6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

Made Chandra by Made Chandra
September 6, 2026
in Kritik Seni
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

Suasana Malam Pembukaan Ubud Art Collect | Sumber: Dokumentasi Made Chandra

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap memboyong karya-karya impian. Belakangan baru saya ketahui ada model art fair yang bisa hadir di tengah-tengah ruang adat dan hiruk-pikuk kemacetan. Kata si empunya, semacam kegiatan ala banjar yang bisa disepadankan dengan hajatan orang-orang Bali.

Ubud Art Collect, begitu mereka menyebut dirinya. Selama tiga hari, 4–6 September 2026, mereka menghadirkan inisiasi impulsif yang cukup bikin geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, model art fair yang kita tahu sangat tersegmentasi oleh pasar seni rupa tiba-tiba ingin diretas dengan sebuah inisiasi yang menggabungkan semangat festival rakyat dan kegiatan jual-beli karya ala broker profesional.

Dengan memanfaatkan persimpangan di tengah jantung Kota Ubud yang penuh ingar-bingar turisme dan kehidupan tradisi, Ubud Art Collect cukup berhasil menawarkan gagasan baru untuk ekosistem Bali dan segmentasi pasar yang juga bertumbuh oleh gemerlap pariwisata. Semacam oase yang tiba-tiba muncul untuk menawarkan solusi atas dahaga para dedengkot kesenian.

Ibarat anak kecil yang ingin mengobrak-abrik permainan orang dewasa, inisiasi artist art fair ini menyasar lokasi yang juga tak pernah ada dalam rancangan ajang seni kebanyakan, sependek yang penulis ketahui. Bagaimana mungkin Wantilan (baca: balai desa adat) yang mulanya erat dengan obrolan-obrolan seputar ritual dan pernak-pernik bebanjaran, disulap dalam semalam menjadi pusat perbincangan seni rupa di Ubud, Bali.

Ubud Art Collect di antara hiruk-pikuk jalanan dan turisme | Sumber: Dokumentasi Made Chandra

Kalau mau lebih ditilik, sebenarnya kemunculan beragam bursa seni baru selain yang memang sudah establish, semacam Art Jakarta, adalah gejala yang cukup menjamur. Di Jogja, misalnya, setelah helatan Jogja Art Fair berubah menjadi makhluk hibrid bernama ARTJOG, peran pasar seni semacam art fair murni digantikan oleh Chapter Jogja yang lahir belakangan. Sementara itu, di Surabaya muncul ARTSUB yang juga santer menggaungkan hajatan seni sekaligus mengakomodasi agenda jual-beli di dalamnya. Kemudian, di Bali sendiri, belakangan kita melihat Art&Bali, sebuah art fair baru yang berlokasi di sebuah korporasi raksasa bernama Nuanu Creative City.

Lalu di mana kemudian Ubud Art Collect menempatkan dirinya di antara abang-abangan yang kadung terlanjur mapan ini?

Perbedaannya mulai kentara. Menjamurnya art fair di berbagai kota adalah kegelisahan akan pencarian format baru antara pasar, festival, dan ekosistem lokal. Tetapi Ubud Art Collect melakukan sesuatu yang berbeda karena ruang adat bukan hanya dijadikan venue, melainkan menjadi ajang uji coba kolektif untuk mempertemukan lapisan sosial yang begitu majemuk.

Kelihaian dalam melobi lapisan perangkat adat di Ubud membuat lokasi dan konteks sosial yang unik ini melenturkan batas antara penikmat seni kawakan, kepentingan adat, dan geliat turisme yang memang sudah menggiurkan sejak dulu.

Persimpangan, dalam konteks percakapan ini, tidak hanya bekerja sebatas letak geografis, tetapi juga menjadi muara yang mempertemukan banyak hal: antara tradisi dan modernitas, publik lokal dan internasional, masyarakat umum dan kolektor, hingga desa dan relasi kuasanya. Inisiasi semacam ini juga menjadi persimpangan arah untuk mempertanyakan ulang bagaimana wacana seni di Bali dan mekanisme pasar yang serba fluktuatif mulai bisa dipetakan. Terlepas dari segala kekurangannya pada helatan pertama, Ubud Art Collect setidaknya telah membuka sebuah kemungkinan.

Salah satu karya di Ubud Art Collect | Sumber: Dokumentasi Made Chandra

Secara historis, Ubud memang telah sejak lama menjadi pusat perkembangan seni rupa di Bali. Puncaknya ketika berbagai seniman ekspat macam Walter Spies dan Rudolf Bonnet mulai membikin asosiasi pelukis seperti Pita Maha atas izin dan bantuan Raja Ubud Tjokorda Gde Agung Sukawati pada 1936. Kisah ini mengawali perjalanan panjang gemerlap para maestro kesenian dan macam-macam gaya lukis yang berkembang dari daerah ke daerah yang lain.

Lewat tulisan Putu Sridiniari pada esai pengantar hajatan seni ini, saya paham bahwa “Seni Ubud” memang tidak pernah hadir dalam cara pandang tunggal. Ia terbentuk dari serangkaian negosiasi atas rupa-rupa kepentingan dan bumbu manis kreativitas para master. Di sinilah Ubud menawarkan laboratorium hidup yang terus bertumbuh dan tak pernah usai.

Esai Pengantar oleh Putu Sridiniari | Sumber: Dokumentasi Made Chandra

Sebagaimana kota ini, Ubud Art Collect juga akan menegosiasikan dirinya terus-menerus dan mengakomodasi berbagai macam kemungkinan ruang cakap: antara karya seni, seniman, publik, dan konteks sosial budayanya.

Satu-satunya kesulitan geliat semacam ini adalah merawat keberlanjutannya. Apakah terobosan progresif semacam ini hanya akan jadi urban legend ketika tak mampu hadir pada edisi-edisi ke depannya? Mungkin itu pertanyaan yang kepalang sulit untuk dijawab oleh satu-dua orang yang menjadi otak di balik hajatan ini. Namun, percakapan dan optimisme untuk melihat Bali dalam percakapan seni yang sehat menjadi bahan bakar yang pantas untuk direnungi bersama.

Maka, ada persoalan yang lebih besar tentang siapa yang bersedia ikut menjaga kemungkinan tersebut. Apakah pemerintah? Atau, dalam konteks ini, si empunya wilayah memiliki kesadaran untuk memberi dukungan, baik modal maupun infrastruktur penunjang bagi bibit-bibit unggul semacam ini? Jangan sampai tarik-menarik kepentingan akan menjadi kisah klasik yang terus berulang di kemudian hari. Baiklah diingat saja dulu bahwa ini adalah pertanyaan bersama, sesuatu yang agaknya cukup menyentil di kepala banyak orang dalam ekosistem seni rupa kita hari ini.

Panjang Umur Seni Rupa![T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

Tags: Ubud Art CollectUbud Art Collect 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Next Post

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails
Next Post
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co