26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
in Panggung
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.”

Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah buku Koloni. Belum sempat tawa mereda, pertanyaan kembali dilontarkan. “Bayangkan tugas kalian hanya membuahi betina, setelah itu kalian mati. Siap tidak begitu?” para peserta kembali tergelak. Begitulah Made Sujaya membuka diskusi sebelum menuju percakapan yang jauh lebih serius.

Bedah buku Koloni menjadi salah satu rangkaian hari terakhir Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli di Wantilan Sasana Budaya, Buleleng. Diskusi tersebut menghadirkan Ratih Kumala selaku penulis, Dian Purnomo dan Made Sujaya sebagai pembedah, serta I Nengah Juliawan sebagai moderator. Di balik kisah tentang koloni semut, diskusi itu menyingkap relasi kuasa, politik, feminisme, ekologi, hingga bagaimana sastra menjadi cermin kemanusiaan.

Novel Koloni sendiri mengisahkan pertarungan dua ratu semut—Gegana dan Darojak—dalam memperebutkan kepemimpinan koloni. Namun, kisah itu sesungguhnya merupakan metafora tentang relasi kuasa, ketimpangan sosial, ambisi politik, loyalitas, hingga pergulatan individu dalam sistem yang hierarkis.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Pembahasan diawali oleh Dian Purnomo yang membedah Koloni dari perspektif feminisme dan gender.

“Dalam membedah novel ini, saya diminta dari perspektif feminisme dan gender. Dan, kalau berbicara soal feminisme dan gender, kita tidak berbicara tentang perempuan dan laki-laki, tapi kita berbicara tentang sistem, siapa yang berkuasa, dan siapa yang dikuasai,” ujarnya.

Menurut Dian Purnomo, dunia semut dalam Koloni memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana relasi kuasa bekerja. Siapa yang berada di puncak memiliki legitimasi untuk mengendalikan kehidupan pihak lain. Ia menyoroti bagaimana ‘kiamat’ dalam kehidupan semut justru diciptakan oleh manusia, sementara di dalam koloninya sendiri para ratu yang merasa memiliki kekuasaan seolah berhak melakukan apa saja, bahkan membinasakan anaknya sendiri. Bagi Dian Purnomo, gambaran itu menyiratkan bagaimana sistem kuasa bekerja tanpa selalu bergantung pada siapa pelakunya.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Setelah itu, Made Sujaya membawa diskusi ke arah yang berbeda. Ia menyampaikan hasil penelusurannya terhadap berbagai penelitian tentang kehidupan semut. Dari sejumlah studi, sebagian besar koloni semut memang didominasi betina. Temuan itu membuatnya yakin Ratih Kumala tidak memilih semut secara sembarangan, melainkan melalui riset serius.

“Saya tidak merasa membaca manusia yang berpura-pura menjadi semut. Semut dalam Koloni benar-benar hadir sebagai semut, lengkap dengan perilaku biologis, kebiasaan, hingga sistem komunikasinya melalui feromon yang sesuai dengan hasil penelitian ilmiah,” ungkapnya.

Sujaya mengatakan, banyak pembaca mengaitkan Koloni dengan situasi politik Indonesia, terlebih Ratih Kumala pernah mengungkapkan bahwa novel itu lahir dari kegelisahannya terhadap kondisi politik mutakhir. Namun, Sujaya justru memilih melepaskan diri dari pembacaan semacam itu. Menurutnya, kekuatan Koloni tidak terletak pada upaya mencari padanan tokoh dengan gejolak politik tertentu, melainkan pada keberhasilannya membangun dunia semut yang utuh melalui riset mendalam.

Ia menyebut proses itu sebagai art-based research atau seni berbasis riset. Menurutnya, seniman juga melakukan penelitian, hanya saja hasil akhirnya berupa karya. Karena itu, ia meyakini karya sastra layak dipandang sebagai produk akademik yang memiliki bobot setara penelitian.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Dalam pembacaannya, Sujaya juga mengajak peserta melihat jejak semut dalam sejarah sastra yang panjang. Dalam fabel, semut telah lama menjadi simbol untuk menjelaskan karakter manusia. Dalam kebudayaan Bali pun demikian. Ia menyinggung kisah dalam babad tentang Dalem Gelgel yang menguji seorang bayi. Jika semut tidak berani menyentuh bayi itu, maka bayi tersebut diyakini sebagai keturunan raja. Dalam Babad Penatih, semut bahkan menjadi simbol kekuatan yang mampu mengusir seorang penguasa dari wilayahnya. Bagi Sujaya, itu menunjukkan bahwa semut telah lama hidup dalam imajinasi budaya Nusantara.

