6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
in Panggung
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.”

Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah buku Koloni. Belum sempat tawa mereda, pertanyaan kembali dilontarkan. “Bayangkan tugas kalian hanya membuahi betina, setelah itu kalian mati. Siap tidak begitu?” para peserta kembali tergelak. Begitulah Made Sujaya membuka diskusi sebelum menuju percakapan yang jauh lebih serius.

Bedah buku Koloni menjadi salah satu rangkaian hari terakhir Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli di Wantilan Sasana Budaya, Buleleng. Diskusi tersebut menghadirkan Ratih Kumala selaku penulis, Dian Purnomo dan Made Sujaya sebagai pembedah, serta I Nengah Juliawan sebagai moderator. Di balik kisah tentang koloni semut, diskusi itu menyingkap relasi kuasa, politik, feminisme, ekologi, hingga bagaimana sastra menjadi cermin kemanusiaan.

Novel Koloni sendiri mengisahkan pertarungan dua ratu semut—Gegana dan Darojak—dalam memperebutkan kepemimpinan koloni. Namun, kisah itu sesungguhnya merupakan metafora tentang relasi kuasa, ketimpangan sosial, ambisi politik, loyalitas, hingga pergulatan individu dalam sistem yang hierarkis.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Pembahasan diawali oleh Dian Purnomo yang membedah Koloni dari perspektif feminisme dan gender.

“Dalam membedah novel ini, saya diminta dari perspektif feminisme dan gender. Dan, kalau berbicara soal feminisme dan gender, kita tidak berbicara tentang perempuan dan laki-laki, tapi kita berbicara tentang sistem, siapa yang berkuasa, dan siapa yang dikuasai,” ujarnya.

Menurut Dian Purnomo, dunia semut dalam Koloni memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana relasi kuasa bekerja. Siapa yang berada di puncak memiliki legitimasi untuk mengendalikan kehidupan pihak lain. Ia menyoroti bagaimana ‘kiamat’ dalam kehidupan semut justru diciptakan oleh manusia, sementara di dalam koloninya sendiri para ratu yang merasa memiliki kekuasaan seolah berhak melakukan apa saja, bahkan membinasakan anaknya sendiri. Bagi Dian Purnomo, gambaran itu menyiratkan bagaimana sistem kuasa bekerja tanpa selalu bergantung pada siapa pelakunya.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Setelah itu, Made Sujaya membawa diskusi ke arah yang berbeda. Ia menyampaikan hasil penelusurannya terhadap berbagai penelitian tentang kehidupan semut. Dari sejumlah studi, sebagian besar koloni semut memang didominasi betina. Temuan itu membuatnya yakin Ratih Kumala tidak memilih semut secara sembarangan, melainkan melalui riset serius.

“Saya tidak merasa membaca manusia yang berpura-pura menjadi semut. Semut dalam Koloni benar-benar hadir sebagai semut, lengkap dengan perilaku biologis, kebiasaan, hingga sistem komunikasinya melalui feromon yang sesuai dengan hasil penelitian ilmiah,” ungkapnya.

Sujaya mengatakan, banyak pembaca mengaitkan Koloni dengan situasi politik Indonesia, terlebih Ratih Kumala pernah mengungkapkan bahwa novel itu lahir dari kegelisahannya terhadap kondisi politik mutakhir. Namun, Sujaya justru memilih melepaskan diri dari pembacaan semacam itu. Menurutnya, kekuatan Koloni tidak terletak pada upaya mencari padanan tokoh dengan gejolak politik tertentu, melainkan pada keberhasilannya membangun dunia semut yang utuh melalui riset mendalam.

Ia menyebut proses itu sebagai art-based research atau seni berbasis riset. Menurutnya, seniman juga melakukan penelitian, hanya saja hasil akhirnya berupa karya. Karena itu, ia meyakini karya sastra layak dipandang sebagai produk akademik yang memiliki bobot setara penelitian.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Dalam pembacaannya, Sujaya juga mengajak peserta melihat jejak semut dalam sejarah sastra yang panjang. Dalam fabel, semut telah lama menjadi simbol untuk menjelaskan karakter manusia. Dalam kebudayaan Bali pun demikian. Ia menyinggung kisah dalam babad tentang Dalem Gelgel yang menguji seorang bayi. Jika semut tidak berani menyentuh bayi itu, maka bayi tersebut diyakini sebagai keturunan raja. Dalam Babad Penatih, semut bahkan menjadi simbol kekuatan yang mampu mengusir seorang penguasa dari wilayahnya. Bagi Sujaya, itu menunjukkan bahwa semut telah lama hidup dalam imajinasi budaya Nusantara.

Menurutnya, yang membedakan Koloni adalah cara Ratih Kumala memperlakukan semut. Jika selama ini semut lebih sering menjadi simbol, dalam novel ini semut tetap hadir sebagai semut. Kehidupan biologisnya tetap utuh, sementara makna sosial lahir secara alami dari perilaku mereka.

Pembacaan itu kemudian membawanya pada dimensi lain, yakni ekologi. Ia melihat Koloni mengingatkan bahwa bumi bukan hanya milik manusia. Karena itu, novel tersebut layak dijadikan bahan ajar, bukan hanya dalam pembelajaran sastra, tetapi juga biologi, lingkungan hidup, dan lain sebagainya.

“Ketika ia hadir sebagai sebuah cerita, akan lebih menarik. Anak-anak lebih mudah memahami ekosistem ketika ilmu pengetahuan dikemas melalui cerita,” terangnya.

Kendati demikian, Sujaya tetap memberikan catatan. Menurutnya, fokus cerita yang sangat kuat pada koloni membuat pendalaman karakter beberapa tokohnya menjadi kurang maksimal. Di sisi lain, ia memuji gaya bahasa Ratih Kumala yang mengalir dan tidak terlalu berbunga-bunga sehingga mudah dinikmati berbagai kalangan pembaca.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Mendengar berbagai pembacaan atas novelnya, Ratih Kumala kemudian mengungkap kisah di balik lahirnya Koloni. Ia mengaku, pada awalnya novel tersebut sama sekali tidak berkisah tentang semut.

“Awalnya ketika saya membuat Koloni saya tidak berniat menceritakan semut. Awalnya menggunakan karakter manusia,” tuturnya.

Namun, ketika membaca ulang draf pertama, ia merasa naskah itu dipenuhi kemarahan.

“Saya tidak mau marah-marah di karya saya. Justru, saya sendiri nggak enjoy membaca draf awalnya. Jadi, saya rasa harus diganti,” katanya.

Keputusan mengubah seluruh pendekatan itu justru lahir dari pengalaman ketika masih bekerja di Jakarta. Ia kerap kerja overtime hingga malam dan melihat ribuan orang bergerak pulang dari atas gedung tempatnya bekerja.

“Saya berpikir, kok kayak semut ya. Terus saya rasa, kayaknya menarik menulis semut,” kenangnya.

Sejak saat itu, Ratih mulai mendalami kehidupan serangga melalui berbagai buku dan video. Ia sempat mempertimbangkan lebah, tetapi akhirnya memilih semut karena dinilai lebih menarik. Tujuannya bukan menjadikan semut sebagai metafora manusia, melainkan menghadirkan mereka sebagai makhluk dengan kehidupan biologis yang utuh.

“Di sini saya menghadirkan semut memang benar-benar sebagai semut,” ujarnya. Kehidupan serangga yang kompleks—termasuk fakta bahwa semut jantan mati setelah mengawini betina—justru menjadi bahan yang memperkaya dunia dalam novelnya.

Bedah buku ‘Koloni’ karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Meski banyak pembaca menghubungkan Koloni dengan berbagai peristiwa sosial dan politik, Ratih memilih tidak membatasi ruang tafsir. Baginya, karya sastra akan menemukan kehidupannya sendiri di tangan pembaca.

“Saya sangat membebaskan pembaca menafsirkannya,” ucap penulis Gadis Kretek itu menutup sesi diskusi.

Melalui Koloni, Ratih Kumala menghadirkan cermin bagi kehidupan manusia. Sementara di Singaraja Literary Festival 2026, cermin itu dipandang dari berbagai sudut—feminisme, politik, budaya, ekologi, hingga proses kreatif—membuktikan bahwa sebuah novel mampu melampaui dirinya sendiri dan menjadi ruang dialog yang hidup tentang zaman.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Koloni: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Tags: novelRatih KumalasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

Next Post

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

"Koloni": Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co