3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Hartanto by Hartanto
July 4, 2026
in Ulas Rupa
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani manusia melalui ‘pengalaman batin’, ‘emosi’, dan ‘spiritualitas’.

Pameran yang digelar di Sudakara Art Space Sanur dan bertemakan Unconditional Love ini menghadirkan karya-karya Ni Wayan Sutariyani Adnyana sebagai sebuah ‘perjalanan visual’ yang menyingkap banyak makna, tentang ‘cinta tanpa syarat’.

Pameran yang digelar hingga 31 Agustus 2026 ini mengingatkan saya pada ajaran Yesus. Ia mengajarkan dan mempraktikkan ‘cinta kasih’ (agape) yang melampaui batas ‘suku’, ‘status sosial’, dan ‘agama’. Ia mengasihi semua orang, termasuk mereka yang tersingkirkan dan dianggap berdosa oleh masyarakat. 

Hal yang sama juga bisa kita simak dalam ajaran Buddha yang juga mengajarkan cinta kasih murni (Metta). Sementara itu, agama Hindu mengajarkan Tat Twam Asi (‘aku adalah kamu’) yang bisa dipahami sebagai rasa persaudaraan sesama dalam ‘cinta kasih’. Dalam agama Islam bisa kita pahami ‘kasih sayang’ antarsesama manusia (Rahmah),  cinta kepada Allah SWT (Mahabbah), dan terhadap alam semesta (khalifah). Begitulah sifat cinta, ‘universal’. Ada  di tiap agama, sebagai ajaran.

Yang menarik bagi saya, Sutariyani menghadirkan karya-karya ‘figuratif-abstrak’ yang tidak hanya menampilkan ‘keindahan visual’, tetapi juga mengundang penikmatnya untuk masuk ke ruang ‘refleksi’ yang ‘sublim’. ‘Sublim’ yang saya maksud adalah mekanisme pertahanan ‘psikologis’ di mana seseorang menyalurkan dorongan, ‘emosi’, dan daya ‘insting’ menjadi tindakan atau berkarya—yang lebih ‘genial’, dapat diterima secara ‘sosial’, dan bermanfaat bagi penikmat yang ‘berinteraksi’ dengan karya tersebut.

Lebih lanjut, ketika menelisik karya-karya Sutaryani, dapat kita rasakan, setiap sapuan warna dan bentuk dalam karyanya adalah perayaan ‘cinta tanpa syarat’, ‘keluarga’, ‘relejiusitas’, ‘kebebasan jiwa’, dan ‘harapan’.

Figur-figur ‘abstrak’ yang ia hadirkan bukan sekadar bentuk ‘estetis’, melainkan ‘ruang batin’ yang mengundang penikmat untuk merasakan ‘energi estetik’ yang penuh makna ketika ‘dicerna’ dengan ‘kebeningan jiwa’.

Sebagai seniman dengan latar pendidikan sastra Inggris, interior design, dan art therapy, Sutariyani mengolah disiplin ‘lintas bidang’ menjadi ‘bahasa visual’ yang ‘unik’.  Sutaryani juga menjadikan seni sebagai ‘doa visual’, sebagai ‘ungkapan syukur’, dan sebagai ‘jembatan empati’ serta ‘refleksi spiritual’ yang mendalam.

Dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan seni internasional, ia menegaskan bahwa seni mampu melintasi ‘batas geografi’, menghadirkan ‘resonansi universal’ dan jembatan ‘lintas budaya.’

Dalam konteks pelaku seni perempuan, menurut saya, karya Sutariyani dapat ‘dibaca’ dalam dialog dengan ‘Frida Kahlo’ yang menekankan ‘tubuh’ dan pengalaman ‘personal’ sebagai medan ‘ekspresi’.

Filosofi Kahlo adalah menjadikan rasa sakit fisik dan emosional sebagai ‘pemicu’ proses kreatifnya. Seperti yang ia tegaskan: “I never paint dreams or nightmares. I paint my own reality”. (Aku tidak pernah melukis mimpi atau mimpi buruk. Aku melukis realitasku sendiri.) Kahlo melukis ‘luka’, ‘cinta’, dan ‘spiritualitas’ dengan ‘intensitas emosional’ yang mendalam, sementara Sutariyani menghadirkan ‘cinta tanpa syarat’ dan ‘harapan’ melalui simbol-simbol yang ‘lembut’ dan ‘kontemplatif’.

Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni bukan sekadar ‘dekorasi’, melainkan pernyataan ‘eksistensial’ yang lahir dari pengalaman hidup dan spiritualitas.

Selain itu, juga bisa saya padankan dengan Georgia O’Keeffe yang merayakan ‘simbol alam’ sebagai ‘bahasa spiritual’. Sutariyani dengan kredonya: “Melalui warna dan bentuk, saya merayakan cinta, harapan, iman, dan keindahan hubungan antarmanusia”. ia menegaskan bahwa seni adalah praktik ‘spiritual’ sekaligus ‘sosial’.

Menurut saya, ‘kredo’ Sutariyani tersebut ‘paralel’ dengan penegasan O’Keeffe: “I found I could say things with color and shapes that I couldn’t say any other way,” (“Saya menemukan bahwa saya bisa mengungkapkan sesuatu melalui warna dan bentuk yang tidak bisa saya ungkapkan dengan cara lain”).

Dengan menempatkan Sutariyani dalam dialog dengan Kahlo dan O’Keeffe, kita melihat bagaimana ia juga memperkuat ‘konteks gender’ dan ‘spiritualitas’ dalam seni ‘kontemporer’.

