24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Hartanto by Hartanto
July 4, 2026
in Ulas Rupa
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani manusia melalui ‘pengalaman batin’, ‘emosi’, dan ‘spiritualitas’.

Pameran yang digelar di Sudakara Art Space Sanur dan bertemakan Unconditional Love ini menghadirkan karya-karya Ni Wayan Sutariyani Adnyana sebagai sebuah ‘perjalanan visual’ yang menyingkap banyak makna, tentang ‘cinta tanpa syarat’.

Pameran yang digelar hingga 31 Agustus 2026 ini mengingatkan saya pada ajaran Yesus. Ia mengajarkan dan mempraktikkan ‘cinta kasih’ (agape) yang melampaui batas ‘suku’, ‘status sosial’, dan ‘agama’. Ia mengasihi semua orang, termasuk mereka yang tersingkirkan dan dianggap berdosa oleh masyarakat. 

Hal yang sama juga bisa kita simak dalam ajaran Buddha yang juga mengajarkan cinta kasih murni (Metta). Sementara itu, agama Hindu mengajarkan Tat Twam Asi (‘aku adalah kamu’) yang bisa dipahami sebagai rasa persaudaraan sesama dalam ‘cinta kasih’. Dalam agama Islam bisa kita pahami ‘kasih sayang’ antarsesama manusia (Rahmah),  cinta kepada Allah SWT (Mahabbah), dan terhadap alam semesta (khalifah). Begitulah sifat cinta, ‘universal’. Ada  di tiap agama, sebagai ajaran.

Yang menarik bagi saya, Sutariyani menghadirkan karya-karya ‘figuratif-abstrak’ yang tidak hanya menampilkan ‘keindahan visual’, tetapi juga mengundang penikmatnya untuk masuk ke ruang ‘refleksi’ yang ‘sublim’. ‘Sublim’ yang saya maksud adalah mekanisme pertahanan ‘psikologis’ di mana seseorang menyalurkan dorongan, ‘emosi’, dan daya ‘insting’ menjadi tindakan atau berkarya—yang lebih ‘genial’, dapat diterima secara ‘sosial’, dan bermanfaat bagi penikmat yang ‘berinteraksi’ dengan karya tersebut.

Lebih lanjut, ketika menelisik karya-karya Sutaryani, dapat kita rasakan, setiap sapuan warna dan bentuk dalam karyanya adalah perayaan ‘cinta tanpa syarat’, ‘keluarga’, ‘relejiusitas’, ‘kebebasan jiwa’, dan ‘harapan’.

Figur-figur ‘abstrak’ yang ia hadirkan bukan sekadar bentuk ‘estetis’, melainkan ‘ruang batin’ yang mengundang penikmat untuk merasakan ‘energi estetik’ yang penuh makna ketika ‘dicerna’ dengan ‘kebeningan jiwa’.

Sebagai seniman dengan latar pendidikan sastra Inggris, interior design, dan art therapy, Sutariyani mengolah disiplin ‘lintas bidang’ menjadi ‘bahasa visual’ yang ‘unik’.  Sutaryani juga menjadikan seni sebagai ‘doa visual’, sebagai ‘ungkapan syukur’, dan sebagai ‘jembatan empati’ serta ‘refleksi spiritual’ yang mendalam.

Dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan seni internasional, ia menegaskan bahwa seni mampu melintasi ‘batas geografi’, menghadirkan ‘resonansi universal’ dan jembatan ‘lintas budaya.’

Dalam konteks pelaku seni perempuan, menurut saya, karya Sutariyani dapat ‘dibaca’ dalam dialog dengan ‘Frida Kahlo’ yang menekankan ‘tubuh’ dan pengalaman ‘personal’ sebagai medan ‘ekspresi’.

Filosofi Kahlo adalah menjadikan rasa sakit fisik dan emosional sebagai ‘pemicu’ proses kreatifnya. Seperti yang ia tegaskan: “I never paint dreams or nightmares. I paint my own reality”. (Aku tidak pernah melukis mimpi atau mimpi buruk. Aku melukis realitasku sendiri.) Kahlo melukis ‘luka’, ‘cinta’, dan ‘spiritualitas’ dengan ‘intensitas emosional’ yang mendalam, sementara Sutariyani menghadirkan ‘cinta tanpa syarat’ dan ‘harapan’ melalui simbol-simbol yang ‘lembut’ dan ‘kontemplatif’.

Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni bukan sekadar ‘dekorasi’, melainkan pernyataan ‘eksistensial’ yang lahir dari pengalaman hidup dan spiritualitas.

Selain itu, juga bisa saya padankan dengan Georgia O’Keeffe yang merayakan ‘simbol alam’ sebagai ‘bahasa spiritual’. Sutariyani dengan kredonya: “Melalui warna dan bentuk, saya merayakan cinta, harapan, iman, dan keindahan hubungan antarmanusia”. ia menegaskan bahwa seni adalah praktik ‘spiritual’ sekaligus ‘sosial’.

Menurut saya, ‘kredo’ Sutariyani tersebut ‘paralel’ dengan penegasan O’Keeffe: “I found I could say things with color and shapes that I couldn’t say any other way,” (“Saya menemukan bahwa saya bisa mengungkapkan sesuatu melalui warna dan bentuk yang tidak bisa saya ungkapkan dengan cara lain”).

Dengan menempatkan Sutariyani dalam dialog dengan Kahlo dan O’Keeffe, kita melihat bagaimana ia juga memperkuat ‘konteks gender’ dan ‘spiritualitas’ dalam seni ‘kontemporer’.