Menurutnya, yang membedakan Koloni adalah cara Ratih Kumala memperlakukan semut. Jika selama ini semut lebih sering menjadi simbol, dalam novel ini semut tetap hadir sebagai semut. Kehidupan biologisnya tetap utuh, sementara makna sosial lahir secara alami dari perilaku mereka.

Pembacaan itu kemudian membawanya pada dimensi lain, yakni ekologi. Ia melihat Koloni mengingatkan bahwa bumi bukan hanya milik manusia. Karena itu, novel tersebut layak dijadikan bahan ajar, bukan hanya dalam pembelajaran sastra, tetapi juga biologi, lingkungan hidup, dan lain sebagainya.

“Ketika ia hadir sebagai sebuah cerita, akan lebih menarik. Anak-anak lebih mudah memahami ekosistem ketika ilmu pengetahuan dikemas melalui cerita,” terangnya.

Kendati demikian, Sujaya tetap memberikan catatan. Menurutnya, fokus cerita yang sangat kuat pada koloni membuat pendalaman karakter beberapa tokohnya menjadi kurang maksimal. Di sisi lain, ia memuji gaya bahasa Ratih Kumala yang mengalir dan tidak terlalu berbunga-bunga sehingga mudah dinikmati berbagai kalangan pembaca.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Mendengar berbagai pembacaan atas novelnya, Ratih Kumala kemudian mengungkap kisah di balik lahirnya Koloni. Ia mengaku, pada awalnya novel tersebut sama sekali tidak berkisah tentang semut.

“Awalnya ketika saya membuat Koloni saya tidak berniat menceritakan semut. Awalnya menggunakan karakter manusia,” tuturnya.

Namun, ketika membaca ulang draf pertama, ia merasa naskah itu dipenuhi kemarahan.

“Saya tidak mau marah-marah di karya saya. Justru, saya sendiri nggak enjoy membaca draf awalnya. Jadi, saya rasa harus diganti,” katanya.

Keputusan mengubah seluruh pendekatan itu justru lahir dari pengalaman ketika masih bekerja di Jakarta. Ia kerap kerja overtime hingga malam dan melihat ribuan orang bergerak pulang dari atas gedung tempatnya bekerja.

“Saya berpikir, kok kayak semut ya. Terus saya rasa, kayaknya menarik menulis semut,” kenangnya.

Sejak saat itu, Ratih mulai mendalami kehidupan serangga melalui berbagai buku dan video. Ia sempat mempertimbangkan lebah, tetapi akhirnya memilih semut karena dinilai lebih menarik. Tujuannya bukan menjadikan semut sebagai metafora manusia, melainkan menghadirkan mereka sebagai makhluk dengan kehidupan biologis yang utuh.

“Di sini saya menghadirkan semut memang benar-benar sebagai semut,” ujarnya. Kehidupan serangga yang kompleks—termasuk fakta bahwa semut jantan mati setelah mengawini betina—justru menjadi bahan yang memperkaya dunia dalam novelnya.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Meski banyak pembaca menghubungkan Koloni dengan berbagai peristiwa sosial dan politik, Ratih memilih tidak membatasi ruang tafsir. Baginya, karya sastra akan menemukan kehidupannya sendiri di tangan pembaca.

“Saya sangat membebaskan pembaca menafsirkannya,” ucap penulis Gadis Kretek itu menutup sesi diskusi.

Melalui Koloni, Ratih Kumala menghadirkan cermin bagi kehidupan manusia. Sementara di Singaraja Literary Festival 2026, cermin itu dipandang dari berbagai sudut—feminisme, politik, budaya, ekologi, hingga proses kreatif—membuktikan bahwa sebuah novel mampu melampaui dirinya sendiri dan menjadi ruang dialog yang hidup tentang zaman.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Koloni: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Tags: novelRatih KumalasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

Next Post

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

"Koloni": Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co