3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
in Ulas Buku
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

Sampul buku Mindfulness-Based Learning

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. “I love poetry“, tulisnya dalam buku barunya Mindfulness-Based Learning, EFL Poetry, and Language Identity (2026, p.1), diterbitkan Tatkala Sekala Media.

Sejak kecil Sonia menyukai puisi. Bahkan, dalam usia 9 tahun, katanya, dia sudah membaca banyak puisi penyair Indonesia (“I have read many poetry of Indonesian poets“) (p.37). Dalam usia sekanak-kanak itu, kebanyakan insan sebayanya yang mungkin masih jatuh-bangun belajar calistung: baca-tulis-berhitung. Tapi, Sonia adalah warga negara negeri puisi, setiap hari menghirup udara wangi puisi. Darahnya semerah puisi. Kelak, suaminya pun seorang penyair.

Terus Mencintai Puisi

Sebagai warga-negara negeri puisi, Sonia meyakinkan pembaca bukunya bahwa dia terus mencintai puisi. Dia mencintai puisi secara berkelanjutan (sustainable). Makanya, puisi telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda (Poetry has been a part of of my life) (p.37). Puisi mendidik kepribadiannya, sesuai dengan target Sustainable Developmetn Goals (SDGs) point ke-4: Quality education.

Setelah tamat dari program sarjana pendidikan bahasa Inggris, Undiksha Singaraja, Sonia mengajar bahasa Inggris di almamaternya. Minatnya pada puisi mengukuhkannya menjadi penyair karena sudah menulis dan menerbitkan beberapa puisi. Katanya bangga: “I am a poet and a lecturer” (p. 1). Dalam mengajar, dia menjadikan puisi sebagai materi kuliah. “Poetry is my subject of teaching” (p. iii). Hobi dan profesinya benar-benar berisi kandungan puisi. Puisi adalah DNA-nya.

Ketika melanjutkan studi doktor, dia meneliti pembelajaran bahasa asing (Inggris) dengan menggunakan puisi sebagai materi. Selulus doktor, disertasinya diterbitkan menjadi buku, yang ditimbang ini. Buku setebal 156 halaman yang terdiri dari 11 bab ini memang fokus pada pembahasan penggunaan pendekatan mindfullness dalam belajar bahasa Inggris melalui proses penulisa puisi. Bukan cerpen, bukan film, bukan novel, bukan sinetron. Tapi, puisi.

Ada beberapa alasan ilmiah dari sudut pandang pedagogi, antara lain karena pembelajaran bahasa asing (Inggris) lebih bersifat konvensional, kognitif, tanpa melibatkan emosi siswa/mahasiswa dalam proses pembelajaran. Yang terjadi adalah teaching (oleh guru), bukan learning (oleh siswa/ mahasiswa). Dengan menugasi mahasiswa menulis puisi, mereka akan kreatif mengekspresikan perasaan dengan bahasa yang mereka temukan sendiri, yang kelak akan tumbuh menjadi gaya atau identitasnya sendiri.

Seperti tersurat dari judul buku Mindfulness-Based Learning, EFL Poetry, and Language Identity, fokus buku adalah pada mindfullness, puisi, dan identitas bahasa. Kalau materinya teks drama, lagu, film atau sinetro, maka judulnya mungkin menjadi EFL Drama, EFL Song, atau EFL Movie.

Sebagai penulis yang mencintai dan menguasai puisi, Sonia memilih materi yang dikuasai: EFL Poetry. Dia yakin bahwa identitas bahasa akan tercipta lewat kreativitas cipta puisi atau catatan harian pribadi (jurnal). Kebiasaan, kemampuan, dan kesungguhan mengekspresikan rasa dan pikiran lewat puisi adalah proses kreativitas untuk menciptakan bahasa, bahasa yang khas diri.

Kreativitas berbahasa adalah jalan untuk menguasai bahasa. Belajar bahasa menjadi menyenangkan, tanpa beban, kalau dilaksanakan dengan kreatif, tanpa perlu gelisah dalam dikotomi benar-salah. Belajar bahasa tidak perlu menakutkan, tak perlu stres, kelelahan, loyo atau apa yang biasa disebut dengan burnout.

Bagaimana caranya membangun keriangan dalam belajar bahasa asing? Atau, bagaimana mencegah burnout? Jawabannya adalah dengan pendekatan mindfullness. Sebagai karya yang berasal dari disertasi, buku ini menjelaskan apa itu mindlfullness; buku ini melakukan kajian pustaka (literature review) tentang penerapan mindfullness dalam berbagai bidang, mulai dari psikologi sampai pedagogi.

Dengan mengutip beberapa pendapat dari seorang Profesor Psikologi dari Harvard University, Ellen J. Langer yang dikenal sebagai “Mother of Mindfulness”, Sonia menekankan bahwa mindfullness adalah proses aktif untuk memperhatikan hal-hal baru di sekitar kita, bahkan pada objek atau rutinitas yang sudah sangat kita kenal. Pentingnya menyuburkan kepekaan akan konteks baru dan perspektif baru (p. 13). Tidak ada fakta absolut, hanya perspektif. Orang yang mindful tidak pernah kaku, tidak kaku pada satu kebenaran, tapi multiple dan fleksibel. Kepekaan akan konteks dan perspektif baru adalah ciri mindfullness yang cocok untuk pembelajaran bahasa melalui penciptaan puisi.

Dalam temuan studinya yang tertuang dalam buku, Sonia melatih siswa menulis puisi dengan cara aktif melihat sesuatu secara baru dan multi-perspektif. Karena ini dilaksanakan dalam bahasa Inggris, maka ada dampak ganda: tumbuhnya benih penguasaan bahasa Inggris dan bakat menulis puisi. Sonia menyusun bukunya dengan praktik pengajaran bahasa Inggris dengan pendekatan mindfullness melalui menulis puisi.

Memberi Contoh dan Menjadi Contoh

Guru atau dosen yang baik tak cukup hanya memberi contoh, tetapi idealnya juga ‘menjadi contoh’, atau keduanya Dalam praktik pengajaran penulisan puisi berbasis-mindfullness (kesadaran, kepekaan, kreativitas pikir, keterbukaan), Sonia memberi dan menjadi contoh. Dia membuka Bab 6 dari bukunya dengan puisi karyanya sendiri “When Times Comes” ( p. 37).

When Time Comes

The only choice we make, is to flow
To bow and to go as thinking makes it so
As voice and choice must show
Yourself and the shadow
Of the real promise of tomorrows
Yet, this is not a battle of the shallows
The vow of the crow
To go or to let go

Jika judul puisi diterjemahkan, kiranya tak ada terjemahan yang lebih tepat secara konten-tual dan konteks-tual selain “tatkala”, situs yang memuat opini, cerita, dan berita yang dikelola Adnyana Ole (suami Sonia). Kata ‘tatkala’ juga menjadi nama penerbit “Tatkala Sekala Media”, penerbit buku ini. Otoritas, kompetensi, dan keterampilan atas materi yang diajarkan oleh Sonia akan menimbulkan keyakinan besar pada mahasiswa.

Saya yakin Sonia tidak saja menjadi dosen yang kompeten, tapi juga idola, teladan, role model. Posisi ini menguntungkan karena proses belajar-mengajar menjadi produktif dan penuh keriangan. Dengan puisi ‘mudah’ itu, mahasiswa akan diam-diam berkata optimistik dalam dirinya “kalau puisi segini, saya juga bisa”. Sonia dan puisinya menjadi motivator.

Bukti-bukti puisi mahasiswa diuraikan di dalam buku sebagai bukti betapa bermanfaatnya pembelajaran bahasa berbasis mindfullness. Mahasiswa menemukan potensi diri mengartikulasikan perasaan dan respon mereka terhadap kontesk dan situasi dengan perspektif diri (self-perspective).

Ada lusinan puisi mahasiswa yang baik ditampilkan dan dikaji proses penulisannya dan gaya-gaya bahasanya seperti metafora, imajinasi, dan personifikasi. Selain puisi, mahasiswa juga diberikan keleluasaan menciptakan ‘jurnal’, catatan personal, sebagai ruang untuk menciptakan bahasa ucap diri atas situasi atau moment. Sayang sekali, puisi sebagai data itu, tidak diisi nomor urut, sehingga pembaca tidak tahu total puisi yang dikaji, dan penulis tidak bisa melakukan cross-reference jika hendak mengacu puisi A atau puisi C; mengulang adalah repetisi, tabu dalam karya ilmiah.

Dari mahasiswa yang dijadikan objek riset, 60% setuju bahwa jika mereka melihat kesempatan baru, terbuka peluang untuk menciptakan kemungkinan baru, menciptakan makna baru, dan proses belajar baru, sesuatu yang sejalan dengan dalil Langer.

Kekuatan dan Kelemahan

Dari buku ini, kita diyakinkan oleh Sonia bahwa pendekatan mindfullness dalam belajar bahasa melalui penulisan puisi atau catatan harian diri memiliki beberapa kekuatan berikut.

Pertama, merangsang kreativitas dan orisinalitas, dengan mengubah kepekaan indrawi menjadi karya kreatif, dasar dari identitas bahasa diri. Kedua, menurunkan kecemasan [burnout] dalam belajar bahasa asing karena dilakukan dengan mindfull. Ketiga, membangun identitas bahasa diri, lebih dari sekadar belajar grammar dan agreement dalam bahasa Inggris.

Tak ada gading yang tak retak. Pendekatan mindfullness ini juga memiliki kelemahan atau tantangan sebagai berikut.

Pertama, pendekatan ini membutuhkan guru yang memiliki bakat di bidangnya (puisi, film, atau drama). Kedua, prosesnya tidak instan tetapi memerlukan waktu berproses, karena membangun kesadaran, kepekaan, kreativitas memperlukan latihan bersungguh. Ketiga, kurang tepat bagi mahasiswa yang memiliki mindset matematis benar salah, yang lebih senang dengan formula, rumus, daripada latihan kebebasan berekspresi dalam lapis-lapis sensitivitas.

Tentu saja kelemahan itu tidak menjadi tujuan dari buku Sonia. Kalau pun ada keretakan dari pendekatan mindfullness, gading yang retak bukanlah kayu bakar tetapi tetaplah gading.

Buku Tiada Tanding

Bagi saya, buku ini sungguh tiada tanding, karena ditulis dengan bahasa diri yang lugas, logis, dan indah berlapis. Dengan kosa kata biasa, Sonia bisa menguraikan gagasannya dengan fokus, mengalir, dan enak. Struktur kalimat sederhana, tapi bisa menyampaikan gagasan lapis demi lapis, well connected dari satu halaman ke halaman berikutnya. Tulisannya seperti mengebor sukma (meminjam istilah sastrawan hebat Budi Darma). Bab buku dibuat pendek, tapi substansinya representatif dalam alur pembahasan.

Buku Sonia ini adalah suatu bukti bahwa orang yang membangun identitas bahasa diri lewat puisi adalah penulis esai atau karya ilmiah yang sukses. Buku ini tetaplah gading walau pembaca menjumpai paragraf repetitif di halaman 142 dan 144 (dimulai dengan: It can be said that poetry…). Dalam puisi, repetisi adalah gaya bahasa penguat irama, tidak dalam karya ilmiah. Saat cetak ulang untuk memenuhi kepentingan buku sebagai referensi atau buku ajar, repetisi itu tentu bisa dicopot.

Jalan Lain ke Roma

Saya ingat pepatah “Banyak jalan menuju Roma”. Untuk belajar bahasa Inggris dengan pendekatan mindfullness dilakukan lewat penulisan puisi. Dari sini yang akan terasah adalah kemampuan menulis (aspek writing) siswa/mahasiswa.

Jalan lain tentu ada, misalnya dengan memakai drama (pentas) atau menonton film, yang kemudian ditirukan. Jika materi ini diambil, kepekaan siswa yang terasah adalah speaking (keterampilan berbicara), mereka bisa menjadi lebih komunikatif. Kiranya Sonia dan sarjana yang menekuni mindfullness untuk pedagogi belajar bahasa bisa mengeskplorasi materi lain untuk memperkaya cahaya-cahaya jalan lain menuju Roma.

Apa Bahasa Bali ‘Mindfulness’?

Kalau mindfulness bisa diartikan kesadaran, kepekaan, keterbukaan, kreatif, kecerdasan, kerelaan menerima (hal-hal baru), maka dalam bahasa Bali istilah yang paling cocok untuk itu adalah “adnyana”. Kata “adnyana” berasal dari bahasa Sansekerta “Jnyāna” yang artinya “pengetahuan”, lalu diserap ke dalam bahas Jawa Kuno menjadi adnyana yang berarti ‘memiliki pengetahuan”.

Makna lain, ‘adnyana’ adalah ‘pikiran’. Sastrawan dan kolumnis Aryantha Soethama menulis bahwa “Adnyana” itu berarti pintar, cerdas, punya wawasan luas, dan bermoral (Nusa Bali, 17 November 2019). Dengan kata lain, orang yang berpengetahuan luas, orang yang berpikir, menggunakan pikiran, thoughtfull. Jika sinonim itu diterima, maka judul induk buku Mindfulness-Based Learning ini bisa diindonesiakan menjadi: Belajar Berbasis-Adnyana, kebetulan Adnyana nama suami Sonia, yang juga seorang penyair, alias warga negeri puisi.[T]

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Jaswanto

Tags: BahasaBukumindfullnessMindfulness-Based LearningPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

Next Post

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co