26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

I Made Sujaya by I Made Sujaya
July 16, 2026
in Ulas Buku
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel "Koloni" karya Ratih Kumala

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian pembaca. Terakhir, Koloni masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 untuk kategori novel. Hal ini mengindikasikan bahwa novel setebal 245 halaman ini diakui kualitasnya di dunia sastra.

Selain diulas dan diresensi di berbagai media massa, Koloni juga memperlihatkan respons konsisten pembaca seperti dipotret oleh platform goodreads.com. Hingga 4 Juli 2026, Koloni telah memperoleh skor 4,01 dengan 197 rating dan 77 reviu di platfrom goodreads.com, atau rata-rata satu ulasan setiap satu hingga dua hari. Respons yang relatif konsisten ini menunjukkan bahwa novel tersebut terus diperbincangkan pembaca bahkan hampir setahun setelah peluncurannya.

Berbagai ulasan dan resensi di berbagai media maupun pembaca di platform goodreads.com membaca novel ini sebagai fabel alegoris dengan berbagai perspektif. Ada yang melihatnya sebagai kritik terhadap patriarki. Ada yang memaknainya sebagai satire sosial. Ada pula yang menemukan gema Animal Farm karya George Orwell di dalamnya. Pembaca di platform Goodreads pun umumnya menikmati Koloni sebagai cermin perilaku manusia: perebutan kekuasaan, ambisi, kesetiaan, pengkhianatan, dan perjuangan mempertahankan hidup.

Semua pembacaan itu masuk akal. Bahkan sulit dibantah. Terlebih lagi, Ratih Kumala sendiri dalam sejumlah wawancara mengakui Koloni diinspirasi oleh Animal Farm George Orwell yang memang oleh para kritikus sastra disebut sebagai alegori politik Rusia pada masanya. “Novel Koloni lahir dari kegelisahan saya pada situasi di Indonesia,” ungkap Ratih saat peluncuran bukunya itu.

Sebagian besar pembaca tampaknya sibuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Semut ini melambangkan siapa?” Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting justru, “Mengapa Ratih Kumala memilih semut?” Mengapa bukan lebah yang sama-sama hidup berkoloni? Mengapa bukan rayap yang juga membangun kerajaan di bawah tanah? Mengapa bukan burung yang lebih mudah membangkitkan simpati pembaca?

Jangan-jangan Ratih Kumala tidak sedang mencari metafora. Ia sedang mencari cara agar manusia mau berhenti sejenak menjadi manusia. Barangkali karena hanya dengan cara itulah pembaca dapat melihat dunia dari arah yang berbeda.

Ada sebuah kebiasaan yang diam-diam melekat pada cara kita membaca sastra. Ketika bertemu binatang dalam cerita, kita segera menganggapnya sebagai simbol. Rubah berarti licik. Singa berarti kuasa. Burung berarti kebebasan. Semut berarti kerja keras. Kita seolah tidak memberi kesempatan kepada binatang untuk menjadi dirinya sendiri.

Melanjutkan Tradisi Tapi Menikung

Jika kita menengok sejarah panjang dunia sastra kita, sejatinya sudah sejak lama semut hadir dalam kisah-kisah dongeng, babad, lagu, hingga film. Jauh sebelum ilmu pengetahuan menjelaskan kehidupan koloni semut, manusia telah lama mengabadikannya dalam cerita.

Dalam khazanah babad Bali, semut memperoleh kedudukan yang lebih sakral. Dalam Babad Kaba-Kaba, semut menjadi penanda kemurnian darah keturunan raja. Bayi yang diletakkan di atas sarang semut tidak digigit, sehingga diyakini memiliki legitimasi sebagai pewaris takhta. Dalam Babad Penatih, Silsilah Mahagotra Pasek Sanak Saptaresi, maupun Babad Pasek Kayu Putih Kayu Selem, semut berubah menjadi alat kutukan yang menegakkan keseimbangan moral ketika manusia melampaui batasnya.

