3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

Made Chandra by Made Chandra
July 5, 2026
in Kritik Seni
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

Taxu News Letter, tentang Mendobrak Hegemoni | Sumber: Perpustakaan Gurat Institut

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Denpasar, melakukan demonstrasi—yang kita kenal sebagai Mendobrak Hegemoni—di lapangan Puputan Renon, Denpasar.

Gelaran berbagai orasi dan pernyataan sikap dalam bentuk pameran dan pertunjukan seni rupa itu, menjadi serangkaian kegiatan yang menghiasi gerakan yang pernah dijuluki “Februari Kelabu” itu.

“Potret Nyoman Erawan”, “Art Ne Pis”, “Manifesto Mendrobrak”, “Formalisme Malu-Malu”, dan “Cili-Cili Orang Tidak Kreatif”, adalah karya-karya yang mewakili titik kejenuhan para angkatan muda terhadap pelaku kesenian dan institusi mapan seperti kampus, galeri, dan museum yang pada masa itu hanya memberikan ruang dan apresiasi pada seniman-seniman yang sudah kadung beken, serta mereka yang lulus dari kampus seni di seberang barat sana.

Katalog Memasak dan Sejarah, yang di selenggarakan tahun 2004 di Cemeti Art House | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

Dan siapa sangka, aksi yang lebih mirip protes dan demo daripada pameran seni (rupa) itu, sukses membelokan peta seni rupa Bali yang dahulu pernah tertidur akibat gegap gempitanya Boom seni rupa dan dominasi kelompok Sanggar Dewata Indonesia sampai awal 2000-an.

Gerakan itu kini sayup-sayup terdengar, seolah telah menjadi urban legend, yang mungkin banyak perupa muda kini tidak benar-benar tahu apa yang mereka nikmati sekarang, sedikit banyak ya adalah ulah dari para dedengkot kesenian—yang belum lulus dan pernah dicap sebagai generasi iri yang gagal itu.

Taxu News Letter, tentang Mendobrak Hegemoni | Sumber: Perpustakaan Gurat Institut

Namun, tulisan bukan upaya bernostalgia. Ia lahir dari kegelisahan melihat medan seni rupa Bali hari ini, yang kembali berhadapan dengan persoalan-persoalan yang pernah diperdebatkan seperempat abad silam. Karena itu, menengok Klinik Seni Taxu bukan semata melihat masa lalu, melainkan mencari cara memahami masa kini.

Klinik Seni Taxu dan Kitch (Buletin Seni Rupa)

Seperti halnya kebanyakan gerakan. Wacana impulsif yang bergerak cepat pasti akan berangsur-angsur kehilangan momen dan jatuh pada perjumpaan yang membakar sesaat.

Tekanan dari berbagai pihak, termasuk para akademisi yang terus mendesak, membuat goyah dan tercerai-berainya eksponen dari gerakan “Mendobrak Hegemoni” ini.

Namun, cita-cita saat duduk bersama dalam satu komitmen, kemudian kembali menyatukan mereka dalam satu pemikiran yang berbuah pada kelompok bernama “Klinik Seni Taxu”, sebuah “klinik” yang akan mengobatimu dari kemandatan berpikir oleh karena euforia kebudayaan yang latah.

Kelompok yang berdiri tahun 2002 ini terdiri dari anggota lintas disiplin yang didominasi oleh para mahasiswa seni rupa STSI Denpasar. Di antaranya adalah Seriyoga Parta, Mahendra Yasa, Wayan Suja, Ngakan Ardana, Made ‘Bayak’, Dodit artawan, Ngurah Suryawan, Wayan Arsana, Moniarta, Gede Puja dan beberapa eksponen lainnya pada waktu itu.

Pameran persana “Hati-hati!!! Ada Upacara Taxu” di selenggarakan Februari 2003 di Klinik Seni Taxu Artspace | Sumber: Facebook Wayan Suja

Namanya lahir dari plesetan kata “taksu” yang jamak digunakan untuk menjelaskan keangkeran, mistisisme kebudayaan, dan upacara yang ada di Bali. Misinya sederhana, yaitu membongkar dan mendesakralisasi mitos-mitos yang menempel pada kanon-kanon kesenian (rupa) kebanyakan.

Pameran demi pameran dihelat untuk mewadahi pemikiran dan lingkaran diskursif yang telah dibangun, meliputi berbagai tematik menyoal identitas, sosial, politik, dan kelatahan budaya yang mereka alami sebagai generasi yang lahir dari rahim reformasi.

Kehadiran kelompok ini membangkitkan geliat kritisisme di tengah pusaran wacana yang tengah lengang dan stagnan.

Karya Gede Puja dalam tulisan “Transformasi Estetik Ala Klinik Seni Taxu (KST)” oleh Seriyoga Parta | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

Pameran perdana mereka yang bertajuk “Hati-Hati!!! Ada Upacara Taxu” pada Februari, 2003, dihiasi macam-macam karya seperti “Identitas Bali…?” oleh Wayan Suja serta “Not Proud Being A Balinese” dari Gede Puja.

Karya dan pameran tersebut adalah buah artistik yang lahir dari dialektika antarseniman yang waktu itu tengah mengeluhkan dan mempertanyakan kembali atribut ke-Baliannya.

Selain produksi artistik berupa karya-karya visual, mereka juga melebarkan sayap pergerakannya melalui penerbitan independen berupa buletin seni rupa yang mereka sebut sebagai “Kitsch”.

Sejalan dengan maknanya yang berarti “Selera kelas bawah”, istilah yang berasal dari bahasa Jerman itu dianggap mewakili inisiasi mereka (angkatan muda)—yang “dari kumpulannya terbuang”—untuk menuangkan pemikiran mereka dalam bentuk sebuah buletin yang bercita-cita ingin terbit sebulan sekali.

“… Hari ini, edisi pertama hadir dengan segudang kritik dan cela. Tak apalah. Sebagai awal daripada tidak sama sekali……Dan gerakan perubahan melawan dominatif memang harus dilanjutkan dan dipelihara. Msalahnya, bisakah kita betah dan menikmati memelihara perlawanan itu?” (Redaksi, Kitsch edisi perdana Agustus-September, 2002)

Pada edisi pertamanya yang berjudul “Kebohongan Pengider Bhuana”, mereka meluncurkan hujaman kritik atas pameran bersama Pengider Bhuana dosen STSI Denpasar di Museum Rudana, Agustus, 2002.

Kelahirannya yang pertama sontak mengguncang para elitis akademisi (rupa) terutama seniman dan dosen kawakan I Wayan Karja, yang menjadi sosok utama di balik pameran tersebut.

Kitsch dengan berbagai edisi hingga tahun 2005 | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

Seperti halnya penerbit zine independen, berbagai artikel yang muncul kebanyakan dari para anggota Taxu itu sendiri.

Sehingga buletin ini bekerja layaknya arena sparing bagi para seniman untuk menajamkan pemikiran, dan analisis kritis mereka ke dalam sebuah teks bacaan.

Berjalannya waktu dan gelaran yang konsisten, membuat kelompok ini mulai dikenal dan mulai juga terjaring dengan kelompok akar rumput di berbagai daerah, seperti Jogja dan Bandung pada masa itu.

Artikel dalam buletin bulanan ini lambat laun mulai diperkaya oleh tulisan-tulisan dari penulis di luar daerah Bali itu sendiri. Sehingga wacana dan diskusi yang terjadi meluas hingga pada perbincangan dan problematika seni rupa Indonesia.

Memasak & Sejarah: Puncak Eksperimentasi

Pada 9 Juni 2004, Klinik Seni Taxu mendapat kesempatan untuk menggelar pameran di sebuah tempat yang kini kita kenal sebagai Cemeti Institute. Di antara pertarungan artistik yang ketat, terdapat satu karya kolaboratif dengan judul “Memasak & Sejarah” yang juga menjadi judul dari pameran ini.

Pameran ini menjadi salah satu proyek yang begitu eksperimental di zamannya, mungkin juga sampai hari ini. Mereka yang datang dari pulau kecil bernama Bali, tidak hadir dengan eksotika mooi ala seniman eks patriat yang menjual keindahan alam dan mistisisme budaya Bali. Mereka justru berbalik melihat sejarah pembantaian—yang dikenal sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober 1965)—yang menghabisi 300 kepala warga Tegalbadeng, Jembrana, Bali.

Kitsch edisi perdana pada 2002 | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute

Di antara ingatan kelam tersebut, mereka hadir dengan ide gila. Mereka memasak makanan tradisional Bali dari bahan singkong, di mana tanah tempat singkong itu tumbuh adalah kuburan bagi puluhan bahkan ratusan tulang-belulang manusia yang dibantai pada malam-malam mencekam tahun 1965-1966 di Bali.

Tak terbayang betapa terkejutnya ekspresi para pengunjung yang tadinya lahap mengunyah jajan yang telah disediakan sebelumnya. Dan itu sebagian dari salah satu pameran yang paling membekas, ketika kita membicarakan Taxu dan berbagai proyek pemikirannya.

Kliping berita tentang Mendobrak Hegemoni | Sumber: Dok. Mahendra Yasa

Kembali pada buletin Kitsch. Edisi demi edisi mulai diterbitkan di tengah para eksponen yang mulai punya kesibukan; saat arah kesenian mulai menunjukan perbedaan di antara tubuh kelompok itu sendiri.

Hingga sampai pada edisi terakhirnya, yaitu ke-10—sebuah edisi yang tak direncanakan sebagai yang terakhir—gejolak intern pada Klinik Seni Taxu memaksa buletin tersebut harus berhenti setelah berjibaku selama 3 tahun dengan biaya produksi dan berbagai problem visi anggota.

Ego yang besar, serta bujuk rayu dari pintu-pintu “kekuasaan” yang dahulu mereka sangat kritisi, membuat kelompok ini kehilangan arah dan menimbulkan segudang pertanyaan, ke mana ideologi Taxu sebenarnya berlabuh?

Sumber: Disertasi Ellen Kent

Problematika yang diangkat dalam karya mengalami pergeseran demi pergeseran. Kontekstualisme yang berangsur-angsur berubah pada formalisme menjadi penyebab sebagian besar anggota yang berseberangan mulai melipir, menyisakan hanya beberapa anggotanya saja. Hingga kemudian meredup setelah pameran terakhir mereka di CP Art Space pada Januari, 2006, yang lalu.

Sejarah dan Pertanyaan yang Mengulang Dirinya

Cerita tentang heroisme para angkatan muda tadi, pada akhirnya tak selamat dari kejamnya waktu yang terus bergerak dan keadaan yang terus bergeser. Sehingga, medan kritisisme yang dahulu pernah sangat lantang digaungkan kini seolah tertidur kembali.

Topik-topik yang 25 tahun lalu digembar-gemborkan dan dipertanyakan rasanya seperti mengulang kembali dirinya.

Stagnansi wacana seni (rupa), kualitas pendidikan, desentralisasi pusat infrastruktur, miskinnya ruang alternatif, paradoks Bali dan pariwisata, masalah sampah, hingga kapitalisme global masih dan kian menjadi topik yang tak pernah kunjung selesai untuk ditembangkan.

Apakah kita jalan di tempat? Atau memang sejarah yang selalu berulang, di mana pelaku dan mediumnya yang berganti? Pertanyaan-pertanyaan itu seakan menghujani pikiran saya, seakan jawaban masih belum menemukan bentuknya.

Atau perspektif saya yang harus dibenahi?

Mungkin masalahnya bukan pada mereka yang dahulu pernah berapi-api tapi kini mulai menepi; tapi zaman yang kian cepat menuntut regenerasi, padahal belum tentu di tiap tahunnya bisa lahir para pemikir dan kritikus baru. Boro-boro. Kehadiran seniman yang benar-benar terjun dan paham akan medan seni saja hanya segelintir.