Bisa kita simak, karya-karya Ni Wayan Sutariyani Adnyana bukan hanya berakar pada ‘piritualitas’, tetapi juga ‘beresonansi’ dengan tradisi global ‘seni kontemporer’. Ia menghadirkan seni sebagai ‘manifesto cinta’, dan sebagai ruang penyembuhan yang menegaskan bahwa pengalaman perempuan memiliki kekuatan ‘universal’ untuk ‘menyatukan manusia’ dalam ‘resonansi batin’.

Selanjutnya, saya cukup tertarik dengan gaya ‘kubisme’ yang melengkapi beberapa penggayaan karya visual Sutariyani. Khususnya, karyanya yang berjudul ‘Last Supper 3’. Dalam konteks sejarah seni dunia, karya Sutariyani juga dapat dibaca dalam dialog dengan tradisi ‘modernisme’—yang diperkenalkan oleh Pablo Picasso.

Seperti Picasso yang melalui ‘kubisme’ berusaha membongkar ‘realitas’ menjadi bentuk-bentuk ‘geometris’ untuk menemukan kebenaran baru dalam ‘representasi’, Sutariyani, pada karya Last Supper 3 juga mengolah figur manusia dan ‘simbol universal’ menjadi bahasa ‘visual’ yang lebih ‘intim’, ‘genial’ dan ‘spiritual’.

Jika Picasso menekankan ‘fragmentasi’ bentuk sebagai cara memahami kompleksitas dunia modern, maka Sutariyani menekankan ‘integrasi; warna, bentuk, dan simbol sebagai cara menandai kemanusiaan dalam ‘energi cinta’ dan harapan.

Keterhubungan ini menunjukkan bahwa seni ‘figuratif-abstrak’ tidak hanya berfungsi sebagai ‘eksperimen formal’, tetapi juga sebagai ‘ruang batin’ yang menyatukan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’.

Tentu, menikmati karya ‘kubisme’ tak bisa terlepas dari ‘eksistensi’ kekaryaan Picasso. Terutama karyanya yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini merupakan sintesis Kubisme dan Surrealisme dengan muatan politik. Itu menjadikannya salah satu karya seni modern paling berpengaruh abad ke-20. Ia bukan sekadar lukisan bergaya ‘kubisme’, melainkan manifesto visual anti-perang berlatar cinta kasih universal yang menggabungkan ‘eksperimen formal’ dengan pesan ‘moral global/universal’.

Menurut saya, ‘Guernica’ adalah mahakarya monumental berupa lukisan minyak di atas kanvas berskala besar karya Pablo Picasso. Selesai pada tahun 1937, lukisan ini dibuat sebagai respons atas tragedi pengeboman kota Basque, Guernica, oleh Nazi Jerman dan Italia Fasis atas perintah ‘Jenderal Franco’.

Pengeboman Guernica terjadi pada 26 April 1937. Peristiwa kelam ini menjadi bagian dari Perang Saudara Spanyol, di mana kota Guernica dibombardir oleh pasukan udara Jerman (Legiun Condor) dan Italia. Tragedi ini kemudian diabadikan oleh Picasso.

Dilukis dalam palet monokrom (hitam, putih, dan abu-abu), karya ini menjadi simbol universal dan salah satu lukisan anti-perang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Elemen-elemen yang tergambar menampilkan kengerian, penderitaan, dan kekacauan manusia serta hewan yang menjadi korban keganasan perang.

Namun, ada catatan sejarah tentang solidaritas 2 orang pemuda keturunan Tionghoa asal Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang punya kontribusi pada sejarah Guernika. Mereka menjadi sukarelawan dan bertempur sebagai pilot dan dokter di perang tersebut.

Tokoh tersebut adalah Hoo Chi Sui, lahir di Surabaya pada 1912. Ia merantau ke Eropa pada tahun 1935 dan ketika Perang Saudara Spanyol meletus (1936-1938), ia mendaftar sebagai sukarelawan kontrak sebagai pilot pesawat perang untuk International Volunteer Brigade (Brigade Internasional).

Ia memihak kaum Republik melawan kaum fasis Jerman dan Itali yang berpihak pada kaum ‘Nasionalis’. Selama menjadi pilot, ia mengawaki pesawat buatan Uni Soviet dan kabarnya pernah menjatuhkan pesawat Jerman. Kisah perjuangannya ini pernah dimuat di surat kabar Sin Po pada tahun 1938.

Tokoh satunya lagi adalah Dr. Tio Oen Bik. Ia tergerak menuju Spanyol setelah melihat foto-foto yang dipublikasikan di media massa mengenai pengeboman mematikan kota Guernica pada tanggal 26 April 1937 oleh pasukan Nazi Jerman.

Selanjutnya, ia bergabung dengan ‘Brigade Internasional’ sebagai salah satu dokter untuk merawat pejuang dan korban sipil yang menentang fasisme. Pria kelahiran Surabaya 1906 ini merantau ke Eropa (Belanda) untuk kuliah kedokteran sebelum akhirnya mendedikasikan dirinya di medan konflik Spanyol.

Jadi, dalam karya besar dan monumental karya Pablo Picasso yang bertajuk Guernica, di antara garis bidang, dan warna, ada dua titik penting dari Indonesia, Hoo Chi Sui dan Tio Oen Bik—berlatar kemanusiaan.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Ni Wayan Sutariyani AdnyanaUnconditional Love
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

Next Post

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails
Next Post
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

"Mindfulness-Based Learning" alias Belajar Berbasis-Adnyana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co