Dalam dunia dongeng, tak terhitung certa tentang semut. Di Bali, pendongeng Made Taro menulis dongeng “Tawuran Antarsemut” dan “Semut-semut Bergotong Royong”. Seperti banyak dongeng lainnya, kisah itu menggunakan semut untuk menyampaikan pelajaran tentang kehidupan. Semut menjadi tokoh yang mengajarkan anak-anak mengenai pertengkaran, kebersamaan, dan akibat dari permusuhan. Dunia semut hadir sebagai cermin dunia manusia.

Masyarakat Bali sejak lama mengenal lagu rakyat “Semut-Semut Api.” Lagu itu juga tidak sedang bercerita tentang semut. Semut hanya dipinjam sebagai metafora untuk menggambarkan hubungan antarmanusia, kegelisahan, atau gejolak sosial. Sekali lagi, semut menjadi bahasa simbolik.

Kalau kita menoleh ke luar Bali, kisahnya ternyata tidak jauh berbeda. Fabel “The Ant and the Grasshopper” yang diwariskan sejak zaman Aesop menjadikan semut lambang kerja keras, sementara belalang menjadi perlambang kemalasan. Di layar lebar, Hollywood berkali-kali kembali kepada semut melalui film seperti Antz, A Bug’s Life, atau The Ant Bully.  Semuanya menarik, menghibur, dan menyentuh. Namun, pada akhirnya semut tetap diperlakukan sebagai manusia yang kebetulan berbadan kecil. Mereka berbicara tentang demokrasi, kekuasaan, kapitalisme, keberanian, keluarga, dan kebebasan—semuanya adalah persoalan manusia.

Semut hadir di mana-mana. Tetapi hampir tidak pernah hadir sebagai dirinya sendiri. Mungkin itulah sebabnya ada sesuatu yang terasa berbeda ketika membaca Koloni karya Ratih Kumala. Novel ini tidak buru-buru mengajak kita memikirkan manusia. Ia terlebih dahulu meminta kita mempercayai bahwa semut mempunyai dunia yang utuh. Sebuah dunia yang memiliki rumah. Memiliki jalan. Memiliki bahasa. Memiliki ingatan. Memiliki ketakutan. Memiliki harapan. Seperti manusia, mereka juga memiliki keinginan sederhana untuk terus hidup.

Di titik itulah Koloni mulai bergerak menikung dari tradisi panjang representasi semut dalam sastra. Ratih Kumala memang masih menggunakan semut untuk memantulkan wajah manusia. Akan tetapi, sebelum menjadi metafora sosial, semut dalam novel ini terlebih dahulu hadir sebagai makhluk hidup yang memiliki dunianya sendiri.

Perubahan itu tampak kecil, padahal sesungguhnya sangat mendasar. Sebab sejak saat itu, kita tidak lagi membaca semut sebagai lambang. Kita mulai membaca semut sebagai sesama penghuni bumi. Dan mungkin, dari sanalah seluruh percakapan tentang manusia, alam, dan semesta sesungguhnya baru dimulai.

Belajar Melihat Dunia dari Mata Seekor Semut

Ada satu hal yang kerap dipelajari dari sastra yakni ia sering meminta kita menukar tempat, mengidentifikasi diri dengan tokoh di dalamnya. Kadang-kadang kita diminta menjadi pengembara, menjadi orang buangan, menjadi perempuan yang kehilangan rumah, menjadi anak kecil yang sedang mencari ayahnya, atau menjadi seorang tua yang perlahan dilupakan zaman. Sastra memperluas pengalaman manusia dengan meminjamkan kehidupan orang lain kepada kita.

Namun, tidak banyak karya sastra yang meminta kita menjadi seekor semut. Mungkin karena itu membaca Koloni terasa seperti menjalani latihan yang ganjil. Pada halaman-halaman awal, kita masih membawa kebiasaan lama. Kita membaca semut seperti membaca manusia. Kita mencari tokoh yang mewakili penguasa, rakyat, pengkhianat, atau pemberontak. Kita sibuk menerjemahkan setiap peristiwa ke dalam bahasa politik.

Lama-kelamaan, kebiasaan itu mulai goyah. Tanpa terasa kita berhenti mencari manusia. Kita mulai mengikuti kehidupan semut. Kita ikut cemas ketika jalur makanan terganggu. Kita ikut memahami mengapa sebuah koloni harus berpindah. Kita ikut merasakan pentingnya lorong-lorong bawah tanah yang selama ini tidak pernah kita pikirkan. Bahkan kita mulai memahami mengapa seekor pekerja rela mengorbankan dirinya demi keselamatan koloni.

Di titik tertentu, pembaca mengalami sesuatu yang jarang terjadi dalam sebuah alegori. Ia berhenti menerjemahkan. Ia mulai percaya. Saya kira di sinilah letak kecermatan Ratih Kumala. Ia tidak tergesa-gesa membawa pembaca kepada pesan moral. Ia terlebih dahulu membangun kepercayaan terhadap dunia semut. Dunia itu terasa memiliki hukumnya sendiri. Cara hidupnya sendiri. Cara berpindah, berkomunikasi, mencari makan, mempertahankan wilayah, bahkan menghadapi kematian.

Ratih Kumala tampaknya memahami bahwa sebuah alegori hanya akan kuat apabila dunia yang menopangnya terlebih dahulu dipercaya sebagai kenyataan. Karena itu, ia tidak memaksa semut menjadi manusia. Sebaliknya, ia mengajak manusia mempercayai kehidupan semut. Inilah sebabnya mengapa novel ini terasa begitu hidup. Kita tidak sedang membaca serangga yang berpura-pura menjadi manusia. Kita sedang memasuki sebuah kehidupan yang selama ini berada tepat di bawah telapak kaki kita, tetapi nyaris tidak pernah kita sadari keberadaannya.

Dalam kajian sastra, ada sebuah cara membaca yang disebut ekokritik. Pendekatan ini berangkat dari pertanyaan yang sangat sederhana: bagaimana jika kita berhenti memandang alam hanya sebagai latar belakang cerita? Pertanyaan itu terdengar biasa saja, memang. Namun sesungguhnya ia mengubah hampir seluruh cara kita membaca sastra.

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa menjadikan manusia sebagai pusat cerita. Hutan hanya menjadi tempat tokoh bertualang. Laut hanya menjadi ruang pelayaran. Gunung hanya menjadi pemandangan. Alam hadir untuk melayani cerita manusia.

Koloni perlahan mengubah kebiasaan itu. Di dalam novel ini, tanah bukan sekadar tempat berpijak. Tanah adalah rumah. Lorong-lorong bukan sekadar ruang. Lorong adalah jalan kehidupan. Jejak feromon bukan sekadar detail cerita. Ia adalah bahasa. Makanan bukan sekadar benda yang diperebutkan. Ia adalah syarat agar sebuah koloni tetap hidup.

Ketika semua itu mulai dipahami sebagai bagian dari kehidupan, pembaca pun menyadari bahwa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan hanya nasib beberapa tokoh, melainkan keberlangsungan sebuah ekosistem.

  • BACA JUGA:
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

Cheryll Glotfelty, professor sastra dari University of Nevada, yang pernah mengingatkan bahwa sastra dapat membantu kita melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan fisik. Membaca Koloni, justru terasa bahwa hubungan itu bahkan lebih luas. Novel ini bukan hanya menghubungkan manusia dengan alam, tetapi juga menghubungkan manusia dengan kehidupan-kehidupan yang selama ini dianggap terlalu kecil untuk diperhitungkan. Semakin lama masuk ke dalam Koloni, semakin terasa bahwa tokoh yang paling penting dalam Koloni sesungguhnya bukan Ratu Gegana atau Ratu Darojak atau Mak Momong. Bukan pula para pekerja. Bukan pula Sunar dan para semut jantan lainnya yang harus mati setelah membuahi ratu semut. Tokoh yang paling penting justru adalah koloni itu sendiri. Koloni bukan sekadar kumpulan semut. Ia adalah sebuah cara hidup.

