yang bersamaan. Lukisan klasik, seni tribal, avant-garde, seni konseptual, digital, hingga AI dapat bercakap-cakap dalam satu waktu yang sama.
Oleh karena itu, dalam Comrades of Time, Boris menawarkan pembacaan waktu sebagai “kawan seperjalanan”. Di mana waktu tak berjalan menuju masa depan yang linier, namun saling bersilangan. Di mana masa lalu, tidak pernah benar-benar habis, ia terus dibaca kembali melalui arsip, dan reproduksi digital kita hari ini.
Sehingga, tugas atau dalam konteks ini adalah tantangan yang menghinggapi para seniman muda bukanlah menciptakan bentuk yang belum pernah ada, melainkan kebaruan yang lahir dari proses rekontekstualisasi, bukan hadir dari penciptaan ex nihilo (dari ketiadaan). Karna seni kontemporer tidak hidup dengan menemukan bentuk baru, tetapi karena mampu menghadirkan ulang arsip lama dalam situasi waktu yang baru—berjalan sebaliknya, atau menyilang-nyilang hingga kehilangan konsep waktu yang berjalan lurus-lurus saja.

Kita kemudian bergeser dari pertanyaan yang semula tentang isme apa yang hadir dalam karyamu? Menjadi karyamu berbicara tentang apa dan bahasa rupa apa yang kamu gunakan dalam mewujudkannya?
Karna pada hakikatnya, semua referensi telah ada. Tinggal pada saat seperti apa kemudian ia dipergunakan. Ketika seniman ingin berbicara tentang romantisasi maka sudah tentu ia mengambil bahasa yang puitis dan liris. Sebaliknya, ketika ia ingin mengungkapkan sesuatu yang politis, bahasanya akan lugas dan konfrontatif. Setiap bahasa rupa, baik itu teknik ataupun material, akan menyimpan kedekatan yang tidak bisa diwakilkan hanya dalam satu bahasa saja.
Bukan berarti kehadiran isme atau aliran sudah tidak penting. Kini kita perlu memandang hal tersebut tidak lagi berhenti sebagai identitas yang dipilih lalu dipermanenkan. Ia merubah perannya sebagai kosarupa yang bebas untuk dieksplorasi, dipertanyakan, dipertukarkan, dan dibenturkan oleh si seniman dalam karya-karyanya.
Maka semua tergantung pada intensi. Ketika maksud dan tujuan karya sejalan dengan bahasa dan perlakuan apa yang seniman injeksikan ke dalam karya, maka di sanalah kecakapan seniman dianggap berhasil. Tentu dengan kenakalan, keliaran berpikir, dan kecelakaan artistik yang menjadi kodrati tiap seniman. Maka sudahilah isme-ismemu itu![T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto































