24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
in Ulas Buku
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

Sampul buku Mindfulness-Based Learning

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. “I love poetry“, tulisnya dalam buku barunya Mindfulness-Based Learning, EFL Poetry, and Language Identity (2026, p.1), diterbitkan Tatkala Sekala Media.

Sejak kecil Sonia menyukai puisi. Bahkan, dalam usia 9 tahun, katanya, dia sudah membaca banyak puisi penyair Indonesia (“I have read many poetry of Indonesian poets“) (p.37). Dalam usia sekanak-kanak itu, kebanyakan insan sebayanya yang mungkin masih jatuh-bangun belajar calistung: baca-tulis-berhitung. Tapi, Sonia adalah warga negara negeri puisi, setiap hari menghirup udara wangi puisi. Darahnya semerah puisi. Kelak, suaminya pun seorang penyair.

Terus Mencintai Puisi

Sebagai warga-negara negeri puisi, Sonia meyakinkan pembaca bukunya bahwa dia terus mencintai puisi. Dia mencintai puisi secara berkelanjutan (sustainable). Makanya, puisi telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda (Poetry has been a part of of my life) (p.37). Puisi mendidik kepribadiannya, sesuai dengan target Sustainable Developmetn Goals (SDGs) point ke-4: Quality education.

Setelah tamat dari program sarjana pendidikan bahasa Inggris, Undiksha Singaraja, Sonia mengajar bahasa Inggris di almamaternya. Minatnya pada puisi mengukuhkannya menjadi penyair karena sudah menulis dan menerbitkan beberapa puisi. Katanya bangga: “I am a poet and a lecturer” (p. 1). Dalam mengajar, dia menjadikan puisi sebagai materi kuliah. “Poetry is my subject of teaching” (p. iii). Hobi dan profesinya benar-benar berisi kandungan puisi. Puisi adalah DNA-nya.

Ketika melanjutkan studi doktor, dia meneliti pembelajaran bahasa asing (Inggris) dengan menggunakan puisi sebagai materi. Selulus doktor, disertasinya diterbitkan menjadi buku, yang ditimbang ini. Buku setebal 156 halaman yang terdiri dari 11 bab ini memang fokus pada pembahasan penggunaan pendekatan mindfullness dalam belajar bahasa Inggris melalui proses penulisa puisi. Bukan cerpen, bukan film, bukan novel, bukan sinetron. Tapi, puisi.

Ada beberapa alasan ilmiah dari sudut pandang pedagogi, antara lain karena pembelajaran bahasa asing (Inggris) lebih bersifat konvensional, kognitif, tanpa melibatkan emosi siswa/mahasiswa dalam proses pembelajaran. Yang terjadi adalah teaching (oleh guru), bukan learning (oleh siswa/ mahasiswa). Dengan menugasi mahasiswa menulis puisi, mereka akan kreatif mengekspresikan perasaan dengan bahasa yang mereka temukan sendiri, yang kelak akan tumbuh menjadi gaya atau identitasnya sendiri.

Seperti tersurat dari judul buku Mindfulness-Based Learning, EFL Poetry, and Language Identity, fokus buku adalah pada mindfullness, puisi, dan identitas bahasa. Kalau materinya teks drama, lagu, film atau sinetro, maka judulnya mungkin menjadi EFL Drama, EFL Song, atau EFL Movie.

Sebagai penulis yang mencintai dan menguasai puisi, Sonia memilih materi yang dikuasai: EFL Poetry. Dia yakin bahwa identitas bahasa akan tercipta lewat kreativitas cipta puisi atau catatan harian pribadi (jurnal). Kebiasaan, kemampuan, dan kesungguhan mengekspresikan rasa dan pikiran lewat puisi adalah proses kreativitas untuk menciptakan bahasa, bahasa yang khas diri.

Kreativitas berbahasa adalah jalan untuk menguasai bahasa. Belajar bahasa menjadi menyenangkan, tanpa beban, kalau dilaksanakan dengan kreatif, tanpa perlu gelisah dalam dikotomi benar-salah. Belajar bahasa tidak perlu menakutkan, tak perlu stres, kelelahan, loyo atau apa yang biasa disebut dengan burnout.

Bagaimana caranya membangun keriangan dalam belajar bahasa asing? Atau, bagaimana mencegah burnout? Jawabannya adalah dengan pendekatan mindfullness. Sebagai karya yang berasal dari disertasi, buku ini menjelaskan apa itu mindlfullness; buku ini melakukan kajian pustaka (literature review) tentang penerapan mindfullness dalam berbagai bidang, mulai dari psikologi sampai pedagogi.

Dengan mengutip beberapa pendapat dari seorang Profesor Psikologi dari Harvard University, Ellen J. Langer yang dikenal sebagai “Mother of Mindfulness”, Sonia menekankan bahwa mindfullness adalah proses aktif untuk memperhatikan hal-hal baru di sekitar kita, bahkan pada objek atau rutinitas yang sudah sangat kita kenal. Pentingnya menyuburkan kepekaan akan konteks baru dan perspektif baru (p. 13). Tidak ada fakta absolut, hanya perspektif. Orang yang mindful tidak pernah kaku, tidak kaku pada satu kebenaran, tapi multiple dan fleksibel. Kepekaan akan konteks dan perspektif baru adalah ciri mindfullness yang cocok untuk pembelajaran bahasa melalui penciptaan puisi.

Dalam temuan studinya yang tertuang dalam buku, Sonia melatih siswa menulis puisi dengan cara aktif melihat sesuatu secara baru dan multi-perspektif. Karena ini dilaksanakan dalam bahasa Inggris, maka ada dampak ganda: tumbuhnya benih penguasaan bahasa Inggris dan bakat menulis puisi. Sonia menyusun bukunya dengan praktik pengajaran bahasa Inggris dengan pendekatan mindfullness melalui menulis puisi.

Memberi Contoh dan Menjadi Contoh

Guru atau dosen yang baik tak cukup hanya memberi contoh, tetapi idealnya juga ‘menjadi contoh’, atau keduanya Dalam praktik pengajaran penulisan puisi berbasis-mindfullness (kesadaran, kepekaan, kreativitas pikir, keterbukaan), Sonia memberi dan menjadi contoh. Dia membuka Bab 6 dari bukunya dengan puisi karyanya sendiri “When Times Comes” ( p. 37).

When Time Comes

The only choice we make, is to flow
To bow and to go as thinking makes it so
As voice and choice must show
Yourself and the shadow
Of the real promise of tomorrows
Yet, this is not a battle of the shallows
The vow of the crow
To go or to let go

Jika judul puisi diterjemahkan, kiranya tak ada terjemahan yang lebih tepat secara konten-tual dan konteks-tual selain “tatkala”, situs yang memuat opini, cerita, dan berita yang dikelola Adnyana Ole (suami Sonia). Kata ‘tatkala’ juga menjadi nama penerbit “Tatkala Sekala Media”, penerbit buku ini. Otoritas, kompetensi, dan keterampilan atas materi yang diajarkan oleh Sonia akan menimbulkan keyakinan besar pada mahasiswa.

Saya yakin Sonia tidak saja menjadi dosen yang kompeten, tapi juga idola, teladan, role model. Posisi ini menguntungkan karena proses belajar-mengajar menjadi produktif dan penuh keriangan. Dengan puisi ‘mudah’ itu, mahasiswa akan diam-diam berkata optimistik dalam dirinya “kalau puisi segini, saya juga bisa”. Sonia dan puisinya menjadi motivator.

Bukti-bukti puisi mahasiswa diuraikan di dalam buku sebagai bukti betapa bermanfaatnya pembelajaran bahasa berbasis mindfullness. Mahasiswa menemukan potensi diri mengartikulasikan perasaan dan respon mereka terhadap kontesk dan situasi dengan perspektif diri (self-perspective).

Ada lusinan puisi mahasiswa yang baik ditampilkan dan dikaji proses penulisannya dan gaya-gaya bahasanya seperti metafora, imajinasi, dan personifikasi. Selain puisi, mahasiswa juga diberikan keleluasaan menciptakan ‘jurnal’, catatan personal, sebagai ruang untuk menciptakan bahasa ucap diri atas situasi atau moment. Sayang sekali, puisi sebagai data itu, tidak diisi nomor urut, sehingga pembaca tidak tahu total puisi yang dikaji, dan penulis tidak bisa melakukan cross-reference jika hendak mengacu puisi A atau puisi C; mengulang adalah repetisi, tabu dalam karya ilmiah.

Dari mahasiswa yang dijadikan objek riset, 60% setuju bahwa jika mereka melihat kesempatan baru, terbuka peluang untuk menciptakan kemungkinan baru, menciptakan makna baru, dan proses belajar baru, sesuatu yang sejalan dengan dalil Langer.

Kekuatan dan Kelemahan

Dari buku ini, kita diyakinkan oleh Sonia bahwa pendekatan mindfullness dalam belajar bahasa melalui penulisan puisi atau catatan harian diri memiliki beberapa kekuatan berikut.

Pertama, merangsang kreativitas dan orisinalitas, dengan mengubah kepekaan indrawi menjadi karya kreatif, dasar dari identitas bahasa diri. Kedua, menurunkan kecemasan [burnout] dalam belajar bahasa asing karena dilakukan dengan mindfull. Ketiga, membangun identitas bahasa diri, lebih dari sekadar belajar grammar dan agreement dalam bahasa Inggris.

Tak ada gading yang tak retak. Pendekatan mindfullness ini juga memiliki kelemahan atau tantangan sebagai berikut.

Pertama, pendekatan ini membutuhkan guru yang memiliki bakat di bidangnya (puisi, film, atau drama). Kedua, prosesnya tidak instan tetapi memerlukan waktu berproses, karena membangun kesadaran, kepekaan, kreativitas memperlukan latihan bersungguh. Ketiga, kurang tepat bagi mahasiswa yang memiliki mindset matematis benar salah, yang lebih senang dengan formula, rumus, daripada latihan kebebasan berekspresi dalam lapis-lapis sensitivitas.

Tentu saja kelemahan itu tidak menjadi tujuan dari buku Sonia. Kalau pun ada keretakan dari pendekatan mindfullness, gading yang retak bukanlah kayu bakar tetapi tetaplah gading.

Buku Tiada Tanding

Bagi saya, buku ini sungguh tiada tanding, karena ditulis dengan bahasa diri yang lugas, logis, dan indah berlapis. Dengan kosa kata biasa, Sonia bisa menguraikan gagasannya dengan fokus, mengalir, dan enak. Struktur kalimat sederhana, tapi bisa menyampaikan gagasan lapis demi lapis, well connected dari satu halaman ke halaman berikutnya. Tulisannya seperti mengebor sukma (meminjam istilah sastrawan hebat Budi Darma). Bab buku dibuat pendek, tapi substansinya representatif dalam alur pembahasan.

Buku Sonia ini adalah suatu bukti bahwa orang yang membangun identitas bahasa diri lewat puisi adalah penulis esai atau karya ilmiah yang sukses. Buku ini tetaplah gading walau pembaca menjumpai paragraf repetitif di halaman 142 dan 144 (dimulai dengan: It can be said that poetry…). Dalam puisi, repetisi adalah gaya bahasa penguat irama, tidak dalam karya ilmiah. Saat cetak ulang untuk memenuhi kepentingan buku sebagai referensi atau buku ajar, repetisi itu tentu bisa dicopot.

Jalan Lain ke Roma

Saya ingat pepatah “Banyak jalan menuju Roma”. Untuk belajar bahasa Inggris dengan pendekatan mindfullness dilakukan lewat penulisan puisi. Dari sini yang akan terasah adalah kemampuan menulis (aspek writing) siswa/mahasiswa.

Jalan lain tentu ada, misalnya dengan memakai drama (pentas) atau menonton film, yang kemudian ditirukan. Jika materi ini diambil, kepekaan siswa yang terasah adalah speaking (keterampilan berbicara), mereka bisa menjadi lebih komunikatif. Kiranya Sonia dan sarjana yang menekuni mindfullness untuk pedagogi belajar bahasa bisa mengeskplorasi materi lain untuk memperkaya cahaya-cahaya jalan lain menuju Roma.

Apa Bahasa Bali ‘Mindfulness’?

Kalau mindfulness bisa diartikan kesadaran, kepekaan, keterbukaan, kreatif, kecerdasan, kerelaan menerima (hal-hal baru), maka dalam bahasa Bali istilah yang paling cocok untuk itu adalah “adnyana”. Kata “adnyana” berasal dari bahasa Sansekerta “Jnyāna” yang artinya “pengetahuan”, lalu diserap ke dalam bahas Jawa Kuno menjadi adnyana yang berarti ‘memiliki pengetahuan”.

Makna lain, ‘adnyana’ adalah ‘pikiran’. Sastrawan dan kolumnis Aryantha Soethama menulis bahwa “Adnyana” itu berarti pintar, cerdas, punya wawasan luas, dan bermoral (Nusa Bali, 17 November 2019). Dengan kata lain, orang yang berpengetahuan luas, orang yang berpikir, menggunakan pikiran, thoughtfull. Jika sinonim itu diterima, maka judul induk buku Mindfulness-Based Learning ini bisa diindonesiakan menjadi: Belajar Berbasis-Adnyana, kebetulan Adnyana nama suami Sonia, yang juga seorang penyair, alias warga negeri puisi.[T]

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Jaswanto

Tags: BahasaBukumindfullnessMindfulness-Based LearningPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Next Post

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co