Seekor semut tidak pernah hidup sendirian. Ia lahir, bekerja, mencari makan, mempertahankan diri, dan mati sebagai bagian dari kehidupan bersama. Tidak ada kemegahan individual di sana. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa keberlangsungan hidup selalu bergantung pada makhluk lain. Boleh jadi itu sebabnya Ratih Kumala menggunakan kata koloni sebagai judul novel ini.

Bukankah itu juga yang perlahan hilang dari kehidupan manusia modern? Kita semakin terbiasa berbicara tentang pencapaian pribadi, kepemilikan pribadi, dan keberhasilan pribadi. Sementara itu, hubungan dengan makhluk lain—bahkan dengan sesama manusia—semakin renggang. Alam berubah menjadi sumber daya. Tanah berubah menjadi aset. Sungai berubah menjadi saluran. Hutan berubah menjadi angka dalam laporan investasi.

Koloni diam-diam mempertanyakan cara pandang seperti itu. Ia tidak menyalahkan manusia. Ia hanya mengajak kita melihat bahwa ada cara lain memahami kehidupan. Cara seekor semut.

Belajar Merawat Kehidupan dari Koloni Semut

Ada satu kebiasaan yang diam-diam kita warisi ketika membaca fabel. Kita jarang mempercayai binatang. Begitu seekor rubah berbicara, kita segera tahu bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah manusia. Ketika singa memimpin hutan, kita mencari bayangan seorang raja. Bahkan ketika semut muncul dalam dongeng, kita buru-buru menyebutnya lambang kerja keras.

Barangkali kita memang terlalu lama meminjam tubuh binatang untuk menjelaskan diri sendiri. Akibatnya, kita lupa bahwa binatang juga mempunyai kehidupannya sendiri.

Nmun, dalam Koloni, Ratih Kumala tidak sedang menggunakan semut sebagai topeng manusia. Ia justru sedang mengajak pembaca keluar dari kebiasaan lama yang selalu menempatkan manusia sebagai ukuran segala sesuatu.

Entah berapa lama Ratih Kumala mempersiapkan novel ini. Namun saya membayangkan ia pasti menghabiskan banyak waktu untuk mengenali kehidupan semut. Koloni tidak dibangun secara sembarangan. Sesudah menutup novel itu, saya membuka beberapa tulisan ilmiah mengenai semut. Saya ingin memastikan apakah dunia yang dibangun Ratih Kumala sepenuhnya hasil imajinasi atau memiliki pijakan pada kenyataan biologis. Hasilnya justru membuat saya semakin menghargai novel ini.

Para ahli entomologi menjelaskan bahwa semut merupakan salah satu makhluk sosial paling kompleks di bumi. Sebagian besar semut yang kita lihat setiap hari adalah pekerja betina yang tidak berkembang biak. Mereka bertugas mencari makanan, merawat larva, memperbaiki sarang, dan menjaga koloni. Seekor ratu memang menjadi pusat reproduksi, tetapi keberlangsungan koloni sepenuhnya bergantung pada kerja kolektif para pekerja. Mereka berkomunikasi melalui jejak feromon, mengenali jalan pulang melalui sinyal kimia, bahkan mampu membangun jaringan kerja yang sangat teratur tanpa komando sebagaimana dipahami manusia.

Ratih Kumala tidak menyalin fakta-fakta ilmiah itu begitu saja. Ia mengubahnya menjadi sastra. Dan mungkin di situlah letak kekuatan Koloni. Pengetahuan tidak tampil sebagai penjelasan, melainkan menjelma menjadi kehidupan. Sebuah novel dengan genre fabel sekalipun, ditulis melalui riset yang mendalam.

Dalam fabel Aesop, semut dipakai untuk mengajarkan etos kerja. Dalam film Antz dan A Bug’s Life, koloni semut menjadi panggung untuk berbicara tentang politik, kepemimpinan, dan perlawanan terhadap tirani. Bahkan dalam dongeng anak-anak, semut hampir selalu menjadi alat untuk menyampaikan pesan moral.