Bisa kita simak, karya-karya Ni Wayan Sutariyani Adnyana bukan hanya berakar pada ‘piritualitas’, tetapi juga ‘beresonansi’ dengan tradisi global ‘seni kontemporer’. Ia menghadirkan seni sebagai ‘manifesto cinta’, dan sebagai ruang penyembuhan yang menegaskan bahwa pengalaman perempuan memiliki kekuatan ‘universal’ untuk ‘menyatukan manusia’ dalam ‘resonansi batin’.

Selanjutnya, saya cukup tertarik dengan gaya ‘kubisme’ yang melengkapi beberapa penggayaan karya visual Sutariyani. Khususnya, karyanya yang berjudul ‘Last Supper 3’. Dalam konteks sejarah seni dunia, karya Sutariyani juga dapat dibaca dalam dialog dengan tradisi ‘modernisme’—yang diperkenalkan oleh Pablo Picasso.

Seperti Picasso yang melalui ‘kubisme’ berusaha membongkar ‘realitas’ menjadi bentuk-bentuk ‘geometris’ untuk menemukan kebenaran baru dalam ‘representasi’, Sutariyani, pada karya Last Supper 3 juga mengolah figur manusia dan ‘simbol universal’ menjadi bahasa ‘visual’ yang lebih ‘intim’, ‘genial’ dan ‘spiritual’.

Jika Picasso menekankan ‘fragmentasi’ bentuk sebagai cara memahami kompleksitas dunia modern, maka Sutariyani menekankan ‘integrasi; warna, bentuk, dan simbol sebagai cara menandai kemanusiaan dalam ‘energi cinta’ dan harapan.

Keterhubungan ini menunjukkan bahwa seni ‘figuratif-abstrak’ tidak hanya berfungsi sebagai ‘eksperimen formal’, tetapi juga sebagai ‘ruang batin’ yang menyatukan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’.

Tentu, menikmati karya ‘kubisme’ tak bisa terlepas dari ‘eksistensi’ kekaryaan Picasso. Terutama karyanya yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini merupakan sintesis Kubisme dan Surrealisme dengan muatan politik. Itu menjadikannya salah satu karya seni modern paling berpengaruh abad ke-20. Ia bukan sekadar lukisan bergaya ‘kubisme’, melainkan manifesto visual anti-perang berlatar cinta kasih universal yang menggabungkan ‘eksperimen formal’ dengan pesan ‘moral global/universal’.

Menurut saya, ‘Guernica’ adalah mahakarya monumental berupa lukisan minyak di atas kanvas berskala besar karya Pablo Picasso. Selesai pada tahun 1937, lukisan ini dibuat sebagai respons atas tragedi pengeboman kota Basque, Guernica, oleh Nazi Jerman dan Italia Fasis atas perintah ‘Jenderal Franco’.

Pengeboman Guernica terjadi pada 26 April 1937. Peristiwa kelam ini menjadi bagian dari Perang Saudara Spanyol, di mana kota Guernica dibombardir oleh pasukan udara Jerman (Legiun Condor) dan Italia. Tragedi ini kemudian diabadikan oleh Picasso.

Dilukis dalam palet monokrom (hitam, putih, dan abu-abu), karya ini menjadi simbol universal dan salah satu lukisan anti-perang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Elemen-elemen yang tergambar menampilkan kengerian, penderitaan, dan kekacauan manusia serta hewan yang menjadi korban keganasan perang.

Namun, ada catatan sejarah tentang solidaritas 2 orang pemuda keturunan Tionghoa asal Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang punya kontribusi pada sejarah Guernika. Mereka menjadi sukarelawan dan bertempur sebagai pilot dan dokter di perang tersebut.

Tokoh tersebut adalah Hoo Chi Sui, lahir di Surabaya pada 1912. Ia merantau ke Eropa pada tahun 1935 dan ketika Perang Saudara Spanyol meletus (1936-1938), ia mendaftar sebagai sukarelawan kontrak sebagai pilot pesawat perang untuk International Volunteer Brigade (Brigade Internasional).

Ia memihak kaum Republik melawan kaum fasis Jerman dan Itali yang berpihak pada kaum ‘Nasionalis’. Selama menjadi pilot, ia mengawaki pesawat buatan Uni Soviet dan kabarnya pernah menjatuhkan pesawat Jerman. Kisah perjuangannya ini pernah dimuat di surat kabar Sin Po pada tahun 1938.

Tokoh satunya lagi adalah Dr. Tio Oen Bik. Ia tergerak menuju Spanyol setelah melihat foto-foto yang dipublikasikan di media massa mengenai pengeboman mematikan kota Guernica pada tanggal 26 April 1937 oleh pasukan Nazi Jerman.

Selanjutnya, ia bergabung dengan ‘Brigade Internasional’ sebagai salah satu dokter untuk merawat pejuang dan korban sipil yang menentang fasisme. Pria kelahiran Surabaya 1906 ini merantau ke Eropa (Belanda) untuk kuliah kedokteran sebelum akhirnya mendedikasikan dirinya di medan konflik Spanyol.

Jadi, dalam karya besar dan monumental karya Pablo Picasso yang bertajuk Guernica, di antara garis bidang, dan warna, ada dua titik penting dari Indonesia, Hoo Chi Sui dan Tio Oen Bik—berlatar kemanusiaan.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Ni Wayan Sutariyani AdnyanaUnconditional Love
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

Next Post

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails
Next Post
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

"Mindfulness-Based Learning" alias Belajar Berbasis-Adnyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co