Karya-karya Klinik Seni Taxu pada fase formalisme dalam tulisan “Transformasi Estetik Ala Klinik Seni Taxu (KST)” oleh Seriyoga Parta | Sumber: Perpustakaan Gurat Institute.

Atau jangan-jangan, apakah akademi seni rupa tidak begitu kompeten? Sehingga kehadiran alumni yang berkarier sebagai seniman bisa disamakan sebagai tumbuhan langka yang patut disyukuri, dan seolah diakui keberadaannya.

Jika bukan itu, mungkin juga generasi kini yang begitu mudah terdistraksi oleh muntahan brainrot media sosial. Sehingga penjara algoritma perlahan membentuk ruang gema yang membuat mereka dan kita semakin sulit berjumpa dengan gagasan yang benar-benar mengusik cara berpikir.

Kiranya, ini hanya sebuah refleksi yang berakar pada mereka yang pernah dengan teramat sangat memperjuangkan dinamisnya geliat wacana dan tumbuhnya ekosistem yang kini kita nikmati bersama.

Dan persoalannya kemudian adalah, mampukah setiap zaman melahirkan kembali orang-orang yang bersedia berpikir, mempertanyakan, dan mengambil risiko untuk mengganggu kenyamanan yang mapan?

Kini tongkat estafet berada di tangan generasi Milenial dan Gen Z. Kita tak lagi dihadapkan pada tuntutan apakah kita mampu mengulang romansa Klinik Seni Taxu, tetapi lebih kepada keberanian baru seperti apa yang akan kita ciptakan untuk menjawab persoalan zaman kita sendiri—sebab sejarah tak butuh pengulangan; ia butuh generasi yang berani untuk membuka lembaran berikutnya.

Panjang Umur Seni Rupa![T]

Bahan bacaan:

Arsana, W. (2003). Klinik Seni Taxu dan perubahan perspektif berkesenian. Pengantar katalog pameran Hati-Hati!!! Ada Upacara Taxu. Kitsch, edisi khusus.

Parta, I. W. Seriyoga., Suryawan, I. N., & Yasa, I. G. M. (2004). Sapihan Memori, Narasi Menuju Humanisme. Pengantar kuratorial pameran Memasak dan Sejarah, Klinik Seni Taxu di Cemeti Art House, 9 Juni–4 Juli.

Parta, I. W. Seriyoga. (2006). Klinik Seni Taxu: Dari Persoalan Konteks ke Persoalan Bahasa Rupa. Naskah ko-kurator pameran Klinik Seni Taxu di CP Art Space.

Parta, I. W. Seriyoga. (2025). Transformasi estetik ala Klinik Seni Taxu. Dalam Rupa Is Me: Kumpulan Tulisan Seni Rupa & Budaya.

Parta, I. W. Seriyoga. (2026). Muatan Kritisisme dalam Karya-Karya I Wayan Suja. Dalam Menjaga Asa Merawat Ingatan: Refleksi Perjalanan Artistik I Wayan Suja.

Parta, I. W. Seriyoga. (2022). Mendobrak Hegemoni: Dapatkah Menumbuhkan Wajah Alternatif Pada Seni Rupa Bali. Dalam Hard-Iman: Kumpulan Tulisan Seni Rupa & Budaya.

Suryawan, N. (2002). Mau Apa Setelah Mendobrak. Dalam Kitsch: Buletin Seni Rupa, edisi perdana.

Suryawan, N. (2003). Budaya Taxu = Budaya Palsu (Membongkar Peta Pemikiran Seni dan Budaya Bali). Pengantar katalog pameran Hati-Hati!!! Ada Upacara Taxu, Pameran Perdana Klinik Seni Taxu, Januari.

Yasa, I. G. M. (2002). “Realita Kuantum atau Realitas Kuantitas?” Dalam Kitsch: Buletin Seni Rupa Klinik Seni Taxu, Agustus–September

Kent, E. (2016). Entanglement: Individual and participatory art practice in Indonesia.

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

Tags: KitchKlinik Seni TaxuSeni Rupaseni rupa BaliTaxu News Letter
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

Next Post

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
0
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB)...

Read moreDetails
Next Post
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co