Ratih Kumala memang tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi itu. Novel ini tetap berbicara tentang kekuasaan, ambisi, kesetiaan, dan pengkhianatan. Tetapi semua itu lahir setelah dunia semut dipercaya sebagai dunia yang sungguh-sungguh hidup. Urutan ini penting. Karena di sinilah saya melihat perbedaan antara Koloni dan sebagian besar fabel yang kita kenal. Dalam fabel klasik, manusia hadir lebih dahulu, binatang menyusul kemudian. Dalam Koloni, kehidupan semut hadir lebih dahulu. Manusialah yang perlahan memantulkan dirinya ke dalam kehidupan itu.

Justru pembalikan sederhana inilah yang membuat novel ini terasa begitu segar. Berbagai resensi tentang Koloni umumnya membahas mengenai politik, feminisme, bahkan kritik terhadap patriarki. Semua itu memang hadir di dalam novel. Akan tetapi, ada sesuatu yang nyaris luput dari perhatian.

Hampir tidak ada yang bertanya mengapa Ratih Kumala begitu telaten membangun habitat semut. Padahal, tanpa habitat, koloni tidak pernah ada. Tanah bukan sekadar tempat berpijak. Ia adalah rumah. Lorong-lorong bukan sekadar ruang. Ia adalah jalan pulang. Jejak feromon bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah ingatan kolektif sebuah komunitas. Makanan bukan sekadar sumber energi. Ia adalah syarat bagi keberlangsungan generasi berikutnya.

Lawrence Buell, kritikus sastra asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa dalam sastra ekologis, dunia nonmanusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai latar belakang kehidupan manusia. Ia memiliki nilai pada dirinya sendiri. Gagasan Buell itu menemukan bentuknya di dalam Koloni. Novel ini tidak meminta kita mengagumi semut. Ia hanya mengajak kita mengakui bahwa kehidupan semut memiliki makna, bahkan ketika tidak berkaitan dengan manusia. Kesadaran semacam ini terasa sederhana. Namun mungkin justru itulah yang semakin langka pada zaman sekarang.

Kita terbiasa menghitung nilai sebuah hutan dari kayunya, nilai sungai dari airnya, nilai tanah dari harga jualnya. Bahkan makhluk hidup pun sering dinilai berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Ketika semut dianggap hama, kita membasminya. Ketika serangga dianggap mengganggu, kita menyemprotkan racun. Jarang sekali kita bertanya: dunia seperti apa yang sedang kita hilangkan?

Pertanyaan itu tidak dijawab secara langsung oleh Ratih Kumala. Ia memilih jalan yang lebih sunyi. Ia mengajak kita tinggal beberapa saat di dalam koloni. Lalu, tanpa banyak kata, memperlihatkan betapa mudahnya sebuah dunia berakhir hanya karena manusia merasa sedang melakukan pekerjaan yang biasa.

Koloni merupakan salah satu fabel alegoris paling segar dalam sastra Indonesia mutakhir karena berhasil menggeser semut dari sekadar simbol menjadi subjek naratif yang hidup di dalam habitatnya sendiri. Namun keberhasilan itu juga menyimpan paradoks. Dunia semut dibangun dengan sangat meyakinkan, sementara perkembangan psikologi tokoh relatif kurang menonjol.

Dari perspektif ekokritik, novel ini telah melampaui antroposentrisme tradisional, tetapi belum sepenuhnya mencapai pandangan ekosentris karena jejaring kehidupan lain masih terutama diposisikan sebagai penopang kehidupan koloni semut. Dengan demikian, kekuatan terbesar Koloni justru terletak pada kemampuannya membuka ruang dialog baru antara sastra dan ekologi, meskipun dialog itu masih menyisakan sejumlah pertanyaan yang layak diteruskan oleh pembaca.[T]

  • Esai ini disampaikan serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli, di Wantilan Sasana Budaya, Singaraja, Buleleng, Bali.

Penulis: Made Sujaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: novelRatih KumalasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co